
Arika berbaring di atas tanah. Dadanya terasa sakit. Gadis penyihir itu berujar pelan, “pangeran Uzan, bisakah kau mengambil topiku dan tongkatku?”
“Baiklah,” kata Uzan. Setelah itu, sang pangeran langsung mengambil topi dan tongkat penyihir Arika yang tergeletak di atas tanah dan jaraknya tidak jauh dari mereka.
Setelah meletakkan topi dan tongkat sihirnya di dekat Arika, Uzan berujar, “Aku tidak yakin bahwa kau bisa melakukan sihir dalam keadaan seperti ini, Arika.” Sang pangeran menghela, “Seandainya Sara ada di sini.”
Arika merasakan tubuhnya kesakitan. Ia berujar pelan, “Aku meletakkan satu gelang Azure di dalam topiku, pangeran. Kau bisa mengambil gelang tersebut.”
“Oh, ya?” kata Uzan. “Berarti masih ada harapan bahwa kau akan bisa sembuh.”
Arika terbatuk. “Namun dalam keadaanku yang seperti ini, aku tidak akan bisa mengambilnya. Aku minta tolong kepadamu untuk mengambilkannya untukku.”
“Aku bukan penyihir. Bagaimana caranya?”
“Kau hanya perlu membayangkan tentang gelang Azure yang sudah pernah kau ketahui. Setelah itu, kau memasukkan tanganmu ke dalam topi itu. Setelah itu, kau bisa mengambilnya.”
“Baiklah, akan kucoba”
“Setelah itu, sang pangeran mengambil topi Arika. Lalu, ia membayangkan gelang Azure biru yang pernah dikenakan oleh Sara. Setelah itu, ia memasukkan tangannya ke topi tersebut. Tanpa disangka, ia bisa memasukkan tangannya dalam rasanya seperti memasukkan tangan ke dalam air. Saking dalamnya, ke dalaman topi itu sampai siku Uzan.
Setelah itu, ia merasakan sebuah gelang yang menempel pada telapak tangannya. Setelah itu, Uzan menggenggam gelang itu dan langsung menarik tangannya. Tanpa disangka, ia menggenggam sebuah gelang Azure persis yang ia bayangkan.
Setelah itu, Uzan memgang pergelangan tangan Arika dan memasangkan gelang tersebut di tangannya. Perlahan, cahaya biru berpendar lemah di seluruh tubuh Arika. Beberapa saat kemudian, cahaya tersebut meredup.
Arika merasakan tubuhnya perlahan memulih. Ia berujar pelan. “Untung saja ada Gelang Azure yang di bawa di topinya. Sehingga, kita tidak terlalu kerepotan. Ketika sedang ada di dalam keadaan seperti ini, pangeran.”
“Itu benar, Arika,” kata Uzan. “Tapi kau seharusnya tidak boleh bayak bergerak dahulu dan memastikan bahwa keadaanmu benar – benar memulih,”
Arika mengangguk. “Baiklah, pangeran…”
Uzan dan Arika memutuskan untuk menetap di sana sejenak. Uzan mengedarkan padanangan id sekitar gua. Ruangan gua itu begitu luas denngan cahaya redup. Setelah ditinggal oleh Invel, mereka juga tidak tahu akan ke mana. Namun, mereka berdua mengetahui bahwa Uzan dan Arika harus menunggu terlebih dahulu sampai keadaan mereka berdua pulih kembali karena adanya ‘ketimpangan’. Untungnya, Arika memiliki gelang Azure sehingga Arika bisa sembuh dalam tempo yang cukup cepat.
Sekitar satu jam kemudian. Arika hanya berbaring dan berdiam diri dan Uzan hanya berkeliling untuk melihat – lihat daerah sekitar ruangan itu. Beberapa saat kemudian, akhirnya gadis penyihir itu bisa berdiri kembali. Kemudian, ia memakai topinya dan mengambil tongkatnya.
