
Rena memasuki kamar ayahnya. Di sana, ia melihat Bola Ramal yang melayang rendah di dekat tempat tidurnya.
Biasanya, Kamasa bisa melakukan pembaruan dengan sihirnya tentang kegiatan yang dilakukan sehari – hari sebelum tidur. Layaknya memori. Dan orang – orang tertentu, termasuk Rena, bisa memasuki Bola Ramal itu.
Beberapa saat kemudian, Rena memunculkan tongkatnya. Sebagai seorang penyihir Hizarzia, ia sudah tidak diwajibkan untuk munggunakan tongkat dan topi penyihir. Karena ketika seorang penyihir sudah menempati tingkat Magnasia tingkat atas, maka ia bisa menyalurkan kekuatan sihirnya tanpa alat sihir. Walaupun, beberapa penyihir memang masih menggunakan tongkat dan topi penyihir untuk keperluan situasional.
Setelah mengeluarkan tongkat sihirnya, Rena mengarahkannya ke depan, lalu membaca mantra. Setelah itu, gadis penyihir itu segera pecah menjadi ratusan cahaya kecil dan memasuki Bola Ramal tersebut.
-
Rena sedang berdiri di sebuah taman luas. Ia melihat sekeliling, pepohonan berjajar melingkar di di sekelilingnya. Ia juga sedang memijak rerumputan hijau subur. Selain itu, ia juga merasakan sinar mentari memancarkan teriknya, memberikan kehangatan.
Tiba - tiba, Kamasa muncul dari ketiadaan. Ia memakai jubah abu - abu, umurnya yang sudah uzur terlihat dari raut mukanya yang keriput serta kumis dan jenggot putih yang dimilikinya. Ia juga mengenakan topi penyihir dan menggenggam tongkat
Kemudian, dari ketiadaan, muncullah Faraq dan para penyihir berjubah hitam. Rena tidak bisa mengenali mereka karena tudung yang mereka kenakan, kalung hijau juga terpasang di masing - masing leher mereka.
Rena menghela, mengamati Kamasa, Faraq, dan para penyihir itu.
Di dalam Bola Ramal ini, ia hanya bisa memandang hal - hal yang terjadi tanpa bisa mencegah. Lagipula, orang - orang yang sedang ada di hadapinya tidak akan mungkin bisa mendengarnya karena yang sedang Rena lihat sekarang adalah masa lalu.
Sekilas, gadis penyihir itu tahu bahwa Istandi benar tentang kerjasama antara Faraq dan para penyihir bertudung itu. Tapi seberapa benar? Bagaimana relasinya dengan Kamasa?”
“Ternyata benar,” Rena mendesis dengan tatapan tajam. “Apa yang sedang Faraq lakukan?”
Faraq berhadapan dengan Kamasa di taman itu. Dibelakangnya, para penyihir bertudung berdiri sejajar.
“Kau sudah disumpah setia untuk menjadi petinggi, Faraq!” kata Kamasa dengan nada marah.
“Oh, ya?” kata Faraq. “Aku sudah tidak punya alasan masuk akal untuk patuh kepada raja Endan.”
Kamasa mengarahkan tongkatnya kepada Faraq. “Jangan bilang bahwa dirimu yang sebelumnya adalah pegawai istana biasa, bertujuan untuk menguasai Kastala setelah diangkat menjadi petinggi.”
“Itu benar,” kata Faraq. Seolah ia tidak merasa keberatan untuk mengutarakan kejujurannya. “Aku sudah bisa membuktikan bahwa diriku bisa melakukan mencapaian tinggi ini. Selain itu, dengan menjadi petinggi bagian hubungan antar wilayah, aku bisa mempelajari banyak hal. Sayang sekali bahwa hal - hal yang aku pelajari akan kugunakan untuk menguasai Kerajaan Kastala.”
“Kau tidak bisa sesuka hati mengubah sistem kerajaan, Faraq. Raja Endan adalah pemimpin kerajaan Kastala. Pangeran Uzan adalah penerusnya. Kau juga sudah tahu bahwa di Kastala, seorang petinggi tidak diperbolehkan menjadi pimpinan, walaupun ditunjuk oleh sang raja sendiri.”
