
Malam itu…
Uzan dan kawan kawanya berdiri tercengang. Arika menyalakan telapak tangannya, mengeluarkan sihir agar semua meja kursi menyingkir dan hanya ada Uzan dan kawan – kawan berhadapan dengan Fured dan Imnas yang sedang menjadikan Sara sebagai sandra.
“Apa yang kau inginkan?” geram Dubal.
“Sebelum itu, aku ingin memberi kabar kepada kalian bahwa Tuan Imnas yang sedang kau ajak bicara ini sebenarnya sudah mati,” kata Imnas. “Perkenalkan, namaku Fatta. Aku adalah Gulda dari Bukit Giraf.”
“Pangeran Uzan,” Arika menatap Fured dan Fatta. “Aku punya firasat buruk tentang ini.”
Sang pangeran tidak mengatakan sepatah katapun.
Imnas – yang menjadi jelmaan Fatta – mennyeringai. “ kalian sudah tahu ceritaku dan bagaimana Galar memasuki desa ini. Jadi, yang kami inginkan adalah kau memberikan kalung Sila yang kau miliki, Dubal.”
“Untuk apa?” tanya Arika.
“Dengan kalung Sila tersebut,” kata Fured. “Fatta akan bisa mengganti dua orang penghubung yang ada di dalamnya. Di samping itu, Fatta akan mengganti salah satu dari mereka menjadi Galar dan meretakkannya, lalu Galar akan mti sebelum ia sempat melakukan persembahan kepada Gulda Gul.”
“Segala yang di katakan Fured sangatlah benar,” kata Fatta. “Jadi, jika kalian ingin macam – macam dengan kami, sebaiknya kalian lupakan!”
“Tuan Dubal,” kata Fured dengan nada pelan. “Selayaknya kau menyerahkan kalung itu karena Fatta ingin sekali membunuh Galar agar semua masalah ini terselesaikan.”
“Kau kira aku bodoh?” Dubal menggeram. “Aku bisa saja setuju jika Galar terbunuh, tapi jika dengan cara ini, Rota atau Natalia juga akan terbunuh.”
Fured berujar, “Kau bisa merelakan Rota terbunuh, Tuan Dubal. Itu tidak masalah, Nyonya Natalia istri anda juga bisa diselamatkan.”
“Jangan bicara seenaknya, Fured,” seru Edgar. “Kalian tidak mengerti tentang apa yang sudah dilalui oleh Dubal sehingga bisa menjadi kawan Rota dan mencegahnya untuk dibunuh.”
Fatta mencengkeram leher Sara lebih keras. Gadis klerik itu meronta. “Kalian bisa mengorbankan satu anggota Girafan untuk menyelamatkan seluruh Wilayah magis bukit Giraf. Bukankah begitu?”
“Itu salah,” kata Uzan. “Lagipula, cara pemaksaan yang kau lakukan ini pasti berujung pada sesuatu yang lebih besar, apalagi tentang hal yang berkenaan dengan emas itu.”
Fured menoleh Sara yang sedang kesulitan bernafas. “Aku mohon pangeran, kami tidak ingin menyakiti Nyonya Sara.”
Edgar mengepalkan tangannya. “Kau tidak perlu membujuk kami dengan cara halus jika pada akhirnya tujuanmu juga untuk berkerjasama dengan Fatta, Fured. Lagipula, kemungkinan Fured juga punya keinginan untuk memiliki emas tersebut.”
“Baiklah,” Fured merubah nadanya menjadi lebih garang. “Jika itu yang kalian inginkan.”
Uzan bicara pelan. “Kedokmu sudah tampak.”
Fured memperhatikan Uzan dan kawan – kawannya dengan seksama. “Serahkan kalung Sila itu sekarang Dubal, atau Klerikmu yang satu ini akan mati.”
“Sial!” seru Edgar. Tapi ia masih tidak bisa berkutik.
Arika mengetahui dengan pasti mereka sedang di dalam posisi apa untuk saat ini. Ia mengamati Sara yang sedang dicekik oleh Imnas yang memegang pisau. Selain itu, Fured juga sedang menggertak di samping Imnas. Lagipula, Seluruh Anggota kelompok Uzan sekarang sedang tidak membawa senjata apapun.
