Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pasar Riyaal


__ADS_3

Mereka beristirahat di sebuah tempat penginapan sederhana yang mereka temui setelah perjalanan. Di sana, mereka menyewa dua buah kamar. Satu untuk Uzan, Edgar, dan Dubal. Satu lagi untuk Sara.


Keesokan harinya, Uzan dan lainnya terbangun di tengah hari karena kelelahan di malam harinya. Mereka berdiskusi tentang perencanaan sebelum memasuki pasar Riyaal. Sara memasuki kamar Uzan dan lainnya. Setelah itu, mereka berdiskusi.


“Jadi, supaya kita tidak berputar – putar ketika mencari barang,” kata Sara. “Lebih baik kita tetapkan dahulu tentang apa yang ingin kita beli.”


“Itu mudah!” Edgar berseru. “Sekeluar dari Alam Magis itu, kukira kita tidak menyisakan apapun selain Gulungan ajaib, uang, dan barang – barang pribadi Dubal.”


“Itu benar,” Dubal mengangguk. “Paling tidak kalian harus membeli barang – barang milik kalian sendiri.”


“Untung saja aku masih punya uang,” Uzan menjentikan jari. “Namun kali ini, dengan bijak, kita harus berhemat karena kemungkinan kita masih akan banyak membutuhkan uang tersebut.”


“Jika kalian mau,” kata Dubal, “aku akan membantu kalian dengan uang yang diberikan Pangeran Uzan untukku.”


“Itu tidak perlu,” cegah Uzan. “Kau bisa menikmati  jerih payahmu karena sudah membantu kami.”


“Itu benar sekali!” Edgar menggaruk kepala. “Walaupun kalau Dubal mau membantu, sebenarnya aku akan lebih mengapresiasi.”


Uzan mengabaikan Edgar. “Jadi, kita membutuhkan pakaian, senjata, dan makanan dan obat – obatan. Kita akan jaga – jaga jika ada yang terluka.”


“Apakah ada usulan lain sebelum kita berangkat?”


“Bagaimana jika aku mengusulkan bahwa kita ganti kuda?”


Uzan menatap Dubal yang mengutarakan pertanyaan dengan raut muka serius. “Kenapa, Dubal?


“Aku kira,” Dubal memilin janggutnya, “akan lebih efisien jika kelompok kita ditarik oleh satu orang pengendara dan lainnya berada di dalam kereta.”


“Hey, Dubal,” kata Edgar, “Apakah kau tidak memperhatikan kudamu? Kendaraan yang sering kau kendarai dan rawat. Kalau kudaku tidak ditangkap makhluk magis itu, pasti aku tidak akan mau ganti kuda.”


“Aku tahu bahwa ada segelintir atau beberapa orang yang memiliki kuda kesukaan atau apalah. Namun, aku menganggap bahwa misi ini penting,” Dubal menjelaskan. “Jika ditilik dari kepentingan, nasib Kastala lebih penting daripada sekedar kuda.”


“Aku setuju, ” Sara mengangguk “Apalagi jika kita berada di dalam kereta tertutup, maka tidak ada yang akan bisa mengenali  Pangeran Uzan dan membahayakannya.”


Dubal menyeringai. “Selain itu, kita tidak akan dihampiri oleh orang – orang sepertiku untuk ke depannya.”


“Itu benar!” Edgar menjentikkan jari. “Sebenarnya Dubal sendiri kukira juga tampak berbahaya, namun lama – kelamaan aku merasa terbiasa dengannya.”


“Itu adalah sebuah keberuntungan yang akan jarang sekali terjadi”


Edgar dan Dubal tertawa bersama.


Uzan melihat Sara yang sedang termenung dengan tatapan kosong. “Ada apa, Sara?”


“Aku juga membayangkan jika Rena ikut kita, mungkin kita bisa mempermudah perjalanan kita” Sara menggeleng. “Apalagi, jika aku lebih mengetahui tentang maklumat yang berkaitan dengan gulungan ajaib itu.”


Setelah reda dari tawanya, Dubal bertanya, “Siapa Rena?”


“Rena adalah teman kami,” Jawab Uzan. “Ia adalah seorang penyihir.”


“Penyihir, ya?” kata Dubal. “Menarik sekali.”


