
Uzan dan Dubal berjalan menyusuri tanah melayang tanpa akhir. Tidak ada Hewan Kagigar Magis yang mewujud dan menyerang mereka.
“Apakah tidak ada lagi Hewan Kagigar yang mewujud, Dubal?” tanya Uzan.
“Tidak, pangeran Uzan” kata Dubal “Egh! Hal ini memang ganjil. Aku Ketika aku dan Istriku kemari, paling tidak, jarak waktu antara satu hewan dengan hewan lainnya yang datang kesini tidak selama ini.
“Tidak perlu buru – buru, Dubal,” kata Uzan. “Kita bisa istirahat sejenak disini.”
Mereka berdua bercerita tentang hal – hal yang berkaitan dengan kerajaan sembari berjalan menyusuri kegelapan.
“Kau berbeda dengan Pangeran Axel, Pangeran Uzan” kata Dubal “Dia sangat membanggakan dirinya sendiri.”
“Axel, ya?” kata Uzan. “Dia memang begitu.”
“Ya, memang kesombongannya tiada tara.”
“Kukira dia tidak sombong, Dubal. Aku kira dia bangga dengan posisinya sebagai pangeran. Itu adalah hal biasa. “Raja Morin juga merupakan orang yang bangga akan kerajaannya, sehingga tidak heran jika Kerajaan Oslar merupakan salah satu kerajaan terkuat di Namaril.
Dubal berdehem. “Tidak biasanya seseorang menganggap tinggi kerajaan lain.”
“Tidak, Dubal” kata Uzan “Aku tidak membanggakan kerajaan lain. Jika aku memilih, maka aku akan berkata bahwa kerajaanku adalah yang terbaik. Seperti Edgar, namun aku tahu bahwa semua kerajaan memiliki kekurangan dan kelebihan.”
Dubal tertawa pelan. “Menarik sekali.”
Setelah itu, debu perak mewujud dan memutar di sekitar Uzan dan Dubal. Perlahan, Debu perak tersebut menjelma menjadi dua puluh burung elang. Burung – burung elang tersebut mengepak – ngepakkan sayapnya sambil memfokuskan pandangannya pada Uzan dan Dubal mengeluarkan lengkingan yang memekakkan telinga.
“Burung Elang ya? Mungkin aku akan memisahkan diri supaya jatah mereka terbagi,” kata Uzan.
“Baiklah Pangeran,” kata Dubal. “Kita akan berpisah untuk kedua kalinya.”
Uzan berlari memisahkan diri dari Dubal. Namun kali ini, dua belas burung Elang mengejar sang Pangeran. Uzan berhasil menebas satu burung dan menendang yang lain. Ia dapat menghindari beberapa burung yang menukik kearahnya dan menggunakan mereka sebagai pijakan untuk menebaskan burung Elang lainnya. Sambil berlari menghindar dari burung – burung yang menyerangnya, Uzan melirik kearah Dubal yang berhasil membanting satu burung elang dan menginjaknya. Setelah beberapa saat, Uzan bisa menghabisi seluruh burung Elang. Setelah itu, ia segera kearah Dubal.
Dubal terengah – engah sambil mengusap aliran darah di keningnya. Delapan burung Elang tergeletak tak bernyawa disekelilingnya. Perlahan, kawanan ungags tersebut memudar menjadi debu Perak.
“Kau tidak apa – apa, Dubal?” tanya Uzan sembari berlari kecil menghampiri pria itu.
Dubal terkekeh “Aku merasa kesulitan membasmi banyak musuh yang punya keunggulan dalam segi jumlah.”
“Tidak masalah. Setidaknya, kau berhasil menghabisi badak itu sendirian.”
“Terima kasih, Pangeran!” kata Dubal. “Tinggal dua macam hewan magis Kagigar lagi.”
Uzan mengangguk.
Sesaat setelah itu, perlahan – lahan, sekumpulan debu bertebaran di atas Uzan dan Dubal.
Mereka berdua melengak keatas untuk menyaksikan debu – debu tersebut.
__ADS_1
Uzan berujar, “Apakah unggas lagi?”
“Mungkin.”
Namun perkiraan mereka salah. Dubal dan Uzan tidak menghadapi Hewan Kagigar Magis karena debu perak tersebut menjelma menjadi sebuah kain perak, yang perlahan – lahan turun kebawah.
Uzan langsung menegadahkan tangannya menangkap Kain itu dan segera mengamatinya kain itu berwarna perak mengkilap memiliki bahan selayaknya sebuah selimut. Hangat dan halus.
“Cepat sekali!!” seru Dubal. “Tak Kusangka!”
-
-
Darah mengalir melalui bibir Rota.
“Apa kau tidak apa – apa?” tanya Sara.
“Tidak apa – apa Silv” kata Rota. “Aku mempercepat ujian mereka supaya mereka bisa dengan mudah mendapatkan kain itu.”
