
Edgar dan lainnya menunggu sedikit lama di ruangan bermeja bundar tersebut. Rota hanya menyantap habis sebuah potongan semangka. Rekan yang lain tidak makan apapun. Edgar juga tidak makan apapun karena ia memutuskan untuk makan pada makan besar nanti.
Pintu ruangan tersebut terbuka.
Ratu Agatha dan dua orang petugas istana juga memasuki ruangan tersebut. Mereka bertiga segera duduk dan berkumpul bersama Edgar dan rekan lainnya di ruangan tersebut.
Mereka terdiam sejenak di dalam meja tersebut.
Sara memperhatikan kedua pertugas tersebut. Sang laki – laki berwajah kokoh dan berambut keriting. Ia tampak takjub dengan Dubal, seolah mengenalnya. Akan tetapi, Dubal tidak merespon sama sekali.
Yang kedua adalah seorang perempuan berambut pirang panjang sebahu. Melihat cara mereka masuk, sepertinya mereka berdua sudah akrab dengan Ratu Agatha.
Keheningan menjalari mereka. Walaupun begitu, suasananya masih tetap ringan.
Akhirnya, Ratu Agataha mengetuk meja, “Sebelum kita mulai diskusinya, aku ingin memperkenalkan dua pegawai istana yang aku ajak ini. Um..kalian perkenalkan diri kalian sendiri. Mulai darimu,”
Lelaki itu mulai bersuara, “Namaku Rego. Dua puluh lima tahun. Aku mempunyai posisi sebagai prajurit kelas menengah pemegang tombak. Aku adalah prajurit Igardias yang tahun lalu dipindahkan dari Oslar oleh Pangeran Axel.”
Dubal tampak terlihat antusias.
Setelah itu, perempuan berambut pirang itu memperkenalkan diri, “Namaku Lusa. Dua puluh dua tahun. Aku adalah penunggang pegasus. Aku merasa sangat terhormat karena bisa diutus oleh Ratu Agatha untuk mengikuti diskusi guna melaksanakan tugas yang akan diberikan oleh kerajaan. Bisa diketahui bahwa posisi penunggang pegasus adalah posisi yang hanya ada di Igardias. Jadi, aku harap, dengan statusku ini, aku bisa ikut andil dalam tugas apapun yang akan diserahkan.”
Agatha berdehem “Kau tidak perlu terlalu resmi, Lusa.”
“Baiklah, Baginda,” kata Lusa. Kemudian, gadis itu menenangkan diri.
“Jadi, sesuai yang kita akan mulai membahas cepat tentang penugasan?” tanya Dubal.
“Itu benar, Dubal,” kata Agatha. “Ketika aku tahu bahwa hal ini berkaitan dengan Galar dan seorang pixi, maka aku membawa dua orang ini. Setelah ini, kalian bisa mengakrabkan diri.”
__ADS_1
“Kenapa kita tidak bisa mengakrabkan diri saja di sini?” kata Edgar.
“Sebenarnya aku juga mau mengakrabkan diri dengan kalian,” kata Agatha. “Sayang sekali bahwa aku adalah ratu. Aku harus mengikuti Etika Raja dan Ratu di dunia Namaril bahwa mereka hanya boleh bercengkerama dengan orang orang royal. Layla pun juga terpengaruh hal itu walapun, bagi putri dan pangeran, peraturan royal itu masih bisa dibentuk sesuka hati.
“Itu berarti, bahkan aku yang mempunyai status royal pun tidak akan bisa berperilaku sesuka hati di hadapan kalian walaupun dengan suasana santai seperti ini. Lagipula, setelah ini aku masih ada keperluan. Jadi, mari kita langsung membahas tentang penugasan.”
“Baiklah,” kata Dubal. “Seperti yang sudah kami sampaikan bahwa dua masalah minor kami adalah permasalahn tentang Galar dan masalah Ruhin.”
“Baiklah,” kata Agatha. “salah satu dari dua pegawai yang aku bawa mengetahui salah satu tentang itu.”
Rego berujar, “Aku sudah mengetahui tentang keberadaan Galar, Tuan Dubal.”
“Benarkah?” Dubal mengangkat alis.
“Itu benar,” Rego meletakkan siku kanan di atas meja. “Aku dapat kabar dari pangeran Axel bahwa dia sedang berada di sekitar Istana Oslar.”
“Apa yang sedang ia lakukan?”
