Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Rasa Curiga


__ADS_3

Dubal berhasil keluar dari pasar menuju hutan. Sihir angin yang mengelilinginya sudah lama sirna.Matahari sudah lama tenggelam, diganti oleh rembulan dan bintang – bintang yang menerangi gelapnya hutan. Selama perjalanan, ia hanya menyaksikan pepohonan yang menjulang di sekitarnya.


Dubal mengendarai kuda berikut dengan kereta kencana magis menyusuri hutan sembari menggunakan kepiawaiannya untuk mencari arah jalan di hutan tersebut Trez—kuda yang ditungganginya—berlari melewati jalur yang nyaman, tidak berbekas jatuhan batang pohon, dan tidak berbatu.


“Kau bisa mengurangi kecepatan berkudamu, Dubal,” Sebuah suara terdengar di benak Dubal.


“Kenapa, pangeran?” kata Dubal. Ia masih mengendarai Trez dengan kencang. “Jika arah tujuan selanjutnnya sudah diketahui, maka dengan kecepatan lebih, maka kita akan sampai tujuan.”


“Aku dan teman – teman lainnya akan berbincang – bincang di dalam kereta kencana. Kami harap, dengan berkurangnya kecepatan kuda ini, kau juga bisa berkendara sambil menyimak, atau memberi pendapat.”


“Baiklah,” kata Dubal. Prajurit itu mengendorkan tali kekang Trez sehingga lari kuda itu melambat, namun tetap stabil. “Baiklah, silahkan memulai perbincangan.”


Di bagian dalam kereta kencana, Uzan, Edgar, Sara, dan Arika sedang duduk. Tersedia dua kursi cukup panjang yang berhadapan antara satu sama lain. Uzan dan Edgar duduk bersebelahan, menghadap Sara yang juga duduk bersampingan dengan Arika.


Mereka merasa nyaman karena akhirnya mengetahui bahwa Dubal sudah bisa membawa mereka meloloskan diri dari kejaran bandit – bandit tersebut.


“Terima kasih, Dubal” kata Uzan melalui telepati magis kereta kencana.


“Sial!” Edgar menggeram. “Kenapa kita selalu harus melarikan diri?”


“Kita tidak punya pilihan lain, Edgar!” ujar Sara. “Kita tidak bisa menjatuhkan diri dalam situasi berbahaya seperti yang terjadi ketika mengambil kain Kagigar Perak.”


“Ini sangat parah!” Edgar menghela kesal. “Tidak sesuai dengan asas keberanian prajurit. Benar, kan, Dubal?”


“DASAR BODOH” Seru Dubal. Suaranya menggema di seluruh ruangan, menyebabkan Sara dan Arika berjengit. “JIKA KITA NEKAT MENYERANG MEREKA, NYAWA KITA SENDIRI YANG AKAN HABIS!”


“Bisakah kau memelankan suaramu, Tuan Dubal.” Pinta Sara.


Dubal memelankan suaranya, “Maaf…”


Uzan mengingatkan rekannya dengan suara datar, “Kita tidak boleh gegabah, Edgar!”


Edgar hanya cemberut dan bertopang dagu.


“Setelah ini, kita akan ke Rivata,” Uzan memulai perbincangan. “Arika, apakah kau tahu tentang seluk beluk Rivata ini?”


“Ya, pangeran,” Arika mengangguk. Rivata adalah seorang Ivy, pengendali tanaman. Ia hanya bisa ditemui di hutan Roderi.”


“Apakah jalanan yang sedang kita lewati ini adalah termasuk bagian dari hutan Roderi?’


“Tidak, pangeran,” kata Sara. “Hutan Roderi, jika ditempuh dari pasar Riyaal, akan memerlukan waktu sekiranya sepertiga hari.”


“Delapan jam?” kata Edgar “Dubal, sebaiknya kau lewati jalanan ini sembari mencari penginapan.”


Suara Dubal menggema di seluruh ruangan. “Delapan jam adalah waktu yang diperlukan jika kita berjalan dengan kuda biasa, kan?’


Arika berujar, “Dengan Kuda Magis, bisa dua kali lebih cepat, tapi…” Gadis itu terlihat tidak yakin. Ia memandang ke bawah.


“Ada apa, Arika?” tanya Sara.


Gadis penyihir itu melihat ke arah Uzan “Pangeran Uzan, sejak aku mengamati perkamen sihir itu, ada sesuatu yang tidak beres.”

__ADS_1


Uzan memegang dagu. “Maksudmu?”


