Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Bertarung Melawan Sentafal (4)


__ADS_3

“Sara!” seru Arika. “Kau tidak apa – apa?”


Sara mencoba – terbangun, ia terengah engah. Darah mengalir dari bibirnya. Ia berdiri, sesekali memegang dadanya.


Arika menghampiri Sara dan menghempaskan semua seluruh berkas serpihan kayu yang ada di sekitarnya dengan sihir angin.


“Sembari terengah, Sara berujar, “Aku tidak apa – apa, Arika. Untung saja, aku memakai gelang Azure sehingga aku bisa memulihkan diri sendiri setelah terkena serangan itu. ”Dua gelang yang ada di dua pergelangan tangan Sara berkedip – kedip kebiruan. “Mungkin aku akan menggunakan dua gelang ini untuk—”


Sara terbatuk dan terhuyung, sebelum klerik itu terjatuh, Arika memegangnya. “Kau tidak boleh terlalu banyak bicara, Sara.”


Beberapa saat kemudian, Edgar datang ke kedua gadis itu dengan menunggangi Trez.


Setelah prajurit itu turun, ia memegangi kedua lengan Sara. “Kau terluka parah, Sara.”


Arika berujar, “Sara terkena telak oleh bola sihir Sentafal yang tadi ia tembakkan. Dia memang sudah mengincar Sara dari awal.”


Edgar menoleh ke arah Sentafal yang sedang bertarung melawan Uzan dan Dubal. “Sial!”


“Maafkan aku,” kata Arika, “dari jarak jauh, aku hanya bisa menembakkan sedikit sihir dari jarak jauh dan lebih tidak bisa memfokuskan arah dari jarak jauh. Selain itu, aku juga terlambat bereaksi pada sihir Sentafal.”


“Baiklah,” Edgar menghela kesal. “Yang sudah terlanjur terjadi, tidak perlu dipikirkan.”


Sara berujar dengan suara pelan, “Mungkin ini saatnya kita harus menggunakan Green Lance Wind Burst bersama.”


“Aku sudah tahu bahwa Uzan merencanakan ini, Sara,” kata Edgar, “namun aku tidak begitu yakin dengan keadaanmu sekarang.”


“Aku tidak tahu tentang penyembuhan dan seluk beluknya,” Arika menghela, “tapi kurasa kau harus beristirahat sejenak.”


“Aku memang terlihat kelelahan,” Sara menggeleng, “tapi karena dua gelang Azure yang sedang aku gunakan,” Sara melihat dua gelang yang masih berkelap kelip biru di kedua pergelangan tangannya, aku masih punya tenaga untuk melakukan sihir gabungan.”

__ADS_1


“Itu bagus,” kata Edgar. “Kita tidak bisa menunggu lebih lama sampai Uzan dan Dubal dihajar oleh makhluk itu.”


Arika termangu sejenak, lalu berujar, “Ketika Sentafal melemparkan tombaknya ke kami berdua di awal pertarungan, aku sempat melihat corak batang tombak yang digunakannya. Aku memiliki prasangka bahwa Green Lance Wind Burst tidak akan berpengaruh kepada Sentafal jika ia bertarung dengan tongkat itu karena tongkat itu adalah anti sihir.”


Edgar memegang dagu dan menatap Arika kesal. “Jadi, apakah kau menyimpulkan bahwa kekuatan hijau itu tidak berpengaruh pada Sentafal?”


Arika menjawab, “Masih berpengaruh, namun kau hanya akan seperti bertarung dengan tombak biasa. Kelebihannya adalah kau bisa melayang di udara.”


“Itu cukup!” Edgar mulai meredakan rasa kesalnya.


“Arika,” kata Sara. “Kita bisa melakukan kekuatan gabungan itu namun tanpa penyembuhan karena Max Purify sampai saat ini belum bisa pulih”


Edgar menyayangkan hal itu, namun ia berujar, “paling tidak serangan itu kuat dan aku bisa membantu Uzan dan Dubal untuk melawan Sentafal.”


“Jangan lupa, Edgar!” Arika menambahkan. “Kau tidak bisa bicara ketika menggunakan kata itu.”


Edgar mengangguk “Aku bahkan tidak akan bisa melakukan serangan gabungan dengan Uzan dan Dubal, tapi akan kuusahakan agar Uzan dan Dubal tidak merasa kerepotan ketika aku menggunakan kekuatan hijau itu.”


Uzan menebaskan pedangnya ke arah Sentafal, namun makhluk itu bisa menangkisnya dengan tombaknya. Setelah itu, Sentafal mengangkat tombaknya dan menghujamkan ujung tombaknya ke Uzan, namun sang pangeran melompat ke samping dan berhasil menghindarinya, lalu ia menerjang Sentafal dan bersiap untuk menebas kepala Sentafal dengan pedangnya.