“Pangeran Uzan,” kata Arika. “Syukurlah aku sudah pulih sekarang. Mari kita duduk sejenak di sini”
Setelah itu, Arika melempar topinya ke depan. Topi tersebut melayang di depannya. Lalu, penyihir itu mengacungkan tongkat sihirnya ke arah topi itu. Perlahan, sebuah tikar besar melayang keluar dari topi tersebut dan dengan sendirinya membuka lebar dan meletakkan diri di atas tanah.
Setelah itu, beberapa bekal makanan melayang keluar dari topi tersebut. Dan meletakkan diri di atas tikar besar itu.
Aku tahu bahwa tempat ini mungkin tidak cocok untuk makan tapi…” Arika menghela dan berbicara dengan ragu – ragu. “mungkin kita bisa menunggu ujian selanjutnya sambil menyantap sesuatu.”
Arika terhuyung.
__ADS_1
Mendengar itu, Uzan menyetujui. “Baiklah. Lagipula, tidak ada hal yang bisa dilakukan di tempat hening seperti ini.” Sang pangeran berjalan menghampiri Arika. “Mungkin kita bisa menyantap sesuatu sambil berbincang sejenak.”
“Itu benar,” kata Arika. Setelah itu, ia melenyapkan tongkatnya. Dan mengambil topinya kembali. Ia tidak memakainya, melainkan meltakkan topi itu disampingnya selagi ia duduk bersimpuh untuk mengambil makanan untuk di santap.
Uzan juga duduk untuk menyambut beberapa hidangan tersebut.
-
-
Selama beberapa saat, Uzan dan Arika menyantap makanan yang disediakan disana. Setelah santapan mereka tandas, Arika mengembalikan hidangan mereka ke dalam topi penyihirnya.
Apakah makanan ini sudah bisa memulihkan lukamu, Arika?” tanya Uzan.
“Sepertinya aku sudah pulih, pangeran,” kata Arika sembari tersenyum. “Walaupun, mungkin lingkungan seperti ini akan terasa membosankan jika untuk makan.”
“Ngomong – ngomong,” kata Arika sambil menatap ke bawah. “Aku minta maaf karena aku sudah tidak bisa menang dalam pertarungan melawan Rota dan Sara sehingga kita harus terjebak dalam situasi merepotkan seperti ini.”
“Kau tidak perlu mempermasalahkan itu, Arika,” kata Uzan dengan nada tenang.
“Maksudku, aku juga tidak tega untuk menyakiti mereka karena mereka adalah teman – temanku dan….”
“Itu juga yang aku rasakan Arika,” Uzan menghela. “Kita juga harus merasa lega karena kita masih bisa melanjutkan ke ujian tahap berikutnya, apapun itu. Tapi aku hanya tidak suka dengan cara licik yang mereka lakukan untuk memutarbalikkan emosi kita sehingga harus melawan teman – teman kita.”
“Oh, ya? Jelaskan!”
Arika menjelaskan tentang tiga kekuatan pokok Rota yang ia singkap ketika bertarungan terjadi kepada Uzan, yaitu memunculkan pisau di kedua telapak tangannya, berpindah tempat melalui portal, dan menyalin kekuatan magis lawan selama lima detik.
Uzan hanya mengangguk mengerti dan merasa lega karenawalaupun Arika kalah, setidaknya ada sesuatu yang ia bisa pelajari dari pertarungan itu.
“Itu maklumat bagus, Arika,” kata Uzan. Untuk ke depannya, ketiga kekuatan itu bisa membantu kita untuk menumpas penghalang – penghalang dan musuh - musuh kita setelah memperoleh batu Akais ini.”
“Iya, pangeran, semoga kita berhasil.”
Uzan menatap Arika yang terlihat senang. Penyihir yang sedang di depannya sudah membantu di dalam perjalanan. Ia mempercayainya. Sebaiknya ia mulai mencari tahu lebih tentangnya.
“Ngomong – ngomong, apakah kau bisa menjelaskan tentang asal – usulmu, Arika?”
“Baiklah,” kata Arika. Gadis itu tampak antusias. “Namaku Arika Lilia. Aku berasal dari Igardias. Kedua orang tuaku gugur di dalam pertempuran Frederik saat aku masih kecil. Sehingga, aku dibesarkan oleh pamanku yang masih merupakan pegawai kerajaan.”