“Aku ingin bertanya, pangeran,” kata Arika. “Sebelum bertanya kepadaku, apa kau mengetahui lokasi Rivata berada?”


“Aku tidak mengetahuinya, namun aku mengetahui tentang arah perjalanan yang harus ditempuh.”


“Ketakutanku adalah…” Wajah Arika memuram. “Perkamen tersebut mengandung sihir ikatan.”


“Sihir ikatan,” Sara mengulangi dua kata terakhir yang diujarkan Arika. “Bisa kau jelaskan?”


“Sihir ikatan adalah sihir di mana korban di beri instruksi untuk mengikuti perintah penggunanya.”


Edgar menjentikkan jari. “Kita diarahkan untuk mengumpulkan material magis secara berurutan. setelah itu, Kerajaan Kastala akan pulih. Itu sederhana, bukan?”


“Tidak sesederhana itu…” Arika tidak melanjutkan perkataannya. Ia masih tampak ragu.


“Jadi…” Edgar menggaruk kepalanya. “Apakah ini berarti perkamen yang digunakan Uzan bukanlah jawaban untuk memulihkan bencana yang terjadi di Kastala?”


“Bukan begitu,” Arika meralat, “Material Magis yang dikandung perkamen tersebut memang berfungsi untuk memulihkan gempa ini, tapi apa kau tidak merasa bahwa kau sedang dikendalikan, Pangeran Uzan?”


“Oleh orang yang memberikan perkamen ini?” kata Uzan. “Jika itu yang kau maksud, maka Faraq yang memberikanku, ia adalah Petinggi Istana.”


“Apakah kau mengetahui tentang asal – usul perkamen tersebut?”


“Perkamen ini adalah pemberian Kamasa, Penyihir Penasehat Istana.”


“Apakah itu sudah melalui tahap pemurnian?”


“Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi jika kata ‘pemurnian’ yang kau ujarkan maksudnya adalah peresmian, aku yakin bahwa Kamasa sudah memurnikan perkamen ini.”


Edgar menghela.”Kalau begitu, apakah ini salah Faraq? kita bisa meminjam kalung Sila dan bilang kepada Faraq bahwa ada hal aneh yang berkaitan dengan perjalanan ini.”


“Tidak bisa, Edgar!” kata Dubal. “Kalung Sila adalah kalung khusus yang digunakan oleh satu orang dan berkomunikasi dengan dua makhluk.”


“Payah…”


“Faraq dan Kamasa ya…” kata Uzan. Ia berfikir sejenak. Setelah itu, ia berujar kepada rekan – rekannya, tolong beri aku waktu untuk berpikir tentang ini.


“Baiklah, pangeran,” kata Arika.


Uzan menyentuh keningnya dan memejamkan mata. Ruangan kereta kencana itu hening. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dikala Sang Pangeran berfikir. Arika baru saja mengatakan bahwa semua Material Magis yang dikandung oleh perkamen tersebut memang berfungsi sebagai pemulih bencana yang terjadi di kastala.


Namun, tidak ada salahnya jika ia juga memiliki kecurigaan tersendiri. Apalagi ketika pemberangkatan untuk mengumpulkan Material Magis ini, Rena berselisih dengan Faraq. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Apalagi, Kamasa juga tidak ada ketika kerajaan sedang dilanda bencana.


Uzan merasa bahwa ia diperalat menyeruak ketika pikirannya, secara tidak langsung, dikendalikan dengan arahan untuk memperoleh Material Magis dengan urutan tertentu dan sesuai dengan arahan yang terstruktur. Jadi…


Setelah membuka matanya, Uzan memecah keheningan dengan melontarkan ujaran, “Jika aku diperalat, maka apakah kau punya solusi agar kita tidak diperalat oleh siapapun atau kapanpun, Arika?”


“Bisa, pangeran,” Arika langsung menjawab. “Aku bisa mengatur ulang urutan Material Magis yang perlu di dapatkan. Jadi, semua material magis akan diperoleh, namun kita tidak menuruti urutan – urutan yang diarahkan oleh petinggi itu.”


“Tapi bagaimana jika arahan Kamasa untuk mengumpulkan Material Magis tersebut harus berurutan?” kata Sara. Ia merasa khawatir.

__ADS_1


“Dari pada kita diperalat, lebih baik kita lakukan dengan cara sendiri, Sara,” Uzan menghela kesal.


“Aku juga tidak begitu perduli kepada Kamasa yang kehadirannya nihil ketika sangat diperlukan.”


