
Edgar dan kawan – kawan sedang berdiri di depan Gua Akais. Mereka semua hanya memandang gua tersebut dengan rasa heran.
“Kalian berdua harus menunggu di sini dahulu,” kata Gua Akais. “Hal ini karena dua kawan kalian sedang di dalam ruang keheningan di mana mereka sedang di dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika sudah memasuki Gua ini.”
Edgar berseru, “Jika Uzan dan Arika mati, aku bersumpah bahwa aku akan merobohkan gua bodoh ini. Kau mengerti, Akais?”
“Kau hanya berlagak kuat, prajurit,” Gua Akais berdehem. “Untuk sementara ini, aku akan mengheningkan suaraku untuk melancarkan proses masuk mereka berdua ke dalam gua ini.”
“Tunggu!” kata Edgar. “Aku masih punya beberapa pertanyaan untukmu.”
“Kau tidak perlu khawatir Edgar,” kata Sara. Setidaknya, kita dibiarkan hidup di sini.”
“Ini sangatlah menyebalkan,” Edgar mendengus. “Aku terheran mengapa aku tidak merasa ingin meninggalkan gua ini.”
Rota menjelaskan. “Kurasa, hal ini karena gua akais mempunyai sihir khusus yang dapat membuat semua orang yang berada di dekatnya tidak berkeinginan untuk meninggalkan gua ini. Kemungkinan karena kita telah mendengar suara yang gua yang baru saja kita ajak untuk bercakap – cakap.
Edgar mendengus. “Jika bisa, lebih baik kita melanjutkan perjalanan selagi Uzan dan Arika sedang ada di dalam sana.”
“Masalahnya, kita tidak tahu tentang destinasi selanjutnya, Edgar,” kata Sara.
“Kemungkinan kita bisa,” kata Rota. “Syaratnya adalah bahwa kita hanya tinggal membuka gulungan perkamen tersebut sampai terbuka dan memilih tujuan – tujuan yang muncul.”
“Walaupun begitu,” Dubal bersedekap. “Kita tidak akan meninggalkan mereka berdua, kan?”
“Itu hanyalah wacana yang tidak akan pernah kita lakukan, Dubal,” Edgar menghela. “Seandainya kita mengetahui tentang berapa lama Uzan dan Arika akan selesai.”
***
“Ngomong – ngomong, apakah gempa yang sedang aktif di Wilayah Kastala tidak aktif kembali?” tanya Dubal.
“Sebenarnya aku tidak mempunyai masalah dengan itu, Dubal,” kata Edgar. “Malahan, kita seharusnya bersyukur karena gempa merepotkan tersebut sudah tidak aktif selama beberapa hari. Bisa saja Raja Endan sudah menemukan pemulih gempa ini.”
“Itu tidak benar, Edgar,” kata Sara sambil merengut. Jika kau ingat tentang apa yang dikatakan Pangeran Uzan perihal ketidakpercayaannya terhadap para pegawai istana, kita patut curiga.”
Edgar memutar bola matanya. “Aku heran. Kenapa kau malah curiga begitu, Sara. Paling tidak Wilayah Kastala sudah tidak ditimpa oleh bencana.”
__ADS_1
“Jika wilayah Kastala ini sudah ditimpa oleh bencana, apakah berarti perjalanan yang sedang kita jalani adalah sebuah keputusan yang sia – sia?” kata Rota.
“Rota benar,” Sara menyetujui. “ Di samping itu, karena pangeran Uzan sudah memperlihatkan ketidak percayaannnya kepada segala sesuatu, kita juga harus berhati – hati.”
“Apakah kau akhirnya memperdulikan tentang masalah yang sedang melanda negeri ini, Rota?” tanya Dubal.
“Mungkin iya,” Rota memegang dagu. “Mungkin tidak.”
“Apa maksudmu?” tanya Edgar.
Rota menghela. “Alasan klise yang bisa kulontarkan adalah bahwa aku merasa terhormat karena bisa ikut dalam pengelanaan yang sedang kalian jalani ini. Namun, kalian haru smengerti bahwa hal ini juga berkaitan dengan Galar dan juga berkaitan dengan kaum Gulda yang adalah di bukit Giraf. Sehingga, aku juga memiliki rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan ini.”
“Ini pasti juga karena adanya Tuan Galar yang sedang ikut pengelanaan ini. Bukankah begitu?” ujar Sara.
“Itu benar,” kata Rota. “Walaupun begitu, bagiku, masalah Galar adalah masalah yang paling utama yang harus kita tangani.”
Dubal mengangguk. “Di samping itu, kita juga punya masalah dengan Ruhin yang kemungkinan sudah mempersiapkan diri di Igardias.”
