Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Menceritakan Kembali


__ADS_3

“Menurutku kereta ini cukup nyaman ditumpangi,” Edgar berkomentar singkat.


Arika berkata, “Sayang sekali kita tidak bisa berhubungan dengan Pangeran Uzan secara langsung dari sini.”


Dubal berkata, “Yang paling penting adalah kita bisa mempercepat perjalanan kita menuju Gua Batu Akais.”


Sara berujar, “Kita patut berterima kasih kepada Unliv untuk ini.”


Edgar bersedekap sambil termangu. “Anehnya, Uzan bertingkah sedikit ganjil bagiku.”


“Perangai itu,” Dubal menghela. “Kupikir bahwa Pangeran Uzan memiliki semacam krisis kepercayaan karena masa lalunya.”


“Masa lalu, maksudmu?” kata Edgar sampai bertopang dagu. “Apa yang kau ketahui tentang masa lalu Uzan, Dubal?”


Dubal menjelaskan. “Mungkin aku tidak begitu tahu tentang masa lalu Pangeran Uzan, namun ia menceritakannya kepadaku ketika kita bermalam di bawah pohon rindang. Ia menyebutkan salah satu kawan kalian yang bernama Rafael.”


Sara menghela. “Rafael, ya?”


“Itu benar.”


Edgar menggaruk kepala. “Apa kau bisa menceritakan tentang apa yang dikatakan kepadamu, Dubal?”


“Setelah ini aku akan menceritakannya. Di sini, aku akan menceritakan tentang masa lalu Pangeran Uzan bersama kalian dan Rena menurut sudut pandangnya.”


Edgar tersenyum. “Rena akan merasa jengkel kalau hal ini diceritakan kepada orang lain.”


“Masa lalu, ya?” kata Arika. “Aku juga tertarik untuk menyimak saja.”


“Aku sudah menyaksikan tentang bagaimana kau memberikan bantuan kepada kami,” Dubal menatap Arika. “Sebelumnya, Pangeran Uzan menyuruhku untuk mengawasimu dan kau juga sudah turut andil dalam perjalanan kami. Jadi, kau juga bisa menyimak.”


Arika berpaling dari tatapan mata Dubal. Ia cemberut karena sedikit kesal, namun gadis penyihir itu akhirnya berujar, “Kau tidak perlu mempermasalahkan itu.”


“Baiklah,” Dubal mulai menceritakan. “Yang pangeran Uzan katakan padaku adalah...”


Dubal menceritakan tentang hal – hal di masa lalu tentang Rafael, Rena, hubungan kerajaan, dan Perang Frederik persis seperti yang diceritakan oleh Uzan ketika mereka bermalam di bawah pohon rindang.


Reaksi yang di dapatkan oleh prajurit berkapak itu adalah beberapa kata ‘Oh’ dari Edgar, Sara hanya memegang dadanya sembari mengingat kejadian cerita, Arika menyimak dan menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang dibicarakan, terutama mengenai Perang Frederik.


“Sangat aneh sekali bahwa Uzan berkata bahwa ia memiliki krisis kepercayaan,” kata Edgar, “padahal kita merekrut Dubal dan Arika secara langsung dengan sedikit pertimbangan.”


“Edgar,” panggil Sara, “Dubal dan Arika adalah orang yang baik. Selain itu, masalah Rafael dan kepastian tentang tugas kita juga patut dipertimbangkan keasliannya.”

__ADS_1


“Apa kau memang menyetujui bahwa misi kita janggal, Sara?” kata Edgar.


“Masalah kepercayaan Pangeran Uzan kemungkinan besar hanya berlaku untuk para anggota di sekitar istana,” Sara mengangkat bahu, “Selain itu, walaupun perangainya sedikit janggal, Pangeran Uzan juga ingin menyelamatkan kita semua ketika memperoleh kereta ini.”


“Um..” Arika berujar. “Mungkin itu benar, semoga kereta kayu ini tidak meledak atau ada akar mengikat kita.”


Dubal menambahkan, “Ia mengatakan bahwa, khususnya untuk aku dan Arika, kami berdua memiliki beberapa faktor di mana kami melakukan sedikit pembuktian tentang kebaikan kami. Jika aku jadi Pangeran Uzan, aku akan menganggapnya cukup.


“Untuk masalah ketidakpercayaan Pangeran kepada para Pegawai Istana karena pengkhianatan masa lalu, aku bisa menyinggung rujukan bahwa ada pepatah bijak mengatakan orang yang akan menikam biasanya adalah orang terdekatmu.”


Edgar menggeleng. “Aku juga tidak yakin bahwa Uzan melakukan merekrut Arika karena sebuah keputusasaan seperti yang dilakukan oleh Raja Endan.”


Dubal menggeleng. “Edgar, kau harus mengerti bahwa dia adalah seorang pangeran. Bebannya juga lebih banyak. Kau mungkin bisa mengatakan apapun kepadanya, mungkin karena kau adalah seorang prajurit biasa.”


“Lagipula, Edgar,” kata Sara “Keputusan yang dilakukan Raja Endan bukanlah hasil dari keputusasaan.”


“Aku memang tidak memiliki keberuntungan dan pengalaman berteman dengan Pangeran Axel ketika aku masih bekerja di Oslar,” kata Dubal. “Mungkin aku juga merasa heran tentang segala keputusan yang diambilnya. Tiba – tiba, mendadak, berbahaya, atau tidak masuk akal. Walaupun begitu, kau harus mengetahui bahwa seorang pangeran membawa nama kerajaan asalnya.”


