Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Persiapan Pergi Bertugas


__ADS_3

Di gerbang perbatasan pemukiman Istana Kastala, Uzan dan lainnya sudah berkumpul bersama Raja Endan dan prajurit lainnya. Mereka sedang menunggu Faraq untuk menunggu instruksi selanjutnya sebelum diadakannya pelepasan.


Uzan mengenakan baju abu - abu dengan kaos rantai besi dengan celana putih panjang dan sepatu hitam. Pedangnya menempel di punggungnya.


Edgar mengenakan pakaian prajurit utama yang terdiri atas seragam besi merah. Ia membawa tas yag dipenuhi dengan bekal yang dari Raja Endan dan Tuan Odd. Ia berdiri disana sembari membawa tombak.


Sara mengenakan jubah lengan panjang berwarna putih dan semacam syal berwarna biru muda yang melingkar di dadanya.


Endan mulai menyapa, “Jadi, kau sudah menemukan teman – teman untuk dibawa bersamamu, ya?”


“Sudah, ayah!” kata Uzan dengan yakin. “Kami bertiga sudah siap.”


“Prajurit tingkat atas dan Klerik. Edgar dan Sara.”


Edgar dan Sara membungkuk sebagai tanda hormat.


“Aku kenal mereka, mereka teman – teman masa kecilmu bersama Rena, Sang Petinggi.”


Rena mengangguk sambil tersenyum.


“Semoga kami bisa menjalankan tugas ini dan mengembalikan kerajaan Kastala seperti sedia kala, wahai Baginda.” Sara berujar sambil berharap.


“Tentu saja, Baginda!” kata Edgar dengan semangat “Aku tahu bahwa aku adalah prajurit terkuat. Baginda tidak perlu khawatir.”


Endan tersenyum. “Kalian tahu bahwa kita di sini tidak untuk bernostalgia. Namun, untuk pelepasan bagi kalian yang akan menjalankan tugas pencarian material magis yang kemarin sudah diterangkan oleh tuan Faraq.”


“Wahai, Baginda,” kata Rena. “Maksud kedatangan saya sendiri kesini. Selain untuk menemani Uzan dalam pelepasan perjalanan ini, juga untuk mengawasi tentang sihir macam  apa yang tuan Kamasa berikan kepada Faraq.”


“Kau tidak perlu khawatir tentang itu, Rena!Kamasa memang lebih mempercayai Faraq karena setelah menjadi penasehat, ia lebih sering berdampingan dengan Faraq,” kata Endan, “selain itu, Kamasa pernah memberitahuku bahwa ia tidak ingin menganggumu dalam aktivitasmu untuk mengembangkan kualitas penyihir dan Klerik di Istana.”


Rena mengangguk. “Baiklah, Baginda.”


Faraq datang dengan kereta kuda dan turun.


“Heh!” Sang petinggi menyeringai, “Jadi, pangeran Uzan memutuskan hanya dua orang ikut untuk melaksanakan tugas ini ya? Keputusan yang bijak.”


“Jadi..” kata Endan, “kita akan sekarang melakukan pelepasan Uzan dan lainnya agar bisa memulihkan kerajaan ini.”


“Itu benar,” kata Faraq.


“Apa kau membawa Perkamen yang kau janjikan ketika rapat kemarin?” tanya Rena.


“Tentu saja,” kata Faraq sambil menjentikkan jari. Seorang prajurit membawa sebuah kotak kecil yang dia ambil dari kereta kuda dan segera menyodorkannya kepada Faraq.


Faraq merapal mantra pendek. Setelah itu, peti tersebut terbuka. Lalu sang petinggi mengambil kertas perkamen yang masih tergulung dari kotak itu.

__ADS_1


“Rapalan mantra hanya bisa diakukan oleh penyihir tingkat tinggi. Bagaimana kau melakukannya, Faraq?” kata Rena. “Kau bahkan bukan penyihir.”


“Rena, Kau harus tahu bahwa aku dan ayahmu bekerja berdampingan dan…” kata Faraq. “Kamasa memiliki sihir khusus untuk mengirimkan kekuatan sementara ke bangsa non penyihir.”


“Kau tidak perlu meragukan ayahmu sendiri, Rena.” kata Endan menenangkan.


“Baiklah, baginda,” kata Rena, namun penyihir wanita itu masih memperhatikan Faraq dengan hati – hati.


Sambil mengnggenggam perkamen tersebut, Faraq memberi instruksi, “Jadi, Pangeran Uzan harus menengadahkan kedua tangannya. Aku akan letakkan perkamen ini di atas kedua tangannya. Setelah itu, Uzan harus memejamkan mata dan berniat dalam hati bahwa ia siap untuk mencari material – material magis itu.”


“Baiklah,” Uzan mulai melangkah maju, merentangkan tangannya ke depan dan menengadahkan kedua telapak tangannya. Faraq meletakkan perkamen tersebut di atas kedua telapak tangan Uzan.


Setelah Uzan mengangkat perkamen tersebut, ia meyakinkan diri di dalam pikirannya dan bersiap untuk mencari material – material magis tersebut.


Beberapa saat kemudian, cahaya putih berpendar lemah dari perkamen tersebut dan meredup kembali.


Uzan membuka matanya dan memberikan gulungan perkamen tersebut kepada Faraq. Setelah itu, Faraq meletakkan gulungan perkamen tersebut di atas tanah.


Gulungan perkamen tersebut Menggulung terbuka di atas lantai. Kemudian, sebuah cahaya memancar.


Deretan tulisan kehijauan melayang – layang di udara.


