Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Dipermainkan 2


__ADS_3

Sekali lagi, ruangan itu sama dengan ruangan sebelumnya.


Arika berdiri berlawanan dengan Sara dan Rota. Yang Arika ketahui dari kemampuan Rota adalah bahwa Silvar tersebut bisa membuka portal yang mengantarkan dari tempat satu ke tempat lainnya. Namun ia harus lebih memperhatikan tentang kemampuan Rota yang lainnya.


“Kau adalah penyihir Angin yang membantu pangeran Uzan, kan?” tanya Rota.


“Iya,” Arika memperhatikan Rota dan Sara dengan seksama. “Aku telah membantu Pangeran Uzan.”


“Sebelum kita mulai pertarungan,” ujar Sara. “Aku akan memberitahumu bahwa Pangeran Uzan yang baru saja kau bantu itu sudah menang.”


“Itu benar,” Rota menambahkan. “Ia sudah berhasil mengalahkan Dubal dan Edgar sekaligus.”


Arika masih memperhatikan Sara dan Rota. Karena maklumat tersebut, Arika merasa lega karena akhirnya Pangeran Uzan baik – baik saja.


“Aku tahu bahwa kau merasa lega, Arika,” kata Rota. “Tapi yang menang adalah Pangeran Uzan. Bukan kau. Sekarang, kita akan mulai pertarungan dengan pnjelasan terlebih dahulu.”


Arika meyalakan telapak tangannya dan memunculkan tongkat sihirnya. “Penjelasan apa lagi?”


“Penjelasan tentang mekanisme pertarungan yang akan kita lakukan,” kata Sara, “sehingga kau tidak perlu menerka – nerka.”


“Apa maksudmu?”


“Kau akan kuberitahu tentang seluruh kemampuan Rota,” kata Rota. “Pertama, ia bisa membuka portal dan berpindah tempat sesuai dengan keinginannya. Kedua, ia bisa bisa menghilangkan kekuatan lawan dengan interval selama lima detik dan menyalinnya. Tandanya adalah ketika ia menyalakan cahaya perak pada tinjunya. Ketiga, ia bisa mengeluarkan dua pisau perak di telapak tangannya.”


“Di samping itu,” ujar Sara. “Jika kau berhasil membunuh kami, maka kau akan kembali ke ruangan tempat kita bertemu bersama Pangeran Uzan. Namun kami juga bisa membunuh satu sama lain. Jika itu terjadi, Rota atau Sara atau mereka berdua yang sedang ada di luar gua akan mati seketika.”


Arika mengerutkan dahi. “Mengapa kau memberitahuku semua itu?”


Rota bersedekap. “Sebelumnya, Edgar dan Dubal bilang bahwa ini hanya bertujuan untuk mempermainkanmu. Namun, tujuan penyampaian maklumat yang kami sampaikan kepadamu sangatlah berbeda.”


Sara menyeringai. “Pangeran Uzan memang sudah dikondisikan untuk menang. Namun, untukmu, tujuan pertarungan ini adalah untuk memeriksa tentang bagaimana kemampuanmu dan bagaimana kau akan mengatasi serangan – serangan kami.”


“Pangeran Uzan memang sudah dikondisikan untuk menang,” Rota menyalakan kedua telapaknya. Dua buah pisau perak muncul dari ketiadaan. Sang Silvar memegangnya erat – erat. “Tapi itu tidak berlaku bagimu!”


Kemudian, Rota berlari menerjang ke arah Arika.

__ADS_1


Gadis penyihir itu mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Rota dan menembakkan bola angin kehijauan ke arahnya. Rota terpental. Setelah itu, Arika mengarahkan senjatanya ke arah Sara dan melepaskan tembakkan yang sama.


Sara berlari menyamping. Arika tahu bahwa Sara tidak pandai bergerak dan menghindar. Namun ia merasa sedikit kesal ketika Sihir Gua akais ini bisa lebih mengendalikan Sara.


