Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Melawan Manusia Pohon (2)


__ADS_3

Edgar menggenggam tombaknya. Ia dikelilingi oleh cahaya hijau gemerlap dan hembusan angin yang lambat laun bertambah kecepatannya.


Ia sedang berdiri di antara Arika dan Sara. Gadis penyihir itu menyalakan tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke Edgar. Sang klerik menyalakan cahaya putih di telapak tangannya.


Dengan percaya diri, Edgar berujar, “Aku merasa kekuatanku bertambah.”


“Serangan gabungan, ya?” Duliv merutuk sambil melihat Edgar dan kedua rekannya. “Seharusnya kami bisa memantau keberadaan penyihir dan klerik lewat pohon beringin itu.”


Manusia pohon itu berlari menuju Edgar dan kedua rekannya sambil memanjangkan kedua tangan kiri akarnya ke arah prajurit itu, namun akar – akar tersebut hancur seketika karena angin yang mengelilingi Edgar terlalu kuat.


Setelah itu, Edgar langsung menghempaskan diri ke arah Duliv. Manusia pohon tersebut terpelanting jauh karena pusaran bola angin yang mengelilingi Edgar. Prajurit itu terlihat melayang – layang dengan bola angin yang mengelilinginya.


Setelah terbangun, Duliv mulai merutuk. Ia membentuk bola kayu cahaya perunggu dengan keempat tangannya dan mengarahkannya ke Edgar.


Setelah meluncurkan bola tersebut ke arah Edgar, bola sihir tersebut hancur seketika setelah mengenai bola angin yang mengelilingi Edgar.


Duliv merutuk. “Itu tidak mungkin!”


Edgar hanya tersenyum. Mengangkat tombaknya ke atas dan memutanya. Ujung tombak memunculkan cahaya hijau gelap.


Setelah itu, Edgar langsung meluncur ke arah Duliv dan mengarahkan ujung tombaknya ke arah makhluk itu.


Duliv mencoba untuk bertahan dengan menyilangkan keempat tangannya ke depan, namun pertahanannya sia – sia. Ketika Edgar menghujam makhluk itu dengan ujung tombaknya, ia langsung hancur dan berserakan.


Beberapa saat kemudian, bola angin kehijauan yang melingkup Edgar sirna. Prajurit itu sudah tidak lagi melayang. Setelah itu, ia dihampiri oleh Sara dan Arika yang berlari kecil ke arahnya, Trez juga bersama mereka berdua.


“Seandainya aku bisa bicara dan merutuk manusia pohon itu ketika aku menghabisinya,” Edgar terengah - engah. “Sayang sekali.”


“Kau tidak akan bisa bicara ketika sedang ada dalam mode Green Lance Wind Burst, Edgar,” kata Arika.


“Di samping itu,” Sara menambahkan, “untung saja kau bisa membasmi manusia pohon itu dengan cepat.”


Edgar menggaruk kepala. “Maksudmu?”

__ADS_1


“Kita tidak akan bisa melakukan serangan itu lagi.”


“Berarti kita tidak bisa menolong Uzan dan Dubal menghadapi manusia pohon itu lagi?”


“Sebenarnya bisa,” ujar Arika, “tapi kalau serangan itu dilakukan untuk kedua kalinya, maka ketiga tenaga pengguna serangan tersebut akan habis. Green Lance Wind Burst adalah gabungan antara sihir angin biasa, Max purify, dan senjata tombak.”


Edgar, Sara, dan Arika menoleh ke arah Uzan dan Dubal yang sedang bertarung melawan dua macam manusia pohon. Dubal melawan Unliv, dan Uzan melawan Duliv.


Sara menyalakan kembali telapak tangannya. “Dengan Max Purify yang aku miliki, aku akan bisa kembali memberi penyembuhan kepada mereka.”


-


-


Unliv yang dihadapi Dubal terlihat kewalahan karena serangan – serangan yang dihadapinya sangatlah mematikan. Dengan percaya diri, mantan prajurit Oslar tersebut menyerang manusia pohon yang menjadi lawannya. Ia mengakui bahwa Unliv yang dihadapinya kini lebih lincah, namun ia tidak takut karena bisa menebas habis serangan – serangannya dengan kapaknya.


Bagi Dubal, bantuan Max Purify dari Sara juga terlihat menonjol karena selain bisa menyembuhkan lukanya secara total, tenaganya semakin bertambah. Walaupun ketika Sara dihantam dan cahaya sihirnya sempat meredup, Dubal tampak tidak memperdulikan.


Beberapa saat kemudian, Dubal berhasil menebas bagian tengah tubuh Unliv sehingga manusia pohon tersebut tertebas menjadi dua dan tidak bergerak sama sekali.


“Sial!” Duliv merutuk. “Kau tidak tahu kapan menyerah.”


