Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Flashback (2/2) + ?


__ADS_3

(1)


Imnas terduduk di pos penjagaan gerbang desa bersama dengan para prajurit penjaga desa lainnya. Di sana, mereka berbincang – bincang mengenai hal – hal yang berkaitan dengan desa. 


Seorang pengendara kuda datang dan berjalan di depan gerbang desa. Ia mengenakan topi Cowboy. Di mata Imnas, ia tampak mencurigakan.


“Aku punya firasat buruk,” kata Imnas. “Biar aku urus perizinan tamu yang satu ini.”


Penjaga yang diberitahu oleh Tuan Imnas mempersilahkan. 


“Selamat siang,” tanya Imnas. “Apa keperluan kalian datang ke sini?”


“Kami ingin bertemu dengan Tuan Galar,” kata penunggang kuda tersebut.


“Apa keperluan kalian?”


Penunggang kuda tersebut menjawab, “Itu bukanlah urusanmu.”


“Tentu saja itu urusan kami,” kata Imnas. “Kau akan memasuki wilayah kami, Tuan.”


Orang berkuda tersebut hanya menghela. “Kami hanya ingin memasuki wilayah kalian dengan tujuan yang tidak perlu kalian ketahui.”


Imnas mengamati pria itu dengan rasa curiga. “Dari mana asal kalian?”


“Kau tidak perlu mengetahui tentang itu,” kata pria itu. “Jika kalian tidak minggir dan mempersilahkan kami, kami tidak akan segan – segan untuk menyingkirkan kalian.” Pria itu menodongkan ujung tombaknya ke Imnas.   


“Sungguh kurang ajar,” Imnas tertegun dan mundur ke belakang. Setelah itu, ia berseru, “Penjaga!”


Setelah itu, delapan orang prajurit mengepung para penunggu itu. Mereka menodongkan ujung tombak mereka.


Pria berkuda itu berkata, “Aku ingin berkata kepada kalian bahwa kami tidak ingin memantik keributan.” 


Salah satu penjaga tersebut berujar, “Kau yang ingin memantik keributan.”


“Dasar Bedebah!” kata penjaga tersebut. Lalu, kedelapan prajurit tersebut berlari menerjang pria itu.


Pria tersebut hanya memajukan kudanya. Salah satu prajurit tersebut dihantam pelan oleh kuda tersebut dan kehabisan tenaga. Setelah itu, Pria tersebut juga berhasil menyapukan tombaknya dan mencabut nyawa seluruh prajurit dalam sekejap.  


Imnas ketakutan. Ia teriak dengan suara tercekat. “Tolong!”


Namun tidak ada yang menjawab walaupun Imnas tahu bahwa banyak pengunjung yang hendak memasuki Desa Sakanan.

__ADS_1


Dengan cepat, Imnas ditubruk oleh kepala kuda pria itu. Ia langsung tersungkur kehabisan tenaga. 


Setelah itu, pria itu turun dari kuda dan langsung mencengkeram kerah baju Imnas. “Apa maksudmu dengan kata ‘kami’? Siapa kau?


Pria itu berkata, “Sudah kami bilang bahwa kau tidak boleh mengetahuinya.”


Setelah itu, Imnas melihat satu pria lagi datang dan berujar, “Kami menduga bahwa hal ini akan terjadi. Jadi, kami sudah mempersiapkan semua ini.”


Pria pertama mengamati Imnas sesaat, lalu berujar, “Salah satu dari kami akan menggantimu untuk selamanya.”


Setelah itu, ia mengambil pisau belati dari sakunya dan segera menghujam Imnas sampai kepala desa itu mati seketika.


Beberapa saat kemudian, pria kedua menengadahkan tangannya. Tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan. Ia mengamati Imnas yang mayatnya sudah tergeletak di tanah. Setelah itu, seketika cahaya emas tersebut redup dan pria itu menjadi Imnas. 


Imnas palsu segera berujar, “Jadi, Fatta pimpinan kita mendapatkan maklumat bahwa Galar memiliki satu teman yang menjadi pengubung dengan kalung Sila.”


“Itu benar,” kata pria yang satu lagi. “Dengan kata lain, kita tidak akan memperbolehkan kuda masuk ke sini kecuali bangsawan.”


“Masih ada lagi, kita juga akan menjadikan desa ini lebih royal dengan hanya mempersilahkan kaum bangsawan.” 


 “Kendaraan merupakan alat transportasi penting yang berkaitan dengan bangsawan. Jadi, karena kita sudah mengambil alih wilayah ini, maka kita juga akan mengambil alih pabrik tambang emas yang yang akan kita miliki karena konon katanya, situs tambang ini juga dinaungi oleh Seorang Pixi.”


“Baiklah kalau begitu,” kata Imnas palsu. “Selain itu, hal ini juga mengandalkan bahwa kita akan mengutamakan kaum royal.”


