Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Fashback (2/2) + End of Flashback


__ADS_3

(1)


Hari berganti hari. Para Gulda penyamar sebagai pria bertopi Cowboy masuk ke Desa Sakanan dengan membaur bersama para pendatang lainnya. Namun kali ini, Imnas palsu yang menjadi kepala desa tersebut memberikan sortir bagi para pengunjung yang menggunakan kendaraan. Selain pengunjung yang memiliki darah bangsawan, mereka tidak diperbolehkan masuk ke wilayah Desa Sakanan. Alasannya adalah bahwa Desa Sakanan sudah berubah menjadi desa yang menghargai darah Royal karena adanya Pabrik emas langka yang ada di desa sakanan.  


Ketika kedatangan Fatta kesembilan datang ke penginapan Galar, sang prajurit bertanya perihal kepa desa. “Sampai kapan Imnas palsu itu tinggal di sini?” 


Fatta menjawab, “Seumur hidup,”


(2)


Pada Hari kedua belas, Fatta terakhir datang. Setelah Galar menghampiri pintu dan memeriksa tanda cahaya di jarinya. Fatta itu berkata, “Aku adalah Fatta terakhir, Tuan Galar.”


“Aku tahu itu,” kata Galar.


“Kapan kita akan mengambil emasnya?”


“Jika kau ingin melaksanakan tujuanmu sekarang, aku akan memanggil para Fatta lain.”


“Baiklah, aku ingin melaksanakan tujuanku sekarang.”


Fatta itu mengangguk. Setelah itu, ia menengadahkan tangannya. Kesebelas Fatta lain keluar dari kamar mereka. 


Galar mempersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Beberapa saat kemudian, Fatta terakhir ikut duduk.


Setelah Galar duduk, ia membicarakan tentang maklumat tentang Pabrik tambang emas yang akan mereka rampas. Galar menggeram ketika ia hanya bisa mengatakan bahwa pabrik tersebut tidak boleh dimasuki oleh siapapun, namun salah satu Fatta tidak mempermasalahkan hal itu karena mereka akan merampas tempat itu secara paksa. 


Selain itu, Galar juga berbicara tentang maklumat dari Fured bahwa situs tersebut juga pernah dinaungi oleh seorang pixi. Para Fatta setuju, namun ketika Galar menanyai tentang perihal Pixi tersebut, tidak satupun mereka berkata, namun akhirnya salah satu dari mereka setuju untuk membicarakan tentang Pixi yang dimaksud setelah perampasan sudah dieksekusi.


(3)


Siang itu, Galar menunggang kuda ke arah pabrik emas sembari diikuti oleh para Fatta yang mengekor di belakangnya. 


Para warga desa yang berlalu lalang di sekitar lokasi tersebut terheran – heran saat melihat seorang prajurit asing yang diikuti oleh dua belas orang bertopi Cowboy yang berbaris rapi di belakangnya.

__ADS_1


Galar mengamati kondisi pabrik itu sejenak. Pabrik tersebut dimasuki oleh para pekerja yang berlalu lalang keluar masuk dari lokasi. Sekali lagi, sang prajurit Oslar juga tidak mengerti tentang mengapa orang asing yang melakukan penelitian di pabrik ini tidak diperbolehkan untuk masuk. 


Salah satu Fatta maju dan mendekatkan kudanya ke Galar. “Jadi, ini pabrik tambang emasnya ya?”


“Itu benar,” kata Galar. “Sekarang, kita akan menyerang pabrik tersebut. Kalian sudah siap?”


“Sudah!”


Setelah itu, Fatta yang ada di dekat Galar bertepuk tangan dua kali. Lalu, kesebelas Fatta yang lainnya, mengangkat kuda mereka sambil meringkik keras. 


Setelah itu, Mereka semua menerjang Pabrik tersebut.


Pembantaian tersebut dilakukan karena adanya Aura Alam Magis disekitar pabrik tersebut sehingga mereka bisa meminimalisir orang yang mengetahui bahwa sedang terjadi pembantaian para pegawai pabrik emas tersebut yang terjadi. 


Fatta yang masuk ke pabrik tersebut jumlahnya hanyalah enam. Enam lainnya membuat Huru – hara diluar pabrik sambil mencegah para prajurit Desa Sakanan masuk. 


Para penduduk Desa Sakanan ribut dan beberapa dari mereka melapor ke pihak yang berwenang di Desa Sakanan.


Galar dan para Fatta berhasil memasuki pabrik emas tersebut. Ketika ia melihat di dalamnya, terdapat berbagai macam alat dan mesin tambang dan banyak kepingan emas yang ada di dalam pabrik tersebut selayaknya pabrik pada umumnya. Bedanya adalah, terdapat sebuah gua putih yang ada di dalam pabrik tersebut. 