“Ternyata kau punya secercah jiwa pelanggar, Pangeran Uzan,” suara Dubal menggema. Ia tampak bangga.


“Baiklah, pangeran,” kata Arika. “Kita membutuhkan tempat untuk memulai ritual pemindahan urutan material magis karena sihir ini jangkauannya luas.


“Arika, apakah kau memang mampu untuk melakukan sihir itu?” tanya Sara.


“Aku mengambil pelajaran tentang Material Magis yang jumlahnya ratusan di dunia Namaril ketika masih di Igardias. Jadi, aku yakin dengan kemampuanku.”


“Aku akan mengambil resiko, Sara.” kata Uzan. “Aku harap kau mengerti.”


“Baiklah,” Sara mengangguk. “Semoga berhasil!”


Arika memberikan instruksi tentang cara mengubah urutan perolehan Material Magis. Setelah beberapa saat, Uzan akhirnya berseru, “Dubal, hentikan kereta kuda ini di tempat luas, kau bisa mempercepat laju kudanya!”


“Baiklah, pangeran!” kata Sang Prajurit. Dubal segera menambah kecepatan laju kuda yang ditungganginya. Trez mempercepat larinya. Jalan – jalan gelap dan pepohonan dilalui.


Akhirnya, mereka tiba di sebuah padang rumput nan luas. Dubal memberhentikan Trez di tengahnya. Setelah ia turun, ia membuka pintu kereta kencana. Uzan dan para rekannya keluar.


Mereka berlima mengagumi area sekitar padang rumput tersebut. Di bandingkan jalanan hutan yang baru saja dilaluinya, area yang sedang dipijaknya tidak terlihat gelap karena diterangi oleh cahaya bulan sabit dan bintang – bintang yang bertebaran di sekitarnya, di sana, seakan mereka berada di sebuah lapangan yang dilingkari pepohonan.


Setelah selesai dengan kekaguman mereka, mereka siap untuk mempraktekkan instruksi yang diberikan oleh Arika.


“Tolong posisikan dirimu di sana, Pangeran Uzan,” Kata Arika. “Untuk yang lain, kalian bisa berdiri di belakangku.


“Baiklah,” Kata Sara, lalu semua orang berposisi seperti yang diarahkan.


Uzan sendiri menghadap Arika yang berdiri bersama seluruh rekannya. Edgar, Dubal, dan Sara hanya mengamati.


Uzan menggenggam perkammen tersebut sambil memejamkan mata. Setelah itu, ia mengangkat tangannya bagaikan menyodorkan perkamen tersebut ke angkasa.


Setelah itu, Arika mengangkat tangannya ke depan. Kerlap – kerlip kehijauan mengelilingi gadis penyihir itu. Angin kosong di telapak tangannya menjelma menjadi sebuah tongkat sihir berada di genggaman gadis penyihir itu. Tongkat itu melengkung bagai bentuk sebuah tanda tanya.


Lalu, Penyihir itu mengacungkan ujung tongkat sihirnya ke arah Uzan yang sedang memejamkan mata.


Angin sepoi – sepoi mengelilingi mereka berlima, mendesirkan rerumputan yang mereka pijak.


Cahaya putih mulai terpancar dari perkamen yang digenggam Uzan. Tidak hanya itu, ratusan butiran cahaya juga melayang mengelilingi Sang Pangeran.


Setelah itu, Arika berujar dengan nada tinggi. “Pangeran Uzan, sebutkan urutan Material Magis yang engkau kehendaki.


Uzan berseru, “Kepala Sentafal, Batu Akais, Rivata, dan Lumina.”


Kemudian, Arika membaca mantra serta membisikkan nama – nama material magis sesuai dengan urutannya di antara barisan kalimat yang dirapalnya.


Empat bola cahaya putih terlontar dari Perkamen tersebut. Keempatnya bersatu membentuk bola cahaya yang lebih besar. Setelah itu, cahaya tersebut melayang ke depan Uzan yang, entah kenapa, pandangannya tidak tersilaukan. Lalu, dengan cepat cahaya tersebut meledak menjadi butiran debu putih.


Uzan menghirup nafas panjang. Ia sudah tidak dikelilingi partikel sihir, pertanda bahwa Sang Pangeran sudah selesai dengan ritualnya.

__ADS_1


“Uzan, bagaimana?” tanya Edgar.


“Terima kasih, Arika!” kata Uzan. Arika mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Sang Pangeran mengumumkan, “Tujuan kita selanjutnya adalah memburu Kepala Sentafal.”


__ADS_2