Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Rekap...


__ADS_3

“Pangeran, mari kita langsung menuju ke batu Akais itu,” kata Arika. “Walaupun…”


“Ada apa?” tanya sang pangeran.


“Jika dilihat lagi, tempat batu Akais tersebut terlihat semakin jauh dan semaikin jauh. Bisa jadi, itu hanyalah sebuah fatamorgana.”


“Fatamorgana?”


“Maksudku,” Arika menghela. “Karena sinar mentari yang menyinari kita dan keganjilan karena seharusnya di gua tidak ada ruang bersinar mentari. Selain itu, Dim si prajurit batu bilang bahwa hal ini adalah semacam alam magis yang dilancaran oleh Invel. Jadi, aku yakin bahwa tepat ini memiliki fatamorgana di mana pastinya batu Akais yang sedang kita pandang itu bukanlah hal yang asli.”


Uzan menggeram. “Permainan apa lagi yang sedang dijalankan Invel?”


“Tadi Dim bicara bahwa kita akan langsung diberi Batu Akais. Tapi aku rasa hal ini sangatlah tidak mungkin terjadi.”


“Mungkin saja kita harus mengambil Material Magis itu sendiri dengan menghampirinya,” Uzan menghela kesal. “Mari kita berjalan ke sana.”


Arika ingin berkata kepada Uzan bahwa Fatamorgana Batu Akais tersebut kemungkinan adalah palsu. Selain itu, pastinya mereka akan kesusahan jika ingin menghampiri Material Magis itu. Tapi ia menurut saja. Siapa tahu perkiraannya salah.


“Mari,” kata Uzan. “Perjalanannya ke sana cukup jauh jika dipandang dari sini. Sebaiknya kita berjalan menuju arah batu Akais itu saja sambil berhati – hati jika kemungkinan ada serangan dadakan.”


“Baiklah,” kata Arika.


Uzan dan Arika berjalan bersama menuju ke arah batu Akais tersebut. Di dalam perjalanan, prasangka Arika benar. Batu Akais tersebut terasa menjauh dan menjauh. Walaupun begitu, Uzan masih tetap berjalan bersama Arika.


Sembari berjalan,Uzan berujar, “Kita akan terus berjalan ke sana sambil waspada. Siapa tahu Dim melakukan tipu daya kepada kita berdua dan berniat untuk langsung mencabut nyawa kita untuk Invel.


Arika menoleh ke arah Uzan yang tampak yakin. Setelah itu, ia mengangguk. “Baiklah, pangeran.”

__ADS_1


Uzan berkata, “Apakah kau masih ingat tentang janji Invel sejak pertarungan awal di gua ini, Arika?”


“Iya, pangeran,” kata Arika. “Awalnya, Invel berkata bahwa Batu Akais ini tidak akan akan bisa diperoleh. Seorang penyihir bisa memperolehnya ratusan tahun lalu. Namun setelah itu, Invel berkata bahwa penyihir tersebut kehilangan seluruh kekuatannya.”


“Lalu?”


“Setelah itu, Invel berkata bahwa ia akan memanfaatkanku sebagai tumbal di gua ini agar bisa menghisap seluruh kekuatanku tanpa sisa.”


“Setelah itu?”


“Di ujian kedua, Invel bilang bahwa aku tidak akan menjadi tumbalnya karena aku kalah ketika melawan Sara dan Rota. Di samping itu, Invel berbicara bahwa kita lemah karena kita berdua bahkan tidak kuasa untuk menyakiti para klon – klon yang menyerupai kawan – kawan kita.”


“Apakah kau bisa menarik kesimpulan dari janji – janji mereka?”


“Aku tidak yakin, pangeran,” Arika menggeleng. “Yang aku ketahui adalah bahwa maklumat satu dan maklumat lainnya yang dilontarkan oleh Invel terasa berlawanan antara satu sama lain. Aku juga tidak mengerti apakah rencana yang ia sampaikan memang hanya untuk mempermainkan suasana hati ataukah memang rencana.


“Itu masalahnya,” kata Uzan. Sembari berjalan bersama Arika, ia menatap ke depan dan memang merasa bahwa mereka berdua tidak mendekati batu Akais tersebut. Walaupun ia sudah diberi petuah oleh Dim tentang ini dan maklumat bahwa mereka dipekerjakan oleh Invel yang hanya bertugas sebagai ‘pemandu’, Uzan yakin bahwa hal itu hanyalah omong kosong dan—seperti yang dikatakan oleh Arika—mempermainkan suasana hati. “Dengan ini, apakah kau punya komentar tentang maklumat yang baru saja disampaikan Dim kepadamu?”


