
Setelah memasuki cahaya tersebut, Uzan dan lainnya menyaksikan pemandangan yang tidak begitu berbeda dengan suasana pedesaan. Pembedanya adalah penduduk yang tinggal dan melakukan kegiatan di tempat tersebut.
Silvar merupakan makhluk pendek. Dua kali lebih pendek dari pada manusia. Warna kulitnya adalah perak bercahaya. Mereka memakai pakaian layaknya manusia, namun lebih kecil dari tubuh mereka. Perbedaan laki – lai dan perempuan Silvar begitu mencolok. Laki – laki Silvar memiliki satu cula kecil di dahi mereka sedangkan yang perempuan sama seperti manusia perempuan pada umumnya.
Uzan dan kawan – kawan berjalan dengan kuda – kuda mereka menyusuri desa magis itu. Para penduduk mencuri – curi pandang sejenak. Seakan kedatangan mereka merupakan hal yang janggal. Namun tidak lama kemudian, mereka melanjutkan kegiatan mereka.
Dubal mengendarai kudanya memimpin Uzan, Edgar dan Sara dalam perjalanan itu dan membiarkan sang pangeran dan kedua temannya memandang alam sekitar.
Setelah beberapa saat, mereka mendatangi seorang Silvar di samping sebuah toko. Ia tampak sedang bersandar ke sebuah tiang sambil melempar – lempar koin perak.
“Dubal kawanku!” sapa sang Silvar. “Apa kabar?
Suara sang Silvar sangat seperti anak kecil. Ia memakai kaos putih dan celana pendek hitam.
“Kabar baik, Rota!” Kata Dubal.
“Kesini lagi?” kata Rota. “Apa yang kau perlukan?”
“Aku bawa teman – temanku yang ingin mendapatkan kain Kagigar.”
“Untuk apa?”
“Untuk menyembuhkan bencana di Kastala,” kata Dubal. “Apa kalian tidak merasakannya?”
“Tidak,” Rota menggenggam koin peraknya, “bahkan baru dengar tentang itu.”
Uzan mencoba bertanya “Apa kalian tidak tahu?”
Rota menoleh pada Uzan sejenak, lalu menghadap kembali ke Dubal. “Dubal, siapa mereka?”
Dubal menunjuk kea rah pangeran Uzan. “Dia adalah pangeran kerajaan Kastala.” Mantan Prajurit Oslar itu menyapukan tangannya ke Uzan, Edgar, dan Sara. “Mereka ingin tahu apakah di bukit Giraf tidak terjadi apa – apa?
“Tidak,” Kata Rota sambil mengorek telinganya “Kami tidak tahu kalau dia adalah seorang pangeran. Kami bahkan tidak perduli. Kami hidup di bukit ini dengan normal.”
“Oh ya?” Edgar berseru. Sara mencoba untuk mendiamkan Edgar. Rota tampak tidak memperdulikan seruan itu.
-
-
Dubal menghampiri dan berdekatan dengan Uzan, Edgar, dan Sara. “Sebaiknya pangeran dan kalian berdua tidak banyak bercakap - cakap dalam negoisasi yang kulakukan dengan Rota. Serahkan ini padaku”
“Baiklah” Uzan mengangguk. “Kami serahkan padamu.”
“Hey, Dubal” Panggil Rota “Ada masalah? Apakah kalian memutuskan untuk tidak jadi mengambil Kain Kagigar Perak?
“Tidak,” kata Dubal. “Mari kita lanjutkan.”
__ADS_1
Rota bersedekap. “Terangkan apa maksudmu?
“Jadi, kami ingin mendapatkan kain Kagigar untuk meredakan bencana di Kastala.”
“Memangnya, bencana macam apa yang terjadi di Kastala?
Dubal mulai menjelaskan. “Pangeran Uzan ingin meredakan gempa yang terjadi di wilayah tempat aku dan istriku tinggal. Gempa ini terjadi selama dua atau tiga hari sekali. Bencana ini sangatlah mengganggu penduduk.”
Rota berpikir sejenak. Ia memandang ke kanan dan ke kiri. Lalu sesekali menggaruk - garuk kepalanya. Setelah itu, ia langsung berujar, “Baiklah, mari ikut aku!”
Dubal memberi arahan kepada Uzan dan lainnya untuk mengikuti Rota yang berjalan cepat ke arah hutan yang tidak jauh dari pedesaan tersebut.
Selagi mengikuti Silvar itu, Uzan menghampiri Dubal dan berujar, “Apakah semua Girafan tidak ingin bergaul dengan manusia?”
“Tidak juga,” kata Dubal. “Mereka sulit untuk percaya kepada kaum selain mereka. Kecuali penduduk Igardias dan Klerik.”
“Kenapa itu?” Tanya Sara.
“Karena Girafan memiliki hubungan baik dengan penduduk Igardias. Khususnya Klerik disana”
“Apakah itu berarti aku bisa akrab dengannya?”
“Aku tidak yakin, nona Sara” kata Dubal “Ia mungkin tahu bahwa kau adalah Klerik, namun mungkin ia tidak ingin mengatakannya”
“Lalu…” Uzan menyambung, “bagaimana kau bisa langsung akrab dengan mereka, Dubal?”
