
Suasana hening terjadi di ruangan tersebut. Hanya ada suara kobaran api putih yang berasal dari ratusan obor yang melayang – layang mengelilingi ruangan tersebut.
Uzan dan lainnya sedang terduduk mengelilingi kepala Sentafal. Tubuh Sentafal meledak menjadi butiran cahaya dan memudar.
Setelah Uzan memeriksa keadaan rekan – rekannya, sang pangeran mendapati bahwa Dubal masih terluka, Edgar mulai sulit untuk menggerakkan tubuhnya selain berjalan tertatih, Sara sedang memangku tubuh Arika dan menyentuh dada penyihir itu sambil menyalakan cahaya di telapak tangannya.
Setelah beberapa saat, perlahan – lahan Arika menyadarkan diri. Ia merasa lega setelah menyaksikan kepala Sentafal dan yang sudah tergeletak di depannya.
Sara berbisik, “Syukurlah...”
Setelah menyadarkan diri, Arika juga terduduk dan menyaksikan teman – temannya yang sedang duduk dan mengelilingi kepala Sentafal yang tergeletak di tanah. Penyihir itu merasa lega.
Sejenak keheningan menyeruak di antara mereka. Uzan membuka pembicaraan, “Akhirnya kita sudah berhasil mengalahkan Sentafal.”
“Itu benar,” kata Edgar, “Uzan melakukan serangan terakhir, tapi seharusnya kita semua sudah habis dihajar oleh Sentafal. Bagaimana bisa kau dapat tenaga lebih?”
Sara mengamati dua gelang biru yang sedang dipakainya. Gelang itu sudah tidak mengeluarkan cahaya. Kemudian, ia berkata, “Sepasang gelang Azure yang kupakai ini bisa menggandakan kekuatan seseorang selama dua puluh detik.”
“Terima kasih, Sara,” kata Uzan. “Berkat hal itu, aku bisa melakukan ayunan terakhir.”
Sara mengangguk sambil tersenyum. “Sama – sama, pangeran.”
“Arika,” Edgar bertanya, “kekuatan hijau yang tadi kugunakan akan berakibat kehilangan kekuatan bagi penggunanya, kan?”
“Itu benar,” kata Arika, “namun tiga hari yang dimaksud bukanlah secara langsung, namun secara gradual atau perlahan – lahan. Selain itu, pengaruhnya adalah penurunan kekuatan sihir bagi klerik dan penyihir, dan penurunan tenaga bagi prajurit.”
Edgar mendengus, “Aku tidak suka dengan resiko itu,”
Dubal bersedekap. “Paling tidak kau masih bisa bertarung setelah kau kehabisan tenagamu dan resiko itu terjadi setelah kita sudah menang.”
Edgar menghela. “Bukannya aku tidak merasa lega karena kita sudah menang, tapi untuk selanjutnya, aku tidak akan bisa membantu kalian.”
“Bicara tentang selanjutnya,” kata Uzan, “mari kita melanjutkan kegiatan kita dengan mengirimkan kepala Sentafal ke Istana.”
“Itu benar,” kata Dubal. Prajurit itu langsung mengambil kepala Sentafal dan mengangkatnya. Ia mengamati dua mata Sentafal yang sudah lama tertutup. Sebuah gelang emas terpasang di hidungnya. Ia mengayunkan gelang tersebut. Ia teringat bahwa hanya dengan memegang elang tersebut, tubuh Sentafal menjadi utuh, sehat, dan bertenaga seperti semula. “Pantas saja kepala ini menjadi Material Magis.”
“Arika,” Uzan mulai berdiri. “Keluarkan Perkamen Magis itu dari topi penyihirmu!”
Arika mengangguk. “Baiklah, pangeran,” penyihir itu mulai berdiri tertatih dan melepas topinya.
__ADS_1
“Um...” Sara menambahkan, “juga dua gelang Azure untuk menyembuhkan kita semua.”
“Baiklah,” kata Arika. Gadis penyihir itu melepaskan topi penyihirnya, lalu melemparkannya ke depan. Topi tersebut terbalik. Ia mengedepankan tangan kanannya, lalu memendarkan cahaya hijau dari telapak tangannya.
Setelah itu, dua buah gelang biru keluar dan melayang dari topi tersebut dan langsung mengarah ke Sara. Klerik itu menangkap gelang tersebut dan langsung mengganti gelang lamanya.
Beberapa saat kemudian, sebuah perkamen magis melayang dan mengarah ke Uzan. Sang pangeran segera menangkapnya.
Setelah memasang gelang Azure, Sara berdiri tertatih dan mulai menyalakan telapak tangannya. Kedua gelang itu memendarkan cahaya kerlap – kerlip biru.
Uzan dan keempat rekannya sedang dalam posisi berdiri, begitu pula dengan Trez.
Perlahan, cahaya putih melingkari Uzan dan para rekannya. Setelah itu, mereka semua pulih dari luka – luka mereka dan tenaga mereka kembali seperti semula.