“Itu saja?” Uzan tidak percaya. Ia tampak sinis. Setelah itu, sang pangeran menghela. “aku rasa kita semua memang dipaksa untuk melakukan pertarungan dengan teman – teman kita. Bukankah begitu?”


“Pangeran, Dim bilang bahwa hal tersebut hanya merupakan percobaan,” kata Arika. “Selain itu, di ujian ketiga ini, kita hanya bertarung dengan para prajurit batu sejenak. Lalu, mereka mengakui bahwa kita akan memperoleh Batu Akais itu secara cuma – cuma.”


“Ini tidak masuk akal,” Uzan menghela kesal. “Setelah maklumat itu disampaikan oleh Dim, kau langsung bisa menyampaikan bahwa hal tersebut hanyalah perkataan yang mempermainkan suasana hati agar kita lega. Lalu, kau bisa merasakan bahwa tempat ini adalah sebuah alam magis di mana kita harus bersusah payah dan berjalan ke arah batu Akais yang sedang ada di depan kita tanpa pengetahuan bahwa Material Magis itu sudah pasti kita peroleh bukan.”


“Iya pangeran,” kata Arika. “Aku juga tidak bagaimana—”


Sebuah hembusan kencang menghentikan perkataan Arika. Angin tersebut berdebu dan tampak mengelilingi Uzan dan Arika. Desauan angin tersebut terdengar ringan. Arika segera memunculkan tongkat sihirnya untuk menyalakan sihir kubah angin kehijauan untuk melingkup dirinya dan sang pangeran.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Angin berdebu tersebut berhenti. Arika menghentikan sihir anginnya. Seketika pula, Uzan dan Arika melihat sosok Invel yang jelas sedang berdiri beberapa langkah di depan menghadap mereka.


“Maksudmu apa dan bagaimana?” kata Invel. Sang drakula tampak memutar kedua bola matannya.


“Apa maksudmu dengan ini, Invel?” tanya Uzan


Invel bersedekap dan berujar, “Aku mendengar seluruh pembicaraan kalian dan merasakan gejolak keraguan yang kalian rasakan.”


Uzan dan Arika hanya menatap Invel tanpa sepatah kata pun yang terlontar.


“Jangan khawatir!” kata Invel. Setelah itu, sang drakula mengangkat telapak tangannya ke depan. Setelah membuka telapak tangannya, ratusan cahaya merah bermunculan dan melayang di sekitar Invel setelah itu, perlahan cahaya merah tersebut melayang rendah dan lambat memusat di atas telapak tangan Invel. Kemudian, seketika sebuah Batu Merah muncul terletak di atas telapak tangan Invel.


Memandang batu merah tersebut, Uzan dan Arika tampak kagum.


“Ini adalah Batu Akais yang sedang kalian cari,” kata Invel. “Apakah kalian tidak heran kenapa aku bisa bertahan sebagai drakula di terik matahari ini?”


“Aku tahu kenapa,” Arika mengabaikan kekaguman dan segera menjawab pertanyaan Invel. “Kau bisa bertahan di terik matahari sebagai kelawar dan drakula karena tempat ini adalah Alam Magis khusus Gua Akais.”


“Itu benar, Arika,” kata Invel. “Bukan hanya itu, tapi aku bisa bertahan di luar gua Akais di siang hari. Syaratnya adalah bahwa aku tidak boleh berada jauh dari Gua Akais ini.”


Uzan tampak heran dengan ucapan Invel yang tidak mengarah pada Batu Akais yang sedang ada di telapak tangannya. Rasanya, perkiraan awal Arika memang benar. Invel hanya ingin mempermainkan suasan hati saja dan terlalu plin – plan dalam melakukan sesuatu. Sepertinya Arika sengaja mengikuti pertanyaan pancingan Invel.


“Baiklah, Invel,” kata Uzan dengan nada tenang. “Dim berkata bahwa pada akhirnya kami berdua akan memperoleh Batu Akais itu secara cuma – Cuma. Jadi, berikan Material Magis itu kepada kami.”


“Baiklah, pangeran,” kata Invel dengan nada datar seperti ia tidak melakukan kesalahan apa – apa. “Ini Batu Akais yang kalian berdua butuhkan.”


Batu Akais yang berada di atas telapak tangan Invel melayang lambat menuju Uzan. Dengan pelan sang pangeran menggenggam batu Akais tersebut dengan pelan. Lalu, ia menengadahkan telapak tangannya.

__ADS_1


Uzan dan Arika melihat Batu Akais yang baru saja mereka peroleh dan menganguminya dari dekat. Material Magis itu memendarkan cahaya kemerahan.


Invel berujar, “pastinya kalian tidak perlu penasaran dengan apa yang akan aku lakukan setelah ini.”


__ADS_2