Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pencarian Solusi 2


__ADS_3

Malvin mendesis ketika tubuhnya terlempar. Ia baru saja di tembak oleh bola angin kehijauan, tapi penyihir itu mendarat dengan tenang.


“Kalian ingin bertarung denganku dan berdiskusi suapay aku membatalkan sihir golem, ya?” Malvin mengulurkan tangannya ke atas. Perlahan, bola api besar terbentuk. “Itu tidak akan terjadi.”


Arika mengarahkan tongkatnya ke ke arah Malvin sambil menyalakannya.


Perlahan, Uzan dilingkup oleh bola angin, lalu sang pangeran segera melesat ke arah Malvin.


“Kh!” Malvin menghilangkan bola api yang dibuatnya. Lalu, ia mengulurkan tangan ke depan. Seketika itu, puluhan tanah tajam mencuat di sekitar Uzan.


Dengan bola angin yang sedang melingkupnya, sang pangeran dengan cepat menghindari gundukan tanah tajam yang satu pesatu muncul di depannya.


Akhirnya, Uzan melompat dan langsung mengarahkaan ujung pedangnya ke arah Malvin


Malvin menyalakan telapak tangannya. Dengan cepat sebuah tongkat sihir muncul di genggamannya. Dengan senjata itu, sang penyihir menangkis pedang Uzan.


Sang pangeran menarik kembali pedangnya, lalu mundur dua langkah. Kemudian, ia menebaskannya kembali secara melintang. Akan tetapi, Malvin menahannya kembali dengan tongkatnya.


Uzan dan Malvin mengadu kekuatan antara senjata mereka. Sang pangeran memperhatikan tongkat berujung melengkung tanda tanya yang dipegang oleh Malvin. Pandangan matanya juga mengarah pada kalung hikau yang dipegang oleh penyihir itu.


“Paling tidak kau akan merubah pikiranmu setelah kau kalah dalam pertarungan,” kata Uzan.


“Kau bercanda?” kata Malvin. “Aku sudah bilang dari awal bahwa kau akan hancur. Jangan remehkan aku!”


Penyihir itu melompat ke belakang untuk mencaga jarak. Akan tetapi, Uzan juga berjalan cepat untuk mengejarnya sembari bersiap untuk menebaskan pedangnya. Akan tetapi, Malvin menyalakan ujung tongkatnya dan menembakkan bola api ke arah sang pangeran sampai ia terpental.


Malvin memperhatikan Uzan yang mulai bangun kembali. “Kau tidak terbakar, ya?” Ia mengarahkan pandangan ke arah Arika yang sedang berdiri di kejauhan. Tongkat sihirnya menyala. “Pastinya kau baru saja dilindungi oleh gadis penyihir itu agar tidak terbakar.”


Angin kehijauan terbentuk di sekeliling Uzan. Sebelum sang pangeran siap menyerang, Malvin menembakkan bola api ke arahnya. Berkat angin itu, Uzan bisa menyamping dan segera menebaskan pedangnya. Akan tetapi, serangannya ditahan oleh sang penyihir.


Uzan segera melompat ke depan dan bermaksud untuk menendang Malvin. Ketika penyihir itu di dalam posisi mengedepankan tongkatnya, sang pangeran menjadikan senjata itu sebagai pijakan dan melompat ke belakang. Kemudian, ketika ia ada di udara, bola angin melingkupnya kembali, mendorongnya ke arah Malvin sekali lagi.


Malvin yang tidak menyadari hal itu terpental ketika pedang Uzan menebas tongkat sihirnya.

__ADS_1


Penyihir itu segera terbangun. Kemudian, ia menyalakan api di ujung tongkatnya dan bersiap untuk menyerang Uzan.


Arika bisa memperhatikan pertarungan antara Malvin dan Uzan. Mereka berdua masih bisa dilihat karena sedang di dalam jarak pandang ideal. Gadis penyihir itu bisa menyalakan tongkatnya sewaktu – waktu untuk membantu sang pangeran bertarung. Ia menyaksikan sang pangeran menjatuhkan Malvin berkali – kali di dalam pertarungan itu. Bisa dilihat bahwa manuver sang pangeran jauh lebih cepat dari pada Malvin padahal Malvin memiliki sihir api dan tanah.”


Linda mengudara di samping bahu Arika. Pixi itu sudah diberitahu agar menetap bersamanya sementara Uzan bertarung dengan Malvin satu lawan satu. Ia tidak berkomentar.


Malvin mengarahkan tongkatnya ke Uzan. Puluhan gundukan tanah muncul mencuat dari bawah sang pangeran. Akan tetapi, sang pangeran bisa melompat. Kemudian, dengan memanfaatkan angin Arika, ia meluncur dan menebaskan pedangnya.


Sekali lagi, Malvin terpental.


Sesaat setelah penyihir itu terbangun, ia berujar, “Jangan kira bahwa aku dungu, pangeran!”


