
Seekor banteng muncul dari ketiadaan. Ia memiliki kepala banteng berwarna coklat dengan gelang emas di moncongnya. Dada manusia miliknya terlihat kekar, terutama lengannya yang berotot. Jemari di tangan kanannya memegang tombak. Setelah dada, tubuh bagian bawahnya berupa tubuh banteng berkaki empat.
Ukuran makhluk tersebut dua kali ukuran Trez, sang kuda magis. Uzan dan para rekannya memperhatikan makhluk itu dengan seksama. Keberadaannya terasa mengancam.
Jadi, kau ingin memperoleh kepalaku, ya?” tanya Sentafal. Suaranya seperti suara menggelegar di depan pintu masuk, namun lebih tenang.
“Itu benar,” kata Uzan. Keempat rekan sang pangeran bersiap siaga.
Warna ratusan obor yang mengelilingi mereka berubah menjadi putih, sehingga ruangan tersebut menjadi jauh lebih terang.
Sentafal menyaksikan para lawan bicaranya. Ia memperhatikan bahwa pimpinan kelompok yang sedang dihadapinya sedang memegang pedang. Di sebelah kanannya, ada seorang penyihir yang sudah siap dengan tongkat sihirnya. Di samping penyihir itu, ada seorang prajurit botak berjenggot.
Hal yang membuat Sentafal merasa tertarik adalah keberadaan klerik di sebelah kiri pangeran tersebut, pertarungan yang akan dihadapinya akan terasa sulit, walaupun itu masih bisa di atasi.
Sentafal memandang Edgar dan kuda yang ditungganginya. Seorang prajurit pembawa sebuah kuda Magis. Menarik sekali.
“Jadi, kau sudah mengerti bahwa kepalaku ini adalah material magis. Di samping itu, kau juga ingin menyelamatkan negerimu.”
“Tidak hanya Uzan,” seru Edgar, “tapi kami berlima.”
“Pendek akal!” rutuk Sentafal, “Pimpinanmu sudah mengatakan bahwa kau adalah kalian semua!”
“Edgar, diam!” Sara berbisik keras.
“Masalahnya adalah...” Sentafal kembali melanjutkan, “beberapa temanku juga sempat ditebas kepalanya oleh para pemburu yang memiliki anggota penyihir sepertimu."
Arika tertegun ketika Sentafal meliriknya, tapi gadis penyihir itu masih memperhatikan Sentafal dengan seksama.
“Kuakui bahwa tujuanmu memang mulia, pangeran,” Sentafal menggenggam tombaknya dengan erat, “tapi aku tidak mempercayai umat manusia. Penyihir pun sering menipu bangsa kami dan menjadikan kepala kami sebagai alat perang.”
Uzan menjawab, “Tujuan kami hanyalah semata – mata untuk memulihkan Kastala.”
“Oh, ya?” Sentafal tersenyum. “Aku sudah mengetahui tentang kemampuanmu lewat maklumat yang kuterima dari para Unliv yang sudah kau musnahkan. Kau harus mengetahui bahwa aku memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia pohon mana pun.”
Uzan mengarahkan ujung pedangnya ke Sentafal. “Apakah kau sudah selesai dengan pembukaannya?”
Sentafal menggenggam tangannya sambil menyeringai. “Mari kita bertarung!”
-
__ADS_1
-
Pertarungan itu diawali dengan Uzan yang melompat tinggi dan mencoba untuk menebaskan pedangnya ke arah Sentafal. Namun, Sentafal menangkis serangan sang pangeran dengan tombaknya. Setelah itu, Sentafal menghujamkan bagian ujung tombaknya ke dada Uzan, namun sang pangeran berhasil menangkisnya walaupun ia terlempar.
Selain Uzan, belum ada anggota kelompok yang bergerak. Mereka hanya mundur sejenak dan menyebar.
Sentafal mengeluarkan raungan – raungan yang memekakkan telinga sambil mengangkat dua kaki depannya.
Arika yang sedang berdiri bersebelahan menghadap satu sama lain dan mengangguk. Setelah itu, Arika menyalakan tongkat sihirnya. Setelah beberapa saat, angin mengitari Arika dan Sara. Lalu, kedua gadis itu melayang ke belakang dan berdiri bersebelahan di dekat dinding.
Sara menyalakan kedua telapak tangannya. Selain cahaya putih yang berpendar, dua Gelang Azure yang sudah dilingkarkan di kedua pergelangan tangannya juga mengeluarkan pendaran kerlap – kerlip kebiruan.
“Kau sudah membekali dirimu dengan dua gelang Azure, kan,” Arika bertanya kepada Sara. “Apa kekuatan yang kau peroleh?”
Sara berujar, “Aku bisa memperpanjang waktu penyembuhan yang kulakuan dan—”
Ucapan Sara tidak selesai karena tiba – tiba sebuah tombak hampir mengenainya. Tombak menancap keras ke dinding menyebabkan Sara dan Arika terjatuh.
Sentafal meraung. “Yang menjadi masalah utama adalah Klerik. Kalau penyembuh itu sudah kumatikan, yang lain akan jadi mudah.”
