Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Bertemu Penyihir


__ADS_3

Edgar memelankan kudanya dan memutuskan untuk berhenti di pemukiman yang sesuai dengan petunjuk Roshar. Ia memberi tanda kepada Uzan dan lainnya yang sedang ada di kereta kencana.


Uzan dan lainnya mengedarkan pandangan ke sekeliling pemukiman tersebut. Pemukiman tersebut tampak sepi bagaikan tak berpenghuni.


“Menurutku ini tidak aneh,” kata Edgar.


“Kenapa kau bisa bilang begitu?” kata Sara.


Pemukiman ini sepi karena matahari sudah mulai tenggelam dan…” Edgar memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menendang kerikil. “Pastinya para penjual di sini sudah pulang.”


“Itu memang benar,” kata  Dubal. “Pemukiman ini hanyalah tempat para penjual yang ingin menyewa tempat untuk berjualan.”


“Kemungkinan ingatan penjual itu sudah kabur,” Uzan menghela kecewa. “Edgar, mari kita melanjutkan perjalanan untuk menghentikan gempa berkala yang melanda di pulau ini.”


Seorang gadis melangkah dari sumber suara. Ia terlihat seperti gadis remaja, mengenakan topi kerucut khas penyihir dan jubah biru. “Kalian tidak akan bisa menghentikan gempa berkala ini tanpa bantuanku”


Uzan berkata pada Sara, Edgar, dan Dubal Dia mungkin belum tahu bahwa kita dapat rekomendasi untuk merekrut seorang penyihir dari tuan Roshar, jadi, aku ingin mengetahui tentang gadis penyihir ini lebih lanjut.


“Siapa kau?” kata Uzan.


“Namaku Arika,” Gadis penyihir itu memperkenalkan diri. “Penyihir tingkat menengah dari Igardias”


“Apa yang kau inginkan?”


“Agar aku bisa menghentikan gempa periodik yang sedang melanda pulau ini.”


Gadis itu menengadahkan tangan kanannya. Sebuah pusaran Angin  serta kerlap – kerlip kehijauan berputar lembut di sebelahnya.


Edgar terlihat Antusias. Uzan dan Dubal menenangkan diri. Sara memperhatikan Arika dengan seksama. Sara tahu bahwa kerlipan kehijauan yang menyertai angin tersebut adalah Angin sihir


Penyihir itu akhirnya melenyapkan sihir anginnya. “Izinkan aku bergabung dengan kelompok kalian”


“Memperkenalkan diri dan langsung meminta untuk bergabung ke kelompok kami ya?” Uzan tersenyum. “Apakah kau tahu tentang kami dan tujuan kami?”


“Ba-baiklah,” Paras gadis itu memerah. “Yang aku tahu hanyalah bahwa kalian adalah orang kaya karena kuda dan kereta kencana yang kalian beli itu menunjukkan bahwa kalian orang kaya dan kalian akan menghentikan gempa berkala ini, bukankah begitu?”


“Hmm…,” kata Uzan sambil memegang dagu. “ Kesimpulan yang menarik.”


“Itu benar!” kata Penyihir itu. “Bukan hanya Klerik, Aku menarik karena kalian membutuhkan penyihir sepertiku.”

__ADS_1


“Bukan itu, Nona,” Uzan meralat. “Aku bilang adalah bahwa pemukiman kecil  yang merupakan tempat jual beli yang para pedagangnya sudah datang ini.”


“A-apa katamu?” penyihir itu terkejut. “Seharusnya kalian sudah tahu kan bahwa ini adalah pasar dan pastinya digunakan sebagai tempat untuk berdagang, kan?”


“Kami memang sudah mengetahui tentang itu.”


“Lalu, apa tujuan kalian kemari?”


“Kami hanya mengistirahatkan kuda kami dan merasakan udara luar karena di dalam kereta kencana terasa jenuh jadi….”


Uzan berbalik Arah memanggil Edgar dan lainnya. “Mari kita lanjutkan perjalanan.”


“Tu-tunggu!” kata  penyihir itu. “Apakah kalian tidak merasa bahwa gempa yang ada di pulau ini sangat  merepotkan?”


“Sedikit mengganggu perjalanan kami,” kata Uzan “Tapi kita bisa berhenti sejenak untuk berlindung.”


“Siapapun kalian, ajaklah aku untuk ikut dan aku akan melapor kepada para bangsawan Igardias tentang hal ini dan menghentikan gempa ini.”


“Hanya dengan mengamatimu, aku langsung merasa tidak yakin,” kata Uzan. “Kami akan menyewa penyihir lain ketika di tempat pesinggahan yang selanjutnya.”


Uzan berbalik arah dan memberikan tanda agar teman – temannya bersiap – siap untuk melakukan perjalanan selanjutnya.


Uzan dan lainnya menghentikan langkah. “Apa lagi?”


“Kalian akan merugi jika tidak mengajakku,” kata Arika. “Kalian sudah melihat sihirku kan? Bahkan kalian tidak akan bisa menghadapi marabahaya  yang menanti kalian tanpa aku! gratis dan tidak bayar!”


