
Dari kejauhan, Sara dan Arika bisa melihat Uzan menghadapi dua lawan, Dubal menghadapi dua lawan, dan Edgar juga menghadapi dua lawan.
Ketiga pria itu memisahkan diri untuk membagi perhatian musuh.
Sambil bertarung dengan pedangnya, Uzan juga memperhatikan pola serangan Manusia Pohon yang dihadapinya.
Pola pertama makhluk tersebut adalah memanjangkan tangan akar mereka, lalu menyapukannya ke lawan. Kedua, mereka beberapa kali mencoba mencengkeram lawan mereka dengan akar mereka. Ketiga, mereka mempertebal tangan akar, lalu meluncurkannya bagaikan tinju. Mereka juga beberapa kali memperuncing kepala mereka dan menyeruduk lawan.
Uzan berhasil memotong tangan akar mereka berkali – kali dengan pedangnya, namun tangan Manusia Pohon tersebut tumbuh kembali.
Ketika bertarung, tebasan kapak Dubal mengenai tubuh bagian tengah satu Manusia Pohon yang tengah dihadapinya. Makhluk itu langsung terbelah menjadi dua dan tidak bangkit kembali. “Cukup mudah,” ia menyeringai sambil menebaskan kapaknya ke target lain.
“Satu tumbang, tinggal lima,” gumam Uzan. Setelah melihat rekannya berhasil menjatuhkan satu musuh, sang pangeran menjadi semakin percaya diri. Tebasan pedangnya sendiri ditangkis oleh Manusia Pohon yang sedang dihadapinya.
Sang pangeran melompat mundur, menghadapi dua Manusia Pohon. “Berarti kelemahannya adalah bagian tubuh utama.”
Salah satu Manusia Pohon di depan Uzan merutuk, “Jangan kira bahwa tebasan keberuntungan itu akan terulang kembali! Kalian harus tahu bahwa kami kebal senjata tajam karena perlindungan Sentafal.”
“Oh, ya?” kata Uzan. “Seharusnya kalian bilang begitu sebelum pertarungan! Begitu satu terbelah, maka kami yakin bahwa kalian semua akan tumbang.”
Dua Manusia Pohon di depan Uzan berpegangan tangan. Dengan cepat, tubuh mereka bergabung menjadi satu.”
“Unliv, manusia pohon tunggal tidak bisa menghadapimu,” manusia pohon gabungan tersebut menumbuhkan empat tangan dan berukuran dua kali lebih besar. “Duliv adalah jawaban.”
Duliv mengarahkan tangan akarnya ke arah Uzan. Akar itu menjalar cepat ke arahnya, namun Uzan berhasil menghindar deng berlari zig – zag menuju makhluk tersebut. Sambil melompat ke arah Duliv, sang pangeran berseru, “Apapun bentukmu, kau akan tumbang.”
-
-
“Seharusnya aku membawa pedang,” kata Edgar dengan wajah merana. Ia sudah beberapa kali menghunjamkan tombak kepada dua Unliv yang dihadapinya, namun mereka masih bisa bergerak dan memiliki tenaga lebih. “Hujaman tombakku tidak ada pengaruhnya bagi mereka.”
Sang prajurit berhasil dipojokkan oleh Dua Unliv ke arah dimana Sara dan Arika berdiri, menyebabkan klerik dan penyihir itu lebih waspada.
“Kenapa mereka terlihat lebih agresif ketika melawan Edgar dibandingkan Dubal dan Uzan?” Sara bertanya kepada Arika.
“Um...” Arika mulai memperhatikan dua Unliv yang dihadapi Edgar. “Mungkin karena mereka sudah tahu bahwa senjata Edgar dan serangan Trez tidak begitu berpengaruh kepada mereka sehingga membuat mereka lebih yakin untuk melakukan serangan lebih.”
__ADS_1
Arika mengedepankan tongkatnya ke arah Unliv yang dihadapi Edgar. Bola angin kehijauan terbentuk di depannya dan langsung melesat ke arah manusia pohon tersebut sampai ia terpental dan jatuh. Ia berdiri kembali, memanjangkan tangan akarnya, lalu menyapukannya ke arah penyihir tersebut.
Sebelum Sara dan Arika terkena, Edgar menghantam manusia pohon tersebut dengan kudanya sehingga serangannya meleset. Edgar akan memastikan agar manusia pohon tersebut tidak mendekati Sara dan Arika dengan serangan fisik.
Sara sudah menyalakan telapak tangannya sejak awal pertarungan. Sembari memperhatikan pertarungan, ia memusatkan sihir penyembuhannya ke empat kawannya. Walaupun Dubal sudah bisa menumbangkan satu Unliv, namun ia masih tampak kesulitan untuk melawan satu lagi. Namun ia sudah tidak khawatir dengan Dubal. Klerik itu lebih memusatkan sihir penyembuhannya kepada Uzan, Arika, dan Dubal.
Setelah sekian lama menghadapi Edgar dan merasa jenuh, dua Unliv yang menghadapi Edgar bergabung menjadi satu untuk membentuk Duliv. Edgar, Arika, dan Sara memperhatikan makhluk itu.
“Apalagi yang mereka berdua lakukan?” kata Edgar sambil melihat Duliv yang memiliki ukuran lebih besar dan bertangan empat.
Mereka berdua bergabung menjadi Duliv, gabungan dua manusia pohon,” kata Arika. “Dua Unliv menjadi Duliv.”
Mereka cuma menambah ukuran dan memiliki empat tangan, kan?”