“Sangatlah aneh bahwa kejadian itu punya dampak nyata bagi Rafael, namun Uzan yang memiliki krisis kepercayaan,” kata Edgar sambil termangu. “Baiklah kalau begitu.”


“Cerita yang sangat menarik, Tuan Dubal,” kata Arika. “Sara, siapa Rena?”


“Dia juga adalah penyihir sepertimu, Arika, tapi tingkatannya lebih tinggi,” kata Sara. “Ia punya kepiawaian khusus dalam Elemen Air, ia tidak ikut ke sini karena ia punya pangkat sebagai petinggi istana.”


“Tidak sama, Edgar,” kata Arika.


“Oh, iya?” kata Edgar. “Lagipula, coba saja kalau Rena ikut. Ia mungkin akan mengeluarkan sihir airnya, melingkup Sentafal dengan bola air sampai binatang itu pingsan. Ketika ia tergeletak di lantai, Uzan akan langsung menebas kepalanya, lalu secepat kilat kita akan menang.”


“Kau mungkin bisa membayangkan tentang reka adegan seperti itu, Edgar,” Dubal menggeleng, “tapi bertarung melawan Sentafal tidak seperti yang kita bayangkan, terutama ia memiliki kalung ajaib yang terpasang di hidungnya.”


Edgar hanya mengangkat bahu sambil memutar kedua bola matanya.


“Tuan Dubal,” kata Sara. “Sebenarnya kami beberapa tambahan cerita tentang masa lalu yang diceritakan oleh Uzan.”


Edgar berujar, “Sebaiknya kau menyimpannya dahulu, Sara,”


“Baiklah,” kata Sara. “Mungkin belum saatnya kami berdua menerangkan tentang masa lalu dalam sudut padang yang berbeda.”


“Kalau berbicara tentang Perang Frederik,” Arika menyambung, “Aku memiliki cerita tentang sudut pandangku, tapi mungkin lebih baik ketika kita sudah sampai di Desa Sakanan dan pasti akan kuceritakan lebih.”


“Aku turut ingin mendengarkan tentang ceritamu, Arika,” Sara tersenyum.

__ADS_1


“Yah,” kata Dubal. “Terutama tentang bagaimana kau bisa ada di Kastala dan ingin segera memulihkan keadaan gempa ini.”


-


-


Beberapa saat kemudian, mereka berhenti. Uzan membuka pintu kereta kencana dan mempersilahkan keempat rekannya untuk keluar dari kereta.


Mereka mendapati sebuah gapura ganda besar yang dijaga oleh penjaga sebuah pos penjagaan. Terlihat para petugas sedang memeriksa barang – barang beberapa pengunjung sedang akan memasuki desa tersebut.


Setelah Uzan dan kawan - kawannya mengedarkan pandangan pada pintu masuk desa yang mereka jumpai, Edgar menggaruk kepala. “Kenapa kita tidak bisa langsung masuk, Uzan?”


“Aku sudah melapor pada para penjaga pintu, Edgar,” kata Uzan. “Mereka berkata bahwa kuda di larang masuk dan harus dititipkan.”


Beberapa saat kemudian, seorang petugas juga menghampiri mereka. Pria itu memakai seragam kebiruan. “Selamat siang, kalian harus menitipkan kendaraan kalian ke tempat yang sudah disediakan.”


Edgar bersedekap, “Aku yakin bahwa akan ada di penitipan kuda dan kereta kencana di rumah – rumah yang ada di pemukiman kalian.”


“Hal itu tidak diperbolehkan, Tuan,” kata petugas itu. “Semua jenis kendaraan harus dititipkan di depan pintu gerbang desa.”


“Kami ingin menyewa penginapan di desa kalian. Di samping itu, apakah kalian akan memberitahu kami tentang keadaan kendaraan kami?”


“Panggil saya Fured,” kata Petugas itu mengulurkan tangan ke Uzan. Sang pangeran menerima sambutan tersebut. “Saya akan mengantar kalian ke penginapan yang kalian tuju.”


Dubal terheran. “Apakah desa kalian punya masalah sampai kalian ingin jadi pengawal pribadi kami?”


“Tidak, Tuan, kami hanya sedang melakukan sebuah isolasi karena beberapa hari yang lalu, sebagian kecil desa kami diserang oleh para perambah.”


“Apakah itu berarti bahwa sebelumnya tidak ada larangan untuk membawa kendaraan?”


“Itu benar, kebijakan ini hanya diberlakukan baru – baru ini,” kata Fured. “Untuk itu, saya akan mengawal kalian sampai tempat penginapan yang kalian tuju.”


“Apa kau tahu persis tentang penginapan macam apa yang kami tuju?” tanya Uzan.


“Saya tidak tahu,” kata Fured, “tapi kita bisa membicarakannya sambil berjalan ke sana.”


“Kuda ini mahal,” kata Edgar. “Petugas desa kalian harus menjaganya dengan baik.”


“Baiklah,” kata Fured. “Kami akan melakukan yang terbaik.”


Setelah itu, Uzan dan rekan – rekannya dikawal oleh Fured untuk masuk ke Desa Sakanan. Mereka berlima dipersilahkan menunggu di tempat khusus pengunjung ketika kendaraan mereka ditempatkan di istal penitipan kuda. Kereta kencana mereka dilepas dan ditempatkan di ruangan khusus kereta kencana.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menunggu, Fured datang ke Uzan dan keempat kawannya dan berujar, “Mari kita mendiskusikan tentang keperluan kalian di Desa Sakanan!”


__ADS_2