“Oh ya?” Edgar mengangkat bahu. “Kau bilang bahwa kami orang kaya, kan? Kami bisa menyewa penyihir yang pasang harga tinggi dengan kualitas tinggi daripada penyihir gratisan yang  langsung ingin bergabung ke kelompok yang bahkan dia sendiri belum kenal.”


“Akan kuralat,” kata Arika. Gadis itu bernada memohon. “Aku yang akan rugi jika kalian tidak mengajakku.”


Edgar memutar kedua bola matanya. “Apakah itu terdengar sama saja?”


Penyihir itu mulai memasang muka kesal. “Aku—”


“Kami hanya bercanda barusan” Edgar tertawa. “Kami memang membuthkan bantuanmu.”


“Apa katamu?” Wajah Arika memerah “Jadi…”


Uzan hanya tersenyum. “Perkenalkan, namaku adalah Uzan, pangeran kerajaan Kastala. Aku diutus sang raja untuk menghetikan gempa ini.

__ADS_1


Perkenalkan ini adalah Edgar, seorang prajurit. Dubal, dia adalah mantan Prajurit dari Oslar, dan Sara, seorang Klerik. Sama sepertimu, dia pernah bersekolah di Igardias.”


Edgar melambaikan tangan sambil menyeringai. Sara hanya tersenyum kecil sambil merapikan rambutnya. Sedangkan Dubal mengangguk sejenak lalu mengedarkan pandangan ke sekitar pemukiman kecil tersebut.”


“Aku tahu bahwa dia adalah seorang Klerik,” kata penyihir itu “Jadi, kau adalah pangeran Kastala…”


“Iya,” kata Uzan. “Barusan, kami diberi rekomendasi bahwa ada seorang penyihir di pemukiman kecil ini.”


“Suatu kehormatan bagiku karena bisa bertemu denganmu, pangeran Uzan,” ujar Arika sambil menunduk hormat.. “Aku  adalah penyihir itu. Rekomendasi tuan Roshar, kan?”


“Aku hanya ingin tahu sedikit tentangmu barusan” Uzan mengangkat tangannya, isyarat untuk menghentikan penghormatan itu. “Kau akan langsung kami masukkan ke kelompok kami.”


Dubal perlahan berjalan ke arah Arika.


“Tapi kau harus bisa meyakinkan kami bahwa kau bisa dipercaya,” mantan prajurit Oslar itu mengeluarkan kapaknya sambil menatap Arika tajam. Setelah itu, ia mengampiri penyihir itu sambil memilin janggutnya. Tidak lama kemudian, ia  menghujamkan kapak besarnya ke tanah tepat di samping penyihir itu. “Kau tidak akan mengkhianati kami.”


Edgar ingin menyergah Dubal. Tapi Uzan mencegahnya.


Perlakuan Dubal membuat Arika tertegun .Akhirnya, gadis penyihir itu berkata dengan yakin. “Aku tidak akan mengkhianati kalian.”


“Hmm!” Dubal menggeram keras seraya mencabut kapaknya. “Kita membutuhkan penyihir ini.”


“Selamat datang,” Sara menyambut dengan senyum. “Kita akan berkenalan lebih jauh seiring berjalanannya waktu.”


“Terima kasih!” Arika membalas senyuman Sara setelah reda dari ketegangannya. “Jadi, apakah kalian juga ingin menuju ke Pulau Igardias?”


“Kita memang ingin menghentikan gempa ini, nona,” kata Edgar, “namun dengan mengumpulkan material magis.”


“Aku tahu tentang material magis” kata Arika “Aku pernah berburu pedang Risaik bersama teman – temanku di Igardias. Apakah aku bisa melihatnya? aku ingin mengetahui tentang material magis tersebut sekiranya aku bisa lebih membantu.”


“Baiklah,” Uzan memberikan gulungan perkamen yang diberikan Faraq kepada Arika. Gadis penyihir itu memperhatikan dengan seksama dan melakukan pengamatan sambil sesekali membenahi topi penyihirnya. Ia membuka perkamen tersebut dan memperhatikan pola perolehan material magis yang tertera di gulungan tersebut.


Ia mungkin mengerti tentang mekanisme sihir itu namun sebenarnya ada sesuatu yang janggal. Namun ia merasa belum saatnya ia memberi tahu Uzan tentang hal itu. Mungkin nanti seiring berjalannya waktu ketika ia sudah mengenal lebih dekat tentang Pangeran Uzan dan lainnya.


“Baiklah,” Arika mengangguk. “aku mengerti sekarang.”


“Kita sudah menemukan anggota yang kita cari,”Uzan mengembalikan gulungan itu di genggamannya. “Saatnya kita melanjutkan perjalanan.”


“Pangeran Uzan,” Dubal memanggil. “Sebelum itu, izinkan aku untuk meminta memberi maklumat kepada Natalia tentang kepergianku bersama kalian.”

__ADS_1


Uzan terdiam sejenak. Setelah itu, ia menyetujui. “Silahkan!”


__ADS_2