“Kurang aja kau!” Edgar berseru. Sambil berlari menunggang Trez, ia mengacungkan ujung tombaknya ke arah Sentafal.
“Egh!” Edgar meronta dan memegangi tangan Sentafal. Ia tidak bisa bernafas. Sentafal mengencangkan genggamannya dan bermaksud untuk menghabisi Edgar.
Usaha itu gagal.
Dubal menebas tangan Sentafal dengan kapaknya. Sentafal meraung kesakitan. Simbahan darah keluar dari lengannya, menjatuhkan Edgar ke lantai.
Manusia banteng itu menoleh ke arah Dubal yang bersiap untuk menebas perutnya, namun ia berbalik arah dan menendang Dubal dengan kedua kaki belakangnya sampai ia terpental.
Setelah Edgar berdiri, ia menggenggam tombak yang jatuh ketika ia dicekik. Untuk menambah kekuatannya, Edgar mundur beberapa langkah dari Sentafal, lalu melompat sembari mencoba untuk menghujamkan ujung tombaknya ke makhluk itu.
Sentafal bergerak cepat. Ia mengepalkan tangannya dan meluncurkan tinjuan ke dada Edgar sampai prajurit itu terpental. Ia juga menendang Trez dengan kedua kaki belakangnya sampai kuda itu juga terlempar
Beberapa saat kemudian, simbahan darah di lengan Sentafal berhenti.
Uzan memperhatikan pertarungan Dubal dan Edgar dari kejauhan. Ia juga menoleh ke arah Sara dan Arika yang sudah terbangun dan berdiri. Sara mulai menyalakan kedua telapak tangannya.
Arika bersiap dengan tongkat sihirnya. Gadis penyihir itu hanya mengedepankan tongkatnya dan sesekali melihat tombak yang baru saja dilemparkan Sentafal.
__ADS_1
Dari maklumat yang diberikan Arika, Uzan membuat kesimpulan bahwa serangan – serangan yanng dilakukan Arika tidak akan begitu berarti untuk Mystical Beast seperti Sentafal.
Di samping itu, ketika Sentafal melemparkan tombaknya ke Sara, itu berarti target utama makhluk itu adalah Sara.
Setelah menjatuhkan Dubal, Edgar, dan Trez, Sentafal menoleh ke arah Sara. Ia langsung berlari ke arah Sara sambil mengangkat tinju kanannya.
“Gawat!” Uzan segera berlari menuju Sara.
Sentafal berhasil menuju Sara dan meluncurkan tinjunya. Namun, tinju Sentafal berhenti. Ia terlingkup oleh sebuah bola angin kerlap – kerlip kehijauan. Angin yang membungkus Sentafal berputar cepat dan menimbulkan desauan – desauan keras. Makhluk itu meronta- ronta.
Sambil melingkup Sentafal dengan sihirnya, Arika mengucapkan mantra. Sebuah pusaran Angin mengitari Sara dan membawanya menjauh dari Sentafal. Cahaya di telapak tangannya redup.
Uzan menghampiri Sara. “Kau tidak apa – apa, Sara?”
Sara mengangguk. “Max Purify tidak akan bisa diaktifkan jika penggunanya banyak bergerak, pangeran,”
“Itu tidak masalah, Sara,” kata Uzan. “Yang aku permasalahkan adalah, sesuai kata Sentafal baru saja, kau adalah target utama. Jadi, hati – hati!”
“Baiklah,” Sara mengangguk. Ia masih memperhatikan Arika yang masih mengarahkan tongkat sihirnya ke Sentafal. Makhluk itu masih meronta – ronta di dalam bola angin.
Sang pangeran dan Gadis Klerik itu mulai berlari menjauhi Sentafal.
Setelah itu, Sara mulai berdiri dan berkonsentrasi. Uzan juga masih memegang pedangnya, memperhatikan alur pertarungan.
Sang pangeran melihat Edgar yang sedang menunggangi Trez dan berlari menuju Sentafal sambil memegang tombaknya. Di belakangnya, Dubal juga berlari menyusul.
Sara berujar, “Kita belum menyusun taktik, pangeran,”
Uzan masih menyaksikan Sentafal yang masih terlingkup sihir sambil meraung – raung. “Belum saatnya, Sara.”
Sambil berlari, mantan prajurit Oslar tersebut melihat Uzan dan Sara sesekali sambil mengangguk sebagai isyarat pertarungan awal untuk mengetahui seberapa kuat makhluk itu. Satu lengan Sentafal sudah tumbang, Itu adalah pertanda bagus.
Sentafal menggertak dan meronta – ronta. Semakin lama, gerakan makhluk itu semakin liar. Arika sudah tidak mampu menahannya. Akhirnya, Sentafal berhasil memberontak dan menghentikan pusaran angin yang mengitarinya.
Arika terlempar dan menghantam dinding, ia dan tongkat sihirnya jatuh ke lantai.
Ketika gadis penyihir itu terbangun, ia melihat Sentafal yang menatapnya dengan tajam.
Sentafal bermaksud untuk menendang penyihir itu dengan dua kaki belakangnya, namun ketika ia bersiap dan berbalik, ia kurang waspada.
__ADS_1
Edgar berhasil menghujam dada makhluk itu dengan ujung tombaknya.