Uzan berhenti menyerang untuk mendengar ucapan Malvin.


“Aku tahu bahwa kau bisa menandingiku karena bantuan penyihir angin yang ada bersamamu,” Malvin masih tersenyum. Darah keluar dari bibirnya. “Kau tidak bisa mengira bahwa hal ini dinamakan pertarungan satu lawan satu, pangeran.”


Uzan mengabaikan komentar Malvin dan segera berkata, “Sebaiknya kau menyerah dan segera mengungkap tentang apa hubunganmu dengan Faraq.”


“Aku tidak percaya kepada dan memiliki keraguan tentangnya,” kata Uzan dengan tatapan tajam. “Akhirnya aku mengetahui bahwa bencana ini hanyalah rekaan dan penugasan ini hanyalah tipu daya.”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan situasi ini?” Malvin terkekeh.


“Kau harus menghentikan golem itu sekarang juga, Malvin,” kata Uzan dengan dengan nada mengancam. Sang pangeran menggertak. “Jika tidak, aku tidak akan segan – segan menghujamkan ujung pedangku ke tubuhmu berkali – kali sampai kau melakukannya.”


“Luar biasa,” gumam Malvin. “Sudah kuduga bahwa kejadian ini akan memicu amarahmu!”


“CEPAT!” seru Uzan. Sang pangeran mengarahkan pedangnya ke arah Malvin yang perlahan membungkuk karena terengah. Dirinya sendiri masih bisa bertarung karena tidak banyak mendapatkan luka.


Malvin tersentak. Kemudian, ia melirik ke arah Arika dan Linda yang berada di kejauhan. Ia juga bisa merasakan bahwa tidak jauh dari lokasinya saat ini, Golem Gorila Lava juga sedang berusaha untuk menghajar sisa kawan sang pangeran sedang melaksanakan tugasnya.


“Aku menolak ancamanmu, pangeran!” Malvin mengarahkan tongkatnya ke Arika dan Linda. Kemudian, ia menggenggam kalung hijau yang digenggamnya.


Beberapa saat kemudian, lingkaran api luas terbentuk melingkari lokasi dimana Malvin, Uzan, Arika, dan Linda berada. Api itu berwarna putih kebiruan.

__ADS_1


Uzan tersentak. Kemudian, ia segera melompat maju dan berusaha menebas Malvin dengan pedangnya. Akan tetapi, Malvin melompat mundur dan berhasil menghindari ujung pedang Uzan yang hampir mengenai lehernya.


Sesaat kemudian, Uzan berputar dan berusaha untuk menyerang kembali. Akan tetapi, Malvin mengetahui hal itu. Ia menyalakan api di ujung tongkatnya, lalu menebaskan senjata itu.


Uzan yang tidak siap terkena serangan itu dan terlempar kesamping. Untung saja ia terlindung oleh lingkup angin.


Api yang luas yang melingkari mereka semakin meninggi dan semakin memanas.


Arika menyaksikan Uzan yang sedang dijatuhkan oleh Malvin. Ia bergumam, “Semoga pangeran tidak apa – apa.”


“Arika,” kata Linda dengan nada khawatir. “Api yang mengitari kita sangat mengganggu.”


“Aku tahu itu,” kata Arika. “Aku tidak pernah melihat sihir api seluas ini yang dilakukan hanya oleh satu penyihir.”


Linda mengangguk. “Aku memang setuju dengan perkataanmu tapi—”


Tiba – tiba, tanah yang dipijak Arika bergetar. Kemudian, ratusan gundukan tanah tajam mengelilingi Arika dam Linda. Tinggi gundukan itu hanya sebetis. Akan tetapi, hal ini membuat Arika tampak khawatir.


“Kau terlihat panik. Apa yang terjadi?” tanya Linda.


“Ini sangat gawat,” Arika mengerutkan alis. “Jika begini caranya, kita tidak akan bisa bergerak.”


“Maksudmu?”


“Ini adalah sihir tanah dimana jika seseorang dikelilinginya, ia tidak akan bisa melakukan sihir.”


Linda yang masih mengudara melayang menjauhi lingkaran itu. “Aku bisa keluar dari sini. Apakah memang kau tidak bisa melakukan sihirmu sama sekali?”


“Seluruh badanku terjebak di sini dan aku tidak bisa melakukan sihir sama sekali.” Tongkat Arika perlahan memudar dan ia tampak khawatir. “Aku tidak yakin akan bisa membantu pangeran Uzan jika terus begini.”


Linda mengedarkan pandangan ke arah Uzan yang baru saja terpental karena dihantam oleh tongkat milik Malvin.


“Aku yang akan membantu,” kata pixi itu. Kemudian, ia memendarkan cahaya dari tubuhnya dan segera melayang ke arah sang pangeran.

__ADS_1


__ADS_2