
Malam itu Uzan sedang berdiri di bagian luar lantai paling atas Istana untuk merasakan sejuknya udara malam di sana. Ia membayangkan bagaimana nasib kerajaannya yang sedang diambil alih oleh Faraq. Seharusnya ia lebih dulu mengetahui tentang tipu muslihat Faraq.
“Pangeran Uzan.”
Uzan menoleh ke belakang, mendapati Romeo yang sedang berdiri dengan jubah hitamnya. Sang pangeran tersenyum. “Kau sudah datang, Romeo.”
“Aku turut berduka cita karena kerajaan sudah diambil alih oleh Faraq,” Romeo berjalan mendekati sang pangeran.
“Terima kasih, Romeo,” kata Uzan.
“Karena hal ini penting, aku dijemput oleh putri Layla,” kata Romeo. “Ia sudah tidur sekarang jadi kita bisa berbincang tentang hal yang lebih penting sekarang.”
“Kita akan tangguhkan tentang pembicaraan ini, Romeo,” kata Uzan. “Lebih baik dibicarakan ketika ada Raja Guvar.”
“Apakah ada masalah lain selain hal yang berkaitan dengan Faraq?” tanya Romeo.
“Ada,” kata Uzan. “Faktanya, ada beberapa yang terkait dengan kerajaan lain seperti Galar yang ingin menjadi Makhluk Magis dan Ruhin, seorang pixi besar yang sedang ada di gunung Atlas.”
“Aku tidak tahu tentang Galar,” kata Romeo. “Akan tetapi, aku tahu bahwa motivasi Ruhin tidak ada bedanya dengan Faraq.”
“Kau kenal Ruhin?”
“Aku berkawan baik dengan Hiu, pimpinan dari pixi di hutan Restra,” kata Romeo. “Ia juga kenal bahwa Ruhin juga berkeinginan untuk mengambil alih seluruh wilayah hutan pixi yang ada di Namaril.”
“Satu persatu dari musuh ingin mengambil sebagian wilayah, ya?” Uzan tersenyum. “Apakah mereka tidak mengerti bahwa semakin luas wilayah kerajaan maka semakin sulit untuk memantaunya?”
“Aku mungkin sedang tidak menjadi pimpinan kerajaan, Pangeran Uzan,” kata Romeo. “Akan tetapi, banyak sekali yang bisa diperoleh jika kita bisa memperluas wilayah dan memiliki banyak tanah. Selain memantau kualitasnya.”
“Yah, itu benar,” kata Uzan. “Mungkin hanya aku sebagai seorang pangeran yang mempunyai kecenderungan untuk memperbaiki kualitas pimpinan. Mungkin Axel dan lainnya masih berbeda lagi dalam mengatur kerajaan.”
“Itu benar,” kata Romeo. “Walaupun begitu, hal ini sangatlah merugikan. Aku juga ingat ketika Indara menghancurkan istana ini untuk mendapatkan kekuatan. Pengambilan wilayah ini untuk dirinya sendiri dan tidak ada perjanjian dan kesepakatan bersama.”
Uzan berujar, “Untuk soal Indara, semoga saja ia bisa berubah dan mengakui kesalahannya.”
“Tidak semudah itu, pangeran,” kata Romeo. “Bahkan aku tidak akan merasa kasihan kepada Indara.”
“Kenapa?”
“Jika ditilik ulang,” kata Romeo. “Ia sudah mengubah beberapa peraturan Kerajaan Igardias yang nyaman bagi para penyihir.”
“Apakah ini berkenaan dengan peraturan bahwa jika seorang raja berasal dari bangsa penyihir, maka sihirnya akan disirnakan?” kata Uzan. “Aku setidaknya sudah tahu salah satu dari peraturan tersebut.”
“Sebenarnya jika hanya itu saja peraturannya, aku tidak akan keberatan,” kata Romeo. “Akan tetapi, hal ini mencakup berbagai macam aspek sihir yang ada di dalam istana dan diluarnya. Ada sekitar tiga puluh peraturan lebih yang dicanangkan dan merugikan para penyihir di Igardias Sehingga, yang sebelumnya aura sihir Igardias yang terang seperti sinar bulan purnama, menjadi seperti kerlipan bintang.”
__ADS_1
“Apakah kau berencana untuk membangkitkan aura sihir yang ada di Igardias, Romeo?” tanya Uzan.
“Jika aku bisa, aku akan melakukannya. Walaupun….” Romeo menghela. “Aku akan memperhatikan situasi dan kondisi yang berkaitan dengan rancangan pengubahan itu.”
“Kau punya kesempatan menjadi raja,” kata Uzan, “dengan menikahi Putri Layla. Jadi, kau juga punya kesempatan untuk membangkitkan aura sihir di Igardias, kan?”
“Aku belum mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ kepada Raja Guvar soal tawaran itu,” kata Romeo. “Akan tetapi, ketika aku menyetujui tawaran itu dan berkata ‘ya’, maka aku akan dijadikan raja.
