
Uzan, Edgar, dan Sara menelusuri bukit Giraf bersama Dubal.
Dubal memakai baju besi biru khas kerajaan Oslar. Sebuah Kapak besar menempel di bahunya. Ia juga memakai rantai sebagai pelengkap baju zirahnya. Kuda hitamnya tampak besar, lebih besar dari pada kuda Edgar dan Uzan.
Bukit Giraf tanahnya meninggi dan disertai dengan gundukan – gundukan tanah tinggi di beberapa bagian. Angin berhembus semilir. Kuda Uzan dan lain – lain menapaki perbukitan yang terjal. Uzan, Edgar, dan Sara memang tidak begitu mengetahui tentang Bukit Kagigar.
Namun, Dubal mengarahkan mereka untuk sampai ke tujuan mereka.
Setelah lama kuda mereka berlari, mereka memutuskan untuk memperpelan jalan kuda mereka sambil berbincang – bincang.
“Hey, Dubal!” Edgar memulai pembicaraan “Jadi, kau adalah mantan prajurit Kerajaan Oslar ya?”
“Iya, kenapa?”
“Oh, tidak apa –apa!” kata Edgar. “Aku bertaruh mungkin di usia-mu yang sekarang, kau pasti punya banyak pengalaman.”
“Heh! Tentu saja!” kata Dubal “Aku sudah banyak melaksanakan tugas di banyak tempat di seluruh Namaril, namun aku merasa bahwa aku masih harus banyak belajar.”
“Kau terlalu merendah diri, Dubal” kata Uzan “Kukira Raja Morin sangat membanggakan pasukannya.”
“Itu benar, Pangeran!” kata Dubal “Raja Morin sangat membanggakan kerajaannya. Pastinya Kerajaan Oslar adalah kerajaan paling kuat di Seluruh Namaril.”
“Tidak, Dubal!” sahut Edgar. “Kerajaan Kastala adalah kerajaan terkuat di Namaril.”
“Ya, terserah” Dubal tampak tidak perduli “Jadi, kalian melakukan perjalanan untuk memulihkan gempa ini ya?”
“Itu benar” kata Uzan.
“Seperti yang kau bilang, kalian hanya memberitahuku tentang kain Kagigar Perak,” kata Dubal.
“Tapi apakah ada alasan mengapa kalian hanya dikirim bertiga?”
“Raja ingin memprioritaskan prajurit untuk membantu para warga.”
“Oh ya? Itu menarik dan tidak terpikirkan sama sekali” Dubal mengangguk “Selain menghemat personil, itu juga akan banyak menghemat bekal.”
“Tentu saja,” kata Edgar. “Kita bertiga juga bahkan sudah memakan bekal kami ketika menunggumu.”
“Hanya saja,” kata Sara, “kami bertiga merasa agak kerepotan ketika kami dicegat oleh para bandit.”
__ADS_1
“Oh ya?” kata Dubal “kalian dicegat oleh perambah ya?”
“Iya.”
“Pasti pimpinannya bernama Norman, Marko, dan dan Dori.”
Edgar tertegun. “Bagaimana kau tahu?”
“Mereka adalah warga Desa Wulfric yang profesi utamanya adalah seorang petani. Mereka sudah diingatkan oleh para warga Desa Wulfric untuk tidak melakukan itu. Sebelum atau sesudah kepindahanku ke Kastala.”
“Jadi, bandit itu tinggal di sana juga?” Edgar menggeram. “Kenapa kalian tidak mengusirnya?”
“Kepala desa Wulfric tidak mengusir mereka karena penduduk di sana merasa acuh – tak acuh terhadap mereka bertiga. Selain itu, Marko, Norman, dan Dori pernah mendapatkan jarahan besar berupa sejumlah uang,” Dubal menjelaskan, “lalu mereka membagikannya kepada seluruh warga Wulfric”
“Seluruhnya?”
“Sebagian besar warga.” Dubal meralat. “Karena itulah akhirnya opini warga minoritas tidak digubris sama sekali oleh kepala desa.”
“Entah siapa kepala desa itu?”
“Sebelumnya adalah Tuan Reno namun diganti oleh Dori”
“Oh ya?” kata Dubal. “Pasti kepala desa itu akan diganti lagi.”
“Tuan Dubal,” kata Sara. “Kau tidak terlihat khawatir.”
“Kenapa aku harus mengkhawatirkan mereka, nona?” “Bahkan Aku dan Natalia, Istriku, yang merupakan minoritas di desa itu bahkan juga tidak diperdulikan.”
“Yah!” Edgar mendengus. “Hal itu pasti sangat menyebalkan.”
