Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Penentuan Langkah


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Uzan dan Arika, Edgar dan lainnya terheran.


“Memang benar bahwa kami pingsan di sini,” kata Dubal. “Tapi kami—atau setidaknya aku—tidak merasakan bahwa kami telah bertarung dengan kalian berdua.”


“Itu benar,” kata Sara. “Aku juga tidak habis pikir bahwa aku dan Rota akan bertarung bersama melawan Arika.”


“Walauapun begitu,” kata Rota. “yang dikatakan Arika tentang tiga kekuatan mayor yang kumiliki memang tidak bisa dipungkiri kebenaranya. Untuk selanjutnya, kau harus lebih berhati – hati, Arika!”


“Baiklah,” Arika mengangguk.


Edgar bersedekap. “aku tidak menyangka bahwa kami dijadikan boneka klon oleh makhluk kelelawar baru saja.”


“Kau bilang bahwa berbicaranya berputar- putar?” kata Dubal. “Karangan tentang sejarah dari Gua Akais ini cukup meyakinkan bagiku. Terutama tentang penyihir yang kehilangan kekuatannya setelah mendapatkan Batu Akais seratus tahun lalu.”


“Itu sebabnya,” Arika cemberut. “Karena Invel tidak bisa dipercaya, maka kita juga tidak bisa yakin sepenuhnya bahwa sejarah Gua Akais ini sama dengan yang diucapkan oleh drakula itu.”


“Paling tidak Invel memberikan hadiah bagimu, kan, pangeran Uzan?” Sara tersenyum.


“Itu benar,” kata Uzan. “Semoga saja kita mendapat memanfaatkan Dim suatu saat nanti.”


“Uzan,” kata Edgar. “ketika kau dan Arika sedang ada di dalam Gua…ehemm..sebelum kami pingsan atau apalah, kami berdiskusi dan berkesimpulan bahwa tugas ini mencurigakan.”


“Itu benar, pangeran Uzan,” kata Dubal. “Terutama terhentinya gempa periodik yang terjadi sejak keberangkatan kita untuk mengumpulkan material magis ini.”


“Aku sudah menduga bahwa kalian akan membicarakan tentang hal ini,” kata Uzan. “Tidak hanya sejak ketiadaan Rivata ketika pengarahan Material Magis.”


“Aku juga mencurigai ini,” kata Arika.


“Tapi nyatanya, kita sudah diarahkan bahwa kita harus menuju ke Hutan Lumina, hutan para Pixi, untuk mendapatkan Tongkat Lumina,” kata Rota. “Jadi, setelah ini, apa keputusanmu, Pangeran Uzan.”


Uzan menatap ke tanah sembari berfikir lama. Rekan – rekannya hanya menatap sang pangeran sembari menunggu keputusan muncul darinya.

__ADS_1


“Apakah kalian punya masukan agar aku bisa menentukan arahlangkah kita selanjutnya?” tanya Uzan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar kawan – kawannya.


“Itu tergantung keputusan awalmu tentang ini, Pangeran Uzan,” kata Dubal. “Apakah kau berencana untuk melanjutkan perjalanan, atau berbalik arah untuk menuju ke Istana Kastala?”


“Sudah sejauh ini,” kata Uzan. “Kurasa sudah tidak mungkin jika kita ingin kembali ke Kastala.”


“Masih mungkin,” kata Rota. “Aku bisa membuka portal menuju Bukit Giraf kalau kau mau, pangeran. Hal itu akan memperpendek jarak tempuh untuk kembali ke Kastala. Apalagi, jika memang penting, aku juga bisa langsung ke Istana dengan menggabungkan kekuatanku, Arika, dan Sara, yang resikonya adalah kami bertiga akan kehilangan sihir selama tiga hari.”


“Mengapa kau mau bertindak sejauh itu, Rota?” tanya Arika.


“Sebelumnya, aku ingin mengikuti kalian karena ingin bertemu dengan Galar dan menumpasnya,” kata Rota sambil bersedekap. “Walaupun sebentar, jika kuperhatikan tentang jalannya kelompok ini, akan terjadi sebuah pengkhiatan yang, kurang lebih sama, atau bahkan lebih keji dari pada yang sudah dilakukan Galar terhadap Fatta dan makhluk Girafan lainnya.”


“Itu akan menjadi pertibangan, Rota,” kata Uzan. “Di sini, apa untungnya jika kita membandingkannya dengan melanjutkan perjalanan kita untuk mendapatkan Tongkat Lumina seperti yang sudah diarahkan oleh Perkamen Material Magis?”


“Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi….” Edgar berujar. “Hal itu juga berarti bahwa kita mengikuti kehendak Faraq dan kita akan ehem…dipermainkan?”


