
Faraq sedang berada di teras paling atas istana. Sambil melihat keadaan Masyarakat sekitar istana yang masih terasa kalang kabut dan terasa khawatir.
Ia memiliki firasat buruk tentang perjalanan Uzan yang tidak akan berhasil. Tapi tidak mengapa. Dia sudah menyingkirkan pangeran yang akan memegang tahta sebagai raja. Kamasa sudah mati. Dia juga secara tidak langsung sudah menipu Raja Endan.
Beberapa saat kemudian, lima orang penyihir bertudung muncul dari ketiadaan.
“Bagaimana nasib Material Magis yang akan kita kumpulkan, Tuan Faraq?” kata salah satu penyihir.
“Sudah tiga Material Magis terkumpul,” kata Faraq. “Tinggal dua.”
“Apakah yang akan kau lakukan dengan material magis tersebut?”
“Rencanaku adalah bahwa Material Magis tersebut tidak akan kita gunakan,” Faraq menghela. “Kita sudah tahu bahwa perkamen itu diambil dari topi Kamasa untuk mengolah rencana ini.
“Sampai sekarang, kita bisa menyimpulkan bahwa rencana kita sudah berjalan dengan baik. Kita hanya perlu menunggu sampai akhirnya, kita akan membunuh Raja Endan dan Ratu Sofia, lalu mengambil alih kerajaan ini.”
“Jadi, kau yang sudah memicu bencana ini, Faraq,” Faraq dan para ajudannya mengalihkan pandangan ke sumber suara. Raja Endan berdiri. Rowan, Rena, dan sepuluh prajurit lainnya sedang bersiap siaga.
Rena tampak menatap tajam petinggi hubungan antar wilayah itu. Air mata masih membasahi pipinya.
Melihat gadis penyihir itu, Faraq mendecih. seharusnya ia langsung membunuhnya ketika setelah pelepasan Uzan. Tanpa disangka, ia langsung melaporkannya kepada Raja Endan. Dalam diam, Faraq merutuki Kamasa karena bisa langsung merekap kejadian masa lalu di Bola Ramal walaupun dia sudah mati.
“Selamat siang, Raja Endan,” kata Faraq sambil menyambut.
“Jangan pura – pura tidak bersalah, Faraq!” bentak Endan. “Ternyata kau yang menyebabkan bencana ini.”
Faraq mencoba untuk merasa tidak bersalah. “Kau harus mendengarkan penjelasanku dahulu, Wahai Baginda.”
Para penyihir Faraq bersiap siaga.
“Rena dan Istandi sudah melaporkan semuanya kepadaku,” kata Endan. Rena mengangguk. Sang raja melanjutkan. “Akhirnya, aku mengetahui bahwa kau melakukan pembodohan kepada kerajaan ini.”
__ADS_1
Salah satu penyihir Faraq berujar, “Kita semua sudah mengetahui siapa yang bodoh di sini, benar,kan, Tuan Faraq?”
“Keterlaluan!” Endan berseru. Ia mengepalkan genggaman kedua tangannnya. “Para prajurit, kalian pergilah dari sini! Laporkan kepada seluruh warga Istana Kastala bahwa Faraq adalah pelaku bencana ini!”
“Baiklah, Baginda!” para prajurit yang berada di sekitar Raja Endan segera berlari menjauh dan masuk ke Istana.
Endan mengedarkan pandangan ke arah Faraq yang sekarang sedang dikelilingi oleh para penyihir asing yang ia sendiri tidak ketahui. Sebelumnya, Rena melaporkan dan memperlihatkan keberadaan penyihir tersebut kepadanya dan fakta kejam bahwa Kamasa telah dibunuh. Maklumat yang diberikan Rena memang bersumber dari bola ramal, dan ia tahu bahwa Kamasa sangat mementingkan bola itu untuk mengetahui masa lalu hakiki.
Tidak disangka bahwa Faraq sudah menipunya dan seluruh kerajaan. Memikirkan itu, Endan naik pitam. Kemudian, ia berseru, “Aku akan—”
“Kau tidak perlu turun tangan, Baginda,” potong Rowan. “Kemungkinan besar tujuan utama Faraq selanjutnya adalah untuk membunuh Baginda.”
“Itu benar, Baginda,” Rena menyetujui. “Kamasa telah tiada, Pangeran Uzan sepertinya juga sudah tersingkir, seperti yang saya laporkan, Faraq ingin menguasai Kerajaan Kastala dengan menggunakan Perkamen yang ada di dalam topi Kamasa,” Rena terisak. “Sebaiknya anda menyelamatkan diri untuk kemaslahatan kita bersama.”
Endan mendengarkan perkataan Rowan dan Rena. Perlahan, ia meredakan murkanya. Perkataan mereka lebih masuk akal daripada keputusan emosional yang ia akan ambil walaupun…
Salah satu penyihir Faraq menyalakan telapak tangannya. Sebuah cincin api besar terbentuk di atas Petinggi itu dan para ajudan penyihirnya.
Rowan menggeleng.“Kami tidak gentar karena pastinya kita tidak akan kalah tanding.”