Uzan berujar, “Dia tidak bisa ikut karena dia menjabat sebagai petinggi yang turut andil untuk mengamankan Istana dan pemukiman sekitarnya.”


“Itu sangat disayangkan.”


“Ya…” kata Sara. “Seandainya Rena ikut, hal ini mungkin akan menjadi lebih mudah. Apalagi akhir -  akhir ini aku ingin bertanya tentang bagaimana intuisi pangeran Uzan itu bekerja.”


“Sangat disayangkan jika di dalam kelompok kita tidak memiliki anggota yang punya pengetahuan lebih tentang sihir.”


“Tuan Uzan,” Sara bertanya dengan nada khawatir. “Apakah Rena tidak memberi tahu apa – apa ketika persiapan keberangkatan?”


“Rena berselisih dengan Faraq…” Uzan mengingat – ngingat kejadian lalu “Ia berkomentar banyak ketika aku melakukan Ritual persiapan itu,” kata Uzan. “Namun aku lebih mempercayai Faraq karena ia berhubungan dengan Kamasa dan mereka bekerja sama antara satu dengan yang lain. Walaupun…”


“Hey,” Edgar menambahkan. “Itu mungkin bisa dimaklumi karena Rena itu cerewet.”


Uzan mengabaikan Edgar. “Mari kita tidak mempermasalahkan tentang Rena dan mengalihkan perhatian ke masalah utama.”


“Sepertinya harus menghemat waktu,” kata Dubal. “Bahkan aku sudah mempersiapkan barang – barangku sejak tadi pagi.”

__ADS_1


“Baiklah” kata Uzan.


“Ayo kita berangkat!” Seru Edgar dengan yakin yakin dan Sara pun, namun masih tampak khawatir. Akhirnya Mereka semua segera mengakhiri diskusi dan segera bersiap – siap.


Setelah mereka meninggalkan penginapan, Uzan dan lainnya menuju ke sebuah pasar.


Terdapat sebuah Plakat bertuliskan ‘Pasar Riyaal’ di depan gapura pintu masuk pasar tersebut. Para pedagang dan pembeli menyemut di tempat itu untuk melakukan transaksi.


Sembari menuntun kuda, Uzan dan lainnya berjalan menyusuri pasar untuk melakukan perencanaan mereka.


Edgar menanyakan keberadaan toko makanan, pakaian, senjata, serta obat – obatan. Mereka tidak menemui kesulitan ketika mempertanyakan tempat – tempat tersebut karena banyak orang yang sudah hafal tentang tempat – tempat di pasar tersebut.


Setelah membeli beberapa potong pakaian untuk masing-masing orang, mereka berempat berbelanja untuk membeli perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak lupa, Uzan membeli Mantel Kuda agar barang – barang tersebut bisa dibawa oleh kuda Dubal untuk sementara waktu.


Setelah toko pakaian, mereka berempat ke Toko obat untuk membeli obat – obatan. Ke salah satu toko obat terbesar di pasar tesebut.


Sara menanyakan apakah ada Gelang Azure untuk meningkatkan kekuatan Magis Klerik. Sang penjual memberikan lima buah gelang Azure dan memberikan maklumat bahwa itu adalah stok terakhir karena belum ada kiriman dari pulau Igardias.


Selanjutnya, Uzan dan lainnya menghampiri sebuah toko senjata. Toko itu menyediakan berbagai macam senjata yang terpampang di dinding.


“Silahkan memilih senjata yang kalian suka” kata si penjual.


Kemudian, Sang pangeran dan lainnya ke Toko Senjata. Edgar merasa bersemangat. Ia membeli Tombak paling tajam disana. Sara mencegah karena mahal. Tapi Uzan menyetujui. Dubal masih tetap dengan kapaknya. Uzan juga membeli pedang.


“Apa kau tidak memiliki pedang khusus, pangeran Uzan?” tanya Dubal.


“Ada sebuah pedang bernama Gray Slasher di istana. Namun, Ibuku bilang bahwa pedang itu khusus untuk melindungi Istana.”


“Sangat di sayangkan. Bahkan Kapak Bluest Axe milik pangeran Axel selalu dibawa ke mana – mana.” Kata Dubal. “Senjata kerajaan bisa dipastikan memiliki kekuatan keramat. Bukankah begitu?”


