
Setelah memasuki portal tersebut, Edgar langsung mendapati sebuah Gua besar. Walaupun begitu, Edgar juga harus mengendarai harus Zero si kuda untuk beberapa langkah sampai akhirnya mereka semua berhenti di depan gua tersebut.
Setelah itu, Edgar turun dan membuka pintu kereta kencana.
Setelah turun dan kertea, Uzan dan kawan - kawannya memandangi Gua tersebut.
Dari luar, bagian dalam gua tersebut terlihat hitam pekat dan tidak ada satupun cahaya redup yang mengelilingi gua tersebut. Di sekitarnya, rerumputan hijau tumbuh subur dan berbagai macam bunga terlihat lestari. Sama seperti yang dibayangkan Uzan ketika melakukan ritual sebelum berangkat.
“Apa kau tidak punya inisiatif untuk langsung masuk, Edgar?” tanya Dubal.
Edgar menggeleng. “Sangat disayangkan jika kuda dan kereta kencana kita juga akan jadi korbannya. Kita sudah tahu bahwa kita sudah kesekian klainya berganti kuda dan kereta kencana.”
Sara menatap gelap pekat gua tersebut dengan ragu - ragu. “Bagaimana cara kita memasuki gua tersebut jika bahkan cahaya saja tidak bisa memasukiinya?”
“Itu benar,” ujar Sang pangeran. “Kita semua harus berhati - hati ketika akan memasukinya.”
“Apa maksudmu dengan kata ‘kita semua’?” sebuah suara menggelegar muncul dari udara yang ada di sekitar gua tersebut. “Kalian semua tidak akan bisa memasuki gua ini.”
Uzan mengedarkan pandangan ke seluruh arah di sekitar gua. “Ini persis seperti yang ada di gerbang ketika kita akan menuju ke tempat Sentafal.”
“Aku biasa dinamai dengan gua Akais,” suara gua tersebut menggelegar. “Tempat di mana batu akais berasal.”
Arika berujar, “Apakah kau tahu tentang maksud dari kedatangan kami?”
Gua akais tertawa terbahak - bahak. Tawanya terdengar memenuhi ruangan sekitar gua tersebut. “Tentu saja. Kalian ingin mengambil batu Akais yang ada di gua ini. Bukankah begitu?”
“Itu benar,” kata Rota. “Apakah itu lucu?”
__ADS_1
“Tidak lucu,” kata Gua Akais. “Melainkan, peraturan untuk masuk ke gua adalah bahwa hanya dua orang dari kalian yang diperbolehkan masuk. Sisanya, kalian harus menunggu di luar.”
“Ini seperti ketika kita menjalani misi unuk memperoleh kain kagigar perak,” kata Uzan.
“Hal ini berarti adalah keputusan mudah,” Dubal mengangguk. “Jika kau memilih aku sebagai kawanmu untuk menyelesaikan misi untuk memperoleh Batu Akais, maka aku tidak akan mengecewakanmu, Pangeran Uzan.”
“Kalian boleh memilih satu dari kalian yang akan mengambil Batu Akais,” kata Gua Akais, “namun aku yang akan memilih satu di antara kalian yang akan mengambil Batu Akais.”
Uzan dan lainnya tertegun. Setelah beberapa saat, sang pangeran berujar, “Baiklah, Gua Akais! aku adalah seseorang tersebut. Kau bisa langsung memilih siapapun di antara kami sebagai pilihanmu untuk mendampingiku untuk memperoleh batu Akais.”
“Walaupun begitu,” Dubal menghela. “Aku ingin agar aku, Edgar, atau Rota yang akan menjadi pilihan.”
“Aku mungkin tidak begitu mempunyai pengetahuan tentang material magis,” kata Rota. “Tapi, jika aku terpilih, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku.”
Sebenarnya, Edgar juga ingin membuka suara untuk membantu Dubal untuk memperoleh material magis selanjutnya. Tapi nampaknya ada yang aneh dengan gua ini. Di samping itu, jika gua ini berbahaya bagi Uzan, mungkin ia bisa langsung menerjang masuk dan melibas apa segala sesuatu yang ada di dalam sana walaupun tidak secercah cahaya pun memancar.
