
Raja Guvar dan Ratu Agatha sudah tiba di istana sore itu.
Ketika Sang Raja dan Ratu sedang memasuki istana, mereka diberitahu oleh beberapa prajurit bahwa mereka kedatangan Pangeran Uzan dan kawan – kawannya. Karena itu, mereka berdua memutuskan untuk duduk di singgasan istana.
Raja Endan memiliki rambut rambut hitam pendek dan kumis mendatar. Ia memakai baju khas raja berwarna hitam. Sedangkan ratu Agatha memiliki rambut merah panjang sebahu dan memakai gaun putih.
Beberapa saat kemudian, Layla datang ke hadapan mereka dan membawa Uzan di hadapan Sang raja dan Ratu di singgasana. Uzan dan layla maju. Edgar dan rekan lainnya berdiri sejajar.
Uzan membungkuk memberi penghormatan. “Selamat Sore, wahai Baginda.”
“Selamat Sore,” Guvar mengangkat tangannya. Sebagai isyarat agar Uzan menyudahi penghormatan. “Layla melaporkan bahwa Kerajaan Kastala sedang dilanda masalha besar. Benarkah itu?”
“Itu benar, Baginda,” kata Uzan. “Sekarang, sekarang, Kerajaan Kastala sudah diambil alih oleh Faraq, petinggi hubungan antar negeri.”
“Aku mengerti,” Guvar mengangguk. “Petinggi yang ingin menjatuhkan rajanya sendiri. Itu menurutku adalah hal yang sudah bisa ditebak.”
“Ayah,” Layla menggema tangannya dan meletakkannya di dada. “Tidak seharusnya kau bersikap tenang ketika pangeran Uzan sedang dilanda masalah.”
“Lyla,” Ratu Agatha berujar. “Raja Guvar juga sedang memikirkan tentang pemecahan masalah ini.”
“Ibumu benar, Layla,” kata Guvar. “Aku sudah menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Maka dari itu, aku akan langsung memulai rencana untuk mengatasi hal ini.”
Uzan mengerutkan dahi. “Baginda langsung mempunyai rencana untuk mengatasi masalah ini?”
“Itu benar,” kata Guvar. “Setiap kali aku bertemu dengan Faraq, pada pertemuan kerajaan, aku selalu merasa curiga dengan gerak – geriknya. Tidak kusangka bahwa ia sudah sejauh ini melakukan rencananya.”
“Aku dan Raja Guvar sudah memperhatikan Faraq selama ini,” kata Agataha. “Sebelumnya, Romeo, salah satu dari petinggi hubungan antar negara di Kerajaan Igardias merasakannya. Walaupun begitu, kami berdua tidak mempercayainya. Jika sang pangeran sudah sampai terusir dari kerajaannya sendiri, maka hal ini sangatlah pelik dan kita akan mengeksekusi pemecahan masalah.”
“Apakah kalian berdua tidak ingin berkenalan dengan para rekan Pangeran Uzan yang sedang berdiri ini?” kata Layla sembari menyapukan tangannya ke arah Edgar dan lainnya.
“Kami sudah bertemu dengan mereka,” kata Guvar. Dubal sang prajurit dan Rota sang Silvar juga sudah melaporkan beberapa masalah minor yang terjadi selama perjalanan kalian ke sini.”
“Itu benar,” kata Ratu Agatha. “Untuk itu, setelah ini, aku akan bercengkerama dengan para rekan Uzan sedangkan Raja Guvar berdiskusi dengan sang pangeran untuk masalah solusi untuk ini.”
“Baiklah,” kata Guvar. “Layla, setelah ini, kau pergi ke tempat tinggal Romeo dan memanggilnya untuk mengadakan pertemuan di istana ini.”
Layla menghela kesal. “Aku heran mengapa Romeo tidak tinggal di Istana saja seperti para petinggi lainnya?”
__ADS_1
“ia juga ingin memantau kondisi warga sekitar dan melindungi Istana dari kejauhan, Layla,” kata Agatha. “Kau sudah pernah dengar alasannya kan?”
“Itu tidak masuk akal,” Layla menghentakkan kaki pelan dengan kesal. “Seandainya dia tinggal di sini, memanggilnya juga tidak perlu repot.”
“Kau hanya harus berkuda selama tiga jam di penghujung desa sekitar istana ini,” kata Guvar. “Katakan padanya bahwa aku menyuruhmu langsung, dan bukan lewat sihir jarak jauh, karena keadaannya memang penting.”
Layla mulai menenangkan diri. “Baiklah. Kapan?”
“Sekarang,” kata Agatha.
Layla berjalan mundur pelahan. Lalu, membalikkan badan dan langsung beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian, Guvar berdiri. “Uzan, mariikut denganku untuk berbincang lebih tentang hal – hal yang berkaitan dengan terambilnya wilayah Kastala. Kami sudah mengetahui bahwa yang sedang digunakan Faraq adalah Jimat Rimasti. Kita hanya perlu menunggu Romeo untuk kejelasan lebih lanjut tentang jimat itu, sambil berbincang tentang hal – hal yang berkaitan dengan masalah ini.”
