Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Bertarung Melawan Sentafal (5)


__ADS_3

Edgar menghindari bola kayu tersebut. Setelah itu, ia melayang tinggi, mempersiapkan tombaknya, lalu menukik ke arah Sentafal.


Sentafal berhasil menghindar, lalu ia membalikkan tubuh dan menendang Edgar menggunakan kedua kaki belakangnya.


Edgar terlempar, namun tidak terjatuh. Ia masih melayang dengan angin kerlap – kerlip kehijauan yang mengelilinginya.


Edgar terbatuk. Darah keluar dari bibirnya.


Setelah memperhatikan lawannya yang terbatuk, Sentafal menyeringai. Ia yakin bahwa Max Purify mereka sudah tidak bisa digunakan. Selain itu, sihir angin yang ada di senjata rahasia mereka ini juga tidak begitu berpengaruh kepadanya.


Sentafal mengarah ke arah Sara dan Arika yang masih berdiri dan terdiam tidak jauh dari tempat ia bertarung dengan Edgar sekarang. Kemungkinan jika dua gadis itu mati, yang lainnya akan mudah untuk dibunuh.


Karena dua gadis itu pula, prajurit biasa bisa menggunakan senjata angin dan melayang seperti yang dihadapi sekarang. Dengan sihir tersebut, Sentafal juga yakin bahwa Ritual Penyembuhan yang sudah dilakukannya dua kali akan bisa ditembus.


Edgar melesat dan bersiap untuk menghujam Sentafal dengan tombaknya.


“Mari!” seru Sentafal.


Desing, dentang, tumbukan, dan beerbagai suara pertarungan terjadi antara Edgar dan Sentafal.


Sesekali lengan Edgar terhujam ujung tombak Sentafal. Sesekali Edgar menghantam leher Sentafal dengan batang tombaknya. Edgar juga sempat beberapa kali terkena bola sihir yang dilesatkan oleh Sentafal. Tubuh manusia dan Tubuh banteng milik Sentafal juga terluka parah karena sapuan ujung tombak Edgar.


Setelah beberapa lama, akhirnya Sentafal menendang Edgar dengan kedua kaki belakangnya. Edgar sudah kelelahan dan terkena serangan tersebut, terpental dan terjerembap ke tanah.


“Ugh!” Edgar mencoba berdiri. Ia masih menggenggam tombaknya.


Ia menoleh ke arah Arika dan Sara yang masih berdiri dan menggunakan sihirnya untuk memperpanjang kekuatan hijau yang dimilikinya, namun ia merasakan mati rasa di seluruh tubuhnya.


Sentafal melihat sekelilingnya. Sang pangeran masih tertatih, prajurit berkapak juga terlihat sangat lemah, prajurit bertombak juga sudah ia jatuhkan. Setelah itu, sisanya adalah...


Pandangan Sentafal beredar ke arah Sara dan Arika yang sedang berdiri dan menggunakan sihir mereka. Kemudian, ia berlari ke arah Arika dan Sara.


Setelah memperhatikan bahwa Edgar sudah gagal dan Sentafal segera datang ke arahnya, Arika membatalkan kekuatan Green Lance Wind Burst dengan meredupkan sinar di tongkat sihirnya. Sara juga mengerti. Ia merasa panik dan ia meredupkan cahaya di telapak tangannya.


Arika menghidupkan cahaya di tongkat sihirnya. Angin kerlap – kerlip kehijauan mengelilingi dirinya dan Sara. Mereka akan melayang menjauh dari Sentafal.

__ADS_1


Sebelum Arika dan lainnya sempat bergerak, Sentafal melesatkan bola sihir ke samping kanan mereka. Ledakan akibat bola sihir itu terjadi. Tidak hanya itu, ia juga melemparkan tombaknya ke sebelah kiri sampai Arika, Sara, dan Trez, tersentak. Sebelum mereka akan berkutik, Sentafal sudah mendekat.


Ia berhasil meraih leher Sara dan mengangkatnya. Sara meronta – ronta sambil memegang lehernya.


“Sara!” seru Arika. Penyihir itu mengarahkan tongkat sihirnya ke Sentafal dan menembakkan sihir angin ke makhluk itu.


Sentafal tersentak, tubuhnya tergeser, namun ia masih menggenggam leher si Klerik. Setelah itu, ia menghadap ke arah Arika, membuka mulutnya, lalu menembakkan bola sihir sampai klerik itu terlempar dan menghantam dinding. Tongkat sihir Arika tergeletak. Topi penyihirnya lepas.


Sentafal kembali memperhatikan Sara yang ada di genggamannya. Sara meronta. Gadis klerik itu tidak bisa bernafas. Makhluk setengah banteng itu menyeringai. “Selamat tinggal!”


Trez membalikkan badannya dan menendang Sentafal dengan keras, mengenai salah satu luka fatal yang diakibatkan oleh serangan Edgar, bagian ulu hati.


