Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Serangan percobaan


__ADS_3

Uzan dan Arika menghadapi ratusan kelalwar yang mengudara di sekitar mereka berdua. Suara – suara jeritan yang dihasilkan oleh para kelelawar tersebut terdengar berkali – kali.


“Arika,” kata sang pangeran. “Kita hanya harus fokus kepada kelelawar merah yang berputar –putar di sekitar ratusan kelelawar yang ada.”


“Apakah ada ide untuk menjangkau hal itu, pangeran,” tanya Arika.


“Aku akan mencoba untuk langsung ke arah kelalwar merah itu,” kata sang pangeran. “Di samping itu, kita berlindung dahulu dari serangan – serangan kelelawar yang ada di sini.”


Setelah itu, ratusan kelelawar menyebar dan segera menerjang ke arah Uzan dan Arika. Arika memancarkan cahaya dari tongkat sihirnya.


Desau Angin gemerlap kehijauan melingkupi sang pangeran dan dirinya bagaikan kubah sehingga kelelawar – kelelawar yang menyerang mereka terhempas menjauh. Sebagian dari mereka tidak sengaja mengantam bagian – bagian dinding gua dan kehilangan nyawa.


Arika masih mefokuskan untuk mempertahankan sihir kubah angin ini. Selagi gadis penyihir itu melakukan sihir, Uzan mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Ia mendapati bahwa kelelawar merah tersebut hanya melayang statis di udara dan tidak mengikuti kawan – kawannya untuk menyerang. Setelah itu, pandangan mata sang pangeran tertuju kepada kelelawar raksasa hittam yang baru saja ia ajak bicara.


Kelelawar tersebut bagaikan mengamati gerak – gerik Uzan dan Arika ketika kawanan kelelawar lain menyerang mereka berdua. Uzan merasa curiga. Apakah kelelawar raksasa tersebut sedang menunggu kubah sihir ini terbuka.


Uzan merasa bahwa pandangannya semakin kabur karena ratusan kelelawar yang berkumpul di sekitar sihir kubah Arika yang semakin agresif. Sang pangeran menakutkan bahwa ia akan kehilangan pandangan target kelelawar merah yang semakin lama semakin memudar karena ia ulai bergerak ke sana kemari.


“Arika, apakah kau bisa memunculkan ledakan angin?” Uzan berujar kepada gadis penyihir itu. “Aku membutuhkan waktu untuk menerka alokasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kelelawar tersebut.”


“Aku bisa, pangeran,” kata Arika. “Ledakan akan membuat mereka berserakan, tapi tidak dalam waktu lama. Yang kutakutkan adalah bahwa jika mereka kembali lagi untuk mengejar kita setelah kita terhempas, maka hal itu akan sangat merepotkan.”


“Kita akan mencoba hal itu dahulu, Arika,” kata Uzan. “Kita harus membuka kesempatan awal agar mengetahui tentang resiko yang akan kita dapat.”


“Baiklah, pangeran,” Arika mengangguk. Setelah itu, Arika menyalakan teapak tangan kirinya.


Angin gemerlap kehijauan mengelilingi Uzan. Setelah itu, angin tersebut memudar.


“Sihir angin yang baru saja kuberikan adalah Individu. Jika akhirnya serangan dilakukan ketika kau gagal, maka kemarilah agar bisa masuk kembali ke kubah sihir ini.”

__ADS_1


“Aku mengerti,” kata Uzan.


Arika menambah fokus pada sihirnya. Setelah itu, ia mengangkat tongkatnya ke atas. Dan meledakkan kubah Angin yang mengelilinya bersama Uzan.


Ratusan kelelawar yang mengelilingi Uzan dan Arika mulai terhempas dan berjatuhan. Beberapa dari mereka menghantam dinding. Beberapa dari mereka juga mencoba terbangun dan perlahan mengepakkan sayapnya.


Dalam keadaan itu, sihir kubah angin Arika memudar sesaat.


Pangeran Uzan langsung berlari ke arah kelelawar merah yang tampak tidak terpengaruh oleh ledakan sihir Arika.


Kelelawar tersebut hanya berdiam diri dan melayang statis di udara. Ketika melihat sang pangeran yang berlari sembari mengercah sungai ke arahnya.


Beberapa kelelawar yang mulai ternagun dari jatuhnya menerjang dan menukik ke arah Uzan. Namun sang pangeran menebas mereka satu per satu dan masih berlari.


