Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Mengetahui Cara Fatal


__ADS_3

Golem itu menngeluarkan suara raungan sambil menghantamkan genggaman telapak tangannya secara bergantian. Raksasa bertubuh sebesar bangunan empat lantai tersebut tampak sangat ingin menghancurkan Sang Pangeran dan kawan – kawannya.


Setelah memasang kembali kalungnya, Malvin menyalakan cahaya putuh di telapak tangan kanannya. Kemudiann, ia melayang di samping golem tersebut. Setelah itu, ia menjentikkan telapak tangannya. Seketika kalung yang terpasang di leher Hikin bergerak ke arahnya, menarik paksa pemakainya.


Akhirnya, Hikin masuk ke dalam saku Malvin.


“Aku ingin menyaksikan pembantaian yang Golemku lakukan kepada kalian,” penyihir itu terkekeh. “Kalian pasti akan mati ketika menghadapi raksasa ini, tapi aku akan sangat menikmati proses kehancuran kalian.”


Seketika itu, sebuah portal lingkaran terbentuk tepat di depan Malvin. Kemudian, Rota mengulurkan tangannya ke leher penyihir itu dan mencoba meraih jimat rimasti miliknya. Akan tetapi, Malvin melayang muncur lalu segera mendarat, kembali memijak tanah.


“Aku ingat laporan Hikin bahwa ada makhluk Girafan di antara kalian,” geram Malvin. “Tak kusangka bahwa aku tidak menyadari keberadaanmu ketika Uzan berjajar dengan anak buahnya.”


Rota memandang Malvi dengan tatapan tajam. Ia memakai kaos putih dan jas hitam serta celana panjang berwarna biru. Menjentikkan jari. Dua bilah pisau perak segera muncul di kedua genggaman tangannya.


“Jangan kira bahwa kau bisa bersantai,” Rota melemparkan satu buah pisau dan menangkapnya kembali. “Kita semua sedang ada di dalam pertarungan. Tidak ada yang bisa bersantai – santai.”


“Sial!” seru Malvin sambil mengulurkan tangannya ke atas dan menengadahkan telapaknya.


Perlahan, sebuah bola api terbentuk dari ketiadaan. Api itu semakin membesar dan membesar.


Rota segera berari ke arah Malvin sembari menyiapkan dua bilah pedang yang dipegangnya dan memikirkan siasat untuk mengalahkannya.


 


Ketika Golem menghantarkan tinjunya ke arah Uzan dan para rekannya, mereka terpencara satu per satu.


Dubal dan Sara memutuskan untuk berdiri berdua. Sang prajurit berdiri di depan klerik tersebut dan menjaganya. Ia tahu bahwa Sara mengaktifkan Max Purify agar rekan lainnya segera sembuh ketika terkena serangan.


Arika mengelilingi dirinnya dengan hembusan angin kehijauan untuk menjauh dari Golem tersebut sembari mengamati pertarungan. Edgar masih tersentak, namun mencoba mencari celah untuk menghujamkan tombaknya ke arah Golem tersebut.


Uzan segera melompat dan menaiki lengan Golem tersebut. Namun, karena raksasa tersebut segera menarik tinjunya, keseimbangannya terganggu. Untungnya, ia segera melompat ke arah kepala Golem dan berhasil mengujamkan pedangnya di dahinya.


Golem tersebut menggelengkan kepalanya karena serangan tersebut. Uzan masih bertahan dengan pedangnya dan berusaha tidak terlempar. Kemudian, Golem tersebut menggenggam telapak tangan kanannya dan mengarahkan tinjnya sendiri ke mukanya.


Uzan segera menarik pedangnya dari dahi Golem tersebut, untung saja pedangnya tidak tertanam keras di sana sehingga ia bisa segera melompat dan menjauh. Karena perbuatannya yang dungu, Golem tersebut menghantam kepalanya dengan tinjunya sendiri.

__ADS_1


Setelah itu, Edgar maju dan menghujamkan tombaknya ke kaki kanan golem tersebut sehingga raksasa tersebut sekali lagi meraung kesakitan.


Uzan mendarat tepat di samping Arika yang sedang dikelilingi angin kehijauan dan mengamati adegan pertarungan yang baru saja terjadi. Kemudian, Edgar juga datang ke arahnya dan berdiri di sampingnya.


“Arika,” kata Uzan. “Apakah kau mengetahui tentang makhluk Golem yang sedang kita hadapi ini?”


“Aku mengetahuinya, pangeran,” kaa Arika. “Ia adalah Golem lava gorila. Tubuhnya memang keras bagaikan batu dan memiliki sensasi panas karena lava menjalari tubuhnya. Akan tetapi, ia juga adalah setengah gorila yang bisa juga merasakan sakit.”


“Aku tahu bahwa lava itu panas,” kata Edgar. “Tapi aku tidak merasakan apa – apa ketika baru saja menghujam gorila tersebut. Bagaimana denganmu, Uzan?”


Uzan juga tidak merasakan panas ketika menghadapi Gorila tersebut. Sesaat kemudian, ia mengedarkan pandangan dan mendapati Sara yang sedang menyalakan cahaya di telapak tangannya di depannya. Dubal masih mengamati Golem yang masih kesakitan dan belum balas menyerang.