Sentafal sudah menebak gerakan sang pangeran, ia membuka mulutnya, gumpalan bola kayu terbentuk di depannya dan langsung melesat cepat mengenai Uzan sampai ia terpelanting.


Dubal melompat tinggi dan bersiap untuk menebas kepala Sentafal, namun Sentafal juga bisa menebak gerakan itu. Ia menyapukan tombaknya. Dubal berhasil menghindari bagian runcing tombak Sentafal, namun lehernya terkena batang tombak tersebut sehingga ia terlempar. Prajurit berkapak itu masih tersungkur.


Sentafal menghampiri Dubal yang masih kesakitan. Makhluk itu membalikkan badannya, lalu menendang prajurit tersebut dengan kedua kakinya sampai Dubal terpental dan terpisah dari senjata kapaknya.


Sentafal menoleh ke arah Edgar, Sara, dan Arika yang berada di kejauhan. Cahaya hijau tampak mengelilingi Edgar.


Ia termangu sejenak, setelah itu memutuskan bahwa ia akan berlari menuju ketiga anggota lainnya. Ia menoleh ke arah Uzan yang sudah mulai berlari ke arahnya dan bersiap dengan pedangnya. Setelah itu, Sentafal membuka mulut dan menembakkan bola sihir ke arah sang pangeran.

__ADS_1


Uzan berhasil menghindar, namun ia terkena ledakan bola sihir tersebut sampai ia terlempar. Pedangnya terpisah jauh darinya. Ia berjalan tertatih untuk mengambil pedangnya.


Dari kejauhan, Sentafal melihat Dubal yang akan berdiri sembari memegang kapak yang sudah diambilnya kembali. Prajurit itu berjalan tertatih, namun masih siap menyerang. Sentafal menggertakkan gigi, lalu membuka mulutnya dan menembakkan bola sihir ke arah prajurit berkapak tersebut sampai ia terpental.


Sentafal sudah yakin bahwa Max Purify yang dilakukan klerik mereka sudah tidak lagi bisa digunakan, atau, kemungkinan terburuknya, masih bisa digunakan tapi jangka waktunya hanya sedikit. Ia belum bisa menebak.


Sentafal masih terdiam dan berpikir. Masih ada lagi yang lebih genting. Di samping klerik dan penyihir angin itu, mereka masih punya senjata rahasia gabungan lain. Ia mengedarkan pandangan pada Uzan dan Dubal. Pangeran dan prajurit berkapak itu belum bisa bergerak. Ia akan membunuh mereka nanti.


Sekarang, saatnya menghabisi klerik, penyihir, dan prajurit yang menggunakan kekuatan hijau tersebut.


Akhirnya, Sentafal berlari ke arah Edgar, Sara, dan Arika sembari bersiap dengan tombaknya.


Edgar, Sara, dan Arika sudah bersiap untuk menghadapi kedatangan Sentafal. Uzan dan Dubal sudah jatuh, ia akan menghadapi Sentafal sendirian.


Edgar berdiri dan mengarahkan tombaknya ke Sentafal. Di samping kanannya, Arika mengedepankan tongkat sihirnya, mengeluarkan sinar hijau kerlap – kerlip. Di samping kiri sang prajurit, Sara menyalakan kedua telapak tangannya, namun cahaya yang dipendarkan klerik itu sangatlah redup.


Trez hanya berdiri di samping Sara sambil menghadap Sentafal. Angin kehijauan menghiasi udara sekitar kuda magis itu.


Setelah beberapa saat, Edgar melesat bagaikan angin ke arah Sentafal. Ia mencoba menghujam tombaknya ke arah Sentafal dengan tombaknya.


Sentafal yang terkejut dengan serangan itu hanya bisa menangkis dengan tombaknya. Ia tersentak. Kemudian, makhluk itu menyapukan tombaknya ke Edgar, namun Edgar dapat menghindar dengan melayangkan tubuhnya ke belakang.


Sentafal memperhatikan Edgar yang sedang melayang dengan lingkup angin berkelap kerlip kehijauan yang mengelilinginya.


“Tak kusangka bahwa kau masih punya senjata rahasia,” Sentafal menggeram.


Edgar diam saja. Setelah itu, ia menyapukan tombaknya. Lalu, angin menghempas ke arah Sentafal sampai muka makhluk itu berpaling. Kemudian, Edgar melesat dan menghujam dada Sentafal hingga memancarkan darah.


Sentafal meraung kesakitan. Sebelum Edgar menyapukan ujung tombaknya ke leher Sentafal, makhluk itu meluncurkan tinju ke dada Edgar sampai ia terpental. Edgar tidak terjatuh, ia masih melayang.

__ADS_1


“Apa kau bisa melakukan ini?” Sentafal membuka mulutnya, matanya bercahaya perunggu. Sebuah sihir bola kayu menggumpal di depannya dan melesat ke arah Edgar.


__ADS_2