“Itu benar,” Rota menyetujui. “Ruhin juga salah satu pemicu utama aku mengikuti kelompok kalian.”
“Kita akan kembali ke pertanyaan pertama tentang terhentinya gempa ini,” kata Dubal. “Kemungkinan Pangeran Uzan belum memikirkan tentang hal ini.”
“Seperti kataku tadi,” kata Rota. “Jika gempa terhenti sekarang dan tujuan utama kalian adalah untuk mengumpulkan berbagai macam material magis yang dipersatukan maka….”
Sara berujar, “Kecurigaan pangeran Uzan benar tentang jalannya misi ini.”
“Apa kau tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sara?” Edgar terheran.
“Aku setuju dengan Sara,” kata Dubal. “Kesimpulan yang ia ambil ada benarnya. Kemungkinan ini adalah jebakan.”
Setelah beberapa saat, Edgar berujar, “Ini pasti adalah jebakan dari Faraq.”
“Tidak salah lagi,” raut muka Sara memuram. “Ternyata perjalanan kita ini sia – sia.”
Sayang sekali bahwa Uzan dan Arika belum mengetahui tentang maklumat yang baru saja kita simpulkan ini,” ujar Rota.
__ADS_1
“Aku baru saja menyadari betapa uniknya kesimpulan ini diambil,” kata Edgar. “Maksudku, pembicaraan singkat yang baru saja lakukan sudah menimbukan kecurigaan yang kemungkinan besar bisa dibuktikan.”
“Walaupun begitu, kita juga masih tidak bisa membuktikan hal ini,” ujar Sara. “Kita harus menunggu kedatangan Pangeran Uzan dan Arika agar kita bisa memastikan dan mempersatukan pendapat kita bersama agar bisa melakukan langkah selanjutnya.”
“Maksud kalian?” Rota menggaruk kepala.
“Maksud Nona Sara adalah bahwa kemungkinan pencarian material magis ini tidak akan dilanjutkan,” kata Dubal. “Uzan dan Arika memperoleh Batu Akais yang dicari, kita akan berputar balik ke arah Istana Kastala.”
“Apakah ini berarti tujuan Galar dan Ruhin juga akan dibatalkan?” tanya sang Silvar.
“Kita akan menunggu persetujuan dari Pangeran Uzan terdahulu, Rota,” kata Sara.
“Kalau menurutku,” Edgar bersedekap. “Setelah ini kita akan berputar kembali ke Istana, lalu melaporkan hal ini kepada raja, setelah itu kita akan segera mengambil tindakan.”
“Kalau begitu, kalian bisa mengandalkan portal yang akan aku buat bersama Sara dan Arika setelah kita memperoleh Batu Akais.”
“Itu benar,” Edgar tersenyum. “Lagipula, aku juga takjub dengan keemampuan Rota untuk langsung menuju Gua Akais ini dalam waktu singkat. Aku tidak habis pikir jika tidak ada Rota, mungkin perjalanan untuk sampai ke sini akan membutuhkan waktu berhari – hari.”
“Apakah kalian tidak mempertimbangkan penggunaan sihir portal dua kali lagi untuk memastikan bahwa semua material magis sudah terkumpul dan akhirnya kembali ke istana?” tanya Dubal.
“Itu mungkin akan kita diskusikan lebih lanjut saat Uzan dan Arika sudah memperoleh Batu Akais, Tuan Dubal,” kata Sara.
“Yah,” Edgar memasukan jemarinya ke saku celana. “Intinya—”
Suara angin berdesau di sekitar Gua Akais. Beberapa saat kemudian, geraman Gua Akais menggelegar. “Aku sudah selesai meloloskan mereka dari keheningan.”
Rota menggaruk kepala. “Apalagi yang kau inginkan?”
Dengan ini aku mengumumkan bahwa kehadiran kalian di depan gua ini sama pentingnya dengan kedua kawan kalian yang baru saja memasuki gua ini,” kata Gua Akais. “Di sini, kalian akan dijadikan tumbal.”
“Apa yang kau maksud dengan Tumba?” kata Edgar.
“Kami bahkan tidak turut serta untuk mauk ke Gua Akais,” kata Sara sembari menelungkupkan kedua telapak tangannya di dada.”
“Kalian harus mengetahui alasa aku membuat kalian tidak berkeinginan pergi dari dekat gua ini,” kata Gua Akais. “Karena aku membutuhkan jiwa empat orang untuk ini…”
__ADS_1
Edgar dan kawan – kawannya tidak menuturkan sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian, satu per satu dari Edgar, Sara, Dubal, dan Rota terjatuh di atas tanah dan tidak sadarkan diri.
Ketika Zero melihat Edgar dan lainnya, kuda itu tampak tertegun. Namun, ia segera kembali memakan rumput.