“Itu benar,” kata Rena. Kemudian, gadis penyihir itu menyalakan telapak tangannya. Tiba – tiba, beberapa bulir gelembung terbentuk dan mengitari sang raja. “Itu adalah gelembung pelindung bagi anda, Baginda. Dengan itu, siapapun bisa terhindar dari serangan sihir dan fisik tingkat sedang.”
Endan mengamati bulir – bulir gelembung yang mengitarinya. Kemudian, ia berkata, “Rena, Rowan, aku tugaskan kalian untuk menangkap Faraq, hidup atau mati. Kalian bahkan boleh menghancurkan bagian teras atas istana jika memang diperlukan.”
“Siap, Baginda!” kata Rowan dan Rena secara bersamaan.
Kemudian, Raja Endan berlari menjauh dan beranjak turun dari tempat itu.
Cincin api besar penyihir Faraq dilesatkan ke arah Rowan dan Rena. Sebuah ledakan terjadi besar terjadi. Asap hitam melayang di area sekitar daerah target serangan sihir api.
Faraq mengamati pengaruh serangannya kepada penyihir dan prajurit itu. Setelah asap memudar, ia melihat ratusan butir gelembung melayang di sekitar Rowan dan Rena. Pastinya itu adalah sihir Rena. Pengaruh serangan api yang baru saja mengenai mereka pasti tidak mempengaruhi mereka
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Faraq merasa bahwa butiran – butiran air mengelilinginya. Bukan hanya perasaannya saja. Memang benar. Butiran - butiran air tersebut berputar cepat dan membentuk sebuah bola, melingkup Faraq.
Para penyihir ajudan tersebut menyalakaan telapak tangan mereka. Namun tidak ada yang terjadi. Faraq masih berada di dalam bola air itu sambil meronta – ronta karena kesulitan bernafas.
“Sial! Gadis itu melakukan plasma,” rutuk salah satu penyihir itu. “Sihirnya tidak akan terpengaruh sihir lain selama lima belas detik.”
“Mau – maunya dia,” Penyihir lainnya bekata, “Resikonya terlalu besar! Kedua tangannya tidak akan bisa digerakkan selama tiga hari.”
“Tidak,” kata penyihir satunya lagi. “Tujuannya adalah memang untuk membunuh Tuan Faraq!”
Beberapa saat kemudian, bola air yang meligkup Faraq segera berputar menuju ke arah Rena dan Rowan. Rena sudah tidak bisa menggerakkan kedua tangannya. Akan tetapi, Rowan masih bisa menyerang.
Ketika bola air Faraq melayang cepat ke arahnya, mempersiapkan tombak. Bola air itu sudah semakin dekat ke arah Rowan, sihir Rena terbatalkan. Kemudian, Faraq menampakkan dirinya tanpa perlindungan. Tubuhnya mengarah ke Rowan. Kemudian, prajurit itu segera menghujamkan ujung tombaknya.
Kras!!!
Cipratan darah keluar dari tubuh Faraq. Jeritan kesakitan petinggi itu menggema di teras lantai atas istana. Faraq memegangi tombak yang sudah mengujam jantungnya. Ia tersungkur tergeletak di atas tanah. Nyawanya telah melayang.
“Rasakan itu, kau telah membunuh ayahku!” Rena terengah setelah melakukan sihir itu. Tapi ia tampak puas walaupun kedua tangannya sudah tidak bisa digerakkan. Ia juga sudah tahu tentang kalung batu hijau yang dikenakan oleh Faraq. Setelah ia keluar dari Bola Ramal dan meredakan kesedihannya, ia melakukan penelitian tentang jimat itu di buku sihir walaupun hanya satu khasiat yang tertera di buku itu.
“Rowan,” kata Rena. “Jangan sampai kau pegang kalung batu hijau yang bercahaya itu. Itu Jimat Rimasti. Jika seseorang selain pemiliknya memegangnya, maka dia akan terbunuh.”
“Aku tidak akan melakukannya,” kata Rowan. Prajurit itu mengedarkan pandangan ke penyihir – penyihir Faraq yang seolah tidak berkutik. Ia mengamati bahwa Faraq dan masing – masing penyihir memiliki kalung batuan hijau yang terpasang di leher mereka. “Paling tidak, Faraq sudah mati dan balas dendam atas kematian ayahmu sudah terbayar setimpal.”
Rena mengangguk.
“Sungguh mengangumkan, Rena, Rowan,” salah satu penyihir menghampiri Rena dan Rowan. “Kemampuan kalian patut kuberi ibu jari.”
Rena dan Rowan mengenali suara itu. Namun mereka berdua tidak yakin. Semua penyihir Faraq menggunakan tudung, kegelapan menutupi wajah mereka.
Beberapa saat kemudian, penyihir yang sedang berada di depan mereka membuka tudungnya. “Sudah lama kita tidak bertemu.”
__ADS_1
Rena tertegun. Rowan tersentak. Mereka berdua mengenal pemuda itu. Kemudian, sang prajurit berkata, “Rafael?”