Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Cara Cepat


__ADS_3

Keesokan harinya, Uzan, Arika, Sara dan Rota terbangun. Setelah sarapan, uzan dan kawan - kawannya. berdiri di ruang tamu. Seluruh properti seperti sofa, kursi, dan meja, sudah dipinggirkan.


Edgar dan Dubal masih tertidur di kamar lelaki karena ingin menambah jam tidur setelah bersiap - siap dengan kuda dan kereta kencana kemarin malam.


Rota berujar, “Aku sudah berdiskusi dengan Arika dan Sara tentang bagaimana cara agar kita bisa langsung ke tujuan selanjutnya.”


“Baiklah,” Uzan mengangguk. “Jelaskan caranya!”


“Pertama,” Arika memulai penjelasan. “Pangeran harus membuka Gulungan Magis yang sudah diperoleh. Setelah itu, bayangkan tentang tujuan selanjutnya!”


“Bagaimana hal tersebut berhasil?”


“Itu mudah, pangeran,” kata Sara. “Dari awal, kau bilang bahwa alam bawah sadarmu secara tidak langsung mengarahkan gerakanmu ke arah tempat tujuan material magis yang selanjutnya, bukankah begitu?”


“Itu benar,”


Arika berujar, “Di sini, kau hanya perlu membayangkannya lebih dalam karena Rota akan membimbingmu.”


“Maksudmu?”


Rota berjalan menghampiri Uzan. “Ulurkan tangan kananmu, pangeran!”


Uzan bersimpuh dan mengulurkan tangan kanannya. Setelah itu, Rota menggenggam pergelangan tangan sang pangeran, lalu melepaskannya kembali.


Beberapa saat kemudian, pergelangan tangan Uzan memendarkan cahaya abu - abu terang.


“Apa yang harus kulakukan ketika aku sedang di dalam posisi ini?” tanya Uzan sambil berdiri.


“Kita akan memulai ritualnya sekarang,” kata Rota. Setelah itu, makhluk Silvar tersebut menghadap ke arah Sara dan Arika sembari memberikan isyarat dimulainya sihir.


Sara berujar, “persiapkan Gulungan Magis itu, pangeran!”


Uzan mengangguk. Ia mempersiapkan Perkamen Magis yang masih digenggamnya.


Setelah itu, Uzan, Rota, Sara, dan Arika memulai posisi ritual.


Uzan berada di tengah. Sedangkan Rota, Sara, dan Arika berada di pinggir. Posisi sang pangeran seolah ada di sebuah segitiga sama sisi yang setiap sudutnya ditempati oleh kawan - kawannya.


“Baiklah,” ujar Rota. “Arika, kau bisa mulai mantranya.”


Arika mengangguk.

__ADS_1


Uzan membuka gulungan perkamen tersebut. Setelah itu, gulungan tersebut terbuka dan melayang di depan Uzan. Pergelangan tangan sang pangeran masih memendarkan cahaya abu - abu.


Lalu, Sang memejamkan mata dan membisikkan tujuan selanjutnya, “Batu Akais”


Setelah itu, lantai yang dipijak Uzan bercahaya merah dengan ratusan ukiran berbentuk bola dengan berbagai macam ukuran. Sara, Rota, dan Arika juga tampak memejamkan mata karena sedang berkonsentrasi dengan sihir yang sedang mereka lakukan.


Uzan membuka mata. Lalu, ia menyaksikan sebuah Gua Besar. Gua tersebut tampak nyata. Sang pangeran berkeinginan untuk berjalan menghampirinya. Namun, ia tidak bisa bergerak.


Beberapa saat kemudian, tangan kanannya terasa ditarik oleh cahaya abu - abu yang melingkari pergelangan tangannya. Ia menuruti kehendaknya. Tangan kanannya terulur. Setelah itu, dengan tidak sadar, ia melakukan gerakan menggenggam dengan telapak tangan kanannya.


Dalam sekejap, pandangan gua besar yang dipandangnya menjadi kabur dan tergantikan dengan lingkungan nyata yang sedang ia alami saat ini juga. Ia kembali ke ruang tengah penginapan dengan Arika, Rota, dan Sara yang sedang melakukan sihir.


beberapa saat kemudian, seluruh cahaya yanng menerangi lantai ruangan itu memudar. cahaya abu - abu yang melingkari pergelangan tangan Uzan pun sirna.


Lalu, Rota berkata, “Apakah kau sudah bisa melihat tujuanmu sekarang, pangeran?”


“Iya,” kata Uzan. “Aku sudah tahu.”


“Bukan hanya kau yang tahu, pangeran,” ujar Rota. “Aku, Arika, dan juga Sara juga bisa melihat apa yang kau lihat ketika kami bertiga sedang menutup mata.”