Rota tampak tidak disembuhkan oleh Sara. Setelah itu, Rota menjentikkan jarinya. Sebuah portal terbentuk di depannya.


Arika tahu bahwa portal tersebut akan ia gunakan untuk berpindah tempat. Untuk menghindari itu, Arika segera menembakkan tembakan bola angin ke arah Rota sampai makhluk itu terpental. Portal tersebut menghilang.


Gadis penyihir tersebut berpikir tentang kemampuan Rota yang sudah disampaikan sendiri olehnya. Portal, Pisau ganda, dan tinjuan salinan. Selama ia bisa melawan Sara dan Rota dari jarak jauh, ia pasti akan menang seperti Pangeran Uzan. Yang ia khawatirkan adalah apakah Rota akan menyerang Sara atau mereka berdua akan saling mematikan satu sama lain.


Arika memandang Sara yang memendarkan cahaya putih di kedua telapak tangannya, mengaktifkan Max Purify. Dengan sihir klerik tersebut, pastinya Rota tidak akan merasa sakit walaupun terkena serangan apapun.


Setelah itu, Rota menjentikkan jari, menciptakan lingkaran portal hitam di sampingnya, lalu memasukinya. Kemudian, portal tersebut tertutup dan lenyap.


Selain tidak mengetahui keberadaan Rota, Arika merasa bimbang ketika ia akan menyerang Sara. Dari kejauhan, ia terlihat sendiri dan menyalakan kedua telapak tangannya sambil memandang Arika dengan serius.


Arika sudah mempunyai ide tentang bagaimana ia akan membunuh Mereka berdua. Yaitu dengan menghantamnya dengan sihir angin miliknya ke dinding sampai mereka terbentur dinding dan tidak sadarkan diri. Sebagaimana yang ia lakukan kepada sekian banyaknya kelelawar ketika ada di ruangan Gua sebelumnya.


Namun, walaupun mereka hanyalah seperti boneka yang dikendalikan oleh Gua Akais, gadis penyihir itu masih merasa tidak tega.


Ketika Arika masih melamun, sebuah portal lingkaran muncul tepat di depannya. Setelah itu, Rota langsung melompat dari portal tersebut sembari menebaskan salah satu pisau perak yang digenggamnya.


Rota tidak tinggal diam. Dengan cepat, ia melompat ke arah Arika dan menebaskan pisau peraknya kembali. Arika bisa menangkisnya lagi dengan tongkat sihirnya.


Namun setelah itu, Rota menggunakan tongkat sihir Arika sebagai pijakan dan melompat ke atas. Lalu, ia melemparkan dua pisau perak ke arah Arika.


Arika tidak tinggal diam. Ia menyalakan telapak tangan kirinya. Bola angin gemerlap kehijauan melingkup dirinya sehingga pisau tersebut terlempar jauh.


Setelah itu, Arika menatap Rota yang masih mengudara di atas dan menembakkan bola angin ke arah sang silvar dengan tongkat sihirnya.


Karena tembakan itu, Rota terpental dan menghantam keras langit - langit, namun ia tampak tidak kesakitan atau terluka. Arika mengetahuinya karena karena Sara masih mengaktifkan Max Purify.


Ketika Rota turun dari langit – langit, ia mengerti bahwa tubuhnya mengarah ke bawah menuju Arika. Di samping itu, Arika juga bersiap kembali untuk menembakkan bola angin ke arah Rota.


Rota menggenggam telapak tangan kanannya. Perlahan, telapak tangannya memendarkan cahaya perak. Lalu, ia bersiap untuk menuju ke arah Arika.

__ADS_1


Arika mengetahui bahwa cahaya perak tersebut akan di arahkan kepadanya. Gadis penyihir itu kembali mengarahkan tongkat sihirnya dan menembakkan bola angin. Namun serangannya hanya mengenai langit – langit gua dan menyebabkan reruntuhan banyak batuan kecil yang mengarah kepada penyihir tersebut sehingga harus menutupi matanya.


