
“Aku tidak percaya bahwa hal ini bisa menimpa dirimu, pangeran.”
Setelah makan malam, Uzan dan Rego duduk di bangku yang tersedia ruang depan Istana.
“Aku juga tidak bisa menyangkanya,” kata Uzan datar.
“Aku tidak mengira bahwa permasalahan utama yang kau emban begitu berat,” kata Rego. “Dengan mengetahui masalah pengambilan wilayah ini, permasalahan Galar dan Ruhin menjadi tidak begitu berarti.”
“Masalah itu berdua berarti, Rego,” kata Uzan. “Apalagi jika Ruhin berhasil melakukan rencananya—apapun itu—yang akan dirugikan juga wilayah Kastala.”
“Pangeran Axel belum mengetahui tentang ini,” Rego menghela. “Tapi jika ia tahu, maka aku tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapannya.”
Uzan bersedekap. “Cerita yang kudengar tentang Galar tidak masuk akal bagiku.”
Rego menatap langit – langit sejenak. Tidak lama kemudian, ia berujar, “Sejak dahulu aku bekerja dengan Galar, ia adalah salah satu prajurit paling mencolok dalam bidang sosial dan kekuatan. Akupun juga sempat kagum kepadanya. Akan tetapi, lama kelamaan, kemampuan sosialnya itu dipergunakan untuk cara yang tidak benar. Ia menggunakan itu untuk mengumpulkan kepercayaan orang – orang yang ditujunya sehingga mereka seringkali berpihak kepada Rego ketika ada perselisihan. Walaupun, jelas saja ia yang salah.”
“Berarti kau juga pernah berpihak kepadanya?” tanya Uzan.
Yah…walaupun aku malu mengakui, aku sering juga berpihak kepadanya walaupun ia memang ada di pihak yang salah.”
“Pastinya kau tahu kenapa.”
“Itu benar,” Rego tidak menyangka seolah Uzan mengetahui apa yang dipikirkannya. “Ketika aku menjadi pihak minoritas, maka aku akan dijauhi dan diberi label buruk oleh mayoritas. Kaitannya dengan hal ini adalah bahwa ketika aku membela orang – orang yang benar ketika aku sedang ada di dalam permasalahn dengan Galar, maka aku akan langung kalah dan diberi label buruk oleh orang – orang membela Galar yang jumlahnya lebih banyak.”
Uzan mengerti tentang perkataan Rego, bahkan ia sudah sering mengalami hal tersebut.
__ADS_1
Sang pangeran meluruskan tangannya. “Hal itu akan terjadi ketika Faraq berhasil menguasai Dunia Namaril.”
“Aku sempat mencuri dengar perbincangan Raja Guvar dan Ratu Agatha tentang hal ini. Apa mungkin hal itu adalah rencana Faraq?”
“Jika aku menjadi Faraq,” Uzan menatap ke tanah, Lalu berujar. “Hal itu akan kulakukan. Barangkali Raja Guvar juga memikirkan hal yang sama.”
“Pangeran, mungkin sebaiknya kita telusuri hal – hal kecil yang berkaitan dengan tujuan Faraq,” kata Rego. “Karena menurutku, tujuan Faraq yang ingin menguasai Namaril ini terlalu jauh.”
“Aku juga sedang memikirkan hal itu,” kata Uzan. “Ketika tujuan akhir Faraq sudah kutandai dalam pikiranku, aku akan berupaya sebisa mungkin untuk mencari celah – celah kecil yang mengarah ke tujuan besarnya itu.”
“Kami para prajurit igardias juga senantiasa akan membantu untuk merebut kembali wilayah Kerajaan Kastala, pangeran,” kata Rego.
“Terima kasih,” kata Uzan. “Apa yang membuatmu berpindah dari Oslar ke Igardias, Rego?”
“Saat itu, ia memanggilku dan mengumumkan bahwa aku akan dipindahkan ke kerajaan Igardias sebagai perwakilan dari Oslar, walaupun, sejauh ini, aku belum pernah melihat perwakilan prajurit yang didatangkan dari Kerajaan lain.
“Lalu, diketahui bahwa pimpinan kerajaan Olsar ingin mempererat hubungan dan mengetahui tentang seluk beluk Kerajaan Igardias.”