“Jadi,” kata Uzan “Kau menawarkan bantuanmu untuk kami dengan meminta imbalan merupakan pelampiasan karena menjadi minoritas?”
“Salah,” kata Dubal. “Aku menawari kalian bantuan karena merasa heran mengapa ada seorang pangeran yang mampir ke desa Wulfric. Sebelumnya, aku memberikan tawaran kepada para pengelana jika mereka mau. Adapun beberapa kelompok yang tidak bersedia, maka aku biarkan mereka.”
“Memangnya,” Edgar mengerutkan alis, “apakah keperluan mereka juga berkitan dengan um…Kain Kagigar ini?”
“Beberapa dari mereka ingin diantarkan ke arah utara ke Desa Fanan dan mempertimbangkan tawaranku untuk menjadi pengawal sampai ke sana.”
“Hal itu tidak masuk akal, Dubal” kata Edgar sembari mendengus. “Tawaran mengantar Antar Desa saja harus membayar sekian Roll.”
__ADS_1
“Itu berbeda,” kata Dubal “Jalan telusur antar desa Fanan dan Wulfric dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan liar dan binatang buas. Ketika malam hari, bahaya itu tidak terlihat oleh mata. Sehingga, aku punya kesempatan besar untuk dipertimbangkan sebagai pengawal.”
“Untung saja kita mendapatkan bantuanmu di siang hari” Edgar menghela lega. “Lagipula, jika di malam hari, hal seperti ini pasti akan bertambah rumit.”
“Selain itu,” Dubal melanjutkan penjelasannya, “aku tahu jika Pangeran Uzan sampai ke desa Wulfric, maka hal itu sangatlah janggal. Apalagi dalam keadaan gempa aneh seperti ini.”
“Aku baru saja disembuhkan oleh istri anda, Tuan Dubal,” kata Sara. “Nyonya Natalia juga merasa heran mengapa pangeran Uzan sampai singgah di desa Wulfric.”
“Aku tahu,” kata Dubal. “Herannya, kalian tidak tewas karena kalah jumlah dari gerombolan itu.”
“Sara memiliki Max Purify” kata Uzan “Jadi, Ia bisa membantuku dan Edgar untuk menghadapi mereka.”
“Aku tidak tahu apa itu, pangeran,” kata Dubal “Tapi apapun kemampuan kalian, menurutku, tidak bijak jika kalian hanya melakukan perjalanan bertiga.”
“Kami dikirim bertiga demi kemaslahatan Kastala dan semata – mata untuk memulihkan gempa ini” kata Uzan dengan tenang. “Lagipula, penentuan keputusan ini juga sudah dimusyawarahkan oleh para petinggi.”
“Itu benar, Dubal,” kata Edgar. “Pasti hal itu sudah dipikirkan secara matang.”
“Tuan Dubal, maaf jika aku mengubah arah pembicaraan,” kata Sara. “Mengenai perpindahanmu dulu ke sini, apa keperluanmu?”
Dubal tidak menjawab pertanyaan Sara karena mereka akhirnya sampai pada sebuah dinding batu hitam besar. Tampak bercak – bercak berwarna – warni dan berkelap – kelip yang menghiasi dinding tersebut.
Uzan, Edgar, dan Sara memandangi dan mengangumi batu besar itu untuk sejenak.
“Kalian lihat batu besar ini?” Dubal mulai berbicara “Kita sudah sampai di dinding Girafan”
“Jadi ini dinding magis ya?” kata Sara dengan rasa takjub, mengabaikan pertanyaan awalnya “Apakah semua orang bisa melihat keberadaan dinding ini?”
“Tidak, nona Sara. Mereka bisa melihatnya jika mereka memiliki ini,” Dubal mengambil kalung berwarna perak dari sakunya.”
“Apa itu?”
“Ini adalah salah satu piranti bukit Giraf,” kata Dubal. “Hanya orang yang memegang piranti ini dan orang – orang di sekitarnya saja yang bisa melihat dinding magis ini.”
Dubal menggenggam kalung itu erat – erat. Setelah itu, batu tersebut mulai mengeluarkan cahaya putih dan membentuk sebuah gerbang yang mengeluarkan kerlap – kerlip dengan berbagai warna.
“Ini adalah sebuah pintu masuk ke alam magis Bukit Giraf,” Dubal kembali memasukkan kalungnya kembali ke saku. “Mari kita masuk!”
“Baiklah,” Uzan mengangguk. Edgar dan Sara juga menurut. Kemudian, mereka berempat segera menuju ke arah cahaya tersebut.
__ADS_1