
Arika menatap Invel. “Maksudmu?”
Invel menjentikkan jarinya. Setelah itu, Uzan dan Arika merasakan tubuhnya menghangat. Setelah itu, mereka merasakan bahwa kesadaran mereka memudar.
Uzan berujar, “Apa yang terjadi?”
“Tenang saja,” kata Invel. “Kesadaran kalian akan hilang dan kalian akan kembali keluar dari sini.”
Tubuh bagian bawah Uzan dan Arika berubah menjadi ratusan cahaya putih yang melayang – layang dan merayap lembat ke tubuh bagian atas.
“Kuharap kau tidak bermain – main sekarang, Invel,” kata Uzan dengan serius
Invel menggeleng. “Untuk apa aku bermain – main, Pangeran Uzan?”
Dalam sekejap, tubuh Uzan dan Arika meledak menjadi deburan cahaya putih. Setelah itu, Invel menghela. Lalu, tubuhnya meledak menjadi ratusan kelelawar hitam.
-
-
-
Bagian luar Gua Akais yang masih terlihat gelap membuat sore itu semakin meredup. Di sana, Edgar dan kawan – kawannya masih tergeletak di atas tanah. Zero masih merumput.
Perlahan, ratusan cahaya putih berkumpul dan memusat pada dua titik dan seketika menjelma menjadi Uzan dan Arika. Sang pangeran masih memiliki Batu Akais di dalam genggamannya.
Ketika melihat Edgar dan lainnya yang terlihat di atas tanah, Uzan dan Arika terkejut dan menghampiri mereka sembari menggoyangkan tubuh mereka. Namun, tidak seorang pun dari Edgar dan kawan – kawannya yang bangun. Bahkan, tubuh mereka terasa dingin dan seperti orang mati.
“Apakah mereka sudah meninggal,” kata Arika yang tampak khawatir. Gadis itu bersimpuh sembari memangku tubuh Sara.
Uzan nyentuh leher Dubal dan merasakan bahwa ia tampak tidak bernyawa. “Aku tidak yakin. Invel sudah berjanji.”
Beberapa saat kemudian, terdengar erangan Sara. “Arika…”
“Sara,” kata Arika. “kau masih hidup.”
Sara terbangun dari pangkuan Arika dan memegang kepalanya. Setelah menggeleng, ia berujar pelan, “apa yang terjadi…?”
“Kalian baru saja pingsan dan kami baru saja kembali dari Gua Akais.”
Setelah melihat Sara yang sudah tersadar, Uzan dan Arika mengedarkan pandangan ke rekan – rekannya yang lain. Perlahan, Edgar dan lainnya terbangun.
Edgar menghela kesal sambil memegangi keningnya. Apa yang terjadi?”
Sang pangeran berkata, “Kami berdua sudah memperoleh batu Akais.”
Arika tersenyum. “Itu benar.”
Tidak lama kemudian, Uzan dan Rekan – rekannya berdiri.
Kami baru saja pingsan, pangeran,” kata Dubal. “Kesadaran kami menghilang.”
__ADS_1
“Itu benar,” kata Rota. “Itu adalah hasil perbuatan dari Gua Akais ini.”
“Tapi syukurlah karena kalian akhirnya berhasil mendapatkan batu Akais tersebut, Pangeran Uzan, Arika,” kata Sara sembari tersenyum.
Uzan memberikan batu Akais tersebut kepada Edgar. Setelah prajurit itu memegangnya, ia berkomentar, “Batu berkilau merah, ya? Menarik sekali.”
“Tentu saja itu menarik,” kata sebuah suara di dalam gua. “Karena batu itu menarik, maka ia mendorong kalian untuk mendapatkannnya. Bukankah begitu?”
Beberapa saat kemudian, Invel keluar dari kegelapan gua menuju bagian depan gua.
“Siapa kau?” seru Edgar.
“Namaku Invel,” sang Drakula memperkenalkan diri. “Aku adalah salah satu penghuni yang menjadi ‘pemandu’ bagi Pangeran Uzan dan Arika untuk mendapatkan Batu Akais yang sudah kalian miliki itu.”
“Tugasmu sebagai ‘pemandu’ sudah selesai, kan?” tanya Arika.
“Kau terlalu cepat berkesimpulan, Arika,” Invel tersenyum. “Di sini, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kalian semua telah memberi hiburan bagiku dann para temanku di gua ini.”
“Pangeran Uzan,” panggil Dubal. “Apa maksud perkataannya?”
“Walaupun aku sudah berrkali –kali bertemu dengan Invel,” kata Uzan, “aku juga tidak mengerti.”
Invel terlihat cemberut. “Sayang sekali kalau kalian semua dengan semudah itu melupakanku,”
“Aku curiga dengan cara orang itu berekspresi,” kata Sara pada Arika.
“Aku setuju,” kata Arika. “Menurut pengalamanku dan pangeran Uzan, kata – kata yang dilontarkan oleh Invel cukup dalam. Namun, seringkali kata, kalimat, atau karangan yang diungkapkannya berlawanan antara satu sama lain. Jadi, sebaiknya kita tetap waspada.”
