Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Penjelasan Istandi


__ADS_3

Di ruang utama bagian bawah istana, Rena memeriksa bagian makanan pokok yang sedang dilakukan oleh para pegawai kerajaan. Ia merapikan jubah putihnya sambil mengamati proses pemberian bahan makanan pokok yang berisi para perwakilan warga, terutama para kepala keluarga.


Ia merasakan bahwa gempa periodik yang terjadi sejak awal sudah tidak terjadi selama dua hari sekali. Selain itu, sampai sekarang, istana hanya merasakan gempa kecil. Sebelumnya, ia sudah berkonsultasi dengan para penyihir di lingkaran istana. Mereka juga menyetujui bahwa kondisi yang sedang dirasakannya sekarang terkesan ganjil. Namun tidak ada dari mereka yang memiliki solusi untuk memecahkan masalah ini. Jadi, para penyihir memilih untuk menunggu keputusan lebih lanjut, terutama hasil dari tugas yang dilakukan Uzan dan kawan – kawan.


“Rena, kau mengamati pekerjaan para pegawai istana, ya?”


Rena tertegun. Entah sejak kapan, istandi sedang berdiri di sampingnya.


“Iya,” Rena menggeleng untuk menyingkirkan pikirannya. Setelah itu, gadis itu berkata, “aku juga ikut prihatin dengan kondisi masyarakat yang sedang ditimpa bencana.”


“Itu bagus, Rena,” kata Istandi. Lalu, ia menunjuk ke arah sebuah bangku panjang yang ada di ujung ruangan. “Jika ada waktu, kenapa kita tidak bicara panjang lebar. Sesungguhnya, aku juga punya beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu mengenai…” Istandi menghela. “Keadaan yang terjadi di istana ini.”


Rena mengamati istandi sejenak. Petinggi Bagian kemasyarakatan itu tampak khawatir, namun ia juga memiliki masalah serius untuk di bicarakan. Akhirnya, Rena menjawan singkat. “Mari!”


Kemudian, Rena dan Istandi berjalan menyusuri para pegawai dan duduk berdua di bangku panjang yang tersedia.


“Rena,” kata Istandi, sambil membuka pembicaraan. “Apakah kau berfikir bahwa bencana yang kita alami ini sangatlah ganjil.”


“Ternyata kau juga sedang memikirkan tentang apa yang aku pikirkan, Istandi, ” ujar Rena. Sambil meletakkan kedua telapak tangan di atas pangkuan.“Memangnya kenapa?”


“Aku bukanlah seorang raja dan,” Istandi menghela. “Pastinya menjadi seorang raja adalah hal yang sulit. Akan tetapi, aku juga sedang menilai keputusan yang sedang dijalankan oleh Raja Endan.”


“Aku kira keputusan ini cukup tepat,” kata Rena. “Maksudku, pembagian bahan makanan ini juga sudah dieksekusi dengan baik.”


“Aku ingat ketika kau membantah pernyataan Faraq tentang solusi yang sekarang sedang sedang dijalani oleh Pangeran Uzan,” Istandi menyandarkan diri ke dinding. “Apakah kau memang menentang keputusan itu?”


“Maksudmu?”


“Pangeran Uzan sudah lama pergi,” Istandi menatap ke bawah. “semakin hari, aku juga merasa sedikit curiga dengan Faraq.”


Rena berujar, “Sebelumnya aku juga merasa curiga dengan Faraq, tapi—”

__ADS_1


“Tentu saja ini demi kemaslahatan istana, Rena,” kata Istandi. “Maaf jika aku memotong”


Rena mengangguk. Ia melambaikan telapak tangannya. Mempersilahkan istandi untuk melanjutkan pembicaraannya.


“Setelah berkeliling dengan Raja Endan beberapa hari ini, aku ingin menjabarkan tentang kaitan antara keputusan Raja Endan dan solusi yang sdang dijalani Faraq saat ini.”


“Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu, Istandi,” Rena menyeka rambutnya.


“Baiklah,” Istandi mulai menjelaskan. “Tidak bisa dipungkiri bahwa Raja Endan bermain aman dengan keputusannya dan tidak ingin mengambil resiko. Bagaimana tidak, walaupun gempa periodik ini sudah pudar dan sangat jarang terjadi, ia masih memperlakukan kebijakan untuk mengamankan seluruh warga yang sedang tinggal di Istana.


Setelah itu, tentang Faraq. Beberapa kali aku mengikuti Faraq dan ternyata ia memiliki ajudan penyihir – penyihir asing yang memakai kalung hijau. Apa kau mengenali mereka, Rena?”


“Setahuku, semua kelompok penyihir tidak pernah mengenakan kalung sekalipun,” Rena menggeleng. “Jadi, bagaimana pengamatanmu tentang Faraq.”


Istandi menghela. “Aku mulai menyadari tentang betapa benar bantahanmu kepada solusi yang ditawarkan oleh Faraq untuk memulihkan gempa yang dulunya dibilang, periodik. Seringai yang dilakukannya ketika berhubungan dengan para penyihir berkalung hijau itu sangatlah ganjil dan terkesan mencurigakan. Tentu saja aku tidak berkomentar dan pura – pura tidak tahu ketika aku menyaksikan itu. Akan tetapi, aku juga memperhatikan.”


Rena mengamati Istandi yang cara bicaranya semakin serius.