“Kau terlalu banyak bicara, Kamasa,” Faraq mendecih. “Aku sudah tahu bahwa sistem kepemimpinan Kerajaan Kastala adalah melalui keturunan dan titah raja yang tidak ditujukan untuk para petinggi.
__ADS_1
“Akan tetapi, yang aku inginkan sekarang bukanlah menjadi Raja dari Kerajaan Kastala,”
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin menjadi Raja di dunia Namaril, menjadi orang yang berdiri di atas semua Kerajaan.”
“Apa maksudmu?”
“Semenjak perang Frederik, aku memperhatikan bahwa Kerajaan Kastala memiliki potensi untuk menguasai seluruh dunia. Perang yang terjadi antara di beberapa kerajaan terdahulu, jika kutilik dengan pengetahuanku tentang hubungan antar wilayah ini, sangatlah mengecewakan.”
“Kau masih membahas tentang Perang Frederik?” kata Kamasa dengan nada murka.
“Baiklah aku tidak akan membahasnya,” kata Faraq dengan nada menghina. “Jika kau murka ketika aku ingin menjelaskan tentang rencanaku, maka aku tidak akan menjelaskannya.”
Kamasa terdiam sambil menggertakkan gigi.
“Hal penting yang akan kulaksanakan kali ini adalah mengusir pangeran Uzan dari Istana,” kata Faraq. Jika si kecil itu sudah pergi, maka dengan mudah aku akan menjalankan rencanaku. Di samping itu, apakah kau mengetahui tentang tujuanku bertemu denganmu di sini?”
“Aku tidak tahu tentang tujuanmu bertemu denganku di sini, Faraq,” kata Kamasa dengan tajam. “Tapi aku harus membasmi orang – orang sepertimu, orang – orang yang ingin mengkhianati Kerajaan Kastala.”
Setelah itu, Kamasa mengangkat tongkatnya ke atas. Pusaran badai air melingkarinya, Faraq, dan para penyihir di belakang Faraq.
Karena itu, Rena menggulirkan bola air yang melingkup dirinya menjauh dari tempat tersebut.
Setelah dilihat dari dekat, jumlah penyihir yang sedang bersama Faraq berjumlah lima. Mereka semua memakai kalung berbatu hijau. Salah satu mereka menyalakan telapak tangan mereka untuk melindungi Faraq, sehingga, petinggi itu serta para penyihir bertudung tidak terpengaruh oleh badai air yang diciptakan oleh Kamasa.
“Aku akan serahkan kepadamu,” kata Faraq.
“Salah satu penyihir Faraq maju, ia memunculkan sebuah tongkat sihir di genggamannya, lalu mengayunkannya. Sebuah bola api meluncur ke arah Kamasa.
Kamasa hanya perlu mengayunkan tongkatnya. Bola api tersebut lenyap. Setelah itu, ayah Rena menyalakan telapak tangan kirinya. Ratusan tombak air terbentuk dari ketiadaan dan mengelilingi Faraq dan para penyihir di sekitarnya. Lalu, tombak – tombak tersebut melesat cepat ke arah mereka. Salah satu penyihir Faraq menyalakan telapak tangannya. Kemudian, ratusan tombak air tersebut langsung sirna.
Kamasa tidak berkomentar tentang lenyapnya serangannya. Satu orang penyihir yang diabaikannya menyalakan tongkatnya. Sebuah bola api berputar di atasnya. Lama kelamaan, api tersebut menggumpal, lalu berpecah menjadi ratusan bola api kecil yang seluruhnya melesat ke arah Kamasa.
Kamasa mengayunka tongkatnya, lalu serangan penyihir itu menghilang. Ia berujar, “Selama pusaran badai air di sekitarku ini aktif, aku bisa menihilkan serangan apapun dengan satu ayunan tongkat.”
Kemudian, Kamasa mengarahkan tongkatnya ke arah penyihir itu. Perlahan, penyihir api itu terlingkup sebuah bola air. Di dalamnya, ia kesulitan bernafas. Bahkan ia tidak bisa melakukan sihir api.
