
“Berapa lama kita sudah melakukan perjalanan ini, Dubal?” tanya Uzan.
Setelah Sang Pangeran berkeputusan untuk mengalihkan tujuannya untuk mendapatkan Kepala Sentafal, maka mereka bertiga berpindah haluan untuk pergi ke arah yang ditunjukkan Uzan, karena alam pikiran bawah sadarnya mengarahkannya.
Edgar mengendarai Trez, menggantikan Dubal yang sekarang duduk di dalam kereta kencana bersama Uzan, Sara, dan Arika.
“Setahuku, kita sudah melalui perjalanan ini selama lima hari, pangeran,” ujar Sara.
“Lima hari?” suara Edgar menggema dari seluruh ruangan. “Apa kau gila? Menurutku kita masih berjalan sekitar dua hari.”
“Sekarang sudah jam dua belas malam” Sara berkata pelan. Ia menunjukkan jam gantung berantai yang dibelinya di Pasar Riyaal. Jarum panjang dan pendeknya menunjuk ke arah angka dua belas. “
“Berarti sudah enam hari,” ujar Dubal. “Pengaruh magis yang ada wilayah magis Bukit Kagar mempengaruhi waktu kita.”
“Itu benar,” kata Sara. Ia menoleh ke samping. Arika sedang setengah tertidur menyandar di bahunya. “Kita perlu istirahat, Pangeran Uzan.”
“Benar,” kata Uzan. “Aku hanya memastikan kita melakukan perjalanan pendek untuk menuju kuil Sentafal, Sara.
“ Sekarang yang kulihat hanyalah pepohonan, Uzan,” kata Edgar. “Belum ada pemukiman yang ada di dekat kita.”
Uzan menghela. “Terpaksa kita harus berhenti di tengah hutan.”
“Kau yakin?” suara Edgar terdengar meragukan.
“Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita tidak akan seberuntung tadi, menemukan padang rerumputan luas dengan semilir angin.”
“Aku tidak yakin jika kita beristirahat di sana, maka tidak akan terjadi apa – apa,” ujar Arika pelan.
“Itu benar,” Uzan menyetujui. “Kita akan menjadi target serangan orang asing dengan begitu mudah.”
“Paling tidak di sana nyaman, kan?”
Dubal bersedekap. “Edgar, kau sebagai prajurit juga sering tidur di hutan belantara, kan?”
“Iya, tapi jika ada pilihan yang lebih nyaman, kenapa tidak?”
Uzan mengabaikan perkataan Edgar. “Edgar, segera cari tempat nyaman untuk ditinggali. Kita akan istirahat dan tidur di tengah hutan ini.”
“Baiklah…”
Edgar menelusuri kegelapan malam yang menyelimuti jalanan di hutan tersebut, ia merasa kesal ketika harus menghadapi rintangan berupa pepohonan yang jatuh di tengah jalan, rusa yang baru saja lewat, atau bebatuan besar. Namun atas ajakan Uzan, ia mengamati jalanan yang dilewatinya dengan seksama sambil mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk ditinggali, walaupun lokasinya di tengah hutan.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan tempat yang layak untuk ditinggali untuk istirahat.
Ketika Semua penumpang kereta kencana keluar, mereka mendapati sebuah pohon tua besar yang menjulang tinggi. Dedaunannya rimbun meluas sehingga Uzan dan lainnya mendapati diri mereka dibayangi oleh kerindangannya.
__ADS_1
“Aku bisa menjamin bahwa pohon ini akan melindungi kita dari terik matahari, Pangeran Uzan,” Sara berkomentar.
“Terima kasih, Edgar,” Edgar menjentikkan jari sambil tersenyum. “Kau telah menemukan tempat unik dan layak sebagai tempat peristirahatan.”
Uzan dan Dubal mengamati pepohonan tersebut. Mereka berdua beradu pandang sejenak, bagai menyetujui sesuatu, lalu kembali menghampiri kereta kencana.
Dubal berkata, “Apa kau merasa bahwa pohon ini mengandung kekuatan magis, Arika?”
Arika menggeleng. “Tidak, Tuan Dubal.”
“Mari kita segera istirahat,” Uzan mengedarkan pandangan ke seluruh rekannya. “Setidaknya kita bisa merasa nyaman di sini.
“Nona Sara atau Arika,” Dubal memandang dua rekannya. “ Salah satu dari kalian bisa tidur di dalam kereta kencana.”
Kau bisa tidur di dalam kereta kencana ini, Arika. Pasti kau sangat kelelahan karena sudah melakukan sihir pada perkamen tersebut.
“Baiklah, Sara.” Arika tersenyum. “Terima kasih, aku memang lelah dan…”
“Tunggu!” Uzan menyergah. “Sebaiknya kau yang tidur di dalam, Sara.”
“Kenapa, pangeran?” Sara mengerutkan alis. “Arika sudah kelelahan karena sihirnya.”
Edgar bersedekap. “Uzan, maksudmu?”
Uzan melihat ke sekeliling lingkungan yang dipijaknya. “Yang aku takutkan adalah, jika ada makhluk magis di sekitar sini, selain Trez, Arika bisa langsung siaga.”
“Bagaimana kau tahu, Uzan?” Edgar berdecak.
