
“Apakah kau sudah mempersiapkan seluruh Pixi, Rura?” tanya Ratu Agatha.
Pada tengah malam, Raja Guvar dan Ratu Agatha mengunjungi Hutan Restra, salah satu hutan para Pixi di wilayah Igardias. Mereka ditemani oleh Rura, yang membuka portal langsung dari Istana ke Hutan.
Keadaan Hutan tersebut terlihat sepi. Dua pimpinan Istana itu mengedarkan pandangan mereka dan menyaksikan pohon - pohon menjulang tinggi yang dihiasi ratusan kerlipan kecil dari para pixi.
Sembari mengudara di antara mereka, Rura berkata, “Saya sudah mempersiapkan kepada para pixi terpilih untuk menyebarkan maklumat tentang kedatangan pangeran Uzan dan kawan - kawannya ke Igardias.”
“Pixi terpilih?” Alis Agatha mengerut. “Berapa ekor pixi yang sudah terpilih?”
“Sekitar seribu pixi, Yang Mulia.”
“Aku kurang memperhatikan kehidupan Pixi di Igardias, Rura,” kata Grover. “Tapi apakah ada peraturan tersendiri di hutan ini?”
“Ada, Yang Mulia,” ujar Rura. Pimpinan Hutan Restra ini sudah membentuk kelompok - kelompok pixi tersendiri. Ini sebabnya saya menawarkan bantuan dalam menyebarkan maklumat pada wilayah kerajaan lainnya tentang diambil alihnya wilayah Kastala.”
“Dan…bagaimana rencanamu untuk menyebarkan maklumat tentang hal ini?” tanya Guvar.
Rura berkata, “Kami sudah berkomunikasi dan berdiskusi tentang upaya penyebaran maklumat ini. Mereka akan menyebar ke seluruh penjuru Namaril untuk mengabarkan kepada para bangsawan dan penduduk sipil tentang musibah yang sedang terjadi. Seluruh wilayah Namaril kecuali Pulau Kastala.”
“Kenapa itu?”
“Linda, Pixi yang dibawa oleh Pangeran Uzan berkata bahwa di wilayah Kastala sudah diperintahkan untuk menyebar lewat Tuan Uvuk, tetua pixi di hutan Lumina.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Guvar. “Kau bisa memanggil seluruh pixi yang bertugas di Hutan ini dan kami langsung bisa meresmikan keberangkatan.”
“Baiklah,” kata Rura. “Kebetulan Tetua Hutan Restra, Tuan Hiu sedang ada keperluan. Jadi, aku akan mewakilkannya.
Rura melayang ke depan, lalu menghadap ke arah Sang Raja dan Sang Ratu. Kemudian, pixi berambut biru itu berkata, “Aku akan melakukan sihir pemanghil para pixi, aku harap kalian berdua menutup telinga kalian karena sihir ini akan menimbulkan kebisingan.”
__ADS_1
“Kebisingan?” tanya Agatha. “Apakah akan terjadi keramaian di Hutan Restra?
“Tidak, Yang Mulia,” kata Rura. “Sihir ini akan terdengar seperti terompet bagi para pixi yang bertugas, tapi menimbulkan keramaian. Walaupun begitu, bagi manusia, sihir ini akan menjadi suara yang memekakkan telinga walaupun wujud suaranya tidak bisa diketahui.”
“Baiklah,” kata Guvar. Agatha mengangguk.
Sesaat kemudian, Sang Raja dan Sang Ratu meletakkan kedua telapak tangan ke telinga.
Rura mengangguk. Setelah itu, ia berbalik arah.Kemudian, ia melihat pemandangan hutan sekitar yang sunyi, karena para pixi sedang beristirahat di sana. Ia mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan mantra.
Keheningan terjadi sesaat. Perlahan, cahaya putih berpendar dari telapak tangan mungil Rura.
Dedaunan bergemerisik bagaikan ditiup angin. tempat dimana Guvar, Agatha, dan Rura terasa bagaikan diliputi angin. Walaupun begitu, dua pimpinan istana itu tidak merasakan adanya angin. melainkan, ada semacam kebisingan yang mereka dengar.
Guvar dan Agatha berjengit sambil mengetatkan pegangan di telinga mereka, merasa ganjil karena telinga mereka terasa bagaikan mendengar kebisingan yang menyakitkan.
Sesaat kemudian, cahaya yang dipendarkan Rira meredup. Lalu, keheningan terjadi kembali terjadi di antara mereka.
