Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pembicaraan Kedua


__ADS_3

Uzan berkata, “kami sudah mengetahui tentang lokasi pabrik emas tersebut, Tuan Imnas.”


“Tapi kalian belum mengerti tentang Galar yang menghancurkan pabrik tersebut,” kata Tuan Imnas. “Bukankah begitu?”


“Itu benar,” Uzan mengangguk. “Apakah kau bisa menjelaskannya lebih lanjut?”


“Sebelum itu, apakah Fured sudah memberi tahu kalian bahwa Galar berhubungan dengan makhluk magis Girafan?”


“Sudah, Tuan Imnas.”


“Dan Dubal mengetahui mengenai Makhluk magis yang bernama Rota.”


“Itu benar, Tuan Imnas.”


“Sejujurnya, aku juga memiliki pengalaman seperti kalian tentang hal yang berkaitan dengan makhluk magis tersebut,” kata Imnas. “Akan kuceritakan kepada kalian.”


Uzan dan seluruh rekan - rekannya memperhatikan.


“Beberapa tahun lalu, Galar mengunjungi bukit Giraf. Aku tidak mengetahui tentang dari mana ia mendapatkan kaling Sila untuk membuka portalnya. Tapi ia bilang bahwa ia mengenal seorang Silvar bernama Rota.”


“Yang telah ia tipu,” kata Dubal.


Imnas mengangguk, lalu ia melanjutkan cerita, “Dengan seorang diri Galar datang ke wilayah Magis Girafan dan berkeliling di sekitar area tersebut. Sebelumnya, ia merasa takjub dengan lingkungan yang ia dapati di wilayah tersebut, namun setelah sekian lama, ketakjubannya memudar dan ia mulai menyesuaikan diri.


“Para penduduk di Wilayah Girafan menganggap bahwa keberadaan manusia di wilayah mereka adalah jarang. Namun setelah berkali - kali manusia datang ke Girafan untuk berbagai keperluan yang tidak menganggu kehidupan, maka mereka juga memaklumi hal tersebut.”


Keheningan sejenak menyeruak di antara mereka. Fured mengamati Pangeran Uzan dan teman – temannya yang tampak memperhatikan sang kepala desa dengan serius.


“Kita akan kembali ke cerita tentang Galar,” kata Imnas. “Setelah Galar membuat beberapa kawan yang menurutnya cukup dari kalangan Gulda, Silvar, dan Barinza, ia melanjutkan untuk mendapatkan maklumat lebih tentang wilayah magis bukit Giraf.


“Akhirnya, ia menemui sebuah Gua bernama Gulda Gul. Gua tersebut memiliki nama yang sama dengan Patung Bola Emas Gulda yang terdapat di tempat tersebut. 


“Sebelum memasuki gua itu, ia membawa ratusan prajurit yang tidak diketahui darimana asalnya. Aku kira bahwa prajurit yang ia bawa bukanlah hanya dari kerajaan Oslar atau mungkin juga mereka penduduk biasa yang memakai seragam prajurit. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan mereka sama seperti prajurit yang membawa tombak dan pedang.

__ADS_1


“Setelah itu, mereka masuk dan mendapati sebuah ukiran tulisan di samping Patung Bola tersebut tentang perubahan manusia agar menjadi makhluk magis dan syaratnya.


“Syarat untuk menjadi makhluk magis pada jalur Gulda Gul adalah memberi patung bola tersebut persembahan berupa timbunan ratusan butir kepingan dan batu emas yang pernah dinaungi oleh seorang Pixi.


“Di luar gua tersebut para penduduk Girafan merasa curiga dan menangkap basah perilakunya karena para prajurit bawaan Galar juga berkumpul di depan gua gulda Gul. 


“Setelah itu, para penduduk Girafan menyerang para prajurit Galar. Prajurit Galar dapat menahan serangan dari para penduduk Girafan dan bahkan membunuh banyak penduduk yang terdiri dari Barinza, Silvar, dan Gulda.”


“Kenapa para penduduk Girafan bisa kalah, padahal mereka memiliki sihir dan sebagainya,” kata Edgar sambil menggaruk kepala.


“Aku juga mengetahui tentang itu,” kata Imnas, “tapi sihir milik para kaum Girafan bukanlah jenis sihir penyerang seperti sihir elemental. Ditambah lagi, Sihir para kaum Girafan hanya bersifat sementara dan hanya bisa dilakukan dalam kasus - kasus tertentu.


“Selain itu, ukuran kaum Girafan juga menjadi faktor kekalahan mereka. Sebenarnya, di wilayah magis bukit Giraf, kami memiliki banyak kuda yang kepala dan hidungnya bisa menguras tenaga. Namun karena keterdesakan dan kemarahan kaum Girafan, maka mereka tidak memakai kuda tersebut dan menyebabkan kekalahan mereka.”


“Baiklah,” Uzan mengangguk, “kami mengerti tentang itu. Jadi, bisakah kau menceritakan tentang pembantaian yang dilakukan oleh Galar terhadap penduduk Desa Sakanan ini?”


