Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Anggota Baru


__ADS_3

Uzan dan lainnya akhirnya mendarat dari cahaya putih Rota. Mereka mendapati sebuah hutan. 


Uzan menghampiri Rota. “Apa mereka tidak tahu kemana arah cahaya itu tertuju?”


“Tidak,” kata Rota. “Gulda, Silvar, dan Barinza bisa juga memunculka cahaya seperti itu. Namun kami tidak bisa membatalkan pintu magis lain. Ditambah lagi, kami tidak tahu menahu tentang kemana arah cahaya yang dimunculkan itu.”


“Um, setidaknya kita selamat dari mereka,” kata Edgar. “Bukankah itu yang terpenting?”


“Iya,  Pangeran,” kata Sara. “Setidaknya kita sudah tidak dikejar oleh makhluk – makhluk magis itu.” 


Sara mengamati kuda Dubal yang sedang terluka. Gadis itu menyembuhkannya sampai luka – luka di tubuh kuda itu lenyap, namun kuda itu masih terlihat kelelahan.


“Baiklah, Dubal,” kata Uzan sambil berjalan ke arah Dubal. “Ini Bagianmu.”


Dengan raut muka ragu, Dubal menerima upah yang diberikan Uzan. “Terima kasih, pangeran.”


“Kerja Bagus, Dubal!” kata Rota.


“Terima kasih, Rota” kata Dubal. “Berapa bagian yang kau inginkan?”


“Kau bercanda?” kata Rota sambil menyeringai, Silvar tidak membutuhkan uang.”


“Tentu saja,” Dubal tampak sangsi.


Rota melompat – lompat “Ngomong – ngomong, aku tidak bias lama – lama tinggal di dunia kalian.”


“Kenapa?” kata Sara. 


“Aku tidak betah jika di dunia manusia dalam waktu lama.”


Edgar mengangkat alis. “Oh, ya?”


“Iya!” kata Rota. “Aku akan segera pindah ke dalam bukit Silvar, Barinza, dan Gulda yang ada di Tamarin.”


“Baiklah!”


“Sampai jumpa!” Rota menjentikkan jarinya. Sebuah lingkaran cahaya putih memancar disampingnya. Rota memasuki Cahaya tersebut. Setelah itu, cahaya itu lenyap.


“Sayang sekali, kita sudah kehilangan kuda kita,” kata Uzan. “Setidaknya, aku membawa Kain Kagigar Magis, uang, dan Gulungan Utama untuk menyerahkan hasil yang baru saja kita dapatkan ke istana.”


“Sayang sekali makanan dan berbagai perbekalan juga tertinggal di sana,” kata Edgar dengan nada santai. “asal tahu saja, bukan cuma itu yang kupikirkan.” 


“Bagaimana kalau aku ikut dengan kalian?” Dubal berujar.


Uzan, Edgar, dan Sara menghadap ke arah Dubal dengan keheranan.


Uzan mengangkat alis. “Apakah tidak apa – apa?”

__ADS_1


“Ya,” kata Dubal. “Aku sedikit merasa bersalah dengan kalian pangeran. Lagipula, dengan satu kuda ini pun aku tidak akan bisa menebus kesalahan ini.’


“Melihat bagaimana kau bertarung di alam antah berantah tadi, jika kau memutuskan untuk ikut, aku akan langsung bisa menerimamu,” kata Uzan. 


“Juga karena Nyonya Natalia telah menyembuhkanku,” Sara menambahkan.


Edgar bersedekap sambil tersenyum. “Mungkin aku bisa belajar beberapa teknik bertarung darimu, Dubal.”


Dubal mengangguk. Terima kasih.”


“Tapi, Apakah Istrimu tidak khawatir?” tanya Uzan.


“Tidak, Pangeran Uzan” Kata Dubal “Sebelum aku pergi dari rumah, aku sudah izin padanya untuk pergi dalam waktu lama karena aku memiliki ini.”


Dubal mengeluarkan Kalung perak yang ia gunakan untuk membuka Wilayah Magis.


