
Setelah Uzan dan kawan – kawannya sampai ke lokasi pabrik emas, ia menyaksikan pemandangan tidak biasa.
Fured sedang berdiri di samping sebuah kuda sembari melempar kalung sila ke atas dan menangkapnya kembali berulang kali. Ia nampak sudah siap dengan kedatangan sang pangeran.
Uzan mengedarkan pandangan ke pemandangan ganjil yang ada di sekitar Edgar.
Di belakang Fured sebelah kanan, Sara sedang berdiri. Gadis itu memejamkan mata sambil mendekapkan kedua telapak tangannya di dada. Ia masih tampak tidak sadarkan diri. Klerik itu dikelilingi oleh ratusan butir cahaya putih yang bertaburan.
Di samping Sara, Rota juga sedang dalam keadaan sama. Perbedaannya adalah bahwa makhluk Girafan tersebut tampak sedang mengeluarkan ekspresi kemarahan kepada Fured, namun gerakannya terhenti.
Di belakang Fured sebelah kiri, Trez juga tampak terdiam ketika dikelilingi ratusan butir cahaya putih yang melayang lambat di sekitarnya.
Di sampingnya, nampak Unliv sedang ada di dalam ekspresi menganga sambil merentangkan tangannya ke atas. Uzan tahu bahwa kereta kencana yang baru saja digunakan adalah jelmaan dari Unliv.
“Pangeran Uzan dan rekan – rekan sudah datang, ya?” Fured tersenyum sembari menangkap kalung Sila yang sudah berulang kali ia lempar ke atas. Setelah itu, ia memasang kalung tersebut ke lehernya. “Selamat datang kembali ke Pabrik Emas Desa Sakanan.”
“Fatta bilang bahwa kau akan membangun kembali Pabrik Emas itu,” kata Uzan. “Jika memang iya, hentikan!”
Fured menggeleng. “Jadi, Fatta sudah memberitahu kalian tentang tujuanku, ya?” Petugas itu membelai dagu kuda di sampingnya. “Kalian sudah tahu bahwa aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Fatta, kan?”
“Kami sudah tahu itu,” geram Dubal. “Apa yang akan kau lakukan dengan kalung Sila, Fured?”
Ketika mendapati Rota yang sedang dalam keadaan terbekukan seperti yang sedang dilihatnya sekarang, Dubal menganggap bahwa Girafan itu dikeluarkan paksa dari kalung Sila tersebut.
“Aku ingin bicara dengan kalian panjang lebar,” kata Fured, “tapi aku ingin memperkenalkan kudaku ini dahulu.”
Fured menjentikkan jarinya dua kali. Setelah itu, kuda di sampingnya meringkik, lalu segera berlari ke arah Arika yang belum siap, gadis penyihir itu terpental dan terjerembab ke tanah.
“Arika!” seru Uzan.
Sang pangeran, Edgar, dan Dubal tersentak. Mereka bertiga bersiap dengan senjata mereka dan akan menyerang kuda itu. Dubal belum sempat mengayunkan kapaknya, namun sudah dihantam oleh kepala kuda tersebut. Edgar yang langsung murka mencoba menusuk kuda itu dengan tombaknya, namun kuda itu bisa menghindar.
__ADS_1
Kuda itu membalik tubuh dan menendangkan kedua kaki belakangnya ke arah Edgar, namun sang prajurit berhasil menghindar ke kiri. Setelah itu, ia melompat dan bersiap menghujamkan tombaknya ke arah kuda itu, namun kuda tersebut menghindar kembali dan berhasil menghantam Edgar dengan kepalanya.
Melihat semua rekannya dihantam kuda itu, Uzan berniat untuk langsung menerjang ke arah Fured, namun sebelum ia sempat berlari ke arah Fured, kuda tersebut langsung berlari ke arah Uzan dan menyerudukkan kepalanya ke tubuh Uzan sampai sang pangeran terpental.
Setelah selesai dengan tugasnya, kuda tersebut meringkik dan berlari kembali ke arah Fured dan berdiri di sampingnya.
“Perkenalkan,” Fured tersenyum. “Nama kuda ini adalah Zero. Aku mendapatkannya dari Fatta. Pastinya kalian juga sudah tahu karena kita baru saja diperkenalkan dari cerita Fatta tadi. Bukankah begitu?”
Uzan dan para rekannya mencoba berdiri, namun tenaga mereka terkuras. Mereka terengah – engah.
Arika berdiri sembari mencoba untuk menyalakan telapak tangannya untuk melakukan sihir angin, tapi ia terlalu kelelahan. Gadis itu tersungkur, perlahan ia mencoba untuk berdiri kembali. “Aku bahkan tidak bisa melakukan sihir.”