Pertama ..-..-.. Kain Kagigar Perak


Kedua..-..-..Rivata


Keempat..-..-..Lumina


Kelima..-..-..Kepala Sentafal


Beberapa tulisan tersebut perlahan memudar. Meninggalkan tulisan ‘Kain Kagigar Perak’ yang masih mengudara. Setelah beberapa saat, warna tulisan ‘Kain Kagigar Perak’ berubah menjadi bola keemasan.


Uzan menengadahkan telapak tangannya. Lalu cahaya emas itu melayang di atasnya. Setelah itu. Uzan menggenggam cahaya itu. Setelah itu cahaya tersebut sirna menjadi ratusan keping cahaya kecil yang berpencar dan menghilang.


Beberapa saat kemudian, perkamen tersebut langsung menggulung dengan sendirinya. Faraq mengambilnya dan mengembalikannya kepada Uzan.


Hal – hal yang baru saja terjadi diperhatikan dengan seksama oleh Rena.


Faraq kembali berkata, “Sang Penyihir Kamasa berpesan kepadaku bahwa gulungan ini akan membuka dengan sendirinya ketika kau meletakkannya di atas tanah, berikut dengan  material magis yang telah kau dapatkan tepat di sampingnya. Mengerti?”


Uzan mengangguk. “Mengerti.”


“Setelah itu, material tersebut akan langsung terkirim ke Istana. Kalian tidak akan bisa memunculkan material lainnya yang dibutuhkan secara terpisah, karena gulungan perkamen magis ini memunculkan material – material yang dicari secara berurutan. Sampai sini, apakah kalian sudah paham?”


Uzan membuka matanya lalu memegang keningnya. Setelah itu, ia berkata “Entah kenapa, aku bisa tahu di mana arah material magis Kain Kagigar perak ini.

__ADS_1


Faraq menambahkan, “Itu berarti bahwa kau sudah berniat untuk menemukan material – material yang dibutuhkan, pangeran Uzan. Pastinya kau tahu kemana arah untuk menemukannya.


“Secara berangsur – angsur, ingatanmu akan bertambah sesuai dengan material magis yang sudah kalian bertiga kumpulkan.”


Endan berujar, “Baiklah, sudah kupersiapkan dua kuda untuk mempercepat perjalanan kalian. Untuk dua puluh hari ini, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk menghadapi bencana ini sambil menunggu hasil pencarian kalian.”


“Terima kasih, ayah!” kata Uzan “Edgar, Sara, Ayo!”


“Ya!” kata Edgar dan Sara bersamaan. Setelah itu, Sara berujar “Semoga kami selamat, wahai Baginda Raja.”


Endan Mengangguk sambil tersenyum.


Uzan dan Edgar menaiki kuda yang sudah disediakan. Setelah itu, Sara menaiki kuda Uzan dengan duduk menyamping di belakang sang pangeran.


Setelah itu, kedua kuda itu dipacu dan segera berlari.


“Ini menyebalkan” Rena mendengus kesal sambil berbisik keras “Kenapa ayah tidak memberi tahu itu padaku?”


“Kamasa sangatlah cerdas!” kata Endan sambil memandang Uzan dan teman - temannya dengan perasaan bangga. “Betapa ia tanggap cepat untuk mencari solusi. Tidakkah kau juga berpikir begitu, Faraq?”


“Tentu saja, Baginda” kata Faraq.


“Aku harap Uzan, sebagai penerusku  bisa melakukan tugas ini dan kembali dengan selamat. Tugas ini akan menjadi pengalaman kesekian kalinya sebagai seorang pangeran. Kamasa memang benar. Secara, dia adalah calon raja.”


Faraq tersenyum. “Aku juga mengharapkan yang terbaik, Baginda.”


“Mari kita kembali ke Istana untuk mempertahankan kerajaan selagi mempertahankan kerajaan ini dengan apa – apa yang kau bisa.”


Sang raja segera masuk ke kereta kencana khusus. Lalu, prajurit yang mengendarainya segera memacu kudanya sehingga mereka berdua kembali ke istana.”


“Faraq,” tanya Rena, “Kau bilang bahwa kau sering bekerja berdampingan dengan ayahku, kan?”


“Iya,” kata Faraq, “Tidak bisa diragukan lagi.”


“Lalu katakan,” Rena menatap Faraq dengan tajam. “Di mana Ayahku sekarang?”


Faraq hanya tampak terheran melihat kelakuan Rena. “Tuan Kamasa sedang ada di kerajaan Oslar dan sedang mengikuti perundingan tentang kerja sama antar kerajaan diseluruh penjuru Namaril”


“Bencana gempa ini sangat parah, kan? “Mengapa ia tidak langsung pulang ke Istana dan bicara langsung kepada raja perihal penyelesaian masalah ini?”


“Ayahmu adalah seorang penasehat yang sangat dipercayai Raja.” Faraq menenangkan diri ketika membalas tatapan penyihir itu. “Ayahmu adalah seorang penasehat yang sangat dipercayai Raja. Kamasa bisa saja pulang kemari dan menyerahkan hal ini kepada Uzan. Namun tidak bisa dipungkiri, ia sangat perduli pada Istana."


“Aku bisa percaya kepada ayah,” Rena menekankan,” Setelah kau abaikan hasil rapatku dengan para penyihir pada rapat cepat kemarin, aku belum bisa mengatakan bahwa aku mempercayaimu dengan pasti.”


“Ketidakpercayaanmu sangatlah membahayakan,” Faraq menghela sambil mengedarkan pandangan. “Bahkan Raja Fadion kehilangan nyawa karena sifat abainya terhadap sebuah kepercayaan.”

__ADS_1


Petinggi itu lekas menaiki kereta kuda dan segera memerintahkan prajurit yang mengendarinya untuk untuk segera pulang.


Penyihir wanita itu hanya memandang Faraq yang mulai pergi menjauh ke arah pemukiman Istana.


__ADS_2