Setelah itu, Duliv memanjangkan tangannya, namun bisa ditangkis oleh Uzan, walaupun ia terluka, namun lukanya cepat pulih karena bantuan Max Purify.


Ledakan demi ledakan yang dihasilkan bola sihir tersebut terdengar nyaring. Uzan bisa menghindari serangan – serangan Duliv.


Ketika Uzan mendekati Duliv, manusia pohon tersebut memanjangkan tangannya, namun Uzan melompat dan menjadikan serangan itu sebagai pijakan. Sang pangeran melompat dan menebas kepala Duliv dengan pedang.


Sayatan yang terbentuk akibat tebasan tersebut terlihat jelas. Duliv menutupi kepalannya karena kesakitan. Karena sayatan tersebut berada di sekitar mata dan hidung. Walaupun begitu, makhluk itu tidak mengeluarkan darah karena ia adalah pohon.


Dalam kesempatan ini, Uzan melakukan tebasan mendatar ke area bagian tengah tubuh Duliv. Tebasan itu hanya menyebabkan sedikit sayatan.


Karena serangan itu, Duliv hanya tertegun dan mundur. Uzan tidak mengerti bagaimana ia tidak bisa menebas makhluk itu, namun sang pangeran tidak menyerah. Ia menebas bagian sayatan tersebut kembali.

__ADS_1


Sayatan tersebut semakin menebal, namun Duliv belum terpotong.


Sebelum Uzan dapat melakukan tebasan ketiga dengan pedangnya, ia terkena tinjuan Duliv. Sang pangeran terpental, namun ia bisa menghentikan tubuhnya yang terhempas dengan menghujamkan ujung pedangnya ke tanah.


“Ugh!” pangeran Uzan terengah – engah. Tidak lama kemudian, staminanya kembali.


Setelah itu, ia melihat Edgar, Sara, dan Arika yang sedang berada di kejauhan. Mereka tampak lelah, namun ia bisa merasakan bahwa Sara masih bisa melakukan Max Purify. Dua manusia pohon yang dihadapi Edgar sudah hancur, entah bagaimana ia melakukannya.


“Aku harap kau bisa melanjutkan pertarungan, pangeran.” Dubal sudah berdiri di samping Uzan. “Apakah kau butuh bantuan?”


“Manusia pohon yang sedang kuhadapi bergabung menjadi satu,” Uzan mengangguk. “Akan sangat merepotkan jika aku melawannya sendirian.”


Dubal tersenyum. “Jika aku menawarkan bantuan kepada Pangeran Axel, maka ia akan menolakku mentah – mentah.” Mantan prajurit Oslar tersebut sudah menggenggam kapaknya.


Uzan mulai berdiri bersebelahan dengan Dubal, menghadapi Duliv yang mulai membuka mata.


“Pangeran Sialan!” Duliv merutuk. Bekas sayatan horizontal tampak di mukanya. Sayatan tebal juga masih terbentuk di tubuh bagian tengahnya.


Cahaya perunggu berpendar di mata makhluk itu, sebuah bola kayu terbentuk di depannya. Sambil mengedepankan keempat tangannya, bola kayu tersebut semakin membesar.


Akhirnya, Duliv meluncurkan sihirnya ke arah Uzan dan Dubal. Sihir itu menyebabkan satu ledakan besar di tempat Uzan dan Dubal berpijak. Asap mengudara di sekitar tempat tersebut.


Uzan dan Dubal meloncat ke samping. Setelah itu, mereka berdua berlari ke arah Duliv dan bersiap untuk menebaskan senjata mereka.


Duliv memperhatikan mereka berdua. “Majulah!”


Dubal menebaskan kapaknya ke tubuh Duliv, namun sang manusia pohon bisa menghindar, ia terhuyung ke samping. Mengepalkan dua genggaman tangannya sampai Dubal terpental.


Tidak berlama – lama jatuh, Dubal langsung terbangun dan segera menerjang.


Setelah itu, Uzan menemukan celah di posisi Duliv. Sang pangeran melakukan tebasan tepat di bagian tengah tubuh manusia pohon tersebut. Sayatan tersebut semakin menebal. Walaupun tubuhnya tidak mengeluarkan darah, Duliv mengerang kesakitan.


Uzan meloncat dan menghujamkan bagian runcing tubuhnya ke arah Duliv. Dengan lambat, manusia pohon tersebut bisa bergulir dan sanggup menghindar.

__ADS_1


Namun serangan belum selesai, manusia pohon tersebut tidak tahu bahwa Dubal berada tepat di sampingnya.


Ketika berada tepat di samping Duliv, Dubal meloncat, menambah tenaganya, lalu menghujamkan kapaknya ke tubuh Duliv sehingga manusia pohon tersebut terbelah menjadi dua.


__ADS_2