Arika menggeleng. “Mereka juga menihilkan kelemahan Unliv.”
Dahi Sara mengerut. “Apakah itu berarti bagian tubuh mereka tidak bisa ditebas?”
Arika mengangguk dengan rasa khawatir. “Masih bisa, tapi jauh lebih sulit.”
Dari perkataanmu sebelum pertarungan melawan mereka, kau meyakinkan kami bahwa ini akan mudah” kata Edgar. “Aku mulai meragukanmu.”
Edgar, Arika, dan Sara tertegun melihat Duliv menengadahkan keempat telapak tangannya. Cahaya perunggu berpendar di mata kayunya. Setelah itu, sebuah bola kayu muncul dan melayang – layang di depan manusia pohon tersebut. Dengan cepat, bola kayuitu melesat dan menghantam Edgar dan Trez sampai sang prajurit terpental bersama kudanya.
“Edgar!” seru Arika. Penyihir itu kembali menemnakkan bola – bola angin dengan tongkat sihirnya. Duliv beberapa kali terdorong ke belakang. Arika menekankan sihirnya sampai bola angin yang dibentuknya menebal. Lalu, ia melesatkannya ke arah Duliv sampai makhluk itu terpental jauh. Duliv meraung keras. Lalu, ia mulai berjalan cepat ke arah Sara dan Arika.
Setelah melakukan sihir itu, Arika mulai terjatuh.
“Kau tidak apa – apa, Arika?” tanya Sara.
“Tidak apa – apa, Sara,” kata Arika. Ia mulai memulih berkat sihir Sara.
Tanpa di sadari, Edgar dan Trez sudah berdiri kembali di samping Arika dan Sara.
“Edgar,” kata Arika. “Kau tidak apa – apa?”
“Sara sudah menyembuhkanku dan Trez,” kata Edgar. “Tenang saja.”
__ADS_1
Duliv sudah mendekat ke arah Arika dan lainnya. Raungan – raungannya semakin terdengar.
“Kau baru saja membuat makhluk besar itu terpental jauh, kan?” ujar Edgar. “Kau bisa melakukannya lagi, Arika.”
Arika mengerutkan dahi. “Ia memang kelihatan terpental, tapi sebenarnya efek dari sihirku barusan tidak begitu mempan terhadapnya.”
Edgar menghela kesal. “Berarti mekhluk magis tidak akan bisa disakiti dengan serangan sihir, ya?”
“Itu benar,” kata Arika.
“Lalu, bagaimana cara kita untuk mengalahkan dia?” tanya Sara.
Pertanyaan Sara tidak terjawab karena Duliv memanjangkan dua lengan kanannya, menyapukannya ke arah sang klerik dan kedua rekannya.
Edgar, Arika, dan Sara. terpental ke samping. Cahaya di telapak tangan Sara meredup. Mereka bertiga sulit berdiri karena kerasnya hantaman makhluk itu.
“Egh!” kata Edgar. Ia melihat Sara dan Arika yang terjerembap tidak jauh dari tempatnya saat ini. Arika mulai merangkak dan mengambil tongkat sihirnya kembali. Sara juga lambat laun mulai berdiri.
Duliv tertawa terbahak – bahak sambil meenghentak – hentakkan kakinya. “Bagaiman kalian akan bertarung melawanku kalau kalian banyak bicara begitu?”
Edgar menghampiri Sara dan Arika. Mereka berdua tampak kesakitan. Bagaimana tidak, kerasnya satu hantaman Duliv tadi bagaikan dihantam oleh pohon beringin. Mereka sedang tidak bertarung dengan manusia, melainkan makhluk magis. Ia juga tidak bisa membayangkan seberapa kuat Sentafal yang akan ia hadapi.
“Kalian tidak apa – apa?” Edgar bertanya kepada Sara dan Arika.
Sara mengangguk. “Untung saja Duliv yang sedang kita hadapi tidak menyerang kita secara membabi buta.”
Gadis klerik itu melihat Dubal yang sedang bertarung melawan Unliv sambil memutar kapaknya. Makhluk yang dihadapi Dubal terasa lebih lincah. Uzan juga sedang bertarung melawan Duliv, makhluk yang sama seperti yang sedang dihadapinya dengan Edgar dan Arika saat ini. Sang pangeran terlihat lebih banyak menghindar daripada menyerang makhluk itu. Entah bagaimana ia bisa menghadapinya kalau satu serangannya bisa membuat dirinya, Edgar, dan Arika jatuh terpental seperti ini.
Edgar, Sara, dan Arika kembali berdiri berdekatan. Duliv yang berdiri di hadapan mereka masih tertawa terbahak - bahak.
“Aku kira bahwa dia sangat menyombongkan diri dan merasa bahwa dia punya kesempatan untuk mengalahkan kita kapan saja,” kata Arika.
Bahkan Uzan dan Dubal sendiri kelihatan kesulitan melawan makhluk magis seperti ini,” kata Edgar. Ia menggenggam tombaknya. “Ditambah lagi, tombak ini juga tidak ada gunanya.”
“Aku punya satu kekuatan yang bisa membantu mengalahkan makhluk ini, Edgar,” kata Arika. “Ini bisa digunakan untuk menghancurkan dia dalam sekali serang.”
“Kekuatan apa itu?” tanya Sara.
__ADS_1
Arika mengayunkan tongkat sihirnya. “Kekuatan ini hanya bisa digunakan dengan menggabungkan kekuatan kita bertiga.”