Setelah Sara meredupkan sihirnya, ia berujar, “Ingatlah, ini hanya sementara, Edgar, lambat laun, kekuatan para pengguna Green Lance Wind Burst akan berkurang drastis.”
Edgar hanya mendengus. Arika juga termangu sambil menyembunyikan kekesalannya.
Pangeran Uzan segera membuka Perkamen Magis yang di genggamnya ke atas tanah. Setelah itu, Dubal meletakkan kepala Sentafal di atas perkamen tersebut.
Kemudian, kepala Sentafal perlahan berubah menjadi ratusan butiran cahaya putih yang melayang – layang ke atas yang sedikit demi sedikit segera menghilang dari keberadaan.
Uzan terheran. “Apa yang terjadi?”
“Urutan Material Magis memang sudah terpatri ketika kau mengatur kembali perkamen tersebut, pangeran,” kata Arika, “namun kau harus menyebutkan tujuan selanjutnya.”
Uzan mengangguk, lalu berseru, “Batu Akais!”
Cahaya putih tersebut melayang dan membentuk kalimat yang baru saja di katakan Uzan, Batu Akais.
Setelah beberapa saat, kalimat cahaya tersebut sirna, menyebabkan perkamen magis yang menampungnya menutup kembali dan langsung terbang mengarah ke Sang Pangeran.
Setelah menangkap perkamen tersebut, Uzan tertegun. “Aku sudah mengerti ke mana arah tujuan kita selanjutnya.”
Apakah kau tahu bagaimana kita keluar dari sini, pangeran,” tanya Dubal.
“Aku tahu,” Uzan menunjuk ke arah pintu ganda tempat mereka masuk. “Lewat pintu itu,”
“Yang disayangkan adalah,” Edgar menghela kesal, “kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan bersama karena kereta kuda kita sudah hancur.”
__ADS_1
“Mungkin kau belum perlu memikirkan itu, Edgar,” kata Dubal. “Pangeran Uzan, mari kita keluar dari ruangan tertutup ini.”
Uzan menyetujui. Setelah itu, mereka berlima berjalan bersama menuju ke pintu ganda tempat mereka masuk. Edgar menunggangi Trez. Tanpa disangka, pintu ganda tersebut langsung terbuka lebar bagi mereka.
Setelah mereka keluar, mereka juga menyaksikan portal cahaya putih yang melayang dari tidak jauh dari mereka.
Sebelum masuk portal cahaya tersebut, mereka mengedarkan pandangan. pepohonan hijau rindang terhampar mengelilingi mereka. Sekali lagi, mereka menyimpulkan bahwa daerah ini memang daerah khusus untuk melawan Sentafal.
Edgar berujar, “Aku ingat bahwa Sentafal bilang bahwa teman – temannya juga diburu seperti dia. Apa kau tahu tentang itu, Arika?”
Arika menggeleng. “Aku tidak yakin, tapi pastinya Sentafal lainnya juga memiliki alam magis individu mereka sendiri.”
“Syukurlah kita bisa mengalahkan satu dari sekian banyaknya,” kata Sara.
Setelah itu, Mereka berlima melangkah memasuki portal magis cahaya putih. Beberapa saat kemudian, portal cahaya putih tersebut sirna.
Uzan dan kawan – kawannya tiba di tempat mereka melawan Sentafal. Mereka di sambut oleh terik mentari yang menandakan bahwa mereka sedang berada di siang hari.
Sang pangeran menghela lega. “Akhirnya, kita sudah selesai dengan tugas kita yang kedua.”
Edgar mengelus kepala Trez. “Kita hanya harus mencari cara agar kita bisa berangkat ke tujuan selanjutnya.”
“Maaf kalau aku harus mengganti bahan pembicaraan,” kata Dubal. “Setelah pertarungan melawan Sentafal, aku lapar. Bisakah kita istirahat sejenak sambil makan?”
“Kalau dipikir – pikir dari perkataan Tuan Dubal, aku juga lapar,” kata Arika. “Aku sangat setuju kalau kita beristirahat dulu di sini.”
“Arika,” ujar Edgar, “apakah kalau Dubal mengatakan bahwa dia sakit kepala, kau juga akan bilang bahwa kau sakit kepala?”
Paras Arika memerah. Gadis itu meralat, “Itu tidak benar!”
Uzan menghela sejenak, lalu berkata, “Apa kau siap dengan perbekalannya, Arika?”
“Aku siap, pangeran,” kata Arika.
Uzan menyapukan tangan ke arah ke lima rekannya. “Kita akan beristirahat dahulu di tempat ini."
Arika mengeluarkan tikar besar dari topi penyihirnya. Setelah itu, berbagi macam makanan dan lauk pauk juga keluar.
Mereka beristirahat dan dengan lahap makan – makanan yang tersedia sebagai bentuk perayaan kemenangan mereka, sambil mempersiapkan diri untuk memikirkan cara untuk mencapai tujuan selanjutnya.
__ADS_1