“Setelah menjadi raja, sihirku ini akan dinihilkan dan akan menjadi raja biasa, tanpa sihir, dan diajarkan untuk bermain pedang. Akan tetapi, pada saat itu aku akan sudah terbiasa dengann permainan pedangku sehingga aku tidak punya keinginan kembali untuk meningkatkan kembali aura magis, aura sihir yang ada di Kerajaan ini.”
“Begitu, ya?” kata Uzan. “Jadi, kau masih meragukan penerimaan tawaran itu karena akan berpengaruh pada sudt pandangmu kelak?”
“Aku tidak ingin menyebutnya sebagai keraguan,” kata Romeo. “Aku menyebutnya sebagai pertimbangan. Setidaknya aku akan memperhatikan situasi dan kondisi terlebih dahulu sebelum menerima tawaran untuk menikahi Putri Layla.”
“Apakah itu tidak teralu kejam jika Putri Layla sudah memiliki perasaan denganmu, namun kau tidak membalasnya?”
“Untuk sekarang ini, aku akan mengutamakan akalku dahulu, Pangeran Uzan,” kata Romeo. “Jika aku benar – benar mengutamakan perasaan Putri Layla, maka aku akan izin untuk tidak menjadi apapun setelah menikah dengannya dan menjadi rakyat biasa. Sebagai abdi, sebagai petinggi Istana di Kerajaan Igardias ini, aku akan lebih mengutamakan tugas terlebih dahulu. Walaupun aku juga memperhatikan tawaran dari Raja Guvar dan Ratu Agatha perihal diriku yang akan dijadikan Raja.”
“Aku tidak heran bahwa kau dijadikan Petinggi hubungan antar negeri, Romeo,” Uzan tersenyum. “Kau sangat loyal, tidak seperti rekanku yang baru saja mengambil wilyaha kerajaanku.”
Romeo tersenyum. “Bagaimana dengan rekan – rekan yang kau bawa kesini bersamamu, Pangeran?”
“Rekan – rekanku semuanya selamat,” kata Uzan. “Salah satunya adalah makhluk dari bukit Giraf, satunya lagi adalah Klerik, dan satunya lagi Penyihir Magnasia elemen angin yang baru kutemui di salah satu pasar di Kastala. Arika namanya.”
“Arika, ya?” kata Romeo. “Aku mengenalnya. Kebetulan pamannya bekerja sebagai bendahara istana ini. Itu kebetulan sekali. Tapi kebetulan kau membawa Klerik, itu menarik bagiku.”
“Max Purify,” kata Romeo. “Menarik sekali, menyembuhkan rekan – rekan selagi mereka bertarung. Itu cukup langka. Tidak heran kau bisa bertahan hidup ketiga bertualang ke sini.”
“Aku juga takjub dengan kekuatan itu,” kata Uzan sambil tersenyum.
“Sihir klerik sangat cocok untuk bergabung dengan sihir Nekroz milikku untuk keperluan Faraq nantinya,” kata Romeo.“Semoga saja tidak ada yang menyalahgunakan sihir klerik itu.”
“Apa maksudmu dengan menyalahgunakan sihir klerik itu?” tanya Uzan.
“Ada beberapa oknum prajurit dan penyihir yang menginginkan seorang klerik sebagai anggota mereka karena kekuatan klerik untuk menyembuhkan itu.”
Uzan memegang dagu. “Kukira kekuatan Klerik itu hanya menyembuhkan dengan sihir, kan?”
“Walaupun tampak remeh di mata orang – orang awam, kekuatan klerik yang katanya hanya bisa menyembuhkan dengan sihir itu sangat berbahaya jika disalah gunakan.”
“Misalnya?”
“Sihir Sara adalah untuk menyembuhkan,” kata Romeo. “Apa perihal paling buruk yang akan terjadi ketika penyakit seseorang tidak sembuh dan semakin parah?”
__ADS_1
Uzan terdiam sejenak. “Perlahan ia akan kehilangan nyawa.”
“Itu benar, pangeran Uzan,” kata Romeo. “Akan tetapi, ‘perlahan’ yang baru saja kau ucapkan tidak akan menjadi perlahan, melainkan mempercepat. Ini berarti seorang Klerik jika disalah gunakan kekuatannya oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab, akan dimanfaatkan untuk merugikan banyak orang.”
Uzan memikirkan Sara dan kekuatan penyembuhannya sebagai Klerik. Tidak disangka bahwa kekuatan itu bisa menjadi berbahaya jika disalahgunakan.
Sesaat kemudian, sang pangeran berkata, “Terima kasih atas maklumatnya mengenai Klerik, Romeo.”
Romeo tersenyum. “Sama – sama, Pangeran.”
Beberapa lama kemudian, Pangeran Uzan dan Romeo berkeputusan untuk memisahkan diri untuk mengakhiri percakapan tersebut untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk hari esok.
__ADS_1