Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pencarian Solusi 4


__ADS_3

Sebuah portal lingkaran terbentuk di atas kubah tanah besar. Kemudian, Rota keluar dari portal tersebut dan memijaknya.


“Memang Uzan dan lainnya sedang bertarung di dalam gua ini,” kata sang silvar. “Aku tidak habis pikir bahwa Malvin akan mengekang musuhnya dengan sihir ini seperti ini.”


Dari atas kubah, Rota menyaksikan Golem Gorila yang menghampirinya. Sara dan Edgar sudah terlihat berlari kemari. DI belakangnya, Dubal juga sedang menyusul.


Tidak lama kemudian, Golem Gorila datang dengan amukannya. Ia tampak memperhatikan Rota yang sedang berdiri di atas kubah. Kemudian, makhluk itu berlari ke arah sang Silvar sembari menyiapkan kedua kepalan tangannya. Setelah itu, ia menghantam kubah itu.


BOOM!


Tanah bergetar. Terlihat retakan yang mengelilingi kubah tersebut.


Edgar dan Sara memperhatikan serangan yang baru saja dilakukan oleh Golem tersebut. “Serangan raksasa itu tampak kuat, tapi kubah itu hanya retak sedikit.


Sara juga menyadarinya. “Sayang sekali.”


Beberapa saat kemudian, sebuah portal lingkaran terbentuk di samping Edgar dan Sara.


“Sepertinya kita harus menghantamnya berkali – kali agar kubah itu hancur,” Rota keluar dari portal tersebut.


“Itu benar,” kata Edgar. “Tugas kita adalah bekerja agar Golem itu menghantamnya kembali.”


“Aku akan melakukan Max Purify lagi,” Sara mengeluarkan cahaya dari kedua telapak tangannya.


“Aku akan bersama Sara supaya ia baik – baik saja,” kata Edgar. “Siapa tahu Golem itu menghadap ke arah kita dan—


Raksasa itu mengarahkan pandangan ke arah Edgar dan lainnya.


Edgar, Rota, dan Sara, nersiap – siap.


Raksasa itu mulai berjalan menghentak - hentak ke arah mereka bertiga. Sebelum mencapai mereka bertiga, tiba – tiba ia merunduk dan meraung kesakitan. Dubal baru saja menebaskan kapak di mata kaki kanannya.


Sara berjengit. Edgar dan Rota menghela lega. Akhirnya, Dubal menghampiri mereka.


“Dubal,” kata Rota. “Kita akan membuat si raksasa menghantam kubah itu berkali – kali.”

__ADS_1


“Itu juga yang aku pikirkan,” kata Dubal.


“Seperti yang baru saja didiskusikan,” ujar Sara. “Aku dan Edgar akan menetap di sini. Rota dan Tuan Dubal akan menyerang untuk mengecoh raksasa itu.”


“Untung saja,” Dubal terkekeh. “Paling tidak kami tidak akan kepanasan karena ada Max Purify.”


Sara tersenyum karena merasa dipuji.


Edgar menyiapkan tombaknya. “Aku akan menetap disini untuk jaga – jaga.”


“Ayo!” Rota menyalakan telapak tangannya. Kemudiann, dua bilah pisau perak muncul.


Dubal mempersiapkan kapaknya.


-


-


Sebuah lingkaran portal muncul di hadapan Sang Golem. Rota meluncur dari portal tersebut dan berpijak pada kirinya. Kemudian raksasa itu mencoba mencoba untuk mengusir sang Silvar dengan menggoyangkan kedua bahunya.


Raksasa tersebut mengedarkan pandangan karena bingung dan mencari Rota. Untungnya, ia segera mendapati Silvar tersebut keluar dari portal dan berpijak di atas kubah tanah besar. Setelah itu, meluncurkan tinjunya ke arah Rota.


Sang silvar melompat mundur sambil menyaksikan getaran pada kubah itu ketika terkena serangan golem tersebut.


Retakan demi retakan terbentuk pada kubah itu. Akan tetapi, gundukan tanah itu masih tampak kokoh.


Golem tersebut murka karena serangannya tidak mengenai target. Ia meraung – raung sambil menghantam dadanya.


Dubal berlari sambil bersiap – siap untuk menebas kaki sang Golem. Sayangnya, ia ketahuan. Raksasa itu mundur selangkah sehingga serangan prajurit itu meleset. Setelah itu, ia meluncurkan tinju ke arah Dubal.


Dubal memutar tubuhnya, melompat ke samping, lalu mendarat di dekat kubah tanah besar.