“Kau tidak harus melukai dirimu sendiri, Rota”
“Tidak apa - apa” kata Rota “Kekuatan Magis Klerik dapat memudahkanku untuk menggandakan pengaruh sihir ini.”
Tidak lama kemudian, pendaran cahaya perak keluar dari puing – puing tersebut.”
“Sepertinya mereka sudah selesai.”
-
-
Setelah beberapa lama, Rota dan Sara memandangi pintu ganda di bangunan magis tersebut terbuka.
Uzan dan Dubal keluar dari pintu tersebut.
“Betapa cepatnya!” Seru Dubal.
“Memang cepat” kata Rota sambil tersenyum.
“Akhirnya kita mendapatkan kain Kagigar perak” Uzan menunjukkan kain yang di dapatkannya “Dimana Edgar?”
“Dia sedang Keliling hutan, Pangeran” Ujar Sara.
Sesaat kemudian, Edgar terlihat menunggang kudanya dengan cepat dari kejauhan. Ia tampak panik. Di belakang mereka, terlihat rombongan Silvar, Gulda, dan Barinza mengejar nya sambil dengan raut muka marah dan membawa berbagai macam senjata. Sebagian besar dari mereka mengendarai kuda.
Setelah menghampiri Uzan dan lainnya, ia mengingatkan.
__ADS_1
“Kalian sudah selesai? Ayo kita pergi dari sini! Mereka akan membunuh kita!”
“Sudah kuduga!” kata Dubal. “Rota, kau ikut?”
“Iya! Aku ikut.”
Rota menunggangi kuda dibelakang Dubal dan mengarahkan mereka. “lebih baik kita ke sana!”
Uzan dan lainnya memacu kuda mereka dengan cepat ke arah yang ditunjukkan Rota. Dibelakang mereka, rombongan Gulda, Silvar, dan Barinza masih mengejar mereka secara berkelompok dan melemparkan berbagai senjata ke arah mereka berlima.
Tiba – tiba, kuda mereka mengenai sebuah tali sehingga kuda – kuda mereka, selain milik Dubal, jatuh terjerembab. Menyebabkan sang pangeran, Edgar, dan Sara terjerembab ke tanah.
Setelah Uzan dan lainnya berdiri, mereka dikelilingi ratusan Girafan. Mereka tidak melakukan apa – apa kepada kuda – kuda mereka namun mereka mangacungkan senjata – senjata mereka kepada Uzan dan lainnya.
Rota turun dari Kuda Dubal dan berdiri di samping Uzan, Edgar, dan Sara yang sedang bangun dari setelah terjerembab. Ia memandangi para Girafan dengan seksama.
“Rota!” kata salah satu dari mereka. “Kau tahu peraturan di alam kita, kan?”
“Aku sudah tahu!” jawab Rota singkat.
“Mengapa kau memutuskan untuk menjadi penghianat?”
Rota diam saja. Ia tampak tidak memperdulikan ucapan kaumnya.
“Oho!” Salah satu dari para Girafan berseru, “Barang siapa yang sudah memakai piramida Silvar tidak akan diperbolehkan hidup.”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Edgar dengan nada khawatir.
“Aku tidak tahu!” seru Sara.
Uzan memandang Rota yang sedang berpikir. “Rota, kau punya ide?”
Rota melihat sekitar dan memikirkan suatu solusi. “Aku punya sihir magis yang bisa mengeluarkan kita dari kepungan ini dengan membentuk pintu magis. Namun, aku tidak bisa membukanya ketika ada di antara banyak orang. Harus terbuka di ruang kosong.”
“Aku bisa membuka jalan untuk kalian supaya bisa menunjukkan ruang kosong” Dubal berinisiatif. “Kalian mundur dibelakangku, aku akan berjalan kearah acak sambil menghabisi mereka sampai menemukan ruang kosong bagi Rota untuk membuat pintu magis.”
“Baiklah” Rota langsung meloncat dan berdiri.
Dubal mengarahkan kudanya dan menghantam puluhan Silvar, Gulda, dan Barinza sambil membuka Jalan. Uzan, Edgar, dan Sara, berlari dibelakang mereka. Uzan dan Edgar menangkis dan menjatuhkan beberapa Gulda, Silvar, dan Barinza yang menghampiri mereka. Sara memancarkan cahaya dari kedua telapak tangannya untuk menyembuhkan Uzan dan Edgar yang sesekali terkena senjata ketika menghadapi mereka.
Setelah beberapa saat, Rota menjentikkan jarinya. Dubal dan Rota menunggu Uzan dan lainnya.
Kemudian, Uzan dan lainnya masuk ke bola Cahaya putih tampak memancar dari kejauhan.
Setelah Uzan dan lainnya memasuki cahaya tersebut, Dubal dan Rota langsung masuk ke pancaran cahayan tersebut dan menembusnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, cahaya tersebut seketika sirna dari pandangan.
Lenyapnya Uzan dan lainnya menyebabkan para rombongan Girafan menghentikan pengejaran. Beberapa dari mereka merutuk dan mengeluarkan sumpah serapah.