Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pemulihan


__ADS_3

Sore itu, Raja Endan dan Ratu Sofia dipaksa oleh duduk bersimpuh oleh Rivata. Mereka diikat oleh sulur tanaman hijau.


Faraq dan para ajudannya sedang berdiri di lantai bagian atas istana. “Aku menyuruhmu untuk langsung membunuh mereka berdua, Rivata. Namun kau membawa mereka kemari.”


“Aku tidak bermaksud untuk menyelamatkan mereka, Tuan Faraq,” kata Rivata. Jemarinya membentuk sulur – sulur tanaman hijau. “Tapi aku ingin mengetahui tentang pembicaraan terakhir yang akan kau sampaikan kepada mereka berdua sebelum kita mengambil alih kerajaan ini.”


Tidak bisa dimaafkan,” Sofia mendesis. “Kau adalah pelaku dari bencana ini.”


“Itu benar, Sofia,” kata Faraq. “Aku adalah pelaku dari bencana ini.”


Endan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan sulur Rivata, tapi sia – sia. “Seharusnya aku tidak mengangkat pengkhianat sepertimu menjadi petinggi.”


“Kata seharusnya adalah kata yang sia – sia, Endan,” Faraq tersenyum tenang sambil menggeleng. “Tapi nasi sudah menjadi bubur. Di samping itu, sayang sekali bahwa jumlah prajurit tidak dikurangi untuk mengawal Uzan, sang putra mahkota kesayangan.”


“Untung saja Uzan kami kirimkan sendiri untuk menjalani penugasan bodoh rekaan yang kau lakukan,” kata Endan. Kalau tidak—”


“Kau tidak perlu bersyukur, Endan,” kata Faraq. “Salah satu dari ajudanku sudah kuperintahkan untuk mengikuti Uzan dan mencabut nyawanya.”


“Apa katamu?” Endan geram.


“Itu benar,” Faraq bersedekap. “Lokasi Uzan sudah dilacak. Ia sedang berada di Hutan Lumina. Bersama beberapa orang yang tidak seharusnya tidak punya keterkaitan dengan tugas ini. Selain itu, Malvin, ajudanku, sedang mendatangi Uzan dengan memaksa Hikin si untuk mengeluarkan portal antara Istana Kastala dan Hutan Lumina.”


Endan menggeram. “Kurang ajar!”


“Begitulah seseorang ketika sedang dilanda kemalangan,” Rivata tersenyum. “Tuan Faraq, apakah kau yakin bahwa kedua pimpinan ini sudah tidak dibutuhkan lagi?”


Faraq terdiam sejenak sembari mengamati Endan dan Sofia yang sedang terikat oleh tali sulur milik Rivata. Kemudian, ia berujar, “Untuk saat ini akan kutangguhkan kematian mereka berdua.”

__ADS_1


“Sudah kuduga,” kata Rivata. “keputusanku tepat. Pastinya kau akan berubah pikiran dan memilih menangguhkan kematian mereka.”


Di samping Faraq, Frigg bertanya, “Tuan Faraq, apakah kau punya rencana yang berkenaan dengan mereka? Maksudku, pastinya mereka berdua akan menghambat jika dibiarkan hidup ketika kita sudah menguasai seluruh wilayah Kerajaan Kastala.”


“Tidak, Frigg,” kata Faraq. “Aku akan menggunakan Endan dan Sofia sebagai alat untuk penawaran ketika kita bernegoisasi dengan kerajaan lain. Kita sudah mengetahui bahwa tujuan kita adalah untuk menguasai kerajaa Kastala. Akan tetapi, kita juga harus memiliki pikiran jangka panjang bahwa pada akhirnya, tujuan terbesar kita adalah untuk menguasai seluruh wilayah Dunia Amaril. Untuk meraih tujuan itu, kita akan menggunakan apa saja.”


“Itu benar,” kata Larisa yang juga sedang berdiri di samping Faraq. “Tapi kita tidak boleh membabi buta dalam melakukan perencanaan ini.”


“Baiklah,” Faraq menjentikkan jari. “Rivata, tidurkan mereka. Setelah itu, bawa mereka ke ruang bawah tanah!”


“Baiklah,” Rivata mengangguk. Kemudian, ia mengarahkan jari telunjuknya ke Endan dan Sofia. Tali sulur yang mengikat mereka berdua berpendar dengan cahaya kehijauan. Sebelumnya, Endan dan Sofia ingin berbicara. Akan tetapi, tubuh mereka berdua melemah dan akhirnya mereka memejamkan mata mereka dan segera tergeletak dalam tidur mereka.


Kemudian, Rivata membuka telapak tangan kanannya. Lalu, Endan dan Sofia melayang rendah beserta sulur hijau yang mengikat mereka.


“Baiklah,” kata Rivata. “Aku akan membawa membawa mereka pergi ke penjara bawah tanah.”


Sebelum Frigg membalikkan badan, Frigg berseru, “Tunggu!”


Apa kau bisa menjelaskn tentang bagaimana kau menangkap Raja Endan dan Ratu Sofia dalam tempo cepat?”