“Kalung ini bernama Sila, diberikan Rota kepadaku sebagai imbalan untukku. Fungsinya, selain membuka wilayah magis Silvar, juga berfungsi untuk berhubungan dengan Rota dan istriku.”


“Aku sudah mengira bahwa kau akan ikut, Dubal” Uzan langsung menyimpulkan “Kehadiranmu memang dibutuhkan di dalam perjalanan ini.” 


“Sekali lagi, terima kasih,” kata Dubal. 


Dubal menyalami Uzan, Edgar, dan Sara. 


“Kita sudah selesai dengan Kain Kagigar Perak” kata Uzan. “Aku akan mengirimkan material Magis ini ke Istana Kastala.”


Beberapa saat kemudian, secercah cahaya putih memancar dari udara di sekitar kain tersebut. Setelah itu, perkamen tersebut menghilang.


“Jadi, ini cara untuk mengirimkan Kain Kagigar itu ke istana secara langsung.” Dubal bersedekap, ia tampak tertarik.


“Baiklah, Dubal” kata Uzan. “Karena karena kau sudah menjadi anggota dari kami, aku akan menyingkap maksud dari perjalanan kami.”


“Jelaskan!” 


“Sederhananya, kita membutuhkan lima Material Magis untuk memulihkan gempa ini.” 


“Jadi, Kain Kagigar Perak adalah yang pertama?”


“Itu benar. Aku bisa tahu kemana arah Material Magis yang kita perlukan, tapi aku harus berusaha untuk mendapatkannya dengan usaha semdiri,” ujar sang pangeran. “Selanjutnya, kita hanya perlu menunggu untuk keterangan selanjutnya dari perkamen ini.”


Ratusan butir cahaya perlahan memancar dari bagian tengah perkamen tersebut. Perlahan – lahan, sebuah tulisan terbentuk. 


_-_- Rivata -_-_


Tulisan itu mengeluarkan cahaya hijau terang. Uzan dan lainnya memperhatikan tulisan itu dengan seksama, lalu dengan cepat cahaya tersebut memudar.


“Rivata?” kata Edgar “Kau bisa menjelaskannya, Uzan?”

__ADS_1


Uzan memejamkan matanya sejenak, lalu berujar, “Rivata adalah salah seorang Dryad wanita yang ada di taman Sativ yang ada di sebelah utara bagian Pulau Kastala.


“Baiklah!” kata Edgar, mari kita melanjutkan perjalanan. 


“Sayang sekali kita harus berjalan tanpa tujuan seperti ini,” kata Sara.


“Tenang saja, Nona Sara” kata Dubal “Rota mengirimkan kita ke wilayah yang dekat dari pemukiman. Jika kita berjalan ke arah utara, mungkin kita akan menemukan pemukiman.”  


“Aku setuju. Intuisiku mengatakan bahwa jika kita harus berjalan ke utara,” kata Uzan. “Mari kita lanjutkan perjalanan.”   


Mereka berjalan menyusuri hutan sambil berjalan kaki. Dubal juga berjalan kaki sambil menuntun kudanya. 


Setelah lama berjalan, mereka memutuskan untuk berhenti  untuk beristirahat sejenak dibawah salah satu pepohonan yang rindang.


Sara menghampiri Dubal. “Tuan Dubal, bisakah kau menceritakan tentang hubungan antar kau dan Rota? Ketika tuan dan pangeran Uzan di dalam sana, ia bercerita bahwa kau mengalami sebuah kecelakaan di Oslar.”


“Baiklah, akan kuceritakan” kata Dubal, ia memutuskan untuk membuka diri karena sudah diterima sebagai kelompok Uzan. “Ketika itu, Rota sedang tersesat dan kelaparan. Ia bertemu dengan seorang prajurit bernama Galar yang menawarkannya makanan. Namun, ia tidak memberikan makanan. Ia memberitahu Rota bahwa ia boleh memakan seluruh makanan yang ada di kamar raja. Karena Rota sangat kelaparan, ia menurut dan menganggap bahwa prajurit itu adalah orang baik.


