Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Kesan Pertama


__ADS_3

Uzan dan Arika melayang rendah keluar dari bagian gelap gua ke bagian dalam gua.


Setelah itu, mereka berdua mengedarkan pandangan ke sekitar gua tersebut. Gua yang mereka jumpai bercahaya redup. Lingkungan yang ada di sekitar mereka tampak kelam dan kosong karena gua di bagian atas dan bawah gua tersebut telah terbentuk stalaktit dan stalakmit yang bertebaran dengan berbagai macam ukuran. Selain itu, di samping kiri dan kanan mereka terdapat aliran sungai yang mengalir deras.


Arika menghela. “Pangeran Uzan, aku merasa bahwa aku baru saja bangun dari tidur.”


“Itu juga baru saja aku rasakan, Arika,” kata Uzan.


Setelah itu, Uzan dan Arika melihat ke belakang dan memandang bahwa di belakang hanya ada ruangan gelap gulita.


Setelah mengetahui penyebab hilangnya kesadaran mereka, sang pangeran dan gadis penyihir itu berbalik kembali melihat arah tujuan mereka.


“Aku tidak mengerti tentang apa yang akan kita lakukan di sini, pangeran,” kata Arika. “Di sini sangat gelap.”


“Aku simpulkan,” kata Uzan, “bahwa kita hanya harus berjalan ke depan karena di belakang kita hanyalah ruangan gelap gulita.


“Baiklah,” kata Arika. Setelah itu, gadis penyihir tersebut mengikuti sang pangeran yang mulai melangkahkan kaki ke depan. “Pangeran Uzan, semoga Edgar dan lainnya baik – baik saja.”


“Semoga saja,” Uzan mengangguk. Sembari berjalan, ia bertanya, “Apakah kau tahu menahu tentang batu Akais, Arika?”


“Aku hanya mengetahui sedikit, pangeran,” Arika menghela. “Yang kuketahui adalah bahwa batu Akais memiliki khasiat untuk mengokohkan suatu bangunan.”


“Sangat wajar jika batu Akais ini dibutuhkan dalam mengumpulkan material magis ini.”


“Itu benar, pangeran,” kata Arika. “Aku menganggap bahwa kemungkinan besar seluruh fungsi dari masing – masing material magis yang sedang kita kumpulkan memiliki kaitan dengan pemulihan gempa yang terjadi di Kastala.”


Keheningan sejenak terjadi diantara mereka berdua ketika mereka berjalan berdampingan dengan arah lurus di gua yang bercahaya redup yang sedang mereka pijak. Uzan mempunyai Asumsi bahwa mekanisme untuk mendapatkan petunjuk di gua ini adalah berjalan lurus sampai ada yang menghampiri sama seperti ketika ia dan Dubal berada di dunia antah berantah di Bukit Giraf untuk memperoleh Kain Kagigar Perak.


Sang pangeran menunjuk arah ke depan dan berkata, “Mari kita lanjutkan perjalanan ke arah sana,”


Gadis penyiihir itu mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu, Uzan dan Arika berjalan bersama tanpa dialog antara satu sama lain karena suasan redup yang mempengaruhi perilaku mereka. Hal ini dikarenakan mereka juga merasa siaga dengan hal – hal yang mungkin akan muncul secara tiba – tiba.


Di samping Stalaktit dan Stalakmit, mereka berdua juga melihat berbagai macam batuan yang berpendar dengan berbagai macam warna yang tertimbun dia dinding gua. Kilatan cahaya multi warna tersebut sempat menarik perhatian. Namun mereka berdua tetap berjalan lurus.


Beberapa saat kemudian, desauan angin mulai terasa oleh mereka. Dalam sekejap mata, mereka melihat seekor kelelawar raksasa muncul secara tiba – tiba dan menyebabkan Uzan dan Arika dalam posisi siaga.