Arika mengedarkan pandangan ke sekeliling bagian depan gua. Ia mungkin bisa terkagum dengan berbagai macam bunga dan dedaunan yang tumbuh di bagian depan gua walaupun tidak ada secercah cahaya pun yang memancar ke sana. Di samping itu, ia juga tidak ingin memasukinya karena selain gelap, kemungkinan Dubal, Edgar, atau Rota akan terpilih dan mungkin ia akan menunggu dan berharap agar pengambilan Material magis tersebut berhasil. Namun ada yang aneh dengan di mana tempat lingkungan gadis penyihir itu berpijak.
“Baiklah,” kata Gua Akais. “Aku akan memilih salah satu dari kalian selain orang yang kalian sebut dengan nama ‘Uzan’.”
beberapa saat kemudian, ratusan butir cahaya merah kerlap - kerlip mengelilingi Uzan. Lalu, sang pangeran melayang.
Uzan tertergun. “Apa yang terjadi kepadaku?”
“Kau yang akan masuk ke gua ini, kan?” kata Gua Akais. “Setelah ini, kau akan mengajak satu orang untuk masuk ke Gua Akais ini. Kau harus menandai bahwa hal ini bukanlah pilihanmu, melainkan pilihanku. Kau mengerti?”
Uzan mengangguk. “Aku mengerti.”
__ADS_1
Perlahan, Uzan melayang rendah dan lambat mengitari keempat kawan - kawannya. Sang pangeran terkejut bahwa mereka tidak melontarkan satu patah kata pun. Setelah itu, ia menghampiri Arika lalu menggenggam pergelangan tangan gadis penyihir itu.
Arika tertegun. “Kau memilihku?”
Uzan menjawab. “Bukan aku yang memilih, melainkan Gua Akais.”
Arika mengangguk.
Setelah itu, ratusan butir cahaya merah melayang mengelilingi Arika dan Uzan secara bersamaan. Setelah itu, mereka berdua melayang rendah ke arah kegelapan tersebut dan segera memasuki bagian gelap gua dan lenyap seketika.
Setelah itu, udara sekitar Edgar dan lainnya tidak terasa pengap kembali.
“Aneh sekali,” kata Dubal. “Mengapa Edgar, Sara, dan Arika tidak berkutik ketika pemilihan pendamping Uzan untuk memperoleh Batu Akais?”
“Memang sangat ganjil,” ujar Rota. “Tidak heran jika aku dan Dubal juga ikut terdiam ketika pemilihan pendamping Uzan.”
Gua Akais berujar, “Hawa ikatku senantiasa kujalarkan kepada para pengelana ketika aku memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping untuk lainnya. Tapi sayang sekali, aku melihat bahwa prajurit botak memiliki Kalung Sila dan aku tidak bisa mempengaruhi makhluk Girafan dalam hal ini. Tapi intinya, aku sudah memilih pendamping yang menurutku bermanfaat bagiku untuk dimasukkan ke dalam gua ini.”
“Bagimu?” seru Rota. “Apakah kau memilih Arika karena ia bermanfaat bagimu dan bukan Uzan?”
“Sial!” seru Edgar. “Apakah kita ditipu oleh gundukan tanah yang tidak mempunyai cahaya di dalamnya?”
‘Sangat disayangkan. Bukankah begitu?” kata Gua Akais. “Kalian harus mengerti bahwa aku adalah Gua Magis yang bisa mempengaruhi alam bawah sadar kalian untuk segera memasuki Gua ini.”
“Tunggu sebentar,” ujar Sara. “Itu benar. Bahkan pangeran Uzan tidak mempertimbangkan secara matang tentang sebab akibat yang akan timbul ketika memasuki gua ini.”
“Aku juga tidak mengerti,” kata Edgar. “Seharusnya aku bisa b erkehendak untuk langsung menghampiri atau berlari ke dalam cahaya hitam di gua ituu. Namun anehnya, aku tidak ingin melakukannya.”
__ADS_1
“Sangatlah ganjil,” kata Rota.
“Seharusnya kalian juga sudah menyadari dari awal jika aku langsung mempersilahkan kalian untuk memasuki gua ini,” kata Gua Akais. “Tapi keterlambatan adalah keterlambatan. Tidak akan ada pengulangan. Kalian hanya bisa berharap agar pangeran dan gadis penyihir itu dan bisa memperoleh Batu Akais. Jaminanku pada mereka adalah mereka akan keluar dengan membawa Batu Akais atau mati di dalam gua ini.”