Sara tersenyum.“Ternyata sihir gabungan dariku, Rota, dan Arika berhasil, pangeran.”


“Karena aku sudah diajak untuk bergabung dengan Pangeran Uzan, aku akan senantiasa membantu. Walaupun, hal ini juga untuk melakukan pembalasan terhadap Galar.”


Sang pangeran berkata, “Kita bisa mengarahkan tekad kemarahan itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, Rota.”


“Itu sangat bijak, pangeran,” ujar Rota, “Namun Walaupun dulunya aku bilang bahwa aku tidak peduli pada Gempa di Kastala.. Aku lebih mengutamakan perkembangan kaitan antara Galar dan sekutunya. Hal ini juga karena menyangkut bangsaku di Bukit Giraf.”


Beberapa saat kemudian, pintu kamar lelaki dibuka. Lalu, Edgar dan Dubal sudah bersiap - siap dengan seragam mereka.


Edgar berujar, “Kita berdua memutuskan untuk bersiap - siap dahulu untuk menyesuaikan diri kembali dengan Zero dan kereta kencana Unliv.”


Dubal menghela. “Terutama Zero, karena kemarin malam, ia masih belum sepenuhnya menurut kepadaku dan juga Edgar sebagai penunggang utama.”


Edgar menggaruk kepala. “berganti kuda berulang kali memang sangatlah merepotkan karena mungkin kuda yang satu tidak akan sama dengan kuda lainnya.”


Dubal mengedarkan pandangan ke arah Uzan, Arika, Rota, dan Sara. “Kami berdua mendengar bahwa kalian sudah selesai dengan ritual apapun yang baru saja kalian lakukan, ya?”


“Itu benar, Tuan Dubal,” kata Sara


“Kita akan segera melakukan praktik tepat sebelum kita melangkahkan kaki dari desa ini,” kata Arika.

__ADS_1


Rota mengangguk. “Pangeran Uzan, persiapkan dirimu!”


“Baiklah,” ujar sang pangeran. “kita akan bersiap - siap sembari melakukan praktik untuk menggunakan sihir ini.”


-


-


-


Pagi itu, Edgar sudah siap dengan Zero yang sedang ditungganginya. Sekarang adalah pukul sembilan pagi. Para penduduk desa mulai berlalu lalang ke sana kemari untuk melakukan aktivitas mereka.


Edgar sudah menunggangi Zero yang sudah di ikat ke kereta kencana Unliv. Uzan, Arika, Sara, dan Dubal sudah berada di dalam kereta kencana.


Di samping Edgar, Rota sedang berdiri dan memandang ke arah yang dituju oleh Edgar.


“Setelah ini, kita akan keluar dari desa ini, Rota,” ujar Edgar. “Kau sudah melakukan sihir dengan Uzan. Hasilnya?”


Rota berdehem. “Tenang saja, Edgar.”


Setelah itu, Rota menjentikkan jarinya.


Perlahan, sebuah portal hitam melayang dan melingkar di depan Edgar. Prajurit itu tertegun.


Edgar berkata, “Bukankah ini adalah portal yang sama seperti yang kau lakukan ketika kita melarikan diri dari kejaran kaum Girafan terdahulu?”


“Itu tidak benar, Edgar,” kata Rota. “Ketika kita memasuki portal ini, kita akan bisa langsung menuju ke arah Gua Batu Akais yang merupakan tujuan selanjutnya dari pencarian material magis.”


“Begitu, ya?” kata Edgar. “Lalu, apakah orang - orang yang sedang berlalu lalang di sekitar sini bisa menyaksikan portal itu?”


“Tidak bisa,” kata Rota. Walaupun begitu, sang silvar bisa merasakan lirikan beberapa orang yang mungkin menganggapnya sebagai makhluk aneh, terutama anak - anak. Setelah itu, Rota berujar kepada Edgar, “Kita akan langsung berangkat ke tujuan selanjutnya.”


“Baiklah,” Edgar mengangguk. “Memang itu adalah tujuanku, Rota,”


Rota langsung berbalik arah untuk menghampiri pintu kereta kencana dan memasukinya.


Setelah beberapa saat, Edgar menarik kekang kuda Zero. Kuda Girafan tersebut meringkik dan langsung berlari cepat menuju portal melayang yang ada di hadapannya.


Setelah memasuki portal tersebut, portal tersebut segera lenyap dan hanya menyisakan hempasan debu ringan.


Beberapa orang menghampiri tempat tersebut sembari terheran - heran akan hilangnya kuda yang menarik kereta kencana tersebut. Setelah sebab musabab tidak ditemukan dan tidak ada kejadian ganjil setelah itu, orang - orang tersebut meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2