
Derap kaki kuda terdengar berkali – kali. Sudah tiga jam Layla menyusuri pemukiman istana. Memang kata Raja dan Ratu, rumah Romeo masih ada di dalam sebuah pemukiman. Akan tetapi, hal itu tidak benar. Karena di sekitar Istana Igardias, ada beberapa pemukiman istana yang jaraknya ada di luar istana, yang masih dianggap sebagai pemukiman Istana.
Dalam perjalanan, Layla hampir terjatuh beberapa kali karena kehilangan keseimbangan. Ia sangat menyayangkan dirinya sendiri yang sangat lambat dalam mempelajari cara berkuda dengan baik sehingga orang tuanya sering menugasinya kesana kemari hanya untuk memperlancar keterampilannya dalam berkuda.
Setelah lama perjalanan, akhirnya Layla tiba di Desa Romadi, salah satu dari banyak cabang pemukiman Istana Igardias. Desa itu terlihat cukup sederhana dengan rumah – rumah penduduk biasa kalangan menengah. Akan tetapi, sebenarnya, orang – orang yang tinggal di sana adalah orang – orang penting yang ingin menyederhanakan gaya hidupnya.
Layla menghentikan kudanya di depan salah satu rumah sederhana berdinding putih beratapkan kubah.
Ketika sang putri hendak membuka pintu depan, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.
“Selamat malam,” kata Layla berjalan memasuki rumah itu. Ia sudah beberapa kali mengunjungi Romeo di rumah ini dan segera duduk di salah satu bangku yang tersedia di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, datanglah makhluk berjubah hitam melayang yang mendatangi Layla. Makhluk itu masih menggunakan tudung jubah, menampakkan gelap mukanya.
“Ada apa gerangan anda datang kemari, Putri Lyla?” makhluk itu membuka tudung jubahnya, menampakkan kepala tengkorak putih.
“Orsei,” Layla menyapa makhluk itu tanpa memeberi komentar pada wujudnya. “Aku ingin bertemu dengan Romeo.”
Orsei mengeluarkan lengan kanan dari jubahnya, yang berwujud tulang, dan mengarahkannya ke pintu depan yang kebetulan belum ditutup. Perlahan, pintu tersebut menutup dengan sendirinya.
“Tuan Romeo mengetahui kedatangan anda, Putri,” kata Orsei. “Apakah ada masalah di istana?”
“Tentu saja ada masalah di istana, Orsei,” kata Layla kesal. “Aku sampai repot untuk mengarungi perjalanan untuk mengunjungi rumah ini untuk menghampirinya.”
“Sangat ganjil,” Orsei menghela. “Biasanya Raja Guvar dan Ratu Agatha mengirimkan mengirimkan pesan jarak jauh dari istana. Kau bisa menceritakan masalah itu melaluiku, akan kusampaikan kepada Tuan Romeo.
“Ini menyangkut kerajaan Kastala yang baru saja diambil alih oleh petugas istana,” kata Layla. “Untuk lebih jelasnya, lebih baik aku menceritakannya langsung kepada Romeo.”
“Kerajaan Kastala baru saja diambil alih ya?” Orsei tertegun. Ia menunduk kepada sang putri. Setelah menegakkan tubuhnya, ia berkata, “Sebaiknya aku memanggil Tuan Romeo untuk penjelasan yang lebih jauh. Aku permisi dulu.”
Orsei segera melayang meninggalkan ruang tamu.
“Seharusnya Istana sudah memberitahu tentang hal ini dari awal,” gumam Layla. “Aku juga tidak suka ketika Romeo mengirimkan kerangka manusia melayang sebagai perwakilan.”
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Romeo datang. Ia memiliki rambut jabrik dan sudah siap mempersiapkan diri dengan jubah hitamnya.
“Apa kau harus menggunakan Orsei untuk mengirimkan pesan – pesanmu?” tanya Layla dengan nada kesal. “Apa kau sudah menerima maklumat dari istana?”
“Aku tahu bahwa kau lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh,” Romeo berkata dengan nada tenang. Kemudian, ia duduk di bangku yang ada di seberang Layla. “Aku belum menerima maklumat tentang itu dari istana.”
Layla bersedekap dengan raut muka cemberut dan memalingkan muka.
Beberapa saat kemudian, Orsei datang melayang dan membawa secangkir kecil kopi. Kemudian, ia menunduk dan memberikannya kepada Layla.
Perlahan, Layla membuka kedua tangannya, menerima cangkir itu, lalu meminumnya. Kemudian, sang putri menyerahkan kembali cangkir itu kepada Orsei.
Setelah kerangka melayang itu menerima cangkir itu, ia segera beranjak pergi dari ruangan itu, meninggalkan Romeo dan Layla di sana.
