Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Memanggil Edgar


__ADS_3

Setelah perbincangan dengan Sang Ratu, Uzan mengunjungi lapangan pelatihan prajurit Istana.


Uzan berjalan menunggangi kuda menelusuri pemukiman. Sebenarnya ia sudah melakukan keliling pemukiman bersama Istandi sejak hari ketiga terjadinya gempa, namun ia masih terheran – heran dengan dampak buruk yang diakibatkan bencana ganjil ini. Sang pangeran memang ingin segera mengunjungi Edgar di lapangan pelatihan prajurit Istana. Namun ia tidak merasa perlu untuk buru – buru dan menyisihkan waktu untuk melihat keadaan warga di sekitar.


Pemukiman warga tersebut terlihat rusak dan hancur. Beberapa tabib sedang menyembuhkan luka – luka yang ada. Beberapa prajurit juga mengantar warga untuk mengungsi ke tempat – tempat evakuasi yang sudah dibangun oleh para penyihir dan prajurit Istana.


Sembari melewati pemukiman, Uzan juga sempat mengetahui beberapa warga yang mencuri – curi pandang pada dirinya. Ia sendiri sudah biasa dipandangi seperti itu karena dia adalah pangeran.


Ketika sedang dalam perjalanan, Uzan melihat dari kejauhan seorang warga yang komplain supaya pada seorang penyihir berjubah abu – abu dan dua orang prajurit untuk membangun kembali rumah – rumah yang rusak. Namun penyihir tersebut menyatakan ketidakmampuannya karena titah raja mewajibkan agar warga mengungsi ke tempat – tempat pengungsian yang tersedia. Setelah itu, warga itu memprotes lagi sambil berteriak kepada penyihir tersebut dan mengatakan berbagai macam sumpah serapah. Akhirnya, kedua prajurit tersebut menangkap warga itu.


Sebenarnya sang pangeran ingin mengunjungi beberapa warga karena kasihan, tapi ia harus menyerahkan hal ini kepada para prajurit yang sudah ditugaskan oleh ayahnya. Ia tidak mau bertindak heroik sampai – sampai membela warga itu karena memang si warga memang sudah jelas salah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Ia yakin. Itu bukanlah tindakan heroik.


Memang benar kata ayahnya. Tidak semua warga menurut dengan peraturan istana.


-


-


Setelah beberapa saat, Uzan sampai di lapangan tempat para prajurit berlatih.


Di sana, ia melihat para prajurit yang sedang berlatih. Beberapa dari mereka beradu pedang dan tombak. Beberapa dari mereka berkuda. Dan beberapa dari mereka juga sedang melakukan pemanasan dengan menggerak – gerakkan tubuh mereka atau berlari keliling lapangan.


Uzan tahu bahwa beberapa prajurit juga sedang bertugas untuk membantu warga pemukiman di sekitar Istana karena jumlah prajurit yang sedang ada di lapangan tidak sebanyak biasanya.


Ketika Uzan memasuki lapangan, beberapa prajurit menunduk hormat. Uzan juga membalasnya dengan anggukan. Setelah berjalan – jalan sejenak, ia duduk di sebuah bangku di dekat lapangan dan memanggil seorang prajurit.


“Ada apa gerangan, pangeran Uzan?” tanya prajurit tersebut.


“Panggilkan Edgar!”


Prajurit itu mengangguk dan segera berjalan ke lapangan untuk mencari Edgar. Uzan tahu bahwa para Prajurit di Kastala mengetahui nama Edgar karena selain dia adalah temannya, dia adalah salah satu prajurit Istana terkuat. Hampir seluruh prajurit mengenalnya.


Setelah lama menunggu, Uzan didatangi Edgar yang menghampirinya sembari berlari kecil. Prajurit itu memiliki rambut coklat berantakan dan sedang memakai baju besi abu - abu khas prajurit.

__ADS_1


“Pangeran Uzan, ada apa?” sapa Edgar. Uzan tersenyum dan menyapa dengan nada santai, “Panggil aku Uzan saja, Edgar!”


“Baiklah,” kata Edgar sembari terkekeh, “tidak biasanya kau memanggilku di sini.”


“Aku mendapatkan kabar dari ayah tentang cara untuk memulihkan gempa ini.”


“Benarkah?” kata Edgar. “Jadi, apa sebab gempa ini?”


“Penyebabnya belum ditemukan,” Uzan menghela, “tapi solusinya sudah ditemukan.”


“Bagus!” kata Edgar, “Gempa ini sangat merugikan warga. Apalagi bidang pertahanan Istana. Ini karena prajurit tidak bisa berlatih secara penuh karena ada waktu – waktu tertentu para prajurit harus membantu warga. Bukannya aku protes tentang itu, tapi para prajurit tidak akan bisa memfokuskan diri untuk latihan. Umm...jadi, bagaimana solusinya?”