“Itu mudah,” kata Rivata sambil tersenyum. “Aku bermeditasi beberapa jam untuk melacak daerah si dekitar Istana Kastala. Seperti yang kau ketahu bahwa aku adalah seorang Ivy, makhluk yang mempounyai kemampuan khusus untuk mengendalikan tanaman. Oleh sebab itu, aku bisa memindai daerah sekitar yang memiliki tumbuhan berupa pepohonan dan tanaman sejenis.


“Aku dapat dengan mudah untuk melacak Raja Endan dan Ratu Sofia karena kebetulan mereka sedang ada di bawah sebuah pohon yang ada di sekitar lapangan latihan prajurit. Ketika aku sudah menemukan mereka berdua, aku merubah pohon tersebut menjadi manusia pohon, Duliv, untuk menyerang mereka. Hal tersebut sangatlah mudah karena hanya ada beberapa prajurit yang sedang berada di sekitar mereka. Karena itu, Duliv bisa mengalahkan mereka semua dan akhirnya menangkap Raja Endan dan Ratu Sofia.”


“Aku tidak yakin bahwa jangkauan pencapaian sihir tanamanmu itu hanya akan terbatas di wilaya sekitar Istana Kastala,” kata Larisa. “Bukankah begitu?”


“Itu benar,” kata Rivata. “Berkat Jimat Rimasti diberikan oleh Tuan Faraq, aku yakin bahwa jangkauan sihirku bisa mencapai seluruh Pulau Kastala.”

__ADS_1


“Itu bagus,” kata Faraq.


“Aku akan mengantar mereka berdua ke penjara bawah tanah dahulu,” kata Rivata sambil berbalik arah dan melangkahkan kaki. Endan dan Sofia melayang rendah dan mengikutinya.


“Sudah saatnya,” kata Faraq. “Aku akan memulihkan bencana di pulau Kastala hanya dengan menggunakan kalung Rimasti yang sedang aku gunakan ini.”


“Tuan Faraq,” kata Frigg. “Seperti yang diketahui, di awal, kita mengguncangkan Istana ini menggunakan lima kalung hijau Rimasti yang sedang kita gunakan, kan?”


“Bukan kita,” Faraq meralat, “melainkan kalian.”


Larisa tampak tidak mengerti. “Maksudnya?”


“Memang benar bahwa seluruh jimat hijau Rimasti yang kita gunakan ini memiliki manfaat sama.” Faraq melepas kalung hijau yang dikenakannya. “Akan tetapi, kalian harus mengetahui bahwa jimat milikku berbeda. Ini karena jimat milikku memiliki lima kekuatan jimat hijau Rimasti yang digabungkan menjadi satu.”


“Apa kau bersungguh – sungguh, Tuan?” tanya Frigg.


“Kalian tidak perlu khawatir,” Faraq mengenakan kembali jimatnya. “Aku akan bisa memulihkan gempa Kastala ini hanya dalam hitungan detik.”


Frigg terkekeh. “Sayang sekali kita sudah membuat mereka melakukan hal – hal dungu padahal gempa periodik yang sedang terjadi ini bisa dipulihkan dalam hitungan detik.”


“Itu benar,” Larisa membenahi rambutnya. “Rapat yang dilakukan, kerusakan yang ditimbulkan, bahkan tugas besar yang dijalankan menjadi sia – sia karena hal ini.”


Faraq berjalan mendekati pagar dan mengamati kerusakan yang diakibatkan oleh rintisan rencananya. Larisan dan Frigg juga berdiri di sampingnya. Saat ini, Malvin sedang pergi menuju ke Hutan Lumina untuk membunuh Pangeran Uzan. Rafael juga meminta izin untuk memeriksa keadaan di sekeliling lingkungan sekitar istana agar ia dapat memberikan maklumat lebih kepadanya.


Walaupun begitu, Faraq juga mengetahui alasan izin Rafael. Ia tidak ingin menemui Raja Endan dan Ratu Sofia di sini karena akan diminta penjelasan dan dianggap pengkhianat. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa yang sedang dilakukan olehnya adalah sebuah pengkhianatan. Namun hal ini adalah untuk membantu dirinya untuk menguasai Dunia Namaril serta memperoleh bagian dari kekuasaannya.


Faraq melepasan kalungnya kembali. Kemudian, ia mengenggam Jimat Rimasti dengan telapak tangan kanannya dan menagngkatnya sambil memejamkan mata dan merapalkan mantra.

__ADS_1


Tiba – tiba, pendaran cahaya putih meledak dari diri kalung tersebut, menghempaskan angin yang menyebarkan percikannya ke seluruh penjuru wilayah Istana Kastala.


Tidak lama kemudian, seluruh wilayah tersebut menjadi hening dan sunyi. Bahkan tidak ada dentingan suarapun yang terdengar. Faraq, Frigg, dan Larisa hanya mengamati pemandangan Sore yang sedikit demi sedikit menggelap karena matahari yang perlahan tenggelam.


__ADS_2