“Aha!” seru Invel. “kalian sudah berhasil melewati Gua Akais dan berhasil mendapatkan batu Akais, bukankah begitu?
Invel menyeringai. “Aku hanya ingin agar kalian berhati – hati ketika kalian memulihkan Pulau Kastala ini.”
“Ada tambahan?” tanya Pangeran Uzan.
“Oh, iya,” kata Invel. Setelah itu, Invel melemparkan sesuatu kepada Uzan. Sang Pangeran langsung menangkapnya. Ketika dilihat, ada sebuah batu berwarna abu – abu berbentuk kelelawar.
“Apa ini,” tanya sang pangeran.
“Kalian tidak akan mempercayaiiku karena perangaiku yang sesuak hatiku, terkadang serius, terkadang bercanda, terkadang membuat karangan angan,” kata Invel. “Tapi aku yakinkan kalian bahwa kalian akan bisa mempercayai Dim.”
“Dim prajurit batu itu?” kata Arika.
“Itu benar,” kata Invel. “Kau hanya harus membantingnya ke tanah sambil berseru ‘Dim! Keluarlah!’ setelah itu, ia akan menjadi….” Sang drakula memegang dagu sambil menatap langit – langit karena berpikir. “Tiga ratus personil prajurit.”
“Itu akan sangat membantu kita, pangeran,” kata Sara dengan nada lega.
Uzan menatap Invel lekat – lekat. Ia merasa tidak yakin. “Apakah ini berarti bahwa kau ingin memata – matai kami lewat Dim?”
Invel berdecak gemas sambil menggeleng. “Dim adalah prajurit batu yang jujur dan berbakti. Jadi, kalian bisa mengandalkannya.”
“Baiklah,” akhirnya Uzan memasukan batu kelelawar itu ke sakunya.
__ADS_1
“Tapi kau tidak akan bisa membanting batu itu di Pulau Kastala!” Invel tertawa terbahak – bahak lalu meledak menjadi ratusan kelelawar hitam dan langsung terbang cepat memasuki gua.
Uzan menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya sambil menenangkan diri.
“Sial!” seru Edgar. “Apa maksudnya?”
“Aku juga tidak mengerti, Edgar,” kata Rota. “Perkataannya terdengar berputar dari awal sampai akhir.”
“Kau bilang bahwa kau bertemu dengannya, kan, pangeran Uzan,” tanya Dubal. “Kami ingin mendengarkan tentang cerita kalian ketika kalian sedang menjalani apapun untuk memperoleh batu akais itu.”
“Arika,” panggil Uzan.
“ya, pangeran,” jawab gadis itu.
“Kita akan bercerita sambil menyantap makanan di tempat ini untuk sejenak. Maksudku, sebelum kita melanjutkan perjalanan selanjutnya,”
“Apakah tidak sebaiknya kita mengirimkan Batu Akais itu, pangeran Uzan.” Kata Arika.
“Oh, iya,” kata Uzan. “Aku lupa.”
Setelah itu, Uzan membuka perkamen Material Magisnya. Lalu, ia meletakkan Batu Akais di atas perkamen tersebut. Setelah wujud dari Material Magis itu memudar, sebuah tulisan cahaya melayang ke atas.
LUMINA
“Lumina?” tanya Uzan sambil terheran.
“Apa ada yang salah?” tanya Rota.
“Seingatku,” Uzan menggeleng. “Urutan yang kuucapkan ketika mengubah susunan awal material material Magis adalah Kepala Sentafal, Batu Akais, Rivata, lalu Lumina.”
“Ini ganjil,” kata Arika.
“Apa yang kau rasakan saat ini, pangeran Uzan?” tanya Rota.
“Seakan Rivata sudah diperoleh,” jawab Uzan singkat.
“Itu tidak mungkin,” kata Dubal. “Kita bahkan belum pernah bertemu atau mendatangi Rivata.”
“Arika,” kata Sara. “Apa kau bisa melakukan melakukan sesuatu tentang ini?”
“Sayang sekali,” kata Arika. “aku tidak mengerti tentang masalah ini.”
“Bagaimana kalau kita ambil sisi baiknya?” kata Sara.
“Maksdumu?”
“Kita bisa istrahat sejenak di sini sambil tidak memikirkan tentang hal tersebut dan…”
“Itu benar, Uzan,” kata Edgar. “Kita menyantap makanan dahulu sambil mendengar cerita kalian tentang hal – hal yang kalian lalui ketika kalian berada di Gua Akais ini.”
Uzan berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, ia menyetujui. “Baiklah.”
__ADS_1
Hari mulai malam…
Setelah mengembalikan Perkamen Material Magis, Uzan dan para rekannya menggelar alas besar Arika. Lalu, mereka menyantap makanan sambil mendengarkan cerita tentang perolehan Batu Akais.