“Itu bagus, Dubal” kata Edgar. Mungkin ini mempermudah diri kita untuk melakukan negoisasi secepat mungkin. Aku tahu bahwa ini adalah balas budi.”
“Kau bisa bilang begitu” Dubal mengangguk “Tapi jangan kira bahwa kau bisa minta tolong kepadanya setiap saat.”
Edgar terkekeh. “Aku sudah tahu tentang itu!”
Perbincangan mereka berakhir setelah tahu bahwa langkah Rota semakin cepat sehingga Uzan dan lainnya harus mempercepat langkah kuda mereka. Uzan, Edgar, dan Sara tidak menyangka bahwa Rota bisa berjalan secepat itu.
Mereka menyusuri sebuah hutan yang tidak berbeda dengan hutan yang ada di Kastala. Sembari melewati hutan tersebut, mereka juga mendapati bahwa selain warna hijau, dedaunan yang ada di hutan tersebut berwarna emas, perak, dan perunggu.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke sebuah piramida perak yang menjulang tinggi sebesar tiga susun rumah. Ribuan debu perak melayang – layang mengitari piramida tersebut. Di bagian tengah, ada sebuah pintu gerbang.
Rota melangkah ke depan piramida dan membentangkan tangannya ke atas. Setelah itu, sebuah cahaya perak terang berpendar dari telapak tangannya. Seketika itu pula, piramida tersebut terpecah menjadi beberapa piramida yang lebih kecil. Menurut Uzan dan lainnya, piramida – piramida kecil tersebut masih tampak besar. Benda- benda tersebut bagaikan puing – puing besar yang melayang – layang. Namun pola puing – puing yang berterbangan tersebut masih menyerupai piramida. Semakin melangit, semakin mengerucut.
Pendaran cahaya perak di kedua telapak tangan Rota lenyap. Setelah itu, Silvar itu menghampiri Dubal.
“Persiapan sudah selesai. Apa kau siap untuk kesana?”
“Bukan hanya aku” kata Dubal. “Tapi kami berempat. Apakah kau bisa mengantarkan kami berempat kesana?”
“Jika aku punya empat tangan, aku pasti bisa” Rota menengadahkan tangannya “Tapi aku hanya punya dua.”
__ADS_1
“Baiklah,” Dubal menyetujui. “Aku akan diskusi dulu.”
Dubal menghampiri Uzan dan kedua kawannya.
“Seperti yang dikatakan Rota tadi. Hanya dua orang dari kita yang boleh ikut.”
Uzan langsung memutuskan, “Kurasa itu tidak perlu di diskusikan, aku dan Dubal akan masuk”
“Baiklah” kata Edgar. “Aku dan Sara akan tunggu disini.”
Sambil menelungkupkan jemarinya, Sara berujar, “Hati – hati, Pangeran!”
Uzan mengangguk, “Baiklah.”
Dubal menghampiri Rota “Kami sudah memutuskan bahwa aku dan pangeran Uzan yang akan berangkat untuk mengunjungi pintu menuju Kain Kagigar Perak.”
“Tentu saja” Rota mengalihkan pandangannya kepada Uzan “Apakah kau sudah siap, Pangeran?”
Uzan mengangguk. “Sudah.”
Uzan, Edgar, Dubal dan Sara berdiri di belakang Rota yang sedang menengadahkan kedua tangannya yang perlahan mengeluarkan cahaya perak.”
“Bersiaplah!” seru Rota.
Setelah beberapa saat, cahaya tersebut berpendar mengitari tubuh Uzan dan Dubal. Kemudian, mereka berdua melayang dan langsung melesat ke langit menuju puncak puing - puing dan lenyap dari keberadaan.
Edgar dan Sara hanya memandang langit – langit.
“Jadi, kita hanya menunggu di sini ya?” kata Edgar.
Sara mengangguk. “Kita harus bersabar, Edgar.”
Beberapa saat kemudian, Rota berbicara “Wahai Nona, dilihat dari jubahmu, apakah kau adalah seorang Klerik?”
Sara tertegun sejenak, lalu menjawab, “Iya, aku adalah Klerik.”
“Oh, Bagus” Rota tersenyum. “Aku minta kekuatan magismu untuk membantuku untuk meringankan beban ini. Dua orang ini menghabiskan tenagaku dengan cepat.”
“Tentu saja” kata Sara. “Dengan senang hati.”
Sara menengadahkan tangannya. Cahaya putih Perlahan berpendar dari telapak tangannya. Rota menghela lega merasakan kekuatannya meningkat sedikit demi sedikit.
“Tuan Prajurit” Ujar Rota “Tolong keliling di sekitar wilayah ini untuk memastikan tidak ada Girafan yang tahu tentang ini.”
“Baiklah,” Edgar menjentikkan jarinya “Kenapa?”
Rota menghela sejenak, lalu berujar, “Karena kalau ketahuan, aku bisa dibunuh oleh kaumku sendiri.”
__ADS_1