“Baiklah,” Uzan memulai penjelasan. “Kita harus mengumpulkan Material untuk memulihkan musibah ini.”


“Sudah kuduga bahwa ini adalah ulah penyihir,” Edgar duduk di sebelah Uzan. Lalu, ia bersedekap sambil memandangi langit. “Apakah penyihir Istana tidak tahu?


“Mungkin,” kata Uzan, “tapi Aku belum tahu pasti. Kamasa juga sedang tidak ada di Istana. Kemungkinan dia sedang mencari penyebab terjadinya gempa ini.”


“Jadi, para prajurit juga harus siap untuk pergi mengumpulkan material magis?”


“Maksudmu?” Edgar mulai menoleh ke arah Uzan.


“Ayah mengutusku untuk pergi mengumpulkan Material Magis sebagai tugas ini dan aku diperbolehkan untuk mengajak dua sampai empat kawan.”


“Jadi, kau kesini untuk mengajakku?” tanya Edgar seolah tidak percaya.


Uzan mengangguk. “Begitulah.”


“Tentu saja aku mau,” Edgar menepukkan tangannya dan mulai berujar dengan nada gembira, “Itu pasti! aku juga sudah tidak tahan untuk memulihkan keadaan kerajaan ini. Siapa lagi?”


“Sebenarnya aku ingin mengajak Rena. Tapi Rena saat ini sedang sibuk karena ia adalah salah satu petinggi bagian penyihir dan Penyembuh. Jadi, aku akan mengajak Sara.”


“Sara dan Rena ya? kau sangat sentimentil. Kau mengajak dua teman masa kecilmu”


Uzan mengangkat bahunya sambil berujar, “Mungkin.”

__ADS_1


“Berarti Rena sudah kau silang, kan?”


“Sayang sekali,” kata Uzan dengan nada kecewa. “Padahal sihir Elemen air Rena bisa sangat berguna untuk menuntaskan misi ini.”


Edgar memegang dagu. “Apakah gempa ini tidak ada kaitannya dengan sihir tanah? Secara, gempa berkaitan dengan tanah.”


“Tidak, Edgar.” Uzan menggeleng, “Rena mengatakan bahwa hal ini tidak ada kaitannya dengan penyihir elemen tanah.”


“Aneh sekali,” Edgar menghela kesal, “Biasanya kalau gempa ada kaitannya dengan tanah.”


Uzan menyimpulkan, “Aku memang tidak mengetahui mengenai seluk beluk sihir. Jika tugasnya adalah mengumpulkan material – material magis, aku simpulkan bahwa hal ini bukanlah sihir biasa.”


“Baiklah,” Edgar bersedekap. “Rena sudah pasti sibuk karena dia adalah petinggi. Kalau Sara, dia adalah seorang Penyembuh. Memang bukan Penyembuh Istana. Tapi kau tahu kan, gadis pirang itu sangat tidak bisa lepas dari ayahnya. Apalagi para warga juga sedang terkena bencana, pasti ia juga sangat prihatin.”


“Aku tahu itu, Edgar,” kata Uzan, “tapi aku yakin ia akan ingin berperan supaya bisa memulihkan keadaan ini.”


“Tentu saja!” kata Edgar. “Aku juga akan menambah pengalaman prajuritku.”


Uzan memuji Edgar, “Aku yakin bahwa kau adalah prajurit kuat.”


“Aku memang merasa percaya diri dengan kekuatanku sekarang,” kata Edgar, “Namun aku ingin menjadi lebih berpengalaman seperti Tuan Rowan.”


Uzan mengangguk, “Sudah kuduga.”


Edgar menatap langit – langit. “Semua prajurit di sini mencontoh tuan Rowan, dia sangat kuat”


“Jadi, ini adalah kesempatanmu.”


“Baiklah,” kata Edgar, “Kita akan membujuknya dan memberitahu gadis pirang itu tentang betapa parah dampak yang diakibatkan oleh bencana ini kepada warga.”


“Hei…” kata Uzan dengan berpura – pura mengeluh. “Jangankan warga biasa, aku yang seorang pangeran saja juga terdampak. Maksudku, aku juga harus melakukan pekerjaan merepotkan seperti ini.”


Edgar terkekeh. “Bisa saja kau, Uzan.”


“Selanjutnya kita akan langsung ke tempat Sara,” Uzan berdiri. “Kita akan langsung ke sana kita akan naik kuda supaya lebih cepat.”

__ADS_1


“Tentu!” kata Edgar sambil berdiri. “Akan aku ambilkan kudanya.”


__ADS_2