Setelah itu, ia memasuki gua sumber emas tersebut bersama para Fatta.


Setelah lama kemudian, Galar keluar dari pabrik tersebut menyaksikan ratusan prajurit yang mati, kobaran api yang tersulut di perumahan tersebut, juga berbagai properti yang rusak karena para Fatta sudah menghancurkan mereka.  


Salah satu Fatta turun dari kudanya, lalu ia mengambil sebuah kantung kecil dari sakunya, lalu melemparnya. Kantung tersebut melayang. Setelah itu, ia mengulurkan tangannya ke arah pabrik sambil menengadahkan tangannya.


Perlahan – lahan, ratusan butiran emas melayang dari pabrik tersebut dan memasuki kantung hijau tersebut. Galar juga menyaksikan pengambilan emas tersebut dengan seksama. 


Beberapa saat kemudian, butiran emas tersebut habis. Kantung hijau tersebut bercahaya emas lalu cahaya emas tersebut redup. Kantung tersebut melayang ke arah Galar.


Sang prajurit mengamati saku tersebut dengan seksama, lalu ia menyeringai. “Aku sudah mendapatkan bahan persembahan yang aku butuhkan.” 


Pabrik emas tersebut segera hancur seketika dengan puing – puing bangunan yang tertimbun dan mengelilinginya.

__ADS_1


    


(4)


Fured mendapati kejadian tersebut. Ia berseru, “Tuan Galar, apa yang telah kau lakukan?”


Galar menoleh ke arah Fured. Tanpa sepatah katapun, sang prajurit langsung memacu kudanya ke arah Fured dan menghantam petugas itu sampai ia terpental dan menghantam dinding.


“Ini tidak ada hubungannya denganmu, Fured,” kata Galaa. “Aku sudah memperoleh keperluanku di desa ini. Persembahan bagi keperluanku yang lebih utama. 


Fured mendengar perkataan Galar, namun ia tidak kuasa menahan tubuhnya. Darah mengalir dari bibirnya. Ia langsung tergeletak tak sadarkan diri.


“Sudah mati, ya?” Galar mendekati tubuh Fured dan bersiap menghujamkan tombaknya. “Aku kira itu sudah cukup. Kudaku memang tidak sehebat kuda para Fatta yang memiliki kekuatan konyol di hidungnya, namun kurasa ini cukup.”


Beberapa saat kemudian, para Fatta berkumpul dengan kuda mereka di hadapan Galar. Salah satu dari mereka berujar, “kau sudah mendapatkan mendapatkan keperluanmu untuk persembahan, Tuan Galar.”


“Itu memang benar,” Galar menyeringai. “Setelah ini, kita akan langsung pergi dari desa ini.”


“Salah satu Fatta berujar, “Aku ingin mengulang maklumat keapdamu bahwa kepala desa di wilayah ini adalah Fatta palsu.”


“Aku sudah mengerti,” kata Galar. “penguasaan wilayah ini sudah menjadi hak kalian. Aku hanya ingin memperoleh seluruh emas untuk persembahan kepada Gulda Gul. Jadi, aku tidak perduli.”


“Baiklah, itu bisa kami mengerti.”


“Di samping itu, aku juga ingin mengatakan kepada kalian bahwa aku akan mempersembahkan emas ini,” Galar menunjukkan kantung hijau kecil yang dipegangnya. “,pada waktu tertentu, sehingga aku juga tidak akan langsung menuju bukit Giraf untuk memberikan ini kepada Gulda Gul. Jadi, aku harap bahwa kalian berdua belas harus selalu setia kepadaku. Kalian mengerti?”


Terdengar geraman ketidaksukaan dari para Fatta. Salah satu dari mereka bertanya, “Sebenarnya, apa maumu?”


“Setelah memantau keadaan yang ada di gua tambang emas itu, “Galar menghela. “Aku akan memantau perkembangan dan memantau keinginan – keinginan yang timbul di dalam benakku dahulu. Selain itu, kalian juga harus siap untuk tetap setia menjadi pengikutku.”


Seluruh Fatta menggeram. Setelah itu, salah satu dari mereka segera menyetujui. “Baiklah, kami berdua belas akan selalu setia kepadamu, Tuan Galar.”


“Terima kasih,” Galar menatap para Fatta dengan tatapan serius. “Sebagai pemimpin, aku tidak akan bertindak gegabah.”

__ADS_1


Setelah itu, Galar dan para Fatta memacu kuda mereka dan keluar dari Desa Sakanan. 


 


__ADS_2