“Itu Gulda!” seru Rota. “Bagaimana bisa?”
Rego melihat Rota dengan seksama, kemudian, ia menghela, “Apakah kau adalah makhluk magis yang ditipu oleh galar beberapa tahun lalu?”
“Itu benar,” kata Rota. “Aku ditipu oleh Galar dan diselamatkan oleh Dubal sampai ia diusir dari istana.”
‘Mari kita langsung saja menuju kabar utama, Rego,” Ratu Agatha berdehem. “kalian bisa mengakrabkan nanti untuk menceritakan asal mula. Lagipula, kita akan langsung ke arah masalah utama.”
“Baiklah,” kata Rego. “Kawan – kawan, Galar sudah berada di wilayah Istana Oslar. Para prajurit Oslar sudah mengetahui keberadaan mereka. Mereka bilang bahwa mereka akan menetap di sekitar pemukiman istana, tidak tahu pasti dimana.”
“Apa tujuan Galar?” tanya Edgar.
__ADS_1
Rego terdiam sejenak. Lalu mengedarkan pandangan ke arah sekeliling. Tidak lama kemudian, ia berujar, “Ia ingin membunuh Pangeran Axel,”
Seluruh anggota diskusi itu terdiam. Keheningan menyeruak di antara mereka. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi semakin getir.
Dengan nada pahit, Dubal berkata, “Sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Galar inginkan?”
Sejauh ini, maklumat yang aku ketahui adalah bahwa ketika kawan – kawan berkulit emasnya hendak memasuki pemukiman istana rahasia, pangeran Axel langsung tahu dan membuat interograsi kepada kawan – kawannya. Lalu, tujuan Galar sebenarnya terkuak. Tujuan Galar adalah bahwa ia ingin membunuh Raja dan Ratu.”
“Itu tidak masuk akal,” kata Edgar. “Pertama kali kau bilang bahwa Galar ingin membunuh Axel, mungkin hal tersebut mengejutkan. Akan tetapi, kami sudah tahu bahwa tujuan utama Galar, menurut maklumat yang kami ketahui di awal adalah berubah menjadi makhluk Magis. Entah apa yang dipikirkannya sekarang sampai ia membuat – buat tujuan seperti itu.”
“Kawan – kawan,” kata Rego. “Pastinya ada pengaruh lain yang memnimbulkan galar menjadi seperti itu. Apalagi, mungkin kita bisa mengira – ngira sendiri kaitan antara membunuh Raja dan Ratu dengan menjadi makhluk magis.”
“Kalau aku jadi Galar,” kata Edgar. “Mungkin dengan membunuh Raja dan Ratu, ia akan bisa mengambil alih wilayah Istana Oslar. Dan dengan itu, ia juga akan bisa mencapai tujuannya dengan lebih mudah.”
“Itu tidak masuk akal, Edgar,” kata Dubal. “Galar bukanlah Faraq. Ia tidak mungkin bisa membunuh Raja dan Ratu begitu saja. Apalagi dengan personil prajuritnya yang kalah telak dengan seluruh pasukan Oslar. Kecuali secara diam – diam.”
“Bisa jadi, Dubal,” kata Edgar. “Apa kau tidak ingat bahwa ketika kita berhadapan dengan Fatta, makhluk itu menjentikkan jarinya, lalu segerombolan makhluk Gulda keluar dari tanah dan menyergah kita ketika Fatta ingin mengajak kita untuk berdiskusi.”
Rego berkata, “Secara diam – diam pun, dia tidak akan sanggup karena istana dijaga ketat sejauh sepengetahuanku sejak Tuan Dubal difitnah oleh Galar.”
“Kalau aku bisa berpendapat,” Rota menambahkan. “Mungkin Galar ingin menyelundupkan para prajurit Gulda untuk langsung beraksi secara diam – diam seperti yang ia lakukan ketika ia memfitnah Dubal.”
“Tapi sayangnya ia sudah sudah ketahuan oleh Axel ketika diinterogasi,” kata Edgar. “Seperti yang dikatakan baru saja.”
“Jika ia sudah ketahuan, untuk apa Galar malah ingin membunuh Pangeran Axel yang jelas – jelas tidak akan membawa manfaat untuk dia.”
“Yang aku ketahui adalah…” Dubal menghela, “bahwa Galar tidak terima dengan itu dan ia ingin membalas dendam.”
__ADS_1