
Rena dan Rowan tergeletak di atas tanah kepala. Aliran darah mengalir dari kepala mereka. ratusan bebatuan berada di sekeliling mereka.
“Mereka belum mati.” Rafael menghela kesal. “Aku malas bicara dengan mereka berdua.”
“Tuan Faraq memang sudah terbunuh,” seorang penyihir perempuan menghampiri Rafael. “Tapi Rena tidak tahu semua manfaat dari jimat hijau yang sedng kita pakai ini.”
“Memang benar, Larisa,” kata Rafael. “Masih ada manfaat lain yang Rena belum ketahui. Mari kita bangkitkan kembali Tuan Faraq. Kau yang pimpin.”
Larisa membuka tudungnya, menampakkan penampilannya sebagai seorang gadis muda berambut panjang dan pirang. “Baiklah!”
Setelah mencabut tombak dari tubuh Faraq, Rafael dan para penyihir lainnya menjauhkan jasadnya dari Rena dan Rowan. Setelah meletakannya di tanah, mereka berdiri mengelilingi jasada petinggi itu.
Larisa menanamkan menjulurkan tangannya ke ke depan, tepat di atas tubuh Faraq. Beberapa saat kemudian, gadis itu merapalkan mantra. Cahaya putih berpendar di telapak tangannya. Lalu, cahaya hijau berpendar di kalung jimat yang ia kenakan.
Proses itu berlangsung lama. Sampai pada akhirnya, luka Faraq menutup, jantungnya berdetak kembali. Petinggi itu membuka mata.
“Jadi, inilah rasanya dibangkitkan dari kematian?” Faraq memandang langit. Setelah itu, ia langsung berdiri. Ia merasa segar seolah baru saja bangun dari tidur nyenyak. Ingatannya masih utuh. Dia barus saja di bunuh oleh Rowan.
Para Rafael dan para penyihir mundur untuk memberi ruang bagi Faraq. Petinggi itu menoleh ke arah Rowan danm Rena yang sedang tergeletak di tanah. Ia bertanya, “Apakah mereka berdua sudah mati?”
“Belum, Tuan Faraq,” kata Larisa. “Kami sisihkan mereka untuk keperluan kita ke depan.”
“Bagus, Larisa,” Faraq tersenyum. “Kita simpan dulu nyawa mereka.”
“Kita belum membunuh Raja Endan, Tuan Faraq,” Rafael mulai berbicara. “Kami siap jika kau menitahkan untuk mencari dan membunuhnya sekarang.”
“Belum perlu,” kata Faraq. “Aku ingin memeriksa keadaan Uzan sekarang. Rivata, Laporkan!”
Salah lagi penyihir bertudung itu menampakkan dirinya. Seorang perempuan berkulit hijau dan berambut keriting tersenyum. “Ada beberapa laporan khusus yang perlu anda ketahui tentang perjalanan Pangeran Uzan.”
“Ceritakan seluruhnya!”
Rivata menceritakan bahwa ia memiliki mata – mata berwujud Unliv yang sedang menjadi kendaraan Uzan. Kemudian, ia juga mengatakan bahwa urutan pengumpulan Material Magis sudah diputarbalikkan. Uzan juga sudah menambah personil kelompoknya dan membuat keputusan untuk kembali lagi ke Kastala untuk menghampiri Faraq karena sudah merasa dimanfaatkan. Sekarang, Uzan sedang ada di hutan Lumina dan mengikuti seorang pixi untuk berbicara pada Uvuk.
Kau tidak perlu meragukan tentang mata – mata yang aku wujudkan dalam bentuk kereta kencana, Tuan Faraq,” Rivata tersenyum. “Kemampuanku untuk memanipulasi tanaman pasti bisa kau andalkan.”
__ADS_1
Setelah mendengar maklumat Rivata tentang perjalanan Uzan, ia mengangguk. “Selayaknya kita harus mengambil alih istana kerajaan ini agar ketika pangeran itu datang, kita akan bisa langsung mengusirnya.
“Aku punya ide lain,” kata salah satu penyihir.
“Aku juga sedang kekurangan pendapat, Malvin.” Faraq menghela. “Apa idemu?”
Malvin membuka tudung penyihirnya. Menampakkan dirinya yang memiliki rambut hijau berpaku. “Bagaimana kalau kita langsung menuju ke arah hutan Lumina?”
“Jikalau kita memiliki piranti untuk ke tempat jauh itu, kukira itu alasan bagus, Malvin,” kata Rafael. “Tapi itu terlalu jauh dan akan memakan waktu lama.”
“Kalau kita sendiri, mungkin akan memakan waktu lama,” kata Malvin. “Tapi kita tidak senirian karena aku memiliki ini.”
Malvin mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Dia berwujud manusia kerdil bersayap. Pendaran cahayanya telah meredup. Tubuhnya melemah.