Ketika Arika membuka mata, gadis penyihir itu mendapati Rota melompat di depannya dan meninju dadanya sampai ia terpental jauh menghantam dinding sampai tongkat dan topi sihirnyanya terlepas.


Arika tersungkur dan merasa kesakitan. Ia telah terkena serangan Rota. Setelah itu, ia mencoba menyalakan telapak tangannya dan mengarahkannya ke arah Rota. Tapi tidak ada yang terjadi.


Rota berjalan menghampiri Arika yang sedang terengah dan tidak berdaya karena kehilangan sihirnya. “Sudah dikatakan dari awal mengenai pengaruh tinjuan perak milikku, kan?”


Arika merasa kesal. Ia tidak bisa mengaktifkan sihir nya kembali. Walaupun begitu, pastinya ia masih bisa mengambil sesuatu dari topi penyihirnya. Entah apa—ia menyadari bahwa topi penyihirnya lepas.


“Sebagai gantinya,” Rota mengarahkan telapak tangannya ke arah Arika. Cahaya kehijauan berpendar terang. “Selama lima detik, aku memiliki sihir angin.”


Rota menembakkan bola angin kehijaun ke arah Arika sampai gadis penyihir tersebut menghantam dinding kembali.


“Aku akui.” Kata Rota sembari melihat pendaran di telapak tangannya memudar. “Sihir ini sangat praktis.”


Rota hanya berdiri mematung sembari melihat Arika yang sedang terangah dan berusaha berdiri.


Lima detik sudah berlalu. Akhirnya, Arika berhasil berdiri walaupun sakit menjalar di seluruh tubuhnya akibat serangan angin yang ia terima baru saja. Setelah itu, Arika menyalakan telapak tangannya untuk mengaktifkan sihir angin.


Rota langsung melompat ke arah Arika dan menendang dada penyihir itu sampai ia menghantam dinding dan jatuh tengkurap.


Setelah itu, Rota menginjak keras punggung Arika dan meletakkan kakinya di sana, mencegahnya untuk kembali berdiri.


“Pertarungan ini berjalan lambat,Arika.” kata Rota. “Aku tidak yakin bahwa kau akan menjadi persembahan bagi Gua Akais.”


Beberapa saat kemudian, Sara juga mendatangi Arika. “Sangat payah dan sayang sekali. Kami sudah memberitahumu mengenai maklumat yang berkaitan dengan kemampuan kami namun kau hanya bertarung segitu saja.”


Rota bersedekap. “Seharusnya kau bisa menyalakan sihirmu dan menggunakannya untuk menyerang seluruh ruangan gua ini seperti yang kau lakukan pada kelelawar – kelelawar ketika kau sedang bersama pangeran Uzan.”


“Sudahlah, Rota,” kata Sara. “Kemungkinan karena gadis penyihir ini tidak tega untuk melukai kawannya.”


“Memang sebelumnya Uzan melawan Edgar dan Dubal merupaka permainan.” Rota mendecih. “Di samping itu, jika memang hal ini adalah permainan, seharusnya menyebabkan perasaan senang, bukan bosan. Paling tidak Uzan pada akhirnya berhasil menghabisi Edgar dan Dubal.”


“Kau ada benarnya, Rota,” Sara menghela. “Dengan ini, seharusnya kita bisa membunuhnya. Namun, ada peraturan tidak tertulis bahwa jika salah satu dari kalian berdua menang, maka hasilnya akan ditentukan nantinya.”

__ADS_1


“Mari kita kembali ke ruangan asal dengan membawa gadis penyihir ini,” Rota mengangguk. “Dan kita lihat tentang apa yang akan menjadi keputusan selanjutnya dari Gua Akais ini.”


Beberapa saat kemudian, sebuah portal lingkaran muncul di atas Rota, Sara, dan Arika. Setelah itu, portal tersebut menghisap Rota, Sara, Arika, dan tongkat serta topi penyihir yang ada di ruangan tersebut.


__ADS_2