(2)


Galar tidak tahu harus bicara apa dengan Fured petugas penginapannya. Mereka berdua berjalan – jalan mengelilingi pabrik emas yang sebelumnya sudah ia telusuri bersama Imnas. Namun ketika Fured ditanya perihal apa yang ada di dalam pabrik emas tersebut, Fured selalu mengalihkan pembicaraan tentang hal – hal lain yang berkaitan dengan Desa Sakanan seperti mata pencaharian pokok, luas, berbagai macam perkumpulan, dan lain – lain.


Prajurit Oslar tersebut memang bertujuan untuk merampas segala seluruh isi pabrik tersebut, namun akan lebih baik jika orang – orang setempat mengetahui tentang apa yang membuat pabrik tersebut menjadi tumpuan Desa Sakanan. Akhirnya, ia hanya berjalan santai dengan petugas itu.  


“Fured,” Panggil Galar.


“Ya, Tuan,” kata Fured.


“Ku tahu bahwa aturannya adalah bahwa Tuan Imnas melarangku untuk masuk ke dalam pabrik itu,” kata Galar. “Namun, apakah kau mengetahui lebih tentang maklumat tentang pabrik ini.”


Fured tersenyum. “Setahu saya, di dalam sana, tambang yang ada di dalam pabrik itu merupakan tambang emas biasa.”


Galar kembali mengingat tentang percakapan dengan Imnas. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Apakah itu berarti bahwa hal ini dengan Pixi?”


“Pixi juga memiliki andil dalam pembentukan emas yang ada di pabrik ini, Tuan Galar,” kata Fured. “Emas yang ada di desa ini menjadi langka karena ada seorang Pixi yang menaungi tambang ini ketika desa ini dibangun.”

__ADS_1


Galar tersenyum. “Itulah yang ingin aku ketahui.”


Keingintahuan Galar sudah terkonfirmasi. Selanjutnya, ia akan menanyakan hal ini kepada orang – orang Fatta.


(3)


Beberapa saat setelah pulang dari keliling bersama Fured, pintu penginapannya diketuk. 


Galar segera menghampiri pintu dan membukanya. Seorang lelaki bertopi cowboy datang untuk membantu. Ia menunjukkan kuku jari telunjuknya. Kuku itu mengeluarkan cahaya emas.


“Jadi, siapa namamu?” kata Galar. 


“Panggil saja aku Fatta,” kata Orang itu.


“Berarti kau bukanlah Fatta yang berjanji padaku?”


“Bukan,” kata Orang itu. “Dia adalah orang yang menyuruh kami.”


“Makhluk Magis yang menyuruhmu,” ralat Galar. “Baiklah, aku akan memanggilmu Fatta.”


“Terima kasih, Tuan Galar,” kata Fatta. “Sebelum aku tinggal di sini, aku ingin menceritakan tentang bagaimana aku masuk ke tempat ini.”


Fatta menceritakan tentang kecurigaan Imnas tentang dirinya, bagaimana ia membunuh sekawanan prajurit yang dipersiapkan oleh Imnas, lalu menyamar sebagai Tuan Imnas dan memberi keputusan tentang pelarangan penggunaan kendaraan bagai warga asing dan bagi warga bangsawan seperti pangeran, putri, ratu, raja, dan lain – lain, mereka akan diperbolehkan.


“Ugh, kukira kalian akan memiliki sopan santun ketika akan memasuki desa ini,” kata Galar dengan nada kesal.”


“Aku rasa sopan santun tidak diperlukan karena misi kita adalah mengambil alih tambang emas yang ada di desa ini, kan?”


Galar menghela kesal. “Seharusnya aku tidak meninggikan harapanku ketika berurusan dengan makhluk magis tengik penyamar seperti kalian.”


Gulda itu tidak merespon. “Aku akan tinggal di salah satu kamar ini.”


“Kalian akan makan tiga kali sehari juga?” tanya Galar. Ia bersiap untuk memanggil Fured.


   


“Kami tidak memerlukan makanan,” kata orang itu. “Selama belasan hari ke depan, kau juga tidak perlu mengunjungi kamar karena kami akan mendekam di kamar sampai pada waktu yang telah di tentukan.”


“Maksudmu?” 


“Ikuti aku,” Fatta berjalan ke salah satu pintu kamar di penginapan tersebut. Galar mengikutinya. Beberapa saat kemudian, ia memasuki kamar tersebut dan menutupnya. Setelah itu, Galar menyaksikan pintu tersebut perlahan – lahan menjadi dinding emas.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi seperti ini,” Galar menghela. “Namun ini lebih baik.”


Galar kembali berjalan ke ruang depan dan kembali menutup pintu. “Aku sudah mempersiapkan kenyamanan bagi mereka namun mereka malah membatu,” ia menyeringai. “Sebelas hari lagi aku akan bisa mencapai tujuan utamaku.”   


__ADS_2