Kelelawar tersebut berwarna hitam dan berukuran dua kali besar orang dewasa. Makhluk itu bertengger di bagian langit – langit gua dan menatap Uzan dan Arika dalam posisi terbalik.


“Selamat datang para pengunjung,” suara keluar dari ruangan gua. Uzan dan Arika sudah lebih dahulu mengetahui bahwa Suara tersebut berasal dari Kelelawar yang sedang mereka berdua hadapi.


Kelelawar tersebut melanjutkan sambutannya, “Pastinya kalian berdua ke sini untuk mendapatkan Baru Akais. Bukankah begitu?”


“Itu benar,” jawab Uzan singkat.


“Suara kelelawar tersebut muncul kembali di sekitar ruangan gua tersebut. “Kalian harus memenuhi tiga syarat jika ingin memperoleh Material Magis itu.”


“Apa syaratnya,” tanya Sang Pangeran.


Aku akan langsung menyebut syaratnya,” kelelawar tersebut mengepakkan sayap sejenak. Setelah itu, ia menutup sayapnya kembali. “Pertama, Menemukan kelelawar merah. Kedua, melawan prajurit roh. Ketiga, menghadapi prajurit batu.”


“Kau tammpak sangat baik, Tuan Kelelawar,” kata Arika dengan nada ragu, “tapi apakah pernah ada pengunjung yang datang ke sini?”


“Ada,” kata Kelelawar tersebut. “Mereka semua juga ingin memperoleh batu Akais yang terbentuk di gua ini selama ratusan tahun sekali. Namun sayang sekali mereka semua mati karena tidak bisa memenuhi syarat yang sudah tertera.”


“Apakah sudah pernah ada yan mendapatkan batu Akais?” tanya Uzan.


“Sudah,” kata kelelawar itu. “Ia adalah sseorang penyihir dari kerajaan Oslar. Namun itu sudah lama sekali. Sekitar ratusan tahun yang lalu.”


Mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan oleh kelelawar tersebut, sang pangeran menyimpulkan bahwa kelelawar tersebut berarti sudah familiar dengan Dunia Namaril.


“Pangeran Uzan,” kata Arika dengan gugup. “Jawaban itu membuatku sedikit ragu. Maksudku, jika orang yang memperoleh Batu Akais terakhir adalah ratusan tahun lalu, aku juga tidak yakin bahwa kita juga akan bisa memperolehnya. Apalagi dia juga berkata bahwa orang – orang mencoba untuk memperoleh Batu Akais akhir – akhir ini tewas di dalam gua ini.”

__ADS_1


“Aku merasakan keraguan di dalam gadis penyihir di sampingmu, pangeran,” kata Kelelawar hitam raksasa itu. “Tapi itu juga perlu dipertimbangkan tentang alur kehidupan yang akan kalian berdua pilih. Apakah kalian masih ingin melanjutkan hidup atau kalian menginginkan tempat ini menjadi kuburan kalian.


“Lagipula, ini adalah persoalan tentang hidup dan mati. Jadi, jika kalian ingin kembali, maka kembalilah. Kalian hanya perlu mengucapkan kata ‘kembali’ secara bersama. Setelah itu, kalian berdua akan langsung memudar dan kembali keluar dalam keadaan sehat seperti biasa.”


“Kami tidak akan pernah kembali,” kata Uzan dengan mantap. Sang pangeran juga berharap bahwa Arika yang sedang berdiri di sampingnya juga terpengaruh dengan tekadnya dan berkeputusan untuk melenyapkan keraguannya.


Arika melihat keinginan kuat yang terpancar di dalam ucapan sang pangeran. Arika menghela dan mencoba menghilangkan keraguannya dan berujar, “Itu benar, kami berdua akan memperoleh Batu Akais guna memulihkan gempa yang terjadi di Kastla.”