“Ketika Rota sedang makan di kamar raja, Galar menyuruh beberapa pelayan untuk menuju ke kamar raja karena ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah itu, para pelayan tersebut terkejut dan memanggil Galar. Galar langsung menangkap Rota dan tidak memberi kesaksian bahwa ia sendiri yang menyuruh Rota untuk makan di tempat raja. Sampai akhirnya, Galar sendiri yang melaporkan bahwa Rota adalah seorang pencuri. Karena pelayan – pelayan yang sudah disuruh Galar juga menyaksikan Rota yang makan di kamar raja, mereka menjadi saksi dan menyetujui pengakuan prajurit itu. 


“Setelah itu, Rota dibawa kehadapan Raja untuk dihakimi.Ia dijatuhi hukuman mati. Ketika itu, aku menyela hukuman tersebut dan mengaku bahwa aku telah menipunya Rota. Mengatakan bahwa aku ingin mendapatkan kenaikan pangkat.


“Karena hal itu, aku langsung diusir dari kerajaan Oslar. Rota menemaniku dan menjanjikanku bantuan tentang hal – hal yang berkaitan dengan Gulda, Silvar, dan Barinza, kapanpun dan dimanapun.” 


“Betapa baiknya dia,” kata Sara. “Bahkan Rota juga mengatakan bahwa kau sangatlah berharga bagi Rota.” 


“Nona Sara,” Dubal menghela. “Terkadang, kau tidak mengetahui betapa banyak balasan yang kau dapatkan ketika melakukan kebaikan sekecil apapun kepada seseorang. Selain itu, aku juga tidak berniat untuk memanfaatkannya.”


“Apa menariknya naik pangkat jika kau tidak menjadi prajurit kuat” Edgar mendengus. “Semakin kuat seorang prajurit, maka semakin ia akan diberi pangkat, kan?”


“Prajurit juga menginginkan pangkat untuk prestise tersendiri, Edgar” kata Dubal. “Lagipula, mereka juga berkesempatan menjadi petinggi. Semakin tinggi pangkat seorang prajurit, semakin ia diberikan perlakuan istimewa oleh istimewa. Bukankah begitu, Pangeran Uzan?”


“Tentu saja” kata Uzan.


Sara berujar, “Lalu, dimana Galar itu?”


“Setelah ia dipuji oleh raja Molin,” Dubal menjelaskan, “ia diutus untuk memimpin pasukan untuk menjalankan sebuah misi di kerajaan Rimasti. Tentu saja aku tidak menemuinya karena aku dan Istriku langsung diusir ke Kastala untuk menjadi rakyat biasa. Aku masih bisa baju Zirah Oslar ini sebelum diantar ke Kastala. Untuk mengenang masa – masa menjadi Prajurit di Oslar. Namun, aku sendiri sampai sekarang masih tidak memiliki rasa untuk menjadi seorang prajurit.


 


“Walaupun memakai zirah kerajaan Oslar, namun jika bukan termasuk pasukan Resmi Oslar, maka tidak ada  artinya dan,” Dubal menghela, “sebaiknya aku sudah tidak memakai zirah ini lagi.”


“Bagaimana reaksi Axel tentang ini?” tanya Uzan.


“Pangeran Axel?” kata Dubal. “Sejujurnya, Pangeran Axel tidak berkomentar apa – apa. Aku juga tidak menyalahkan Raja Molin dan ratu Iwada karena memang aku yang mengaku sebagai penipu. Namun Galar adalah pelakunya. Walaupun, jika aku menyebutkan Galar sebagai pelaku, mereka tidak mungkin percaya karena tidak ada bukti. Sepengetahuanku, Galar sedang ada di Rimasti. Hal ini tidak akan kupermasalahkan.”


“Baiklah,” Uzan mengamati anggota kelompoknya yang sudah mulai pulih dari kelelahan. Setelah itu, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. “Mari kita cari Material Magis yang tersisa!”  

__ADS_1


__ADS_2