“Baiklah Baginda,” kata Uzan.
Setelah itu, Guvar berjalan berjalan melalui Uzan. Sang pangeran mengikuti Guvar untuk keluar ruangan singgasana.
Setelah Raja Guvar dan Pangeran Uzan keluar dari Singgasana, Ratu Agatha juga beranjak berdiri. “Mari kita berdiskusi dan melakukan rencana untuk menyesaikan masalah minor kalian. Aku ada perlu sebentar. Kalian tunggu di ruang makan. Kau tahu tempatnya, kan, Arika?”
“Aku tahu, Yang Mulia,” kata Arika. “Di sebelah ruang bendahara.”
“Tidak apa – apa, yang mulia,” kata Arika.
“Setelah ini, kau ajak teman – teman yang lain untuk pergi di sana dan menyantap nakanan yang ada di sana.”
“Baiklah,” kata Arika. “Ayo!”
Setelah itu, Arika berjalan keluar, diikuti oleh Edgar, Sara, dan lainnya. Setelah mereka telah tiada, Ratu Agatha segera berjalan keluar dari ruang singgasana.
---
---
“Tidak disangka bahwa Raja dan Ratu begitu cepat melakukan tindakan untuk mencari solusi,” kata Sara.
Arika, Sara, dan rekan lainnya sedang berjalan melalui ruangan – ruanagn istana untuk menuju ruang makan.
__ADS_1
“Itu karena mereka sudah mengetahui tentang masalah ini.”
Edgar berujar, “Mereka tahu tapi tidak bertindak sebelumnya?”
“Mereka hanya curiga,” kata Dubal. “Kecurigaan hanyalah perasaan. Bisa benar. Bisa tidak. Tapi, dengan adanya bencana ini, maka perkiraan Raja dan Ratu benar adanya.”
“Mereka mengetahuinya dengan cara yang berat,” kata Rota. “Tapi paling tidak, mereka bisa langsung menyusun rencana.”
“Ngomong – ngomong,” Dubal menghela. “Kita akan menangani masalah minor dengan Ratu Agatha, kan?” apa kau tahu Ruhin dan tempat tinggalnya, Linda?”
Linda menggeleng. “Tidak bisa dipungkiri bahwa Tuan Uvuk adalah teman dari Ruhin, Dubal. Tapi bahkan aku tidak mengetahui di mana tempat tinggal Ruhin.”
“Apa tidak ada di hutan Restra tempat Rura tinggal?”
“Setahuku, Hutan Restra sangatlah sunyi dan para penduduknya sering menutup diri. Tidak mungkin Pixi pembuat masalah seperti Ruhin diperbolehkan tinggal di sana. Kalaupun diperbolehkan atau memaksakan diri untuk tinggal di sana, ia juga akan merasa enggan. Karena Hutan Restra sangatlah dipantau oleh Istana.”
“Oh, ya,” kata Edgar. “Apakah lenganmu sudah bisa digerakkan, Arika, Rota?”
“Sudah,” kata Arika. “Untung saja kita sudah ada di istana Igardias. Kami baru saja dberitahu oleh beberapa petugas istana bahwa plasma bisa disembuhkan.”
“Itu benar,” Rota mengangguk. “Tidak kusangka bahwa kami baru mengetahui bahwa dari lima kerajaan yang ada di dunia Namaril, hanya Igardias-lah yang bisa menyembuhkan efek samping dari plasma.”
“Walaupun begitu,” Arika menghela. “Aku rasa aku tidak akan menggunakan plasma lagi kecuali memang dalam keadaan sangat tersudut. Walaupun aku bisa, aku akan berusaha untuk tidak berada dalam keadaan tersudut karena pengobatannya sangat langka.”
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan.
Ruangan itu berukuran normal. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Akan tetapi, suasana ruangan tersebut terlihat mewah dengan dinding putih bercorak dengan ornamen – ornamen tumbuhan.
Di bagian tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah meja bundar dan beberapa kursi yang mengelilinginya. Di atas meja tersebut terdapat berbagai macam buah yang siap di santap.
Arika berujar, “Ratu Agatha bilang bahwa kita harus menunggu di sini dan…menyantap makanan yang telah tersedia.”
Edgar menggaruk kepala. “Apakah ada lauk lain. Maksudku, tidak ada makanan selain buah – buahan di sini.”
“Umm…ruangan ini dikhususkan untuk diskusi sambil makan makanan ringan agar lebih santai,” kata Arika. Kalau ingin makan besar seperti makan siang, makan pagi, atau akan malam.”
Rota menghela, “sedikit mengherankan kenapa Ratu Agatha tidak mengantar kita kesini menggunakan pelayan.”
__ADS_1
“Ratu Agatha tidak begitu suka mengandalkan pelayan ketika melakukan sesuatu,” kata Arika. “Tidak seperti Raja Guvar. Mari kita duduk.”
Akhirnya, Edgar dan lainnya duduk di ruangan tersebut, menduduki kursi yang tersedia sambil menunggu kedatangan Ratu Agatha.