Seandainya ia bisa menghempaskan Fured dan Imnas seperti ketika ia menghempaskan seluruh meja dan kursi ke samping, maka ia pasti akan bisa menyelamatkan Sara. Walaupun untuk resikonya, Sara juga akan terhempas juga. Namun ia bisa mengandalkan pangeran Uzan, Edgar, dan Dubal sehingga, kemungkinan masalah tersebut bisa diatasi dengan mudah.
Arika menyalakan cahaya hijau di telapak tangannya dan siap untuk me—
Tanpa disangka, Fatta menghujamkan pisaunya ke lengan Sara. Sara berteriak kesakitan sambil memegang lengannya karena darah mengucur di lengannya.
__ADS_1
“Sara!” seru Edgar.
Ujung pisau diarahkan Fatta ke leher Sara.
Edgar akan menerjang tapi disergah oleh Dubal dan Uzan.
Edgar ingin memberontak. “Apa yang kalian lakukan, sial!”
“Apa kalian pikir kami ini bodoh?” kata Fured. “Kami sudah tahu bahwa gadis penyihir itu akan melakukan sihir untuk menghempaskan kami seperti yang diawal ketika ia menghemaskan seluruh meja dan kursi yang ada di sini ke pinggiran.”
Edgar menatap Arika tajam. Arika memalingkan muka karena merasa bersalah. Ia membatalkan sihirnya dengan meredupkan cahaya hijau di telapak tangannya.
“Arika,” kata Uzan. “Kau harus berhati – hati dengan sihirmu. Kita sedang keadaan berbahaya sekarang.”
“Baiklah, pangeran,” kata Arika. Gadis penyihir itu masih melihat Sara yang sedang berdarah dan merasa was – was dengan keadaan Sara.
“Bagaimana?” kata Fured. “Mau tidak mau, kalian harus mengakui bahwa tawaran ini tidak terelakkan.”
Fatta menyeringai. Tangannya masih mencekik leher Sara yang sedang tersesak. “Kau pintar membujuk, Fured. Aku akui itu.” Ia kembali menoleh ke arah Uzan dan kawan – kawannya.
“Untuk pangeran Uzan dan lainnya. Jika kalian masih bersikeras untuk menjaga Kalung Sila yang kalian miliki, itu tidak masalah. Kalian akan menyaksikan rekan kalian ini mati tercekik. Bagaimana?”
Beberapa saat kemudian, Dubal meyetujui. “Baiklah, akan kuberikan kalung sila yang aku miliki kepada kalian.”
Uzan, Edgar, dan Arika tertegun, tapi akhirnya mereka bertiga juga bisa mengerti.
“Tapi kau harus berjanji bahwa kau harus melepaskan Nyonya Sara dan menyerahkannya kepada kami,” geram Dubal.
“Itu sudah bisa kami pastikan,” kata Fured. “Jadi, serahkan kalung Sila itu kepada kami!”
Fured menangkap kalung Sila tersebut sembari memastikan bahwa kalung Sila tersebut asli dan bukan tiruan.
Edgar berseru, “Kembalikan Sara!”
Fatta melepaskan cekikannya ke Sara. Gadis itu tersungkur terbatuk. Darah masih mengalir dari lengan gadis itu.
Edgar akan menghampiri Sara namun namun Fured menandakan gestur berhenti kepada Sara. Uzan dan Dubal mencegah Edgar.
Uzan menyergah. “Edgar, tunggu!”
Tiba – tiba, Fatta mengeluarkan gelang Azure dan memasangnya ke pergelangan tangan Sara. Tiba – tiba luka yang dialami Sara memulih dan tenaganya juga memulih.
Setelah itu, dengan cepat ia melepaskan gelang Azure tersebut sehingga Sara menjadi dalam keadaan normal.
Fured mengeluarkan sapu tangan basah dari sakunya. Lalu dengan cepat ia menempelkannya ke muka Sara, memaksanya menghirup sapu tangan tersebut, sehingga ia terjatuh tidak sadarkan diri.