Beberapa saat kemudian, Layla berkata, “Pangeran Uzan datang ke Istana Kastala bersama teman – temannya karena kerajaan Kastala diambil alih oleh petinggi Istana bernama Faraq. Kau tahu tentangnya, kan?”
“Sudah kuduga,” kata Romeo. “Tuan Faraq memang sudah melakukan apa yang direncanakannya.”
“Tidak salah lagi,” kata Romeo. “Raja Guvar ingin lebih mengetahui lebih tentang Tuan Faraq dan membongkar masa lalunya.”
“Jadi, itu adalah tujuan ayah memanggilmu,” kata Layla. “Untuk mengetahui masa lalu Faraq?”
“Itu benar,” kata Romeo. “Jadi, kita akan langsung menuju Istana melalui sihir plasma yang aku miliki agar kau tidak perlu bersusah – susah untuk berkendara kembali ke istana.”
Romeo segera berdiri dan merapikan jubahnya. Kemudian, ia berdiri di samping pintu depan yang masih tertutup. Lalu , ia menjentikkan jari, menyebabkan asap beriringan dan mewujud menjadi Orsei, kerangka manusia melayang berjubah hitam pelayannya.
Orsei bekata, “Aku sudah mengetahui bahwa Putri Layla membawa kuda istana ke sini. Jadi, aku akan bisa mengirimkan diriku, Tuan Romeo, dan putri Layla untuk membuka portal dan langsung menuju ke Istana Kastala.”
“Apa kau sudah siap, Layla?” tanya Romeo.
“Tunggu!” kata Layla. Ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri Romeo. “Aku ingin berbicara kepadamu tentang…rencana pertunangan kita.”
Romeo terdiam sejenak. Ia mengamati Layla yang meletakkan tangannya di dada, raut wajahnya tersirat keseriusan dan kekhawatiran.
__ADS_1
“Apa kau masih meragukan Ayah dan Ibu yang merencanakan pertunangan antara kita?” kata Layla.
“Jika kau menanyakan hal itu, aku tidak yakin,” kata Romeo. “Aku menyukaimu sebagai seorang putri, Layla. Akan tetapi, aku masih harus mempertimbangkan resiko ketika aku diangkat sebagai seorang raja.”
“Apakah kau masih meragukan keputusan ayah bahwa, ketika seorang penyihir menjadi raja di Igardias, sihirnya harus dihilangkan, dan ia harus mulai belajar memakai senjarta pedang?”
“Aku tidak ingin terdengar seperti orang lemah dan penakut, tapi itu benar,” kata Romeo. “Peraturan itu diberlakukan semenjak serangan Indara di Igardias. Setelah ia dipenjara, Raja Guvar memutuskan bahwa ketika seorang penyihir, jika menjadi raja, kekuatannya harus dihapus. Setelah itu, seluruh kerajaan di Namaril mengikuti peraturan itu.”
“Apa kau sudah menyatakan penolakanmu tentang perjodohanmu denganku,” Layla seolah tidak memperdulikan perkataan Romeo baru saja.
“Aku mengajukan permintaan kepada Raja Guvar agar syarat itu dihapus. Akan tetapi, ia menolaknya dan tetap bersikukuh untuk menetapkan peraturannya.”
“Jika kau memang menyukaiku, maka kau akan rela dengan resiko itu, kan?” kata Layla dengan nada memohon.
“Aku mengajukan permintaan untuk mempertimbangkan penawaran ini,” kata Romeo sambil meletakkan tangannya di bahu Layla. “Aku butuh waktu…”
“Romeo,” kata Layla. “Aku berharap semoga kau menyetujui penawaran ini.”
Romeo tersenyum dan mengangguk, memberikan secercah harapan kepada Layla. “Sebelum itu, kita akan menyelesaikan masalah utama dahulu.”
Layla memejamkan mata sejenak sambil menenangkan diri. Kemudian, ia membuka matanya. “Baiklah, Orsey, aku sudah siap untuk dikirim kembali ke Istana.”
“Aku pun begitu,” kata Romeo.
Tengkorak Orsei, yang dari tadi terdiam, berujar dengan tenang, “Seperti biasa, ketika aku menepuka tanganku tiga kali, maka kita semua akan berubah menjadi debu. Ini adalah sihir plasma milik Tuan Romeo.
“Akan kubiarkan kudaku tinggal di sini, Orsey.” Kata Layla.
“Baiklah, Tuan Putri,” Orsei merentangkan tangannya.
Setelah itu, Orsei menepuk sekali, lalu merentangkan tangannya kembali. Kemduain, ia menepuk untuk kedua kalinnya, lalu merentangkan tangannya kembali.
Ketika Orsei melakukan tepukan ketiga, dirinya, Romeo, dan Layla langusng meledak menjadi debu arang hitam, menandakan keberadaan mereka yang secara instan kembali pulang ke Istana.
__ADS_1