__ADS_1
Ketika serangan Kamasa mengenai penyihir tersebut, ia juga memperhatikan kalung batu hijau yang sedang dikenakan oleh penyihir api tersebut. Ia merasa penasaran. Lalu memutuskan untuk segera menjatuhkan penyihir api tersebut.
Kamasa menyalakan tongkat sihirnya kembali. Sebuah palu air besar terbentuk di atas bola air yang melingkup penyihir api yang sedang terjebak di sana. Kemudian, palu air besar itu menghantam bola air itu dengan keras, menyebabkan penyihir itu tidak sadarkan diri.
“Sial!” geram Faraq yang masih berjarak dengan Kamasa. Empat penyihir yang sedang bersamanya masih dalam keadaan siap siaga. “Tidak heran dengan sebutanmu sebagai penyihir terkuat di Kastala.”
Pusaran badai air masih memutar cepat mengelilingi mereka menyebabkan angin riuh yang memadati ruangan di dalamnya.
Kamasa, Faraq, serta para penyihir bertudung tersebut tampak tidak begitu terpengaruh dengan lingkungan itu. Akan tetapi, Rena tidak habis pikir bahwa Bola Ramal yang sedang ditempatinya ini punya pengaruh lingkungan yang besar sehingga ia kesulitan mengamati apa yang terjadi. Ia hanya mengetahui sekelebat pertarungan antara ayahnya dan salah satu penyihir Faraq. Kemudian, ia mendapati bahwa ayahnya menang.
Kamasa berjalan menghampiri penyihir api yang baru saja dikalahkannya. Lalu, ia mengambil kalung batu hijau yang sedang dikenakan oleh penyihir itu.
Ketika Kamasa menggenggam kalung batu hijau tersebut, tiba - tiba, batu hijau tersebut berpendar terang dan melepaskan diri dariu genggaman Kamasa.
Badai sihir yang yang berpusar di sekitar Kamasa lenyap seketika.
“Apa yang terjadi,” Kamasa terkejut.
Karena Badai sihir Kamasa telah reda, Rena menihilkan sihir bola air miliknya dan segera mendekati ayahnya dan berujar, “Ayah!”
Kamasa tidak mendengarkan perkataan putrinya. Ia hanya menatap batu hijau tersebut dengan rasa takjub dan penasaran. Bahkan rasa marahnya kepada Faraq sirna.
Beberapa saat kemudian, Kamasa merasa seolah kedua tangannya sedang dikendalikan. Kedua tangannya mencekik lehernya sendiri sampai tongkat sihirnya lepas dan ia terjatuh.
“Ayah!” Rena berseru. Ketika melihat ayahnya sedang mencekik dirinya sendiri, ia merasa kkhawatir. Bahkan, ia berusaha untuk duduk dan memegangi tubuh ayahnya. Namun yang disentuhnya hanyalah udara.
Hal ini membuat Rena kesal. Jika serangan sihir dan pengaruh lingkungan bisa dirasakannya, mengapa bahkan ia tidak bisa menyentuh ayahnya?
Rena mencoba meraba- raba tubuh ayah nya yang masih mencekik dirinya sendiri. Kalung batuan hijau yang baru saja digenggamnya masih melayang.
Beberapa saat kemudian, Faraq dan para penyihir ajudannya datang menghampiri Kamasa yang sedang sekarat karena cekikannya sendiri. Ia menyeringai. Para penyihir ajudannya tertawa.
Melihat itu, Rena mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Faraq, lalu menembakkan bola air. Namun, serangan itu hanya melewati tubuh petinggi itu. Hal ini membuat gadis penyihir itu sangat geram sekaligus khawatir.
Beberapa saat kemudian, Kamasa berhenti bergerak. Matanya terbelalak. Ia sudah berhenti bernafas.
“Aku hanya membutuhkan topi penyihir milik Kamasa,” Faraq mengambil topi penyihir milik Kamasa sambil menepuk – nepuknya. “Lagipula, Kamasa sudah mati.”
__ADS_1
Mendengar itu, Rena tertegun. Perlahan, air mata membasahi pipinya. Sambil menatap ayahnya yang sudah tidak bernyawa, ia berseru, “Tidak mungkin!”