“Itu benar,” kata Rena. “Aku cukup mengetahui tentang Material Magis itu.”


“Tidak mengherankan, karena kau adalah putri Tuan Kamasa,” Istandi bersedekap. “Di sini, aku hanya ingin berkomentar tentang keputusan Faraq untuk menyingkirkan Pangeran Uzan dari Istana.


“Aku tahu bahwa ini adalah buruk sangka karena kemungkinan ini hanyalah asumsiku saja. Akan tetapi, aku berkesimpulan bahwa gempa ini disebabkan oleh Faraq dengan menyuruh ajudan – ajudannya, yang merupakan penyihir. Keteranganku itu aku ambil dari pengalamanku ketika melihatnya berbincang dengan para penyihir berkalung hijau.


“Kedua, ketiadaan Kamasa dalam rapat yang diadakan oleh Raja Endan kemarin juga perlu kucurigai. Sebelumnya, aku mengira bahwa bantahanmu tidak masuk akal. Kemungkinan karena aku berfikir bahwa itu adalah satu – satunya cara. Akan tetapi, semakin lama, aku bisa mengerti tentang bantahan tersebut. Apalagi, Kamasa sedang tidak ada dan seharusnya, Faraq memberikan keterangan lebih lanjut mengenai keberadaan Kamasa. Namun, sampai sekarangpun, Raja Endan tidak pernah berbicara sepatah katapun tentang Kamasa.


“Lalu, kepergian Pangeran Uzan juga patut dicurigai karena bisa jadi yang mengutus Uzan untuk pergi bukanlah Kamasa, melainkan Faraq sendiri…”


Istandi terdiam sejenak. Rena mengingat – ngingat tentang sihir yang dilakukan Faraq ketika memberikan perkamen untuk mengumpulkan material magis. Ia juga sempat berbicara tegas kepada Faraq tentang kejanggalan itu dan tentang ketiadaan Kamasa. Entah mengapa, sampai sampai sekarang ayahnya belum kembali dari rapat yang dilakukannya di kerajaan Oslar dan…


Seolah membaca pikiran Rena, Istandi bertanya, “Apakah kau sudah mengetahui tentang kabar Tuan Kamasa yang faraq bilang sedang mengadakan rapat di Kerajaa Oslar?”

__ADS_1


“Belum, Istandi,” Rena menjawab singkat.


“Aku sudah mengetahuinya.”


“Oh, ya? Bagaimana?”


“Ketika aku berjalan bersama Faraq dan Raja Endan, ketika Raja menanyakan tentang perihal Kamasa, Faraq bilag bahwa Kamasa beralih melakukan negoisasi dengan kerajaan – kerajaan lainnya.”


“Itu tidak mungkin,” kata Rena. “Yang masuk akal adalah, Seharusnya, ayah kembali untuk melaporkan perihal tersebut.”


“Apakah kau baru saja menyadarinya?”


“Tidak, tapi akhir – akhir ini, Raja Endan bilang bahwa ayah sudah semakin akrab dengan Faraq. Di samping itu, ayah juga jarang pulang, jadi…” Rena menghadap ke bawah dengan raut muka murung. “Aku memakluminya.”


“Terima kasih telah mendengarkan penjelasanku tentang keadaan istana ini, Rena.” Istandi berdiri. “Aku mengatakan hal ini kepadamu karena aku menganggapmu lebih mengetahui tentang ini. Di samping itu, pastinya kau juga mengetahui perihal Tuan Kamasa dan Tuan Faraq,” Istandi mendengus kesal. “Seandainya aku mempunyai kekuatan sepertimu, tapi aku sadar bahwa kau lebih bisa menangani ini. Jadi, mungkin ini bisa jadi pertimbangan untuk didiskusikan dengan para penyihir lainnya.”


“Baiklah,” kata Rena sembari berdiri. Setelah ini, sebisa mungkin aku akan mengadakan diskusi dengan para penyihir dan klerik istana.”


“Terima kasih, Rena,” Kata Istandi. “Aku akan melanjutkan pekerjaanku dahulu.”


Gadis penyihir itu mengangguk. Setelah itu, Istandi berjalan menjauh menuju pintu keluar istana untuk melanjutkan aktivitasnya.


Rena mematung sembari memikirkan penjelasan yang baru saja diutarakan oleh Istandi. Perihal Faraq, perihal gempa, perihal tugas pangeran Uzan, dan perihal relasinya dengan ayahnya, Kamasa. Yang terakhir adalah yang paling penting. Kenapa selama ini seolah ia tidak perduli kepada ayahnya? Sebelumnya ia berpikir bahwa ini karena ayahnya sibuk karena menjalani tugas kerajaan.


Rena mengedarkan pandangan ke seluruh pegawai kerajaan yang berbagi bahan makanan pokok.


Keadaan kerajaan ini sangatlah ganjil karena gempa yang sudah terhenti tapi masih banyak kecurigaan yang harus ia pastikan. Kemudian, Rena memutuskan untuk memulai memeriksa hal ini dengan memeriksa relasi nya dengan ayahnya, Kamasa.


Gadis penyihir itu bergumam. “Aku akan ke kamar ayah untuk memastikan kegiatan apa yang sedang ia jalani sampai sekarang.”


Kemudian, Rena segera mengalihkan pandangan dan berjalan cepat ke tempat yang diinginkannya.

__ADS_1


__ADS_2