Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Selanjutnya


__ADS_3

Uzan dan Arika jatuh keras di sebuah genangan air yang memercik. Ruangan yang mereka berdua tinggali saat ini kurang lebih suasana sama dengan yang sebelumnya. Perbedaannya adalah bahwa ruangan sekarang lebih terang dengan cahaya menyerupai cahaya matahari. Yang terasa ganjil menimbang mereka berdua baru saja jatuh dari gua di atas.


Di langit – langit dan di bagian bawah ruangan tempat mereka berada, tumbuh juga stalaktit dan stalakmit yang bertebaran. Selain itu, mereka juga ada yang namanya batuan – batuan berwarna – warni.


Setelah itu Uzan berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu, ia menarik Arika yang masih kesakitan terjerembab. Gadis penyihir itu berujar, “Terima kasih, pangeran.”


“Sama – sama,” kata Uzan. “Apa yang terjadi kepada kita?”


Seolah memberikan jawaban kepada Uzan, suara bergema di sekitar gua tersebut. “Selamat datang di ruangan khusus untuk menjalani ujian kedua. “Kalian tahu bahwa hal ini berarti kalian sudah memenuhi syarat masuk ke ruangan ini.”


Uzan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Beberapa saat kemudian, ia berujar, “berikan persyaratan ujian ke dua.”


“Jika kalian memaksa, kalian haruslah memilih salah satu dari lima orang ini untuk di lawan.”


Setelah itu, cahaya putih berdenyar dan menampakkan bayangan Edgar, Sara, Dubal, dan Rota yang sedang melayang rendah.


“Itu teman - teman kita!” Arika berseru. “Apa yang terjadi kepada mereka?”


Seraya mempertanyakan pertanyaan yang sama dengan Arika, Uzan juga berseru, “Apa yang kalian lakukan kepada mereka?”


Sang pangeran dan gadis penyihir itu memandang bayangan Edgar, Rota, Dubal, dan Sara dengan seksama. Perlahan – lahan, bayangan tersebut memadat dan menampakkan wujud asli mereka berempat.


Edgar tampak asyik mengobrol dengan ketiga rekannya. Rota juga terlihat sedang tertawa. Sara sedang tampak dalam keadaan tenang sembari memperhatikan ketiga kawannya berbicara. Dubal juga sesekali berkata – kata kepada mereka.


Seharusnya Uzan dan Arika mengerti tentang bahan pembicaraan yang sedang dibahas oleh Edgar dan lainnya. Namun mereka berdua tidak paham. Arika menyimpulkan bahwa pembicaraan mereka sudah dikaburkan maknanya karena sihir gua akais.


“Ini adalah ujian kedua,” suara menggema di ruangan itu. “Seperti yang sudah di katakan ketika kalian sedang berada di atas.


Arika memuraman wajah. Gadis penyihir itu merasa curiga dan sekali lagi bertanya, “Apa yang terjadi kepada teman – teman kita di atas?”

__ADS_1


“Mereka sedang di dalam ke adaan hening seperti yang kalian berdua alami sebelum memasuki gua ini,” kata gua itu. “Di samping itu, kalian tidak perlu khawatir tentang keadaan mereka. Mereka mungkin kami pingsankan, tapi akan kujamin bahwa tidak akan ada orang yang berani untuk mendekati mereka karena sihir magis Akais.”


“Aku masih curiga dengan perlakuanmu kepada Edgar dan kawan – kawan kami yang lain,” kata Uzan.


“Kau seharusnya diam saja pangeran bodoh!” Terdengar gelak tawa di seluruh ruangan tersebut. “Semua ini tentu saja guna menghisap seluruh kekuatan penyihir itu.”


Uzan menghunus pedangnya. “Arika, jangan khawatir!”


“Baiklah, pangeran,” kata Arika. Gadis penyihir itu masih tampak gugup.


Gua itu mulai berkata, “Sang pangeran akan bertarung dengan Edgar dan Dubal. Lalu, penyihir itu akan bertarung dengan Rota dan Sara.”


“Dua lawan satu, ya?” tanya Uzan. Ia mulai bersiap – siap dengan pedangnya.”Kukira kita akan menghadapi dua dari mereka sekaligus.”


“Jika aku mempertimbangkan kalian menjadi dua lawan empat,” kata gua itu. “Itu akan menjadi terlalu mudah. Terutama untuk kalian. Hal ini dikarenakan kerja sama kalian akan sangat memudahkan. Untung saja hal itu sudah ketahuan ketika ujian kelelawar di atas.