Pangeran Uzan sudah sampai ke dekat kelelawar merah. Ia melompat dan bersiap untuk menebaskan pedang.


Ketika puluhan kelawar berkumpul di depannya, Uzan menebas – nebaskan pedangnya berkali – kali ke depan dengan agar mereka menyingkir dan agar ia bisa kembali ke tempat Arika yang sudah kembali megaktifkan sihir kubah angin yang dimiliknya.


Desau angin kehijauan nampak di sekitar Uzan dan menandakan kekebalan sementara terhadap serangan angin. Tapi Uzan sendiri terlalu sibuk untuk memperdulikannya. Ia hanya ingin kembali ke tempat Arika dan memngatur kembali strategi.


Beberapa saat kemudian, Uzan sudah masuk ke kubah angin milik Arika.


“Bagaiman hasilnya, pangeran?” tanya Arika.


“Tidak berhasil,” Uzan terengah dengan nada kecewa. “Tapi aku memperoleh maklumat penting.”


“Maklumat tentang apa?”


“Bahwa kelelawar itu sekarang hanya terbang statis di bagian seberang sungai di sana,” kata Uzan sambil menunjukkan arah kelelawar merah. Arika harus memicingkan mata karena ratusann kelelawar masih berkumpul di sekitar kubah sihir anginnya.

__ADS_1


“Di samping itu,” Uzan melanjutkan. “Kelawar raksasa tersebut sepertinya memperhatikan gerak – gerik kita dan seakan ia membuka peluang bagi kita untuk membunuh kelelawar merah tersebut.”


“Aku lihat bahwa kau dihantam oleh kelelawar raksasa itu,” kata Arika. “apakah kau baik – baik saja?”


“Aku baik – baik saja, Arika,” kata Uzan. “Aku punya firasat bahwa hantaman itu bukanlah apa – apa.”


Arika melirik pangeran yang sedang berdiri di sampingnya. Ia bersyukur bahwa sang pangeran tidak apa – apa dan sihirnya berfungsi. Namun ia melihat bahwa sang pangeran tidak terluka sedikit pun. Bagaimana ia melakukannya, ia juga tidak mengerti. Tapi ia takjub.


“Apakah kau memiliki ide lain untuk mematikan kelelawar merah tersebut, pangeran?” kata Arika.


“Aku memiliki Ide lain,” kata Uzan. “Apakah kau bisa meluncurkan aku dengan kekuatan anginmu ke arah kelelawar itu, Arika?”


“Aku bisa pangeran Uzan,” kata gadis penyihir tersebut. “Akan tetapi, apakah sebaiknya kau memakai kendaraan udara yang mirip seperti ketika kita menghampiri Fatta dan Fured di desa Sakanan?”


“Itu mungkin bisa, Arika,” kata Uzan. “Tapi hal itu menimbulkan resiko akan diserangnya diriku oleh ratusan kelelawar yang ada di sekitar kita ini. Di samping itu, aku yakin bahwa minimnya luka yang kualami adalah sebuah keberuntungan. Jika kau bisa meluncurkankanku dengan cepat ke arah kelelawar merah yang sedan terbang tetap di seberang sungai itu dan aku berhasil membunuhnya, maka ujian ini akan terasa cepat tanpa harus meninggalkan luka.”


“Bagaiman dengan kelelawar raksasa yang sedang bertengger di sampingnya, pangeran Uzan?”


“Kau tidak perlu kahwatir, Arika. Uzan menghela. Jika aku berhasil untuk membunuh kelelawar itu, niscaya kelelawar raksasa itu akan menyesuaikan diri. Mungkin aku akan menghantamnya dengan gagang pedanku. Tapi mari kita laksanakan rencana kita dengan cepat agar kita bisa menghemat waktu dan tenaga.”


Arika mengangguk. “Baiklah, pangeran.”


Setelah itu, Arika kembali mengangkat tongkat sihitnya yang dipendarkan dengan warna hijau yang semakin terang sehingga menghempaskan ratusan kelelawar yang mengelilinginya.


Setelah itu, kubah sihir Arika memudar. Menyisakan dirinya dan Uzan yang untuk sementara bebas dari kekhawatiran akan diserang oleh sekelompok kelelawar tersebut.


Setelah itu, Arika menyalakann tngkat sihirnya kembali. Perlahan kerlipan angin kehijauan mengelilingi sang pangeran.


Beberapa saat, Uzan terbang melesat cepat ke arah kelelawar merah sembari bersiap untuk menebaskan pedangnya.

__ADS_1


__ADS_2