“Baiklah,” Guvar dan Agatha melepaskan pegangan dari telinga mereka.
Sang Raja bertanya, “Apakah sihir ini sudah selesai? di mana para pixi yang kau panggil?”
“Mereka akan datang sebentar lagi,” kata Rura.
Sesaat setelah Rura mengatakan hal tersebut, satu persatu para pixi berdatangan. Rasanya seperti ratusan kawanan lebah yang berdatangan. Akan tetapi, para pixi tampak berpendar dengan berbagai warna, yang menghiasi gelapnya hutan ini. Mereka berkumpul di depan Sang Raja dan Ratu sembari melayang rendah.
Guvar dan Agatha memperhatikan mereka yang berkumpul bagaikan barisan tentara yang sedang melakukan upacara.
Guvar berkata, “Rura, sebelumnya kami berkata bahwa tidak perlu sambutan dari, bukan?”
__ADS_1
“Saya mengerti, Yang Mulia,” kata Rura.
Agatha melihat kerlap – kerlip pixi yang sedang berkumpul di depan. Mereka seolah sudah siap untuk ditugaskan.
Sang ratu bekata, “Kami sudah mengetahui tentang ini. Sekarang, kau bisa mengumumkan keberangkatan.”
“Baiklah, Yang Mulia,” Rura berbalik arah. Kemudian, ia melayang ke depan para pixi untuk melakukan instruksi.
Raja Guvar dan Ratu Agatha melihat Rura yang sedang memberi penjelasan mengenai tugas yang akan mereka kerjakan. Mereka berdua berharap bahwa hal ini bisa membantu pangeran Uzan untuk menyelesaikan masalahnya.
Sesaat kemudian, Rura mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke atas. Lalu, satu persatu dari kumpulan pixi itu melayang tinggi ke langit, menampakkan ratusan pendaran cahaya kerlap – kerlip yang melayang ke atas. Ketika mereka sudah sampai di atas langit, mereka menyebar, lalu wujud mereka menghilang dari langit malam Hutan Restra.
Rura terdiam sejenak, meringankan kepakan sayapnya. Ia tahu bahwa Raja Guvar dan Ratu Agatha mengerti tentang apa yang sedang dilakukannya saat ini. Mereka membiarkan Rura untuk bersistirahat. Mereka juga tidak berkomentar sehingga menimbulkan keheningan di hutan itu.
Tidak lama kemudian, Rura bangkit dan melayang kembali, berbalik arah, dan menghampiri Guvar dan Agatha yang masih tetap berdiri di sana. Raja Guvar sedang melengak memandangi langit malam. Masih takjub dengan keberangkatan para pixi.
“Mereka semua sedang diberangkatkan, Yang Mulia,” kata Rura sambil membungkuk.
Raja Guvar kembali menghadap Rura mengangkat tangannya, istyarat agat pixi itu menegakkan badan.
“Terima kasih atas tawarannya,” kata Agatha. “Dengan ini, seluruh penduduk di dunia Namaril akan mengetahui bahwa Kerajaan Kastala sedang diambil alih oleh orang yang tidak berhak memilikinya.”
“Mungkin kami belum menanyakan ini sebelumnya,” kata Guvar. “Akan tetapi, apakah kau yakin bahwa mereka akan kembali ke sini setelah delapan hari?”
“Saya yakin Baginda,” kata Rura. “Seperti yang saya beritahu kepada Yang Mulia bahwa target penyampaian maklumat mereka adalah orang – orang besar di daerah – daerah yang ada di Namaril.”
“Apakah itu berarti mereka tidak akan mengabarkan tentang ini kepada warga sipil biasa sama sekali?” tanya Agatha.
“Warga sipil biasa juga akan diberi kabar,” Rura menghela. “Akan tetapi, target utama para pixi adalah para pimpinan di wilayah – wilayah yang mereka tinggali. Mereka juga kemungkinan besar mereka hanya akan menjadi bahan tanya para pixi, walaupun bisa jadi mereka akan melakukan hal ini dari mulut ke mulut. Satu sama lain.. Karena, sesuai dengan titah Tuan Hiu, pimpinan pixi di hutan ini, bahwa sistem penyebaran maklumat ini akan menggunakan sistem atasan bawahan dimana, jika para pimpinan wilayah mengetahui tentang maklumat ini, pastinya mereka akan lebih berpengaruh.”
__ADS_1
“Baiklah, Rura,” kata Guvar sambil senyum. “Aku suka penjelasanmu.”
“Terima kasih, Baginda.”