Uzan mengedarkan pandangan sekeliling. Hal ini sangatlah merepotkan. Ia tidak akan bisa menghadapi Edgar dan Dubal sekaligus. Ia mungkin akan bisa menang jika hanya melawan Edgar. Atau mungkin kemungkinannya besar untuk menang jika ia hanya ditandingkan melawan Edgar.


Tapi kalau dengan Dubal? Ia tidak tahu bahwa ia kana bisa melawan Dubal jika ditandingkan dengan mantan prajuri Oslar itu ketika satu lawan satu. Yang ia ketahui adalah bahwa jika ia ditandingkan dengan prajurit Oslar tersebut dengan pertandingan satu lawan satu, ia mungkin akan kewalahan menimbang ia sudah menyaksikan kemampuan Dubal ketika ia berarung ketika memperoleh kain kagigar perak.


Arika juga memeriksa kedua lawannya. Ia hanya mengerti bahwa ia bisa menggabungkan sihir dengan Rota dan Sara. Yang ia ketahui tentang kekuatan Rota adalah bahwa ia bisa mengeluarkan portal untuk berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Ia bahkan tidak mengetahui tentang kekuatan makhluk kecil itu yang lain. Tapi dari pengamatan yang dilakukannya ketika menghadapi Fatta, pasti Rota juga mempunyai kekuatan lain.


Di samping itu, ia juga tidak akan meremehkan Sara. Karena pasti Sara akan menggunakan Max Purify. Di samping itu, ia juga memberitahunya sebelum berangkat ke Gua Akais bahwa ia menyimpan gelang Azure. Di dalam pertarungan, ia pasti juga akan menggunakan Max purify untuk menyembuhkan Rota dalam pertarungan.


Di samping itu, karena melihat mereka yang berdiri secara biasa seakan tidak terpengaruh oleh sihir gua. Pastinya mereka berpengalan dan mengenal satu sama lain. Pastinya, sebelum masuk, Rota pasti juga sudah punya dinamika hubungan antara Sara dan Rota ketika mereka sedang ada di Bukit Giraf sesuai yang diceritakan oleh Dubal.


“Kalian tidak perlu khawatir dengan kami,” kata Edgar. Ia tampak sadar dengan pertarungan yang akan mereka lakukan. “Tapi kalian juga tidak boleh meremehkan kami.”


“Edgar!” seru Uzan. “Apa yang terjadi padamu dan lainnya?”

__ADS_1


“Pangeran Uzan,” kata Sara. “Gua ini sudah memberikan cukup penjelasan tentang apa – apa yang akan kita lakukan.”


“Jadi,” Dubal menyambung. “Kalian tidak usah terlalu banyak bertanya dan kalian hanya wajib melakukan apa yang diisyaratkan oleh Gua Akais ini.”


“Pangeran Uzan,” kata Arika. “Aku tidak yakin bahwa mereka akan menjawab pertanyaan kita karena pada dasarnya kesadarkan mereka sudah hilang.”


“Baiklah,” Uzan mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Rota berujar dengan nada datar, “Aku akan mulai memindahkan kita ke tempat lain.”


Setelah itu, Rota menjentikkan jarinya tiga kali.


Sebuah portal hitam terbentuk di hadapan Uzan. Portal putih terbentuk dihadapan Arika.


Edgar berujar, “Sejujurnya, aku tidak sabar untuk bertarung melawan pangeran Uzan dalam pertarungan dua lawan satu ini. Benarkan, Dubal?”


“Itu benar,” kata Dubal. “Walaupun aku yakin bahwa sang pangeran yang akan kita berdua hadapi ini akan langsung bertekuk lutut karena tidak sanggup menerima kekalahan.”


Uzan menatap Edgar dan Dubal dengan seksama. Sang pangeran yakin bahwa kalimat – kalimat yang baru saja mereka lontarkan bukanlah kalimat mereka, melainkan hasil sihir dari Gua Akais.


Sara berujar, “Kami akan senantiasa merasa senang karena sudah diberi kesempatan untuk bertarung dengan gadis penyihir angin. Bukankah begitu, Rota?”


Rota mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Itu benar.”


Arika menanggapi Perkataan Sara dan Rota dengan sedikit gugup.


Setelah itu, Uzan dan Arika langsung tertarik masuk ke dalam masing – masing portal di depan mereka.


Beberapa saat kemudian, Edgar dan Dubal langsung melayang dan terhisap ke portal hitam. Rota dan Sara segera melayang rendah dan melesat ke portal putih.

__ADS_1


__ADS_2