“Apakah itu berarti sama dengan mata – mata?”
“Sebelumnya aku juga mengira bahwa aku akan dijadikan mata – mata oleh Kerajaan Oslar,” kata Rego. “Tapi ini ternyata ini adalah murni kerja sama. Di samping itu, tugas utamaku sampai sebelum aku dipanggil ke sini adalah untuk mengawasi Indara yang sedang dipenjara di bawah tanah.”
“Kau mengetahui tentang Indara?”
“Ia adalah salah satu penjahat yang sempat menghancurkan Istana Igardias hanya dengan satu kali serangan,” kata Rego. “Dala beberapa tahun ini, aku sudah mengawasinya dan ia terlihat baik – baik saja. Memang dia terlihat sangat lelah dan pahit karena sihirnya dinihilkan, tetapi ia mulai tampak orang tua pada umumnya.
__ADS_1
“Di samping itu, setiap dua minggu sekali aku juga berkewajiban untuk melaporkan tentang kabar Indara langsung kepada Raja Guvar dan Ratu Agatha.”
“Kira – kira, apa tujuan penugasanmu itu?” tanya Uzan.
“Aku lupa siapa yang berkata, apakah Ratu Agatha atau Raja Guvar,” ujar Rego. “Akan tetapi, salah satu dari mereka akan mengizinkan pengembalian kekuatan Indara jika ia berjanji untuk mengabdi pada istana.”
Uzan berujar, “Jika aku jadi Indara, aku akan berpura – pura untuk menyatakan kesetiaanku kepada Kerajaan Ini. Lalu, aku akan memicu pengkhianatan.”
“Pengandaian yang bagus, pangeran,” kata Rego. “Akan tetapi, Indara berkata berkali – kali bahwa ia menyesal dan inginberdiam diri dahulu karena masih teringat – ingat ketika sihir nya, kekuatannya, kepemilikannya, dihilangkan begitu saja. Hal ini menyebabkan ia menjadi sangat ragu untuk melakukan itu lagi. Atau mungkin menurutku, orang tua seperti itu sudah tidak perlu lagi kekuatan yang jika punya potensi untuk disalahgunakan kembali.”
“Sangat disayangkan,” kata Uzan. “Mungkin hal ini juga akan terjadi dengan Faraq dan para ajudannya. Sekarang, mereka sedang mulai untuk menampakkan kekuatan mereka. Akan tetapi, semoga hal tersebut tidak lama, karena pada akhirnya ia akan jatuh. Walaupun, aku tidak yakin karena kerajaan kerajaan Namaril dulunya juga merupakan hasil perebutan wilayah.”
“Aku yakin bahwa kau akan bisa melewati ini semua, angeran” kata Rego.
“terima kasih, Rego,” kata Uzan. “Apakah kau selalu berhubungan dengan Axel semenjak kau dipindahkan ke sini?”
“Masih, pangeran,” kata Rego. “Bahkan Raja dan Ratu menitahkan Pangeran Axel sebagai wakil utama untuk berhubungan denganku.”
“Untung saja ada kau untuk membantu kami, Rego,” kata Uzan. “Masalah Galar yang sedang berada di Oslar, semoga saja mereka bisa menghadapinya. Sembari menghadapi situasi dengan Faraq, ada kepingan – kepingan di pikiranku yang merencanakan kepergian untuk menuju ke Kerajaan Oslar untuk membantu Axel dan menuntaskan Galar. Tapi, mungkin aku harus bijak dan menanangkan diri untuk kegiatan selanjutnya di Istana Igardias yang baru kudatangi.”
“Itu bagus, pangeran,” Rego tersenyum.
“Oh, iya,” kata Uzan. “Tidak mungkin tidak ada peraturan khusus untukmu ketika sedang bekerja sebagai salah satu prajurit Istana Igardias.”
“Aku tidak seharusnya membuka ini, tapi karena kau adalah seorang pangeran, maka aku akan membongkarnya,” kata Rego. “Ketika dijanji setia untuk bekerja di sini, kepingan nyawaku disimpan oleh salah satu penyihir jubah hitam bernama Romeo.”
__ADS_1