
Sudah tiga hari Uzan dan lainnya beristirahat. Fured menyediakan makanan bagi mereka tanpa disuruh dan mereka akhirnya juga mau. Makanan yang disediakan oleh Fured kepada Edgar, Sara, dan Arika juga disantap di kamar mereka masing – masing karena mereka terlalu kelelahan untuk bergerak, terutama Edgar.
Uzan dan Dubal memutuskan untuk berkeliling Desa Sakanan bersama Fured.
Sore itu, kesehatan Edgar, Sara, dan Arika memulih. Setelah tiba kembali ke penginapan, Uzan dan Dubal mendapati ketiga rekan mereka sedang bersantai – santai di ruang tengah.
“Apa kalian sudah pulih?” tanya Uzan.
“Yah...” Edgar menjawab dengan nada santai. “Bagaimana menurutmu?”
Arika dan Sara melirik Edgar dengan kesal. Sara berkata, “Syukurlah kami semua sudah pulih, pangeran Uzan.”
Dubal menghela lega. “Efek tiga hari yang diakibatkan oleh sihir gabungan itu memang sangat merepotkan.”
Arika mengangguk. “Itu benar, Tuan Dubal.”
“Jadi,” Edgar mengangkat bahu, “apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Kita akan membicarakan tentang Galar dan permasalahannya di desa ini,” kata Dubal.
“Apa kita tidak basa – basi dahulu?” kata Edgar.
Dubal menggeleng. “Fured akan datang ke sini untuk menjelaskan langsung tentang permasalahan yang berkaitan dengan Galar ketika kita sedang berjalan – jalan di sekitar Desa Sakanan ini.”
Edgar mendengus kesal. “Arika, kau bilang bahwa kau akan menjelaskan tentang tingkatan – tingkatan penyihir di Igardias, kan? mungkin itu menarik untuk di bicarakan.”
“Itu mungkin menarik, Edgar,” kata Arika, “namun bahan pembicaraan itu akan kuutarakan lain kali. Tuan Dubal berkata bahwa Fured sudah berjanji.”
Edgar mendengus kesal. “Kenapa kalian semua serius?”
Uzan mengabaikan Edgar. “Sebentar lagi, Fured akan datang untuk mengutarakan tentang hal ini."
-
-
Tidak lama kemudian, Fured memasuki ruang penginapan. Sang petugas tersenyum cerah. “Syukurlah kalian sudah sembuh.”
“Terima kasih, Tuan Fured,” kata Arika.
Uzan menyapukan tangannya ke tempat duduk yang sedang kosong. "Silahkan duduk, Tuan Fured."
“Terima kasih,” kata Fured. Mereka semua duduk di ruangan tengah dan siap untuk berbincang – bincang perihal permasalahan tentang Galar.
__ADS_1
Dubal memulai. “Jadi, apa yang kau ketahui tentang Galar ini.”
Fured menjawab. “Yang aku ketahui adalah bahwa Galar berasal dari kerajaan Oslar dan ia memiliki hubungan dengan makhluk magis.”
“Pasti khususnya para Girafan.”
“Itu benar,” kata Fured. “Ia ingin melakukan persembahan dengan makhluk magis tersebut.”
“Aku tahu tentang itu, Tuan Dubal,” kata Arika. “Apakah mungkin bahwa Galar yang sedang kita bicarakan ini punya masalah tertentu dengan makhluk magis di bukit Giraf?”
“Jika itu masalahnya,” Uzan menyambung. “Hal ini berarti bahwa Galar ingin menimbulkan masalah yang lebih besar.”
Dubal menyetujui. “Ini dikarenakan pernah menipu Rota ketika aku sedang menjadi prajurit di kerajaan Oslar.”
“Sayang sekali jika prajurit andal seperti anda harus diasingkan karena perbuatan seperti itu, Tuan Dubal,” kata Fured.
Dubal menggeram. “Itu tidak perlu kau permasalahkan, Fured. Yang paling penting adalah sekarang perbuatan yang telah dilakukan oleh Galar akan ia perbesar.”
Edgar menghela. “Apalagi masalah itu terjadi lama sebelum gempa ganjil itu dimulai.”
“Tuan Dubal,” kata petugas itu. “Aku juga mengingat bahwa Galar memiliki semacam kalung yang biasa di bawa – bawa di sakunya.”
Sara langsung menanggapi, “Itu kalung Sila.”
“Dubal,” panggil Uzan. “Apakah yang dimaksud oleh Fured adalah kalung Sila sama yang dimaksud oleh Dubal?”
Dubal mengangguk. “Itu benar, pangeran.”
Edgar menggaruk kepala. “Lalu, bagaimana ia memilikinya?”
Dubal berkata. “Kalung Sila diberikan khusus oleh salah satu dari Gulda, Silvar, atau Barinza ketika mereka memilih manusia sebagai kawan mereka. Kalung tersebut bisa digunakan untuk berhubungan dengan satu manusia dan satu makhluk Girafan. Di samping itu, Rota juga pernah memberitahuku bahwa kalung Sila bisa juga diambil paksa oleh manusia dari salah satu makhluk Girafan. Bisa juga karena manusia melakukan pembunuhan.”
Sara meletakkan kedua tangannya di dada. “Betapa kejam.”