“Gempa, ya?” kata kellelawar itu. “ Gempa itu memang terjadi berkali – kali di awal. Tapi akhir – akhir ini, sudah tidak terjadi. Jangan salahkan aku jika aku tidak mengerti tentang maksud kalian.”


Uzan menatap kelelawar besar itu lekat – lekat. Benar apa yang dikatakannya. Jika dipikir – pikir, sampai sekarang gempa sudah mulai reda. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan dengan tugas yang sedang ia emban? Ia belum mengerti. Tapi ia sudah di sini dan akan teguh dengan tekadnya. “Di sini, kami akan tetap berkehendak untuk mendapatkan batu Akais.”


“Pangeran Uzan,” Arika menghela cemas. “Mungkin komentar Tuan Kelelawar itu benar adanya. Maksudku, sudah ada kecurigaan sebelumnya tentang kebenaran yang terkait dengan tugas ini. Di samping itu…”


Untuk sementara ini, kita akan menghapus rasa curiga itu, Arika,” kata sang pangeran. “Kita akan berdiskusi dengan Edgar dan lain – lain tentang tugas yang kita emban. Di samping itu, kita tidak perlu khawatir tentang sejarah Batu Akais. Kelelawar itu berkata bahwa peraih Batu Akais sebelumnya adalah penyihir. Di sini, kau juga adalah seorang penyihir. Aku yakin bahwa kita mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Batu Akais.”


Setelah mendengar persuasi Uzan, Arika mengangguk mantap. “Baiklah, kita akan bersiap – siap, pangeran.”


Kelelawar itu berbunyi kembali, “Jadi, apakah kalian berdua bersedia untuk melanjutkan tekad kalian untuk memperoleh batu Akais?”


“Itu pasti,” kata Uzan. Arika juga bersiap – siap dan memunculkan tongkat sihir di telapak tangannya.


“Jika kalian berdua memang sudah teguh dengan pendirian kalian,” kelelawar besar tersebut membuka sayap besarnya, mengepakkannya dan menhempaskan angin ke arah Uzan dan Arika sampai mereka berdua harus menutup mata dengan tangan dan mengokohkan pijakan ke tanah agar tidak ikut terhempas.


Kemudian, kelelawar tersebut turun dan dari dinding dan bertengger di atas tanah. Kedua matanya yang terbuka memendarkan cahay merah. “Akan kusajikan ujian bagu ucapan kalian.”


Setelah itu, kelelawar tersebut mengepakkan sayapnya kembali dan menghasilkan hempasan angin yang lebih besar dan mengarah ke Uzan dan Arika. Gadis penyihir itu menyalakan tongkatnya dan mengluarkan sihir bola anging gemerlap hikjau yang melingkupi sang pangeran dan dirinya sehingga mereka berdua tidak terengaruh oleh hempasan angin kelelawar tersebut.


Beberapa saat kemudian, Uzan dan Arika melengak ke atas dan mendapati ratusan kelelawar berkumpul di langit – langit sembari mengepakkan sayap mereka seakan mereka hendak menukik dan memangsa. Di antara mereka seekor kelelawar tampak memendarkan cahaya merah terang.


Uzan dan Arika mengetahui keberadaan kelelawar merah tersebut dan pandang mereka berdua mengikuti arah gerakan kelelawar tersebut karena hewan itu bergerak cepat kesana kemari.

__ADS_1


“Aku utarakan lagi ujian pertama dengan lebih jelas,” Kelelawar raksasa hitam yang bertengger di depan Uzan dan Arika membuka sayap besarnya lebar – lebar. “Sebelum kalian mati karena menjadi santapanku dan santapan kelelawar hitam lainnya, kalian harus lebih dulu mematikan kelelawar merah yang berada di antara kita.”


Uzan mengedarkan pandangan ke seluruh kelelawar tersebut sembari mengeluarkan pedangnya. Arika bersiap – siap dengan memendarkan cahaya hijau dari ujung tongkat sihirnya.


__ADS_2