Sentafal tersungkur, ia melepaskan Sara dan memegangi lukanya dengan kedua tangannya.


Setelah terjatuh, Sara terbatuk – batuk. Setelah itu, gadis klerik itu bermaksud untuk menghampiri Trez dan menaikinya.


Sentafal bergerak cepat. Ia menoleh ke arah Trez, membuka mulut dan langsung meluncurkan bola sihirnya, menyebabkan kuda itu terlempar jauh.


Sara terkejut, ia mundur panik. Sentafal masih melayangkan pandangan ke Sara. Ia meluncurkan tinju ke Klerik itu, menyebabkan Sara terlempar dan menghantam dinding.


Hempasan angin kehijauan mengenai Sentafal. Ia tertegun dan segera menoleh ke arah Arika. Gadis penyihir itu sedang berdiri sambil memegang tongkat sihirnya yang ujungnya mengeluarkan cahaya hijau. Ia tidak memakai topi penyihir.


Beberapa saat kemudian, Arika terhuyung jatuh ke depan. Akhirnya, gadis itu tergeletak dan tidak sadarkan diri.


“Arika!” erang Sara sembari menoleh ke arah Arika.


Setelah itu, Sentafal kembali menghadap ke Sara, ia akan menendang klerik itu dengan kedua kaki belakangnya, namun ketika ia membalikkan tubuhnya, ia mendapati Uzan yang melompat, bersiap dengan pedangnya, dan akan menebas lehernya.


Sentafal menutupi menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya. Uzan hanya berhasil menyayat tangannya.


Sentafal meraung ketika darah memancar dari tangan kanannya.


Dari belakang, Dubal menebaskan kapak pada lengan kiri Sentafal sampai lengannya terputus dan tergeletak di tanah.


Sentafal meraung keras kembali. Ia menghadap ke belakang, mendapati Dubal yang sedang mengangkat Sara dan menggendongnya sambil setengah berlari untuk menjauh.

__ADS_1


Sentafal murka. Ia menendang Dubal dan Sara dengan kedua kaki belakangnya sampai mereka berdua terlempar.


“Sara!” Uzan berseru. Ia bersiap untuk menebas leher Sentafal dengan pedangnya, namun ia gagal karena Sentafal langsung menembakkan bola sihirnya ke arah Uzan, menyebabkan sang pangeran terpelanting.


Sentafal memperhatikan pangeran Uzan yang berlari tertatih untuk menghampiri Dubal dan Sara yang sedang terbaring.


“Sial!” rutuk Sentafal. “Tidak ada pilihan lain, aku harus melakukan ritual penyembuhan kembali.


Sebelum Sentafal menggenggam hidungnya dengan tangan kanannya, Edgar datang secara tiba - tiba dan menghujam jantung Sentafal dengan tombaknya.


Sentafal meraung kesakitan. Setelah itu, ia mengepalkan tangannya dan bersiap untuk meninju Sentafal dengan lengan kanannya.


Tanpa disangka, Edgar menusuk kaki Sentafal dengan—


“Tombakku!” geram Setafal.


“Aku akan menghajarmu dengan senjatamu sendiri!” rutuk Edgar sambil menghujam kaki kanan depan Sentafal dengan tombaknya dan menarik senjatanya kembali.


Sentafal meraung kesakitan. Ia terantuk ke depan karena tidak bisa berdiri, lalu ia membuka mulutnya dan bersiap untuk menembakkan bola sihir.


Sentafal batal menyerang Edgar karena prajurit itu menghujam kaki kiri depannya dengan tombak.


Sentafal kesakitan, namun ia berhasil meninju Edgar sampai prajurit itu terpental dan menghantam dinding.


Edgar terjatuh tombak Sentafal sudah terpisah darinya.


Sentafal terengah, ia akan menggenggam hidung dan melakukan—


Tanpa sepengetahuan Sentafal, Uzan secara diam – diam dari belakang, mengayunkan pedangnya dari bawah dan menebas leher Sentafal sampai leher makhluk itu terputus dan bergulir di lantai.


Uzan terdiam sejenak. Tidak ada aura magis apapun yang mengelilingi Sentafal. Tidak ada semacam ritual penyembuhan yang mengembalikan keadaan Sentafal seperti semula.


Sentafal sudah kalah.


“Akhirnya,” Uzan menghela lega. Ia mengedarkan pandangan sembari melihat Sara dan Dubal yang tampak sulit untuk bergerak, Arika juga terlihat sedang tidak sadarkan diri dan Edgar masih tergeletak di atas tanah.

__ADS_1


Sang pangeran tidak bisa memastikan bahwa ia akan kehilangan rekannya. Tapi untuk saat ini, ia membaringkan dirinya dalam posisi terlentang, merasakan tubuhnya yang dilanda rasa sakit akibat pertarungan yang baru saja dilalui bersama dengan teman – temannya.


__ADS_2