“Memang kejam,” kata Dubal. “Aku punya asumsi bahwa Galar memasuki Alam Magis di Bukit Girafan, namun aku juga belum mengerti bagaimana caranya.”
“Maksudmu?” tanya Arika.
Dubal menjelaskan. “Ketika aku bertemu dengan Rota, ia bilang bahwa ia bisa membuka portal antara Alam Magis dan dunia ini. Namun, kemungkinan besar bahwa Galar mencari maklumat lebih lanjut tentang keberadaan jenis – jenis makhluk magis seperti Rota dan berhasil masuk ke Alam Magis di Bukit Giraf.”
“Apa kau serius?” kata Edgar. “Kukira jarak antara Pulau Oslar dan Kastala sangatlah jauh. Selain itu, bagaimana cara Galar untuk mengetahui tentang keberadaan Alam Magis Bukit Giraf yang menurutku tempatnya berada di antah berantah tersebut?”
“Itu poin menarik, Edgar,” kata Dubal, “tapi kita harus mengetahui satu hal bahwa di dunia Namaril, Bukan hanya aku satu – satunya yang memiliki hubungan dengan makhluk di bukit Giraf.”
__ADS_1
“Tidak salah lagi,” kata Arika. “Jumlah manusia yang diajak berkawan oleh makhluk magis Girafan berjumlah banyak dan tersebar di seluruh penjuru Dunia Namaril. Walaupun begitu, permasalahannya sekarang adalah bahwa Galar ingin memantik masalah lain.”
“Di samping itu,” Dubal mengedarkan pandangan, “kemungkinan besar bahwa orang itu juga bersekongkol dengan Galar untuk melakukan persembahan kepada Gulda di Wilayah Magis Girafan.
Fured memperhatikan para tamunya dengan seksama. Sepertinya para tamunya mengerti banyak tentang Galar dan membicarakan topik tersebut lebih jauh. “Maaf para hadirin,” kata petugas itu. “Sepertinya kalian semua mengerti tentang Tuan Galar ini.”
Seperti yang sudah aku ceritakan, Tuan Fured,” kata Dubal. “Aku pernah dikhianati langsung oleh Galar.”
“Aku mengerti,” kata Fured. “Tidak salah jika Tuan Imnas hanya memperbolehkan para bangsawan untuk membawa kendaraan mereka masuk ke Desa Sakanan. Hal ini untuk meneliti lebih lanjut tentang kejadian ini.”
“Ngomong – ngomong tentang peraturan desa,” kata Edgar. “peraturan seperti itu sangatlah konyol. Aku tahu bahwa desa ini bagus dan memiliki perikanan sebagai mata pencaharian yang dikhususkan untuk rakyat biasa, tapi peraturan khusus untuk Kaum Royal juga menurutku sangat aneh.”
Sara berujar, “kita harus berprasangka baik, Edgar. Kemungkinan peraturan tersebut ditentukan untuk mencegah para bandit agar tidak mendekati desa ini seperti yang terjadi di desa Wulfric.”
“Itu masuk akal, Sara,” kata Uzan. Setelah itu, sang pangeran menoleh ke arah Fured. “Kapan persisnya peraturan itu diberlakukan, Fured?”
Fured menghela, “Dahulu, belasan hari sebelum pabrik emas dihancurkan, pangeran.”
Uzan memegang dagu. “Hal itu juga patut dicurigai.”
“Seandainya kita bisa bicara langsung dengan Tuan Imnas mengenai hal ini, itu akan sangat membantu,” kata Sara sambil berharap.
“Baiklah,” Fured berdiri. “Jika itu bisa mempermudah diskusi kita, saya berkenan untuk memanggil tuan Imnas sekarang juga.”
“Kau tidak perlu repot – repot, Tuan Fured,” Arika menyergah. “Kau tidak perlu repot-repot, Tuan Fured kami bisa—”
“Masalah ini penting Arika,” kata Uzan. “Jika Tuan Imnas memberi tahu tentang maklumat lebih, maka kita juga bisa menggali lebih dalam tentang hal ini.”
“Baiklah, pangeran,” kata Arika mengalah.
“Langsung saja,” kata Fured sambil berdiri. “Aku akan memanggil Tuan Imnas.”
Setelah itu, Fured berdiri dan menghampiri pintu dan akan keluar, namun setelah pintu dibuka, ternyata ada Tuan Imnas sudah berdiri di depan pintu.
“Tuan Imnas!” kata Fured.
“Terima kasih, Fured, “ sata Tuan Imnas. Sang kepala Desa mengedarkan pandangan kepada Uzan dan para rekannya. “Sebelumnya, Fured melaporkan bahwa pangeran Uzan dan lainnya datang untuk berkunjung ke sini. Jadi, aku ingin menyampaikan beberapa maklumat tentang peristiwa yang disebabkan oleh Galar dahulu.”
“Terima kasih, Tuan Imnas,” jawab Uzan. “Kami juga sedang berada di dalam pembicaraan tentang Galar.”
Imnas tersenyum. Ia memegang bahu Fured. Kemudian, ia dan petugas itu duduk di tengah – tengah Uzan dan para rekannya.
Sang kepala desa berujar, “Marilah kita melanjutkan pembahasan tentang Galar ini.”
__ADS_1