
Tidak lama setelah manusia pohon tersebut hancur, Edgar, Sara, dan Arika menghampiri Uzan dan Dubal.
Edgar menggaruk kepala. “Serangan macam apa yang kalian berdua lakukan kepadanya?”
Uzan meletakkan pedangnya di sarung senjatanya. “Aku menebas tubuh bagian tengahnya beberapa kali. Dubal menghujamnya dengan kapak sebagai serangan terakhir.
Arika berkomentar. “Aku tidak habis pikir bahwa Duliv bisa dikalahkan dengan cara sesederhana itu.”
Edgar berdecak gemas sambil menggeleng. “Padahal kami bertiga harus mengeluarkan kekuatan sihir untuk mengalahkannya.”
“Kalian tidak perlu mempermasalahkan hal itu,” kata Dubal. Ia menendang pelan serpihan kayu yang baru saja hancur. “Nona Sara, kau tidak apa – apa?”
Sara tampak kelelahan, namun ia mengangguk. “Aku tidak apa – apa, Tuan Dubal."
“Kerja bagus, Sara!” Uzan tersenyum sambil bersedekap. “Tanpa bantuanmu, kami tidak akan bisa mengalahkannya.”
“Terima kasih,” Sara tersenyum. “Untung saja kalian masih bisa melanjutkan pertarungan walaupun sihirku sempat redup.”
“Ngomong – ngomong,” Edgar memandang Sara dengan rasa ingin tahu.
“Mengapa kau langsung lelah ketika pertama kali melawan para bandit ketika kita bertiga dicegat?”
“Itu karena Max Purify, semakin jarang digunakan, akan semakin memiliki dampak fisik bagi penggunanya. Benar,kan, Sara?” kata Arika.
“Itu benar,” ujar Sara. “Itu karena sebelumnya, aku jarang menggunakan Max Purify, hanya sihir penyembuh biasa. Sejak aku melakukan perjalanan ini, max Purify bisa diperpanjang waktu penggunaannya. Di samping itu, pengobatan dari Nyonya Natalia juga membantu.”
Dubal mengangguk. “Arika, kau bilang bahwa setelah makhluk pohon ini dibasmi, Sentafal akan muncul, kan?”
“Itu benar, Tuan Dubal,” kata Arika, “Tidak lama lagi, Sentafal akan muncul.”
“Tidak lama lagi?” tanya Edgar, “Maksudmu, berapa lama lagi?”
“Yang pernah kupelajari di Igardias, memiliki anak buah manusia pohon yang baru saja kita hadapi ini dan—”
“Oh, iya!” seru Dubal. “Bagaimana dengan barang – barang kita?”
“Itu benar!” kata Uzan. “Sejak kereta kencana hancur dan kita memutuskan untuk menghadapi anak buah Sentafal, aku lupa tentang nasib barang – barang kita.”
“Kalian tidak perlu khawatir!” kata Arika. Gadis penyihir itu mendekati Trez dan membelai dagu kuda itu. Setelah itu, ia menggenggam topi penyihirnya. “semua barang sudah aku letakkan di topi penyihirku.”
Uzan menghela lega. “Syukurlah...”
“Sayang sekali,” ujar Sara. “Setelah ini, kita tidak akan bisa mempercepat perjalanan.”
“Kita belum perlu memikirkan tentang melanjutkan perjalanan, Sara,” kata Uzan. “Sementara ini, kita harus menunggu datangnya tanda - tanda kedatangan Sentafal. Benar, kan, Arika?”
“Benar, pangeran,” jawab Arika.
Tidak lama kemudian, serpihan – serpihan manusia kayu yang telah hancur berkumpul menjadi satu. Uzan dan lainnya bersikap siaga dan berdiri berdekatan antara satu sama lain.
__ADS_1
Serpihan – serpihan manusia pohon tersebut membentuk dua batang pohon. Di antara dua pohon tersebut, terdapat sebuah portal.
Uzan dan lainnya menyaksikan hal itu dengan seksama.
“Apakah ini seperti alam magis?” kata Dubal.
“Itu benar, Tuan Dubal,” kata Arika. “Alam Magis milik Sentafal berfungsi untuk mencegah kehancuran hutan ketika kita bertarung dengannya. Setahuku, di sana ada sebuah bangunan gapura tempat Sentafal tinggal.
Uzan mengangguk. “Ayo kita masuk!”
Sang pangeran dan para rekannya, berikut dengan Trez, melangkah memasuki portal Alam Magis tersebut.
-
-
Setelah mereka memasuki Alam Magis, Uzan dan lainnya langsung dihadirkan oleh pemandangan berupa sebuah bangunan besar menyerupai candi.
Dua pasang gapura menjulang tinggi dan di bagian depan bangunan tersebut. Di sekeliling bangunan tersebut hanya pepohonan, seolah bangunan tersebut adalah satu – satunya bangunan yang berada di sebuah hutan.
“Ini bukan pemukiman seperti di Girafan,” ujar Uzan.