“Apa kau harus berburuk sangka kepada Faraq, Edgar,” kata Sara.


“Bagaimana Pangeran,” Arika menoleh ke arah Uzan yang masih berfikir. “Apakah kau sudah bisa mengambil kesimpulan?”


Beberapa saat kemudian, Uzan berujar, “Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan untuk memperoleh Togkat Lumina ini. Namun, kita tidak akan mengembalikan Material Magis itu ke Istana.”


“Kukira itu langkah bagus,” kata Dubal. “Apa yang menjadi dasar pemilihan langkah itu, pangeran Uzan?”


“Prasangka buruk dan memanfaatkan kesempatan.”


“Apakah seharusnya kau tidak menggunakan prasangka untuk mengambil keputusan, pangeran,” kata Sara.


“Normalnya, seharusnya Pangeran Uzan memutuskan dengan pikiran logis dan bukan prasangka,” kata Dubal. “Namun, kata ‘memanfaatkan kesempatan’ yang baru saja ia ujarkan sepertinya mempunyai konotasi baik bagi kita karena hal itu berarti, jika kita bisa memiliki Tongkat Lumina yang akan kita peroleh dan berjaga – jaga jika kita dikhianati oleh Istana. Bukankah begitu, pangeran Uzan?”


“Itu benar,” kata Uzan. “Atau setidaknya, itu adalah tujuanku untuk sementara ini.”

__ADS_1


“Untuk sementara ini ya,” Edgar memegang dagu. Lagipula, dengan Rivata yang hilang dari arahan, apakah itu berarti bahwa kita juga akan mencari Rivata itu?”


Uzan menggeleng. “Yang ada dipikiranku sekarang adalah kita akan melanjutkan perjalanan untuk mendapatkan Material Magis selanjutnya. Setelah itu, kita akan langsung berbalik ke Bukit Giraf untuk menuju langsung menuju ke Istana.”


“Tunggu,” kata Sara “Apakah kau lupa bahwa kau juga sedang diburu di Bukit Giraf karena kita telah mengambil Kain Kagigar Perak tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa izin dari mereka?”


Rota memukul kening. “Aku lupa!”


“Untung saja kau mengingatkan, Sara,” kata Edgar sambil melirik gadis itu. “Kalau tidak, kita akan sial”


“Baiklah, pangeran,” Rota meralat. “Jika kau ingin kembali ke Istana Kastala, maka aku, Sara, dan Arika akan bersedia untuk menyajikan sihir portal untukmu.”


“Dan menghilangkan kekuatan kalian bertiga selama tiga hari?”


“Itu tidak masalah,” kata Sara. “Perlu diketahui bahwa ruang portal ke Istana Kastala tidak bisa dimasuki tanpa resiko karena ada kubah magis tak kasat mata yang mencegah makhluk magis untuk keluar masuk portal dengan seenaknya sendiri.”


“Seandainya Rena tidak jadi Petinggi Bagian Penyihir dan Penyembuh,” Edgar cemberut.


“Seharusnya kita senang karena dengan pantauan Rena, makhluk Magis yang masuk ke Kastala berkurang drastis, Edgar.” Kata Sara.


“Ya…yaa…” Edgar menggeleng. “Paling tidak kalian bertiga yang harus menanggung resiko kehilangan kekuatan selama tiga hari kalau kita memang berbalik pulang ke Istana.”


“Aku tidak mempermasalahkan itu,” kata Arika. “Aku akan menyajikan sihir untuk itu jika memang berguna untuk menuntaskan ketidakpastian ini.”


“Baiklah,” Uzan mengangguk mantap. “Mari kita bersiap untuk berangkat menuju Hutan Lumina.”


Setelah sarapan mereka tandas, Uzan dan para rekannya berdiri dan bersiap – siap dengan kuda mereka, Zero, dan juga kereta kencana yang dibawanya. Sebelumnya, Uzan melakukan ritual bersama dengan Rota, Arika, dan Sara untuk mengaktifkan portal menuju Hutan Lumina.


Uzan membayangkan hutan Lumina yang tertera di alam bawah sadar pikirannya. Hutan tersebut tampaak gelap dan dikelilingi puluhan Pixi yang melayang dan lalu lalang mengitari sekitarnya.


Setelah Ritual selesai, Dubal segera mengendarai Zero. Uzan dan lainnya masuk ke Kereta kencana. Beberapa saat kemudian, sebuah portal hitam memutar di depan mereka. Setelah Dubal memacu kekang kuda Zero, mereka langsung melenggang menuju portal tersebut dan segera lenyap dari keberadaan.

__ADS_1


__ADS_2