Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Sebagian Kecil


__ADS_3

“Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada Kerajaan Kastala,” kata Raja Guvar.


Uzan dan Guvar sedang ada di bagian atas Istana. Seperti kala Uzan berbicara kepada Layla pagi tadi. Akan tetapi, suasananya petang. Mereka berdua masih merasakan kehangatan udara saat itu.


Sembari bersandar di pinggiran, Uzan berujar, “anda bilang bahwa anda sudah menduga hal ini sebelumnya, kan?”


“Itu benar,” Guvar mengangguk. “Sebelumnya, aku dan Agatha sudah menduga Faraq dan mencurigainya. Tapi itu tanpa bukti. Seperti yang aku bilang ketika kita bertemu tadi, sekarang sudah terbukti adanya.”


“Sebetulnya aku juga juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini,” Uzan menghela. “Seperti yang kuceritakan ketika kita sedang berjalan ke tempat ini, kukira gempa periodik ini adalah masalah serius yang bisa diatasi oleh pihak kerajaan dan berasal dari luar, mungkin. Akan tetapi, ternyata petinggiku sendiri yang sudah membuat perencanaan tentang hal ini.”


“Agatha memberitahuku bahwa hal ini juga berkaitan dengan perang Frederik ketika kita berdiskusi mengenai Faraq,” kata Guvar. “Kau bilang bahwa Tuan Kamasa telah meninggal, bukan? Setahuku, Kamasa punya peran penting dalam masa perang Frederik, walaupun tidak aktif mengikuti perang.”


“Mungkin ini adalah aksi balas dendam yang sudah dicanangkan oleh Faraq jauh – jauh hari, atau mungkin ini berkaitan dengan masa laluku bersama teman – teman terdekatku, begitu juga dengan Rafael yang sekarang sedang ada di pihak Faraq.”


“Itu kemungkinan, tapi kita akan memastikannya,” kata Guvar. “Aku menyuruh Layla untuk memanggil Romeo agar ia datang ke sini. Seperti yang aku katakan, ia adalah salah satu petinggi di sini. Dia juga adalah seorang penyihir.”


“Seorang penyihir yang merangkap menjadi petinggi hubungan antar negara, ya? Bagiku itu menarik. Seperti Kamasa yang menjadi penasehat kerajaan, tapi juga ikut andil dalam kerajaan.”


“Aku mungkin belum mengetahui penuh tentang kerajaan, akan tetapi sistem petinggi di Igardias lebih kaku dan tidak selincah Kerajaan Kastala,” kata Guvar. “Menurutku karakter Romeo lebih tidak suka keramaian dan hanya ingin berdiskusi ketika ada sesuatu yang memang penting. Jadi, ketika aku menjadikannya sebagai petinggi, maka kau tahu bahwa Igardias akan menjadi lebih tertutup.”


“Lebih tertutup?” Uzan memegang dagu. “Apakah kau bermaksud untuk mengurangi ketergantungan atas Kerajaan lain?”


“Itu adalah salah satu dari sekian banyak alasan,” ujar Guvar. “Akan tetapi, alasan utamanya adalah agar tidak terjadi bencana seperti Indara dahulu.”


“Aku dengar mengenai Indara dari Arika, salah satu rekanku, tentang Istana Igardias yang dimusnahkan dengan sekali serang.”


“Mari kita menangguhkan tentang pembicaraan Indara, pangeran Uzan,” Guvar menghela tenang. “Dan membahas tentang Faraq yang sudah menguasai Kastala sekarang. Karena setelah pembicaraan kita ini, aku akan melakukan keputusan cepat.”

__ADS_1


“Baiklah,” Uzan menyetujui. “Jadi, kita sudah sampai pada pembicaraan mengenai Romeo.”


“Mengenai Romeo,” Guvar melanjutkan. “Dia bukanlah penyihir elemental, melainkan penyihir Nekroz.”


“Penyihir Nekroz? Selama ini aku belum mengetahui tentangnya.”


“Penyihir Nekroz adalah penyihir khusus yang bisa berhubungan dengan arwah dan melihat masa lalu seseorang. Jumlah mereka tidak banyak, dan kebanyakan dari mereka tinggal di Igaardias. Karena, seperti yang kita ketahui, Igardias bisa juga disebut dengan ‘Rumah Para Penyihir’”


“Baiklah,” kata Uzan. “Lalu, apa yang anda tujukan dengan memanggil Romeo?”


“Aku berencana untuk menguak masa lalu Faraq dan asal usulnya,” kata Guvar.