“Itu karena Max Purify milik Sara, Edgar,” kata Uzan. “Syukurlah.”


“Walaupun dia raksasa, kelihatannya dia tidak begitu kuat,” Edgar mnggoyangkan tombaknya. “Pastinya bisa kita matikan dengan cepat.”


“Aku tidak akan yakin,” Arika termenung.


“Maksudmu?” tanya Uzan.


“Aku sudah tahu alasan Malvin mengeluarkan Gorila tersebut dan berkata bahwa pada dasarnya kita sudah mati,” Arika menatap tanah sejenak. Kemudian, gadis itu berujar, “Kekuatan Golem tersebut akan semakin bertambah ketika banyak serangan dan pukulan yang diterima oleh tubuhnya. Golem Gorila itu memang dungu dan tidak pandai bertarung, tapi dia…”


“Dia tidak akan bisa mati jika orang yang memunculkannya mencabut nyawanya sendiri.”


Setelah mendengar maklumat tersebut, Uzan dan Edgar tertegun dan terdiam sejenak sambil melihat Golem reda dari rasa sakitnya dan mulai menghampiri mereka.


“Itu sangat sulit sekali,” Uzan mendesis. “aku bahkan tidak ingin memaksa orang lain untuk melakukan hal tersebut.”


“Uzan, paling tidak kita sudah tahu bahwa kita tidak harus fokus untuk melawan golem gorila ini, kan?”


“Itu benar, pangeran,” Arika mengangguk. “Yang harus kita fokuskan adalah Malvin yang sedang bertarung dengan Rota. Walaupun…”


“Arika,” kata Uzan. “Apakah sihir Malvin tidak bisa dihentikan?”


Arika menggeleng. “Aku pernah melihat jimat hijau yang dipakai oleh Malvin tapi tidak ta—”

__ADS_1


BOOM!


Pembicaraan Arika tidak berlanjut karena Ia, Pangeran Uzan, dan Edgar harus berpencar karena Golem menghantamkan dua genggaman tangannya ke arah mereka.


Uzan berlari menjauh mengitari Golem tersebut dan perlahan melihat bola angin kehijauan yang perlahan melingkup raksasa marah itu sampai ia meronta- ronta seolah – olah ia diganggu sesuatu.


Ketika sang pangeran berhenti untuk memikirkan taktik berikutnya, “Linda sang Pixi keluar dari sakunya dan mengepakkan sayap capungnya tepat di samping bahu Uzan.”


“Aku baru saja mendengarkan pembicaraanmu dengan Edgar dan Arika, pangeran Uzan,” kata Linda. “Sayang sekali, Jika pangeran berkenan, aku akan mengirimkan maklumat tersebut kepada Sara dan Dubal yang masih diam dalam pertarungan tentang ini.”


“Baiklah, Linda,” Uzan. Mengangguk. “Hai – hati.”


Linda mengepakkan sayap capungnya dengan cepat. Cahaya yang berpendar dari tubuhnya semakin terang. Ia langsung melayang cepat menuju di lokasi dimana Sara dan Dubal berada.


Uzan melihat Golem Gorila yang masih meronta – ronta karena sedang dijebak oleh sihir Arika. Kemungkinan ia sangat terganggu dengan itu. Akan tetapi, masalahnya bukan itu. Masalahnya, lingkupan angin tersebut hanya cukup untuk menghabiskan waktu untuk memikirkan tentang strategi selanjutnya.


Untuk membasmi golem ini, diperlukan agar pengendalinya mencabut nyawanya sendiri. Kalau tidak, kemungkinan raksasa ini bisa mengamuk di sini dalam waktu lama dan akhirnya merusak seluruh Hutan Lumina.


Uzan tidak akan membiarkan itu terjadi.


Beberapa saat kemudian, Linda sang Pixi kembali menghampiri Uzan. “Sudah saya sampaikan, Pangeran.”


“Apakah mereka berkomentar?”


“Dubal berkomentar bahwa seharusnya kita harus mengarahkan serangan kepada Malvin, penyihir yang memunculkan monster ini. Untuk masalah bagaimana ia akan mematikan dirinya sendiri, itu masalah nanti.”


“Bagaimana dengan Sara?”


“Sara terlihat tidak tega dan menyerahkan keputusan akhir kepadamu, Pangeran Uzan.”


“Begitu ya,” Uzan memegang dagu dan berfikir cepat. Kemudian, ia berkata, “Baiklah, kita akan mengikuti Saran Dubal untuk memfokuskan serangan ke Malvin.”


Linda mengangguk. “Baiklah, pangeran.”


Aku sudah tahu bahwa Rota dan Malvin sedang bertarung di lokasi yang tidak jauh dari sini,” ujar Sang Pangeran. “Kita akan ke sana. Sampaikan pesanku ini sekarang juga.”

__ADS_1


“Siap, pangeran,” kata Linda.


Kemudian, Linda mempercepat kepakan sayapnya melayang cepat memberikan pesan ke pada para rekan sang pangeran.


__ADS_2