“Orang tuamu juga terlibat perang Frederik, ya?”
“Itu benar, pangeran,” kata Arika. “Paman memberitahuku bahwa dahulu, ketika perang Frederik pecah, ada seorang penyihir angin berasal Igardias yang menjadi menteri di kerajaan Enmar bernama Indara. Ia berusaha menghancurkan Igardias dengan senjata pamungkasnya.
__ADS_1
“Senjata pamungkas?”
“Sambaran petir dari langit.”
“Petir?” dahi Uzan mengerut. “Kau bilang bahwa ia menggunakan adalah penyihir angin, kan?”
“Itu benar, pangeran,” Arika menjelaskan. “Sihir petir merupakan sihir elemen angin tingkat lanjut, tapi hanya sedikit penyihir yang bisa menggunakannya. Tapi sayangnya, ketika ada orang yang bisa menggunakannya—aku merujuk pada Raja Indara—Ia melakukannya untuk menguasai kerajaan Igardias.
“Apakah itu berarti bahwa semua orang yang ada di Istana Tewas?”
“Tidak, pangeran,” Arika menggeleng. “Karena firasat Sang Ratu saat itu, semua orang yang ada di dalam Istana selamat. Bangunan istana memang hancur berkeping – keping. Namun tidak ada yang terluka satu pun karena memang evakuasi diadakan sebelum sambaran petir itu dilancarkan.
Ketika itu, Indara membawa sejumlah pasukan Enmar dan berniat untuk membunuh Sang Raja dan Ratu. Akan tetapi, Igardias punya pasukan yang lebih kuat. Terlebih, mereka berperang di dalam wiayah mereka sendiri. Sehingga, Indara dan pasukannya bisa ditumpas dengan cepat.
“Apa yang terjadi kepada Indara selanjutnya?”
“Ia dipenjarakan di penjara bawah tanah Istana Igardias setelelah bangunan istana dibangun kembali.”
“Hanya itu hukumannya?”
“Kata pamanku, itulah hukuman yang pantas untuknya,” kata Arika. “Hal ini karena ketika ia ditanyai perihal alasan ia menyerang Igardias adalah membuktikan bahwa dirinya mampu menguasai sebagian wilayah Igardias pantas untuk diangkat menjadi Raja di kerajaan Enmar.”
“Itu tindakan ceroboh.”
“Oh, ada tambahan…”Arika terpaku sejenak. Setelah itu, ia berujar, “Selain dipenjarakan, hukuman yang ditimpakan untuk Indara adalah penghampaan”
“Penghampaan?”
Penghampaan berarti seluruh kekuatan sihir milik Indara dikosongkan dan ia menjadi warga biasa.”
“Pastinya itu adalah hukuman berat bagi para penyihir.”
“Itu benar, pangeran,” kata Arika. “Kata pamanku, penyihir yang sudah dihampakan menjadi warga biasa berarti derajatnya sudah terjun bebas.”
“Aku bisa mengerti itu,” kata Uzan.
“Setelah penghampaan selesai, Indara tampak sedih, murka, dan menyesal karena seluruh kekuatan sihirnya dikosongkan. Karena, sihirnya merupakan hal yang paling berharga baginya.”
Uzan mengangguk. “Memang perang Frederik berpengaruh pada banyak orang dan banyak kalangan. Dengan ini, mungkin aku bisa lebih mengetahui tentang dirimu, Arika.”
“Dubal juga sudah memberitahu tentang asal – usul pangeran dan kaitan dengan Perang Frederik,” kata Arika. “Jadi mungkin pangeran tidak heran dan familiar dengan ceritaku ini.”
“Ini adalah suatu keberuntungkan karena kita bisa bertemu di Psar Riyaal Kastala” kata Uzan. Setelah itu, Sang pangeran menghela, “Jadi, bisa kau jelaskan tentang kedatanganmu di Kastala?”
__ADS_1
“Baiklah, pangeran,” Gadis penyihir itu tersenyum. “Akan aku jelaskan.”