“Aku akan menyebutnya pembantaian skala kecil,” kata Imnas. “Hal ini dikarenakan pembunuhan prajurit yang dilakukan oleh Edgar hanya terjadi di sekitar pabrik emas tersebut. Galar menyewa penginapan besar yang selama dua belas harinya diperuntukkan untuk tamu - tamunya. Tamu - tamu tersebut merupakan beberapa anggota dari kaum Gulda. 


“Ketika aku dan Dubal mengunjungi pabrik tambang emas tersebut,” kata Uzan. “pabrik tersebut tutup dan terlihat kosong tanpa ada aktivitas apapun.”


Imnas merespon, “Sudah kubilang bahwa seluruh kawan Galar pada saat itu adalah makhluk magis. Maka, ia menggunakan kantung hijau kecil untuk menampung seluruh emas yang ada di pabrik tersebut. Cara kerjanya sama dengan topi penyihir yang digunakan oleh rekanmu, Pangeran Uzan.”


Imnas memandang Arika. Gadis penyihir tersebut menggenggam topi penyihirnya sejenak lalu kembali mendengarkan Imnas.


Edgar bertanya, “Lagipula, apa isi dari pabrik tersebut?”


“Isinya seperti tambang emas biasa. Mungkin orang - orang akan merasa penasaran tentang isi dari gua yang ada di pabrik tersebut, namun gua itu pada dasarnya sama seperti gua bawah tanah yang menuju ke bawah dan berisikan batuan - batuan emas.”


Uzan menggeleng. “Memang sayang sekali jika ada sumber daya emas di desa ini dan tidak difungsikan dan tidak dimanfaatkan.”


“Itu benar, pangeran,” kata Imnas. “Sebagai tambahannya, tempat itu pernah dinaungi oleh seorang pixi, jadi hal itu menjadi suatu syarat persembahan bagi Gulda Gul.”


“Begaimana ia menghubungi teman - temannya?” tanya Sara.

__ADS_1


“Pasti melalui kalung Sila” Dubal menyimpulkan.


“Tuan Dubal benar,” Imnas mengangguk. “Lewat kalung Sila karena kalung tersebut bisa menghubungkan antara manusia dengan makhluk magis di wilayah Bukit Giraf.” 


“Umm…” Edgar menggaruk kepala. “Aku ingin tanya, kenapa kau memutuskan untuk mempersilahkan kendaraan kaum royal agar bisa masuk ke sini dan bukan kaum biasa?”


“Karena kami mengira bahwa Teman Tuan Galar yang satunya adalah seorang bangsawan, jadi kami ingin agar mereka mendapatkan perilaku khusus,” Imnas menjelaskan. “Selain itu, kami juga akan senang jika desa ini dianggap sebagai desa yang memiliki predikat desa royal karena seperti yang kalian ketahui, desa ini adalah desa besar.”


Dubal dan Arika masih memandang Imnas dengan rasa penasaran. “Itu terlalu umum,” kata Dubal dengan nada datar.


Uzan memegang dagu. “Seandainya aku lebih memperhatikan tentang wilayah geografis yang ada di Dunia Namaril. Sejauh ini, aku hanya mengetahui tentang daerah sekitar istana lima kerajaan yang ada di Dunia Namaril, bukan pedesaan yang ada.”


“Itu tidak perlu kau permasalahkan, pangeran,” kata Dubal. “Kau hanya perlu belajar lebih banyak dan wilayah geografis bisa dipelajari seiring berkalannya waktu.”


“Terima kasih Dubal,” kata Uzan.


“Sama - sama, pangeran,” kata Dubal. “Selain itu, aku juga memiliki kecurigaan lain tentang kalung sila yang digunakan oleh Galar untuk dihubungi. Dengan siapa ia berhubungan, apakah akhirnya ia mendapatkan seorang pendamping berupa seorang kawan dari kalangan Gulda, Silvar, atau Barinza dari Bukit Giraf agar bisa mencapai tujuannya untuk mencuri emas di desa ini.”


Aku akan menjelaskannya lebih lanjut, Tuan Dubal.” Kata Imnas. “Sebelum itu, apakah di antara kalian bisa menyembuhkan lenganku?” Fured berdiri. “Aku baru saja mengalami kecelakaan kuda dan jatuh terjerembab sebelum datang kesini. Aku masih merasa kesakitan karena itu.”


“Aku bisa melakukannya, Tuan Imnas,” kata Sara sambil tersenyum.


Sara berdiri dari tempat duduknya dan dan menghampiri Imnas. “Syukurlah kami semua sudah baikan.”


Sebelum Sara menyentuh lengan Imnas. Kepala desa itu berdiri, berputar, dan segera meraih leher Sara dengan lengannya. Setelah itu, ia mengeluarkan pisau belati dari sakunya.


Uzan dan lainnya berdiri tercengang ketika melihat Sara dicekik oleh Imnas. Fured juga hanya berdiri di samping kepala desa seakan mendukung hal tersebut.


Sara masih meronta untuk melepaskan diri. Tapi gadis itu memelankan diri dan menghentikan usahanya untuk melepaskan diri ketika ujung pisau belati di dekatkan Imnas ke lehernya. 


“Jika kalian ingin gadis ini bebas, kalian harus memberikan kalung Sila yang kalian peroleh,” kata Imnas dengan nada mengancam.


“Kalau tidak,” Fured melanjutkan. “Dia akan mati.”

__ADS_1


__ADS_2