“Ayahku bilang bahwa mengandalkan bahwa kepercayaan diri akan timbul karena motivasi dari diri sendiri daripada kesaktian senjata yang dimiliki.”


Dubal tersenyum. “Kau menarik sekali, pangeran.”


Setelah selesai, Uzan langsung membayar semua yang sudah dibeli. Setelah transaksi selesai, mereka membawa barang - barang mereka.


Di toko kuda itu, ratusan kuda tersedia dan bertempat di kandang mereka masing – masing. Puluhan petugas rawat juga sedang lalu lalang mengurusi kuda – kuda yang sedang dinegoisasikan oleh banyak pembeli.


Setelah Uzan berkata pada salah satu petugas, ia memanggil penjualnya.


Seorang pria bertopi Cowboy coklat berkumis panjang mendatar keluar dari salah satu ruangan. Ia membawa tatakan kertas dan pulpen.


"Oh, ternyata ada pengunjung yang butuh kuda, ya?” Penjual itu menyalami Uzan dan lainnya. “Panggil aku Roshar!”


Uzan mempersilahkan Dubal berbicara dalam transaksi. “Apakah kalian menyediakan kuda beserta keretanya?”


“Tunggu sebentar!" Roshar memanggil seorang petugas dan berbicara kepadanya.


Setelah beberapa lama, petugas tersebut datang dengan kuda putih berekor emas.


“Ini dia!” seru Penjual itu. “Kami persembahkan untuk kalian kuda magis impor dari Igardias”


Uzan dan lainnya memandang kuda itu sembari merasa takjub. Tapi dengan cepat Uzan dan Dubal meredakan ketakjuban mereka.


“Dari Igardias, ya?” kata Sara “Apakah kuda itu memiliki kekuatan magis?”


“Kekuatan Magis?” Roshar menghela. “Tidak punya. Tapi dia kebal dengan kekuatan magis. Berikut dengan kereta kencananya.”


“Apakah ada sesuatu yang spesial dari kuda itu?” kata Edgar dengan antusias.


“Yang bisa aku jelaskan dari kuda yang aku jual adalah bahwa ia kebal dengan kekuatan magis,” Roshar memilin kumisnya. “Kereta kencana yang ia bawa pun tidak akan akan mudah hancur karena memiliki kekebalan tinggi terhadap serangan magis ataupun non magis.”


“Bagaimana menurutmu, kalian?” Dubal mengedarkan pandangan ke Uzan dan lainnya. “Kuda itu terlihat mewah.”


“Mengingat pentingnya tugas yang kita emban,” Uzan memegang dagu, “kita akan langsung mengambilnya.”


“Apa kau tidak mempertimbangkan aspek lainnya?”


“Jika hal ini kebal dengan kekuatan magis, maka kesempatan ini tidak bisa dilewatkan,” Uzan menghela.

__ADS_1


“Ambil saja, Uzan!” celetuk Edgar.


“Aku juga setuju jika kita langsung mengambilnya.” kata Sara. “Menimbang betapa pentingnya tugas yang kita emban, seperti yang kita bicarakan di penginapan tadi.”


Setelah berpikirnya sejenak, Dubal membuka pembicaraan.


“Baiklah! kami ingin melakukan tukar tambah dengan kuda kami.”


“Sudah kuduga,” kata Roshar. “Salah satu petugas tempat ini sudah memeriksa kuda kalian dan melakukan estimasi harga jika kalian memang ingin tukar tambah dengan kuda mewah ini.”


“Berapa yang harus kami bayar?”


“Apa kalian memang akan membayar kuda ini?” Roshar menatap Uzan dengan pandangan skeptis. “kalimat ‘sudah kuduga’ yang baru saja aku ucapkan hanyalah candaan.”


“Kami serius ingin membelinya.”


“Kuda kalian memang sedang dalam keadaan normal seperti kuda – kuda pada umumnya. Namun hanya bisa menutupi sedikit biaya yang harus kalian keluarkan untuk membeli kuda mewah ini.”


"Kau bilang bahwa kuda itu hanya ada satu," kata Uzan dengan nada memuji.  “Kami tidak bisa melewatkan kesempatan untuk membeli kuda yang luar biasa.”


“Baiklah, “Roshar tersenyum. Ia segera menghitung.“Jadi harga totalnya….”