Karena keinginannnya untuk memukul Dubal, Golem itu mengangkat kedua tangannya dan meluncurkan hantaman ke arah Dubal, yang sayangnya tidak mengenai target karena Dubal menyamping untuk menghindar.


Serangan itu kembali mengenai kubah tanah dan membuatnya bergetar. Retakan – retakan kembali terbentuk di sekitar kubah tersebut.

__ADS_1


Golem Gorila itu tampak kesal karena musuh – musuhnya selalu berhasil menghindari serangannya. Ia menginginkan musuh yang diam dan tidak bergerak. Karena itu, ia memutar tubuhnya dan mengalihkan pandangan dari Dubal dan Rota yang sedang berada di dekat kubah tanah.


Kemudian, ia mendapati Edgar dan Sara yang sedang berdiri menetap tidak jauh dari posisinya saat ini. Ia memutuskan untuk berjalan ke arah mereka berdua.


Edgar dan Sara mengetahui bahwa raksasa itu sedang menuju ke arah mereka. Edgar menyiapkan tombaknya.


“Semoga saja perhatian si Golem itu bisa dialihkan kembali,” Edgar menghela. “Aku bosan menghadapi makhluk besar yang tidak bisa mati.”


“Aku yakin Rota dan Dubal akan berusaha mengalihkan perhatiannya guna membebaskan Pangeran Uzan dan lainnya,” kata Sara. “Itu pasti.”


Golem itu berjalan menghentak – hentakkan kakinya menuju ke arah Edgar dan Sara. Tiba – tiba, sebuah portal terbentu di depannya. Rota muncul dari portal tersebut dan posisi melompat dan siap menebas leher golem itu dengan kedua senjatanya.


Golem itu mundur selangkah, menyebabkan serangan tersebut meleset. Kemudian, ia menggenggam tangannya dan meluncurkan tinjuan ke arah rota yang masih berada di udara.


Untung saja Rota turun lebih lambat ketika mengudara sehingga tinjuan Golem itu meleset dan ia bisa mendarat di bagian belakang telapak tangannya.


Sang Silvar tidak mau kesempatan itu sia – sia. Ia berlari cepat di atas tangan raksasa itu dan bersiap untuk menyerang bagian kepalanya. Akan tetapi, Golem tersebut segera menggerakkan tubunya sehingga Rota kehilangan keseimbangan. Alhasil, Rota harus melompat mundur dan mendarat di atas pohon.


Sesaat kemudian, sang silvar turun dari pohon tersebut.


Sang Golem memutar tubuhnya, perhatian sang raksasa sekarang teralih untuk menyerang Rota.


Hal yang baru saja terjadi membuat Golem itu sangat kesal. Ia menghanyamkan kedua kepalan tangannya ke tanah dengan membabi buta.Kemudian, ia lari ke arah Rota dan meluncurkan mengamuk.


Rota membentuk portal dan masuk ke dalamnya sehingga serangan raksasa itu meleset.


Sang raksasa, dalam amukannya, berpikir keras untuk menghancurkan Rota. Ia menyangka bahwa Rota akan kembali berada di dekat kubah tanah besar. Ketika ia mengarahkan pandangan ke tempat itu, apa yang disangka benar. Ia terlihat bersama Dubal dan sedang ada di dalam posisi siaga.


Akhirnya, dengan cepat Golem Gorila itu menuju ke arah kubah tanah itu dan meluncurkan tinjunya berulang kali


Serangan raksasa yang dilakukan oleh Gorila tanah menghasilkan getaran yang berlangsung lama karena makhluk itu sedang dalam keadaan murka. Percikan – percikan lava juga memancar ketika berulang kali kubah tanah itu diserang.


Dubal dan Rota yang menghindar jauh dari lokasi itu dapat menyaksikan kubah yang perlahan – lahan meretak dan merekah karena serangan bertubi – tubi yang dilakukan golem tersebut. Mereka berdua berharap agar cara tersebut berhasil menghancurkan kubah tersebut dan membebaskan Uzan dan lainnya dari sihir Malvin.


“Dia sangat marah,” Edgar berkomentar. Ia dan Sara menghampiri Rota dan Dubal yang masih menyaksikan Golem Gorilla yang sedang melampiaskan murkanya dengan memukuli kubah tanah tersebut.

__ADS_1


Semakin lama dihantam berkali - kali, kubah tanah tersebut semakin merekah. Akhirnya, gundukkan tanah tersebut hancur dan menampakkan situasi dan kondisi orang – orang yang ada di dalamnya.


__ADS_2