Uzan memegang bahu Edgar. “Kau, Aku, dan Sara berteman dengan Rena di masa kecil. Kita sudah pasti tahu tentang hal – hal seperti ini.”
“Kita tahu bahwa kami berdua bisa mendirikan tenda di luar, aku dan Arika bisa tidur di tenda yang sama, Pangeran Uzan,” kata Sara.
“Mungkin ada benarnya, nona,” ujar Dubal. “Aku tidak ingin terlalu banyak berburuk sangka, namun firasat buruk akan selalu berguna ketika kita ada di lingkungan asing. Sebaiknya, kau tidur di dalam kencana, Nona Sara.”
“Baiklah, Tuan Dubal,” Sara berujar dengan nada datar.
“Silahkan tidur di luar, Arika…” kata Uzan.
Arika menggigit bibir. Ia merasa sedikit kesal, namun gadis itu akhirnya menenangkan diri. “Baiklah, Pangeran Uzan.”
Arika melepas topi penyihirnya dan melemparkannya ke depan. Topi itu melayang – layang. Setelah itu, gadis itu merentangkan tangannya ke depan sambil membaca mantra. Perlengkapan perjalanan seperti tas, koper, karpet, tenda, dan lain – lain perlahan terbang keluar dan dengan pelan terletak dengan sendirinya di sekitar sang penyihir,”
“Hei!” seru Edgar. “Aku pernah melihat Rena melakukan itu. Lumayan praktis. Lebih baik, kita semua masuk ke dalam topi penyihir itu supaya tidak diserang angin malam.
“Tidak bisa, Edgar,” kata Arika kesal. “Topi penyihir tidak bisa ditinggali manusia. Lagipula, barang - barang yang bisa dimasukkan di sini juga terbatas.
__ADS_1
Edgar memasang wajah cemberut. “Yah….”
“Penyihir juga memiliki keterbatasan tersendiri, Edgar,” kata Sara.
Uzan, Dubal, dan Edgar mengambil barang – barang perkemahan dan tenda yang ada di dalam kereta kencana. Setelah mempersilahkan Sara untuk tidur di kereta kencana, sisa rekan lainnya tidur di luar.
Arika tidur di tendanya sendiri, yang dibangun dengan sihir, sedangkan Edgar, Uzan, dan Dubal membangun tenda mereka bersama – sama.
Arika mencoba membantu ketiga pria itu untuk membangun tenda dengan sihirnya, namun ketika tenda sudah mulai terbangun setengah, tubuh gadis itu terhuyung – huyung. Jika Uzan tidak menahan tubuhnya, ia pasti sudah terjerembab di tanah.
“Kurasa dia memang sudah kelelahan…” ujar Dubal.
“Baiklah, Arika,” kata Edgar. “Tidurlah…”
Arika menurut dan segera berjalan menuju tenda ajaibnya.
Setelah itu tenda besar terbangun, Edgar segera masuk ke tenda dan terlelap seketika, meninggalkan Uzan dan Dubal yang masih terjaga.
“Kami berdua akan jaga malam.” Kata Uzan setelah memberi makan Trez dengan dedaunan yang berserakan di sekitar pohon.
Mereka tidak mengobarkan api unggun di sekitar mereka untuk kehangatan karena selain mereka berada di samping pohon rindang, mereka tidak ingin lokasi mereka sekarang diketahui oleh siapapun.
Uzan dan Dubal duduk berdua di atas sebuah batang pohon yang jatuh di dekat pohon beringin itu.
“Untung saja kita sudah makan malam setelah kau melakukan ritual magis, Pangeran Uzan.”
Kata Dubal.
“Iya,” Uzan mengangguk. “Kalau tidak, mungkin kita akan kerepotan jika harus makan di tempat seperti ini.
“Ngomong – ngomong,” Dubal menegakkan posisi duduknya, “keputusan cepatmu untuk mengubah arah tujuan Material Magis itu cukup tidak terduga.”
Uzan menghela. “Semoga kau tidak keberatan dengan itu.”
“Tentu saja aku tidak keberatan,” Dubal menggeleng. “Maksudku, kami semua tidak keberatan jika itu adalah keputusanmu.”
“Itu memang kulakukan dengan dengan penuh keyakinan.”
“Apakah kau memiliki alasan tertentu?”
Uzan menghela panjang. Ia tidak menjawab dan hanya mengamati kegelapan hutan yang ada di depannya. Dubal menunggu jawab Uzan. Mungkin saja pertanyaannya terlalu pribadi sehingga Sang Pangeran membisu tanpa kata.
“Jika kau tidak ingin menjawabnya, tidak—”
“Aku akan menceritakannya kepadamu, Dubal.” Kata Uzan. “Ceritanya panjang. Apakah kau sanggup mendengarkannya?”
__ADS_1
“Kau sanggup mendengarkan ceritaku tentang pertemuanku dengan Rota. Jadi, aku tidak punya alasan untuk menyatakan ketidakmampuanku untuk memperhatikan ceritamu.”
Uzan turun dari tempat duduknya. Ia mengambil sebuah kerikil yang ada di tanah, melemparkannya ke atas, lalu menangkapnya kembali. “Ini semua karena teman masa kecilku yang bernama Rafael.”