Uzan membayarkan biaya tukar tambah kuda tersebut dan Roshar memanggil petugas kuda agar menuntun kuda – kuda yang digunakan untuk membuat transaksi. Dubal dan Edgar mengikuti petugas tersebut untuk memmbantu mengurus proses tukar tambah.


Roshar menghitung uang yang diterimanya. “Tidak biasanya ada yang membeli kuda semahal itu. Tentu saja hal ini sangat penting”


“Namaku Uzan,” Sang pangeran memperkenalkan diri, “Aku adalah putra tunggal Raja Endan, Raja dari Istana Kastala.”


“Pangeran ya?” Roshar memasukkan uangnya ke tas pinggangnya lalu bersedekap. Ia tampak tidak memperdulikan. “Maafkan daku karena tidak kenal Pangeran. Bahkan aku hanya mendengar nama Raja Endan dan belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya perduli dengan transaksi yang kulakukan dengan pelanggan – pelangganku.”


“Itu tidak kupermasalahkan”


“Sering terjadi gempa akhir – akhir ini,” Sara berujar kepada Roshar walaupun ia tidak menyukai reaksi penjual itu. “Bagaimana keadaan pasar ini ketika gempa periodik terjadi?”


“Memang gempa yang terjadi di sekitar pasar Riyaal ini terjadi beberapa kali,” Roshar memegang dagunya. “Setahuku, para pengunjung dan para pedagang di sini hanya berhenti ketika gempa terjadi.”


“Apakah ada kerusakan yang timbul?”


“Kerusakan? Tentunya ada. Ada apa?”


“Kami berempat sedang melakukan perjalanan untuk menghentikan gempa ini,” kata Sara. “Banyak orang yang menganggap bahwa hal ini berkaitan dengan sihir.”


“Oh, ya?” kata Roshar “Kurasa Raja Endan akhirnya membuat keputusan untuk menghentikan gempa ini.”


Uzan tersenyum. “Kami merasa berterima kasih karena anda menyediakan kuda khusus bagi kami untuk melakukan perjalanan.”


“Berjualan kuda adalah tugas kami. Jadi, itu adalah hal yang biasa.”


Keheningan sesaat terjadi diantara mereka bertiga. Roshar bersiul – bersiul sambil memandangi orang – orang yang melakukan transaksi di Istal mereka. Memang semenjak gempa  periodik yang terjadi di Kastala, pelanggannya berkurang.


“Ngomong – ngomong, kau bilang bahwa ini berkaitan dengan sihir, kan?” kata Roshar. “Ada seorang gadis penyihir muda yang tinggal di sana. Dia sangat ingin menghentikan gempa ini bagaimanapun caranya. kalian bisa memasukkannya dalam kelompok jika memang butuh.”


Roshar menunjukkan Arah dengan jarinya menyusuri jalanan yang ada di pasar. Uzan dan Sara mengikuti arah pandangan Roshar.


“Tadi pagi, ia baru saja lewat sini dan bilang bahwa ia tinggal di pemukiman kecil sebelah sana. Yang aku ketahui tentang dia hanyalah bahwa dia adalah seorang penyihir.”


Setelah beberapa saat, Edgar dan Dubal datang membawa kuda berekor emas berikut dengan kereta kencana yang ditariknya. Edgar mengendarai kuda tersebut. “Pesiapan sudah selesai, Uzan.”


“Barang – barangnya juga sudah masuk ke dalam kereta kencana” kata Dubal sembari membuka pintu kereta kencana itu.


“Terima kasih atas maklumatnya, Tuan Roshar,” kata Uzan. “Kami akan pergi sekarang.”


“Karena gempa periodik ini, pelanggan kita menjadi berkurang,” Roshar tersenyum. “Aku berharap agar kalian segera menyelesaikan tugas kalian untuk meredakan gempa ini.”


Edgar segera menaiki Trez, kuda putih berekor emas tersebut. Uzan, Sara dan Dubal memasuki kereta kencana. Setelah kuda dipacu, sang pangeran dan teman - temannya segera menjauh meninggalkan toko kuda tersebut.


“Ini sangatlah menguntungkan,” Roshar menyeringai. “Bahkan sang pangeran pun tidak tahu bahwa kuda itu adalah curian dari Igardias.”


Penjual kuda itu kembali ke istal kuda untuk mengurus pelanggan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2