Larisa tampak tertarik. “Pixi?”
“Namanya adalah Hikin,” kata Faraq. “Ia bertugas sebagai pegawai kerajaan.”
“Aku mengetahui bahwa Pixi ini bisa berpindah tempat melalui sebuah portal besar dari satu tempat ke tempat lain,” Malvin menjelaskan. “Kita akan memaksanya untuk memindahkan kita secara langsung ke hutan Lumina.”
“Terima kasih,” kata Malvin.
“Segera setelah ini, aku akan menugaskanmu untuk membunuh Pangeran Uzan.
“Tentu saja, Tuan Faraq,” kata Malvin. “Sebagaimana aku telah mencelakakan gadis penyihir dan prajurit ini, aku akan mencabut nyawa Pangeran Uzan.”
“Terima kasih, Malvin,” kata Faraq.
Malvin memasukkan Hikin yang masih melemah ke sakunya kembali.
“Sekarang, kau harus laporkan kepadaku tentang kondisi masyarakat yang ada di sekitar Istana, Frigg!”
“Pertama kali bencana gempa ini terjadi, aku memang sudah ditugaskan oleh Tuan Faraq untuk memicu huru – hara di pemukiman sekitar Istana.” Penyihir bertudung terakhir menampilkan wajahnya. “Untung saja tidak ada menyangka bahwa aku adalah pengikut setia Tuan Faraq.”
“Apa laporan yang bisa kau laporkan sekarang, Frigg?” Faraq langsung bertanya.
__ADS_1
Frigg menghela. “Raja Endan masih tidak mau mengambil resiko dengan sistem pengamanan yang ia canangkan sejak rapat. Ini bisa menjadi pertanda baik, namun bisa jadi pertanda buruk.”
“Jelaskan!”
“Di sisi baiknya bagi kita, warga masih percaya bahwa gempa ini masih belum tuntas karena kelalaian Raja Endan yang masih menetap dengan peraturannya. Jadi, kita masih punya waktu untuk melakukan kristalisasi, atau dalam wacana ini, adalah memicu awarga agar memberikan kebencian kepada Kerajaan Kastala dan membangun kepercayaan kepada Tuan Faraq
“Sisi buruknya, jika kita tidak segera bertindak, maka kristalisasi akan batal, apalagi para prajurit yang baru saja di titahkan oleh raja Endan sudah menyebarkan maklumat bahwa Tuan Faraq adalah pelaku dari bencana ini.”
“Aku tidak akan merasa heran jika Tuan Faraq memberikan titah untuk salah satu kami untuk membunuh raja Endan,” kata Malvin.
“Aku memang akan menitahkan hal itu, Malvin,” kata Faraq. “Bukan hanya raja Endan, tapi juga ratu Sofia.”
Malvin bersedekap sambil menyeringai. “Jadi, siapa dari kami yang akan kau titahkan untuk membunuh dua pimpinan Istana ini, Tuan Faraq?”
“Rivata,” ujar Faraq. “Setelah ini, kau cari Raja Endan dan Ratu Sofia. Setelah itu, kau langsung cabut nyawa mereka.”
Rivata mengangguk.“Baiklah, Tuan Faraq”
“Sudah diputuskan,” kata Faraq. Setelah ini, Melvin akan bertugas untuk membunuh Uzan di hutan Lumina. Rivata, aku harap agar kau berhasil mencari dan membunuh Raja Endan dan Ratu Sofia. Kau harus sudah memberikan jasad mereka berdua kepadaku.”
“Baiklah,Tuan,” kata Malvin dan Rivata secara bersamaan.
“Bagaimana dengan para prajurit yang sudah disuruh Raja Endan untuk menyebar maklumat tentang Tuan Faraq?” tanya Rafael.
“Kita sudah tidak akan bisa mengejar mereka, sayang sekali,” Faraq menghela kecewa. “akan tetapi, aku yakin bahwa kita akan bhisa membunuh Raja Endan dan Ratu Sofia.”
“Apakah kau membuat tenggat waktu untuk segera memulihkan Kerajaan Kastala dari bencana periodik ini, Tuan Faraq?” tanya Larisa.
“Ini sudah tidak bukan lagi gempa periodik, Larisa,” kata Malvin. “Gempa sudah berhenti, tapi Raja Endan yang dungu masih berhati – hati.”
“Jaga ucapanmu, Malvin!” kata Faraq. “Bisa jadi Raja Endan memiliki rencana tersembunyi begitu ia tahu bahwa aku adalah pelakunya.”
“Itu benar,” kata Frigg. “Kita juga harus waspada. Jika salah langkah, semua rencana kita akan gagal.”
“Itu benar,” kata Faraq. “Mari segera eksekusi hasil diskusi yang baru saja kita peroleh!”
__ADS_1