“Bukan, pangeran,” kata Arika. “Alam Magis milik Hewan Mistis Namaril hanya berupa tempat untuk memperoleh hal itu.”
Setelah beberapa saat, portal cahaya yang berada di belakang mereka memudar.
Setelah menoleh ke belakang, Dubal tersenyum. “Jadi, kita memang akan bertarung dengan Sentafal di bangunan itu, ya?”
“Itu benar, Tuan Dubal,” kata Arika.
Sara memegang dagu. “Setelah ini, kita tidak akan langsung berjalan ke sana, kan?”
Edgar menggaruk kepala. “Maksudmu?”
“Kita belum mempersiapkan diri sebelum menghadapi Sentafal.”
“Itu benar,” kata Uzan. “Sebaiknya kita melakukan persiapan.”
Arika melepas topi penyihirnya, lalu melemparkannya ke depan. Topi itu melayang – layang di antara mereka berlima. “Kalian hanya perlu menyebutkan barang – barang yang dibutuhkan.”
Edgar meminta untuk mengganti tombaknya dengan tombak yang ia beli di Pasar Riyaal. Uzan juga mengganti pedangnya. Sebelumnya, Dubal masih merasa yakin dengan kapaknya, tapi Sara menyarankan agar ia juga mengganti senjatanya dengan kapak baru. Dubal menurut. Sara sendiri meminta dua dari lima gelang Azure untuk dipakai saat pertarungan melawan Sentafal.
Edgar memutuskan untuk menaiki Trez si kuda.
Arika mengeluarkan barang – barang yang diminta oleh rekan – rekannya. Barang – barang tersebut keluar dari topi penyihirnya ketika gadis penyihir itu mengarahkan dengan tongkatnya.
“Perkamen tempat material magis itu juga aman, kan?” ujar Uzan.
“Aman, pangeran,” kata Arika.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita langsung menuju ke sana,”
Sang pangeran dan keempat rekaannya berjalan masuk ke bangunan candi tersebut.
Gerbang candi tersebut berupa dinding besar putih yang sudah ditumbuhi beberapa tumbuhan. Warna putih dinding tersebut terlihat memudar karena dimakan waktu.
Ketika Uzan dan lainnya mendekati dinding tersebut, mereka mendengar sebuah suara menggelegar.”
“APA MAU KALIAN?”
“Pangeran,” kata Arika yang sedang berdiri di samping Uzan. “kau harus menjawab pertanyaan ini dengan jujur.”
Baiklah,” kata Uzan. Setelah itu, sang pangeran meninggikan suaranya. “Kami ingin bertemu dengan Sentafal.”
“ADA PERLU APA?”
“Kami ingin memperoleh kepalanya untuk memulihkan gempa yang sedang terjadi di Pulau Kastala.”
Edgar menepuk kening. Sara bertanya, “Kenapa Edgar?”
Edgar berbisik, “Seharusnya Uzan bilang bahwa kita ingin bertarung dengan Sentafal saja.”
“BETAPA BERANI!” suara dinding itu kembali membahana. “SIAPA KALIAN SEBENARNYA?”
“Namaku adalah Uzan Alexander,” sang pangeran mengepalkan tangan dan meletakannya di dada, ia meninggikan suaranya dan melanjutkan kata – katanya dengan lantang, “putra tunggal dari Endan Alexander, Raja Kastala. Aku diserahi tanggung jawab untuk menyelamatkan Kastala dari bencana.”
Setelah itu, sang pangeran menyapukan pandangan ke teman – temannya yang berada di sebelah kiri dan kanannya. Beberapa saat kemudian, ia melanjutkan, “Mereka adalah teman – teman seperjuanganku untuk menuntaskan amanat yang aku emban. Di sini, aku juga berarti kami, dan kami ingin mencegah Kastala dari kehancuran.”
Gelak tawa terdengar di seluruh ruangan. Sara dan Arika menutup telinga mereka karena kerasnya tawa tersebut.
Setelah itu, Dinding tersebut bergeser ke samping.
Edgar berkomentar singkat, “Aneh.”
“Ayo!” Uzan mengajak kawan – kawannya memasuki bangunan tersebut.
Setelah mereka memasuki bangunan tersebut, mereka mendapati keberadaan mereka di sebuah ruangan luas yang dihiasi dinding batu putih.
Dinding besar yang sudah mereka lewati bergeser menutup kembali, membuat ruangan yang ditempati Uzan dan para rekannya menjadi gelap.
Kegelapan yang mereka alami tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, puluhan obor bermunculan di sekeliling mereka, menerangi ruangan dengan cahaya api. Obor- obor tersebut melayang – layang.
Dubal memperhatikan area di sekitarnya. “Arika, di mana Sentafal?”
“Setelah ini, aku yakin bahwa dia pasti akan langsung datang, Tuan.” Jawab Arika.
Setelah itu, Keheningan menyeruak di antara mereka.
Uzan dan lainnya hanya memandang sekeliling tanpa mengutarakan sepatah kata pun. Tidak ada suara selain kobaran api dari obor – obor yang melayang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, derap kaki seekor banteng terdengar.