Uzan mempehatikan Raja Guvar dengan seksama dan berlaku selayaknya tidak percaya. “Tuan Guvar, jika anda ingin mengetahui tentang maklumat mengenai Faraq, mungkin aku bisa menyediakannya.”


“Aku sudah tahu tentang itu, Uzan,” kata Guvar. “Akan tetapi, kita bisa menyaksikan masa lalu Faraq melalui alat yang dimilikinya.”


“Rena, teman dekatku yang juga seorang penyihir dan petinggi bilang bahwa kita bisa menyaksikan masa lalu melalui bola ramal. Dan bola ramal itu hanya dimiliki oleh Kamasa. Apakah ini sama?”


“Apa itu?”


“Itu karena Romeo adalah Mantan Murid Faraq.”


Uzan tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. Tapi ia juga ingin memastikan. “Setahuku, Faraq bukanlah penyihir. Dia adalah pemanah. Bagaimana bisa aku belum tahu bahwa Faraq pernah memiliki murid yang bersatatus sebagai penyihir Nekroz?”


“Pertanyaan itu mungkin akan mudah aku jawab, pangeran,” kata Guvar. “Akan tetapi, kita akan tunggu kepastian akan jawaban itu. Aku bisa saja menanyakanmu tentang Faraq dan menerima kepingan – kepingan maklumat tentang petinggi hubungan antar wilayah Kerajaan Kastala. Bukan maksudku untuk mengesampingkanmu, akan tetapi, hal ini untuk mencegah ketimpangan sudut pandangmu sebagai pangeran mengenai dia.”


“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Uzan menyetujui.

__ADS_1


“Kami mengutus Layla untuk langsung menghampiri Romeo di tempat tinggalnya. Perjalanannya adalah selama tiga jam dari sini. Ini berguna untuk membiasakan dirinya untuk berkuda. Karena, sayang sekali, walaupun ia bisa menggunakan pedang seperti anak raja pada umumnya, ia sangat lambat jika kita bicara tentang keahliannya dalam berkuda. Selain itu, semoga dia juga bisa mengakrabkan diri dengan beberapa penduduk desa dan menyebarkan kebaikan yang akan berpengaruh pada nama baik istana.”


“Jadi, itu alasan kau menyuruh Layla untuk berkuda ke tempat tinggal Romeo,” kata Uzan. “Itu cukup baik.”


Cahaya petang semakin meredup. Keheningan terjadi diantara mereka berdua.


Sesaat kemudian, Ratu Agatha mendatangi Pangeran Uzan dan Raja Endan.


“Apakah kalian sudah berdiskusi atas masalah utama yang sedang melanda Uzan?” tanya Agatha.


“Aku baru saja berbincang ke sana kemari dengan pangeran Uzan tentang sedikit tentang banyak hal, Agatha,” kata Guvar. “Bagaimana dengan diskusi masalah minor yang kau ampu?”


“Kita sudah mengambil kesimpulan bahwa kita akan mengirim beberapa dari mereka untuk mencapai Gunung Atlas guna menemui Ruhin dua hari lagi.”


“Ruhin di Gunung Atlas?” Uzan terheran.


“Kau tidak perlu khawatir, pangeran,” kata Agatha. “Akhirnya para rekanmu, dan rekan tambahan yang aku ajak sepakat untuk pergi ke tempat itu setelah mengetahui keberadaan Ruhin. Akan tetapi, salah dua dari mereka akan tinggal bersamamu.”


“Siapa meraka?”


“Sara dan Edgar akan menetap di Istana untuk ikut andil dalam mengatasi masalah utama.”


Uzan menghela lega. “Syukurlah kalau begitu.”


“Oh, iya,” kata Agatha. “Kau juga perlu berkenalan dengan dua rekan baru yang baru saja aku perkenalkan kepada kawan – kawanmu. Mereka tidak aku ajak kesini. Tapi aku akan menyebutkan sedikit deskripsi mereka. Seorang pria berambut keriting bernama Rego dan seorang wanita berambut pirang panjang bernama Lusa.”


Guvar berujar, “Mungkin ketika Rego dan Lusa bertemu denganmu, mereka akan langsung mengenalmu karena kau adalah putra mahkota dari kerajaan Kastala karena sering mereka lihat ketika kau melakukan kunjungan ke sini berkali – kali.”

__ADS_1


“Ketika makan malam nanti, kau bisa langsung menemui Rego,” kata Agatha. “Sayangnya Lusa mungkin tidak bisa makan bersama karena harus mempersiapkan pegasusnya untuk pelaksaan tugas dua hari lagi.”


“Pelaksanaannya dua hari lagi ya?” kata Uzan. “Baiklah kalau begitu.”


__ADS_2