Uzan berusaha berdiri dengan tenaganya yang sudah habis. “Aku sudah tahu bahwa kuda itu memiliki kekuatan magis.”
Edgar dan Dubal juga berdiri terengah – engah. Kedua prajurit itu hanya menatap tajam ke arah Fured. Dubal mengarahkan pandangan ke kalung Sila yang sedang di genggam oleh Fured, sedangkan Edgar lebih mengarahkan pandangan ke Sara yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Itu benar, Pangeran,” Fured tersenyum. “Aku tahu bahwa aku tidak sekuat kalian. Aku juga tidak akan repot – repot bertarung. Di samping itu, aku ingin kepastian bahwa kalian tidak akan menyerangku ketika aku menjelaskan alasanku.”
“Kau hanya bicara, Edgar,” kata Fured. “Nyatanya, kalian semua tidak akan bisa mengeluarkan tenaga apapun selain berdiri.”
“Fured, apa yang kau lakukan kepada mereka?” tanya Dubal.
Petugas itu bersedekap.“Itu akan kujawab setelah aku menjelaskan tentang inisiasi yang kuberikan kepada kalian.”
“Jelaskan maksud perilakumu ini!” ujar sang pangeran.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, aku ingin membangkitkan kembali Pabrik Emas Desa Sakanan,” Fured berdehem.
“Tapi kau sudah tahu bahwa pabrik itu sudah lenyap, kan?” kata Arika.
“Itu benar,” kata Fured, “tapi kalian harus mengetahui tentang tujuanku membangun kembali Pabrik Emas ini.”
__ADS_1
-
-
“Setelah ditinggalkan oleh Galar pada saat penghancuran skala kecil tersebut, aku akui bahwa aku tidak bisa memungkiri bahwa aku tidak sadarkan diri. Setelah terbangun, aku memutuskan untuk mendekati Pabrik Emas yang sudah hancur ini. Ada sebuah panggilan dari Pixi yang pernah menaungi tempat ini sebelum dibangunnya desa ini. Ia bernama Ruhin. Oleh Ruhin, aku dititahkan untuk membangkitkan bangunan ini dengan menggunakan beberapa syarat.”
“Syarat?” Uzan tertegun.
“Itu benar,” kata Fured. “Salah satu syarat yang aku butuhkan adalah seorang Klerik untuk membangun kembali pabrik ini.
“Setelah itu, aku membutuhkan seorang Silvar untuk salah satu persyaratan makhluk Girafan yang tertera. Lalu, aku memerlukan kuda magis Igardias sebagai persyaratan untuk menerangi area yang ada di dalam pabrik, atau, dengan kata lain, aura keeasan gua yang ada di dalam pabrik tersebut.Kemudian, aku juga memerlukan Unliv untuk membuat penjaga siluman yang akan memperkuat gua tersebut.”
Uzan memandang petugas yang dulunya ramah dan selalu melayaninya ketika ia dan para rekannya sedang menjadi tamu selama tiga hari ini. Sang pangeran menyayangkan sikapnya sekarang.
“Terakhir,” Fured bersedekap. “Aku harus membutuhkan nyawa seseorang untuk membangkitkan Pabrik Emas ini berikut dengan Ruhin, pixi penjaga tempat ini yang dulu pernah menaunginya.”
Edgar berseru, “Jangan bilang kalau kau akan membunuh mereka berempat untuk membangkitkan pabrik konyolmu itu!”
“Itu tidak perlu,” kata Fured. “Hal ini karena mereka berempat hanya aku butuhkan sebagai penanda bahwa suguhan yang dibutuhkan untuk kebangkitan sudah aku peroleh.”
“Tuan Fured,” kata Arika. “Apakah kau mencoba untuk mengorbankan diri sendiri untuk memenuhi syarat terakhir?”
“Tidak, penyihir,” kata Fured. “Untungnya, syarat nyawa yang dikehendaki oleh Ruhin dipersembahkan di akhir setelah empat syarat sudah dikirimkan. Di samping itu, aku juga tidak akan mengorbankan nyawaku. Melainkan…” Fured menyeringai sambil mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya. “Aku akan membunuh Sara sebagai syarat terakhir.”
“Sialan kau!” seru Edgar. Setelah itu, Edgar terbatuk dan tersungkur. “Tubuhku.”
Fured menghela. “Kasihan sekali, hanya bisa mencaci dan memaki.”
Uzan berseru, “Setelah kau membangkitkan Pabrik Emas itu dan Ruhin, apa yang kau inginkan, Fured?”
“Itu pertanyaan bagus, pangeran Uzan,” kata Fured. “Aku akan menjelaskan tujuan inti dari apa yang aku lakukan.”
__ADS_1