Fatta berujar, “Maaf, bahwa kita akan membatalkan berjanjian ini karena dia adalah Klerik dan sangatlah penting untuk keperluan sihir bangsa Girafan. Jadi, kalian harus mengizinkanku untuk membawa klerik ini.”
“Tunggu!” Seru Edgar. Ia menerjang ke arah Fured yang menggenggam pisau. Fured memasukkan kalung Sila ke sakunya dan menghindari terjangan Edgar, lalu menghujamkan ujung pisau ke lengan Edgar.
Setelah itu, Uzan juga sempat menendang dada Fured sampai petugas itu terpental dan menghantamdidnding. Di samping itu, pisau yang digenggam Fured juga terjatuh.
__ADS_1
Dubal sudah menerjang dan akan meninju Fured, amun petugas itu berhasil menghindar dan menghampiri pintu depan dan akhirnya melarikan diri.
Setelah itu, Fured menutup pintunya.
Ketika pintu akan ditarik, gagang pintu tersebut tidak bisa dibuka. Setelah itu, Uzan dan Dubal menendang dan meninju pintu tersebut. Tapi tidak bisa.
“Bah!” Dubal menggeram. “Kita telah dikhianati.”
“Sepertinya pintu ini ditutup menggunakan sihir,” kata Uzan. “Arika, periksa pintu ini!”
Arika masih tertegun dan masih tidak berkutik karena pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Fured dan Fatta. “Ba- baiklah,” katanya pelan.
Arika mencoba membuka pintu itu, namun memang benar kata Uzan, bahwa pintu itu tidak mempan jika dibuka dengan sihir.
“Kalian mungkin bisa membukanya dengan kapak dan benda tajam lainnya,” kata Arika.
Setelah itu, Dubal dan uzan mengambil pedang dan kapak. Mereka berdua menghujamkan dua senjata itu ke pintu dan pintu tersebut langsung hancur. Benar kata Arika, pintu penginapan tersebut hanya bisa dihancurkan dengan senjata tajam.
Uzan berujar, “Sebaiknya sebelum keluar, kita mengobati Edgar terlebih dahulu.”
Dubal dan Arika menyetujui. Setelah itu, Sang pangeran dan para rekannya tinggal sejenak untuk mengobati Edgar dengan melapisi lengan prajurit itu dengan perban. Edgar merutuk keras dan menggeram.
Setelah Edgar sudah pulih, Uzan dan lainnya berjalan ke luar dan mendapati lingkungan yang sudah sepi.
“Aku mengerti di mana lokasi Sara sekarang,” kata Arika. Sejujurnya, ia juga tidak tahu bagaimana Fured atau Fatta bisa memiliki gelang Azure. Ia ingin mengutarakannya kepada Uzan dan lainnya, namun ia batalkan.
Dubal melihat jejak kaki. Kemungkinan dia sekarang ada di di pintu depan Desa Sakanan. Ia juga mendapati bahwa Trez dan kereta kencana menghilang.
Uzan memutuskan dengan agar mereka gerak cepat. Mereka bersiap – siap dengan pakaian mereka dan segera pergi menuju ke gerbang depan desa Sakanan.
Mereka semua sudah berada di depan penginapan.
“Kita akan ke gerbang depan Desa Sakanan, Arika,” kata Uzan.
“Baiklah,” Arika mengangguk. Gadis itu menyalakan telapak tangannya. Setelah itu, angin kehijauan mengelilingi masing – masing dari Uzan, Dubal, Edgar, dan Arika.
Setelah itu, mereka melayang rendah di atas tanah. Uzan menggerak – gerakkan tubuhnya dan bisa merasakan dan mengarahkan gerakannya, begitu pula Edgar, Dubal, dan Arika.
“Baiklah,” kata Uzan. “Kita sudah bisa menggerakkan sihir ini. Jadi, mari kita ke sana!”
Setelah itu, mereka berempat bergerak melayang cepat menuju gerbang depan Desa Sakanan.
__ADS_1